
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
Zayn membunyikan bel rumah Shane.....
''Siapa yang bertamu? Apakah Ellen?''
Shane pun berjalan menuju pintu gerbang untuk melihat siapa yang bertamu di rumah Villa barunya itu.
''Jika benar yang datang Ellen, aku pastikan ia akan kehilangan satu kakinya. Sudah ku peringatkan untuk tidak lagi muncul di hadapanku. Tapi beraninya sekarang dia datang kemari,'' gerutunya.
Namun gerutuannya berhenti tak kala melihat tamu yang bertandang ke rumahnya bukanlah Ellen.
''Siapa kau?'' Ucapnya. Ia tidak membuka sepenuhnya pintu gerbang itu. Namun hanya membuka sebagian yang bisa memuat tubuhnya untuk melihat siapa yang datang.
''Maaf kan saya Nona Shane. Saya terpaksa mengganggu waktu Nona,''
''Bagaimana bisa anda tahu nama saya, sedangkan saya sendiri tidak mengenal anda?''
''Saya Zayn. Saya juga salah satu pemilik Villa di daerah Tesand ini. Dan kita sebenarnya sudah pernah bertemu beberapa kali juga. Namun, mungkin Nona tidak mengingatnya.
''Benarkah? Oooh... mungkin saya yang pelupa.''
''Saya ke mari hanya untuk memberikan kue ini sebagai tanda perkenalan kita sebagai tetangga baru,'' ucap Zayn sembari memberikan sebuah kotak yang berisi kue yang entah dari mana Zayn mendapatkannya.
[''Aku tidak tidak ingat jika aku pernah berjumpa dengannya. Apakah memang aku yang pelupa, atau orang ini mempunyai maksud lain?''
''Entahlah....''
''Tapi ngomong-ngomong, aku tidak tahu kalau penghuni Villa daerah ini sangat ramah-ramah. Bahkan mereka sampai memberi kue dan ucapan selamat datang kepada tetangga baru mereka. Ku kira, orang-orang kaya akan bersikap sombong dan acuh tak acuh kepada orang asing," ]
Shane memperhatikan setiap gerak-gerik Zayn. Ada kecurigaan di dalam benaknya. Ia hanya tidak ingin jika ada yang menjebaknya di situasi yang sangat rumit untuk saat ini.
''Oooo...., terimakasih kalau begitu. Maaf ya malah merepotkan anda,''
Shane pun menerima kue tersebut dan akan menutup pintu gerbangnya. Namun, Zayn kembali menghalanginya.
''Tunggu dulu Nona,''
''Iya?'' Shane mengangkat kedua alisnya.
''Apa masih ada sesuatu yang belum di sampaikan Tuan Zayn?''
''Tidak, saya hanya penasaran saja. Bukankah Villa ini milik Tuan Ellen? Apakah Nona Shane tinggal bersama Tuan Ellen?''
Shane mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Zayn.
''Apakah Tuan mengenal Ellen?''
''Iya, saya dan Tuan Ellen kebetulan pernah kuliah di universitas yang sama. Dan dia masih berhutang sesuatu pada saya,''
Zayn terpaksa berkata seperti itu, ia tahu pasti saat ini Shane curiga terhadapnya. Dan kebetulan hanya itu alasan yang muncul di otaknya.
''Hutang?''
''Iya Nona,''
''Apakah dia berhutang uang?''
''Emm....'' Zayn menggaruk tengkuk lehernya. Ia bingung harus menjawab apa. Shane gadis yang pintar dan teliti. Jika sampai ia salah menjawab, maka semua kebohongannya akan terbongkar.
''Saya tidak ada hubungannya dengan Ellen. Jika Tuan ada urusan dengan dia, Tuan bisa langsung menghubunginya. Sebab, saya tidak ingin berurusan dengannya lagi ''
''Maaf kan saya Nona. Saya kira Nona adalah kekasih Tuan Ellen. Karena Nona tinggal di Villa ini,''
''Aku mendapatkan Villa ini sebagai bayaran karena sudah membantunya. Saya rasa seperti sebuah urusan jual beli. Jadi tidak ada hubungan apa-apa lagi setelah transaksi selesai bukan?''
''Oooo.... Nona benar. Maaf saya yang malah menerka-nerka yang tidak-tidak. Bisakah Nona memberikan nomer ponsel Tuan Ellen. Sudah lama sekali kami tidak berhubungan semenjak ia pindah ke Jerman.''
''Maafkan saya Tuan Zayn. Sepertinya anda harus mencari tahu sendiri semua tentang Ellen. Karena saya juga tidak mempunyai nomer ponselnya,''
["Berarti Nona Shane benar-benar tidak berhubungan sama sekali dengan Tuan Ellen. Ini akan menjadi berita bagus untuk Aldrich,"]
''Kalau begitu saya mohon pamit Nona. Dan sekali lagi maafkan saya yang sudah banyak menyita waktu Nona Shane,''
Zayn pun segera bergegas pergi untuk kembali ke Villa Aldrich.
Sedangkan Shane, ia menggelengkan kepalanya melihat kepergian Zayn.
...Di kediaman Mores...
''Apa!''
''Bagaimana bisa kita kecolongan lagi?''
''Maafkan kami Tuan. Kami lalai dalam menjalankan tugas. Tapi saya sudah mendapatkan informasi tentang dari mana semua itu berasal,''
Richard memberikan sebuah berkas kepada David.
...Brak...!!...
''Bagaimana bisa semua berita dan masalah yang kita hadapi ini berasal dari Kota B. Dan dari rumah itu,''
''Banar Tuan. Kami juga tidak mengerti, padahal rumah itu sudah lama kosong bahkan sudah 15 tahun lebih. Bagaiman mungkin tiba-tiba semua masalah itu ber sumber dari rumah itu,''
''Ayah, bagaimana menurut ayah? Apakah mungkin Fajar dan Alina menjadi ha...''
''Omong kosong apa yang kau bicarakan David. Itu tidak masuk akal. Kau harus segera menemukan orang yang sudah bermain-main dengan kita. Aku tidak percaya ada Setan pembalas dendam!''
Richard sendiri merasa bingung. Sebab kejadian itu Richard belum bekerja dengan keluarga Mores. Namun, dari yang ia dengar. Mendiang Fajar adalah saingan terbesar Tuan Mores.
''Bukankah itu sangat bagus Ayah? Fajar dan Alina membalas kan dendamnya atas perbuatan kalian! Aku turut berbahagia,'' ucap Marlon yang tiba-tiba datang bersidekap di daun pintu.
''Marlon!''
''Kakak.''
''Apa ini semua perbuatanmu Marlon? Bukankah kau yang baru saja datang dari kota B?''
''Jika aku mampu melakukan itu, pastilah kalian tidak akan hidup sampai sekarang. Aku sangat salut dengan orang yang sudah melakukannya, hingga membuat kalian kelabakan!''
''Marlon!''
Namun Tuan Marlo hanya tersenyum menyindir, lalu pergi meninggalkan Tuan Mores dan David yang emosi karena perkataannya.
''Ayah, aku rasa bukan kakak pelakunya. Aku mencurigai seseorang yang sudah menjadi penghiyanat di keluarga kita,''
''Selidikilah dengan teliti. Aku mempunyai firasat buruk jika akan ada sesuatu yang lebih, yang akan membuat kita semua sulit untuk mengendalikannya,'' ucap Tuan Mores sambil menepuk bahu putranya itu. Kemudian pergi meninggalkan David dan anak buahnya.
''Kemana dia?''
''Sejak masalah kemaren Non Shane belum kembali Tuan. Namun dari GPS yang kami pasang, sepertinya Nona tidak meninggalkan Proid selama ini. Mungkin Nona sedang menginap di rumah temannya.''
''Baiklah, kau harus tetap mengawasinya. Laporkan padaku jika dia berbuat sesuatu,''
''Baik Tuan,''
Shane tertawa puas saat mendengarkan semua pembicaraan mereka. Meski saat ini ia sedang duduk manis sambil menikmati waktu bersantainya, namun telinganya masih bisa mendengarkan apapun yang terjadi di kediaman Mores.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰