
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Tidak mungkin....''
''Bagaimana bisa ini terjadi? Ibu dan dia.....''
''Aku harus segera bertemu dengannya. Di file ini tertulis ibu memiliki seorang kakak perempuan bernama Bella. Tapi dia mengalami ganguan jiwa sejak masih remaja?''
''Tapi kenapa aku tidak memiliki ingatan apapun tentang bibi Bella? Di mana dia? Apakah ada di rumah sakit jiwa?''
Shane menghentikan kegiatannya. Ia lalu melihat ke arah jarum jam.
...Pukul 02.20...
''Kenapa Jessica belum pulang? Kemana dia?''
Tut....tut....tut...tut... ( Shane mencoba menghubungi ponsel Jessica. Namun tidak ada jawaban )
''Sial! Kemana gadis itu. Ini sudah larut malam. Tidak biasanya dia pergi tanpa pamitan apa-apa.''
Shane mencoba melacak keberadaan Jessica. Namun ia menemukan hal aneh lainnya. Titik terakhir Jessica berada jauh di perbatasan kota dan bahkan titiknya menunjukkan posisi Jessica yang tepat di tengah laut.
''Apa yang terjadi padanya? Sepertinya ada yang tidak beres dengan Jessica.''
Shane kembali mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
''Temukan orang yang ada di titik lokasi ini!'' Perintah Shane kepada orang yang berada di sebrang telepon.
Sambil menunggu Shane membereskan laptop dan barang-barangnya. Ia seperti mempunyai firasat yang buruk.
''Tesand?''
''Ya, aku akan ke Tesand saja. Bukankah aku memiliki Villa pemberian Ellen. Sepertinya belum ada yang mengetahui tentang Villa itu,''
Setelah mengepak semua barangnya Shane berniat untuk segera pergi dari rumah Jessica. Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar deru mobil yang baru saja berhenti di halaman rumah itu.
Shane segera mematikan lampu di kamarnya. Ia perlahan melihat siapa yang datang dari balik tirai jendela.
''1234...12 orang. Siapa orang-orang itu? Dan kenapa mereka datang di saat Jessica sedang tidak berada di rumah?''
Shane kemudian membuka penutup plapon yanga ada di atas tempat tidurnya. Namun sebelum itu ia sudah menurunkan barang-barangnya lewat lift rahasia.
Lift itu sengaja dibuat oleh ayahnya Jessica ketika dulu Shane dan Jessica masih kecil. Sebenarnya itu hanya sebagai Lift jalan singkat menuju teras belakang. Sebab, Jessica dan Shane dulu suka sekali bermain kejar-kejaran dan petak umpet.
Shane segera memanjat ke atas plapon dan menutupnya kembali. Tak berapa lama orang-orang yang baru datang itu, sudah sampai di pantai atas dan mencoba membuka kamar Shane.
...Braak......
''Tidak ada siapapun Tuan,''
''Bodoh! Tentu saja tidak ada siapa-siapa. Orang tua wanita itu sudah mati lima tahun yang lalu. Sedangkan wanita itu baru saja kau bunuh dan kau buang di laut.''
Mendengar pembicaraan mereka, Shane menutup mulutnya sendiri. Air matanya menetes membasahi pipinya. Perlahan ia membuka sedikit penutup plapon itu, agar ia bisa melihat siapakah orang-orang itu.
''Papa!...''
Shane benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Orang-orang yang datang digelepan malam adalah papanya dan anak buahnya.
[''Bedebah! Siapa yang mereka maksud? Apakah Jessica? Sebenarnya ada apa? Tidak...tidak. Aku tidak percaya jika Jessica.... Aah! Aku harus segera mencari tahu keberadaan Jessica,'' Batin Shane]
''Cari sampai ketemu! Kabari jika kalian sudah mendapatkannya. Aku harus kembali ke kediaman,'' perintah David kepada anak buahnya. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan rumah Jessica.
''Manusia iblis! Sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tangannya. Bahkan jika benar kau mengambil nyawa sahabatku satu-satunya, akan aku pastikan kau akan mati di tanganku sendiri,'' Shane kembali turun dari atas plapon setelah orang-orang itu pergi meninggalkan rumah Jessica.
Tak berapa lama, ponselnya berdering.
Orang yang tadi ia suruh untuk mencari tahu keberadaan Jessica, sudah menghubunginya.
''Bagaimana?''
''Kami sudah menemukannya Nona. Tapi.....''
''Tapi kenapa? Katakan dengan jelas!'' Shane mulai emosi. Ia takut, jika apa yang dikatakan oleh papanya tadi adalah sebuah kenyataan.
''Kami sudah menemukan Nona Jessica. Tapi Nona Jessica sudah meninggal.''
''Apa!''
''Itu tidak mungkin bukan? Katakan padaku! Kau pasti salah orang kan?''
''Tidak Nona. Mayat yang kami temukan benar-benar mayat Nona Jessica. Sebaiknya Nona segera kemari untuk memastikannya,''
...Braak........
Shane membanting ponselnya hingga pecah berantakan. Ia segera bergegas memgambil barang-barangnya lalu menuju mobilnya.
''Sial! Jika kau benar-benar yang membunuh sahabatku, maka tunggu saja pembalasan dariku!''
Setelah sampai di tepi laut tempat orang suruhannya berada. Shane segera bergegas menuju ke sana.
Gadis cantik menggunakan setelan hitam. Namun dengan posisi tangan dan kaki terikat oleh beberapa kotak yang berisi pasir dan batu. Sepertinya, kotak-kotak itu sengaja diikatkan ke badan Jessica supaya tubuhnya tenggelam di dasar laut.
''Dasar Ibliiis!''
Shane menangis memeluk tubuh Jessica.
[°°Berawal dari sebuah perjumpaan yang berkembang menjadi kebersamaan,
Yap…lebih tepatnya sebuah keakraban.
Lajur kehidupan memang di takdirkan untuk berputar, begitu pula alur cerita ini-perjumpaan.
Sekian Lama tinggal di bukit suka.
Kini aku terjatuh, jatuh ke dalam lembah duka yang penuh kesakitan.
Dari rasa sakit aku mencoba tepis rasa yang tak bersahabat itu-duka dan sakit.
Tertatih, tapi bukan seras pedih
Selayaknya mentari yang selalu menyinari, aku masih terus berfikir.
Akankah sebuah perjumpaan akan menemui sebuah perpisahan?
Suara hati mengerutkan fikiranku untuk terus berlalu membawa angan.
Namun…Kini ku menyadari…
Di dunia ini…
Sebuah perjumpaan sangatlah mustahil tuk tetap abadi,
Begitu pula sebaliknya…
Sebuah perpisahan juga sangat mustahil tuk tetap abadi.
Awal adalah akhir Dan akhir adalah awal.
Semua yang berawal adalah akhir Dan semua yang berakhir adalah awal°°]
...Ke esokan harinya.......
Jessica langsung di antarkan ketempat peristirahatan terakhirnya pagi tadi. Tak banyak orang yang hadir di pemakamannya. Bahkan yang mengantarnya hanya anak buah Shane dan kerabat sepupu dekatnya yang baru pulang dari Luar Negeri.
Kini Shane tengah duduk di tepian tempat tidur yang biasanya Jessica pakai untuk tidur. Lamunannya memutar waktu kembali ke masa-masa saat mereka pertama kali bertemu.
Jessica yang ceria, Jessica yang selalu menemaninya, Jessica yang selalu ada setiap dia butuh sandaran. Tapi Kini, Jessica pun pergi meninggalkannya.
Shane beranjak dari duduknya. Namun kakinya tak sengaja menyandung sebuah kotak.
''Apa ini?''
Shane berjongkok untuk mengambilnya.
Dilihatnya kotak itu sudah berdebu. Tapi...
''Seperti percikan darah?''
Shane segera membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah buku harian dan juga sebuah liontin berbentuk hati.
Shane perlahan meraba buku harian itu yang masih jelas tercium wangi aroma parfum Jessica.
Tiba-tiba mata Shane melebar tak kala membaca tulisan Jessica. Selain tulisan Jessica, dalam buku itu juga terdapat beberapa foto-foto.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰