
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Siapa yang berani menyuruhmu menyentuh putriku Richard!''
''Ayaaaah....''
Joice berlari menghampiri ayahnya_Tuan Marlon, Lalu memeluknya.
''Tuan, saya....''
''Ini bukan salah Richard Kak. Aku hanya memintanya untuk membawa Joice ke kamarnya.''
''Ada hak apa kau mengatur putriku, David?''
Tatapan Tuan Marlon seakan menghunus tepat di jantung David.
''Kak....''
''Adikmu tidak salah Marlon. Dia hanya ingin mendisiplinkan putrinya. Hanya saja Joice malah ikut campur. Adikmu tidak mungkin menyakiti putrimu. Ia hanya.....''
''Apa tidak cukup ibu dan istriku yang menjadi korbannya? Apakah harus bertambah Shane dan Joice?''
Marlon memotong langsung ucapan Tuan Mores, sehingga membuat Tuan Mores semakin emosi.
''Marlon! Kenapa kau selalu membahas tentang masa lalu. Ini hanya keributan biasa. Mengapa kau harus membawa-bawa masa lalu?''
''Joice, bawa kakakmu Shane masuk ke kamarnya!''
''Baik Ayah,''
Joice pun hendak menarik tangan Shane, namun David segera mencengkram lengan Shane.
''Kak, aku tahu kau sedang emosi. Tapi aku harus mendisiplinkan putriku sendiri. Bukankah kau selama ini tidak pernah ikut campur dalam urusan keluargaku?''
''Putrimu?''
Marlon tersenyum mencibir ucapan David.
''Marlon!''
''Apa!''
''Kau mau memakiku lagi Ayah? Kau mau membelanya lagi. David, jika kau tidak melepaskan Shane sekarang, aku pastikan kau akan tahu akibatnya!''
Marlon langsung pergi meninggalkan mereka semua.
''Dasar anak tidak berguna! Kau itu bisanya selalu membuat masalah! Apa sekarang kau puas melihat papamu bertengkar dengan pamanmu ha?''
''Paman!''
David melepaskan cengkramannya. Dan membiarkan Joice membawa Shane pergi begitu saja.
...Braak!!...
David melempar sebuah vas bunga yang ada di hadapannya. Hingga pecah berantakan.
''Tenangkan dirimu Vid. Ayah akan berbicara dengan Marlon. Kita tidak perlu membahas sesuatu yang tidak penting. Bukankah masih ada sesuatu hal yang jauh lebih penting ketimbang pembahasan ini,''
Tuan Mores menepuk bahu David, kemudian pergi menyusul Marlon.
...Di kamar Shane...
''Paman sangat menakutkan. Hiii... Tadi sampai merinding bulu kudukku,''
''Tau takut, tapi masih sok-sok an berani membelaku. Bagaimana jika papa benar-benar main tangan padamu Joice? Kau tidak perlu melakukan itu untukku,''
''Itu tidak akan mungkin terjadi kak, kan ada kakak yang akan selalu melindungiku. Lagi pula aku percaya, ayah akan datang tepat waktu untuk menyelamatkanku,''
''Ooo.... Jadi kau sudah memprediksinya? Bagaimana jika paman tidak datang? Saat-saat seperti itu, aku pun tidak bisa membelamu Joice. Jadi, lain kali jangan pernah melakukan hal seperti itu untukku. Ok?''
''Tidak! Meskipun paman sampai main tangan, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak percaya, kakek akan membela anak simpanannya ketimbang cucu sahnya?''
''Joice, apa yang kau katakan? Kakak tidak mengerti sama sekali.''
Shane sedari dulu juga merasa ada yang aneh dengan paman dan papanya. Mereka selalu bersitegang dan tidak pernah terlihat akur. Mereka sering berbicara tentang anak sah dan anak simpanan. Tapi tidak ada penjelasan siapa yang mereka maksud.
[''Sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. Jika ayah tahu, pasti aku akan di hukum,'' batin Joice ]
''Kak, sebaiknya Joice pergi menemui ayah. Joice khawatir dengan ayah kak,'' ucap Joice dan akan berdiri untuk melangkah. Namun dengan segera lengan Joice di pegang oleh Shane.
''Joice....''
''Kak, sepertinya Joice terlalu banyak bicara karena emosi. Mungkin Joice berbicara melantur,'' Joice berusaha mengelak. Namun sepertinya Shane tidak mempercayai ucapan Joice.
''Kak...''
''Katakan yang sebenarnya Joice. Kakak berjanji, kakak tidak akan membocorkannya pada siapa pun. Bisakah kau menceritakannya secara jujur padaku Joice? Siapa anak simpanan, dan siapa anak sah?''
''Tidak akan ada yang marah jika kita tidak membicarakannya didepan umum. Begini, jika kau mau menceritakannya,kakak berjanji kakak akan mengajakmu untuk berjalan-jalan. Bagaimana?''
''Janji?''
''Iya,''
''Baiklah. Tapi, biarkan Joice memeriksa dulu ke adaan di luar.''
Joice kemudian beranjak dari duduknya. Ia melihat kondisi sekitar kamar. Lalu perlahan menutup pintunya. Shane masih setia menunggu sampai Joice berbicara.
''Sebenarnya.....''
''Sebenarnya apa Joice? Katakan! Jika kau tidak mau mengatakannya. Aku akan mengusirmu dari kamarku, dan aku akan marah padamu selamanya!''
''Kakak....''
''Maka dari itu cepat katakan! Jangan berbelit-belit Joice! Kau tahu kakak paling tidak suka berbelit-belit kalau berbicara.''
''Baiklah...baiklah...''
''Sebenarnya, paman David itu bukan adik kandung ayah kak,''
["Haaah? Ternyata masih ada hal yang seperti itu rupanya," batin Shane]
''Saat itu usia ayah masih 15 tahun. Tiba-tiba kakek membawa seorang wanita dan seoarang anak laki-laki datang ke kediaman utama.''
''Apa anak laki-laki itu adalah papaku Joice?''
''Eheeem...'' Joice menghentikan ucapannya dan mulai mengatur nafasnya yang sedari tadi serasa memburu.
''Iya kak, paman David adalah putra dari seorang wanita yang menjadi istri simpanan kakek selama 10 tahun lamanya. Saat itu semua harta kakek sebenarnya atas nama nenek. Karena memang hartanya itu warisan dari keluarga besar nenek.''
''Kakek dan wanita itu saling mencintai.''
''Tapi karena perjodohan keluarga, ia akhirnya terpaksa menikahi nenek, dan lahirlah ayahku. Waktu itu nenek mengira, kakek sudah melupakan cinta masa lalunya itu. Karena kehidupannya berjalan dengan sangat baik.''
''Tapi ternyata, kakek diam-diam menikahi wanita itu hingga memiliki seorang putra yaitu paman David.''
Joice menjeda ucapannya. Ia menoleh ke arah Shane yang sedari tadi diam menyimak dirinya.
''Apa kau tidak terkejut kak?''
''Tidak,''
''Mengapa? Bukankah seharusnya kau terkejut. Karena ini adalah sebuah rahasia besar. Dan kau sendiri baru tahu bukan?''
''Kau benar Joice. Ini memang sebuah rahasia besar, dan aku juga baru mengetahuinya. Tapi Joice, meskipun begitu aku juga sama sekali tidak merasa terkejut. Sebab, aku sudah lama tahu tentang perilaku kakek yang suka bermain dengan para wanita.''
''Iya, kau benar kak. Haaaah'' Joice membuang nafasnya perlahan.
''Sebenarnya aku sangat membenci kakek. Kakek selalu memandang rendah ayah. Kekek jugalah yang menjadi penyebab kematian nenek dan ibuku,'' ucap Joice dengan wajah muram.
''Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah setahuku nenek dan bibi mengalami kecelakaan saat itu?''
''Tidak kak! Sebenarnya nenek dan ibu saat itu di celakai oleh mamanya paman David, kak.''
Deg....
Di satu sisi Shane ada perasaan bersalah. Namun disisi lain Shane merasa itu tidak ada hubungannya dengannya. Sebab ia bukanlah putri kandung Tuan David.
''Apa aku membuat perasaan kakak tidak enak?''
''Tidak. Oh, maksud kakak, kakak minta maaf. Bagaimana pun dia papanya kakak. Tapi dengan kata maaf saja, itu tidak bisa menghapus segala kesalahannya,'' ucap Shane. Namun tangannya mengepal erat menahan emosi.
''Kau tidak perlu meminta maaf nak. Karena itu tidak ada hubungannya denganmu,'' ucap Tuan Marlon yang tiba-tiba datang membuka pintu kamarnya.
''Paman, ayah!......
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰