
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca...
''Benar Tuan. Saat ini Nona Shane sedang berada di tangan Tuan Aldrich. Kami cukup kesulitan untuk menangkap Nona Shane, Tuan''
''Mengapa dia ikut campur dalam urusan keluarga Mores? Apakah ada motip tersembunyi?''
''Richard! Segera selidiki semuanya tentang Aldrich. Dan laporkan segera padaku!'' Perintah David.
''Baik Tuan,''
Dari balik pintu seseorang sudah mendengarkan pembicaraan mereka. Orang itu pun segera bergegas pergi untuk menemui Tuannya.
...----------------...
''Ayah, apakah belum ada kabar dari Kak Shane?''
Marlo menghela nafas panjangnya lalu mengambil secangkir tehnya untuk ia minum. Sejak terakhir kali ia mendapat kabar tentang Shane waktu di toko, orang-orangnya belum juga mendapatkan informasi terbaru.
Ia juga sudah memeriksa seluruh rumah sakit yang ada di kota Proid. Tapi semua seakan hilang begitu saja seperti ada seseorang yang menutupinya.
''Tuan,''
Robert datang ingin melaporkan sesuatu. Namun Marlon segera memberikan kode mata agar menunggunya sampai putrinya pergi dulu.
''Joice, bisakah kau membuatkan ayah pie susu. Ayah tiba-tiba ingin makan pai susu,''
''Siap bos. Joice akan membuatkan pie susu kesukaan ayah yang paling enak. Hehehe....'' Ucap Joice dengan senang. Ia pun kemudian pergi meninggalkan ayahnya dan Robert untuk membuat Pie susu.
''Apa ada kabar terbaru tentang Shane, Robert?''
''Kami belum mendapatkan informasi apapun tentang nona Shane, Tuan. Tapi kami mendapatkan informasi penting dari tuan David dan juga anak buahnya.''
Marlon menajamkan pandangannya. Lalu berdiri menaruh tehnya kembali di atas meja.
''Informasi tentang apa?''
''Tuan tadi Gaby tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka. Sepertinya mereka sudah menemukan keberadaan Nona Shane. Dan sepertinya, mereka juga sudah melakukan penyerangan terhadap nona untuk menangkapnya. Tapi kami mendengar mereka gagal dalam upaya penangkapan kemaren. Tuan. Katanya, Nona Shane di lindungi dan sedang bersama dengan tuan Aldrich.''
''Aldrich?''
''Iya Tuan, Tuan Aldrich yang pernah hadir di pesta pernikahan Tuan muda Natan. Dan selain itu, juga ada urusan kerja sama dengan perusahaan kita,''
''Apa Shane sebelumnya ada hubungan dengannya?''
''Sebenarnya, Nona Shane pernah menyelamatkan dua orang Tuan muda waktu membereskan wilayah dekat kebun teh kita dari para perampok waktu itu, Tuan. Dan dua Tuan muda yang Nona selamatkan itu adalah Tuan Aldrich dan juga temannya yaitu Tuan Zayn. Saya rasa sepertinya Tuan Aldrich menyelamatkan Nona Shane karena membalas Budi atas penyelamatan waktu itu terhadapnya,''
''Oh, iya iya... Waktu itu, Shane sempat bercerita juga. Tapi aku tidak menyangka, orang yang ia selamatkan adalah Tuan muda Aldrich dan temannya. Aku rasa, masalah ini, tidaklah sederhana Robert.''
Robert mengangguk mengerti apa yang di maksud oleh Tuannya.
''Baiklah Robert, sebaiknya kamu terus selidiki! Cari tahu informasi apapun tentang Shane. Kalau bisa perkuat lagi orang-orang mu dan kalau perlu tambahkan lagi orang-orangnya. Agar kita tidak keduluan oleh anak buah Richard.''
''Baik Tuan,''
''Dan kamu tempatkan juga beberapa orang disisi David dan Richard. Agar kita tahu semua pergerakan merek,''
''Baik Tuan.''
''Oh.'' Dan satu lagi, tempatkan beberapa orang di kediaman rumah tuan Morgan. Aku rasa untuk sementara ini pasti mereka tidak akan pulang dulu ke Tesand. Pasti gara-gara masalah kemarin, mereka juga sudah menyadari kalau daerah Tesand banyak mata-mata keluarga Mores. Dan tempat teraman mereka sementara ini pastilah kediaman orang tua Aldrich.''
''Baik Tuan. Kami akan segera melakukan penyelidikannya lagi. Dan melaksanakan perintah yang Tuan tugaskan untuk kami,''
''Baguslah kalau begitu. Cepatlah pergi!''
''Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu,'' ucap Robert. Marlon menganggukan kepalanya.
Joice datang dengan membawa satu nampan berisi pie susu yang baru saja ia selesai buatkan.
''Dia sudah pergi,''
''Yaaaah.... padahal aku sudah menyiapkan beberapa pie susu untuknya. Tapi dia malah sudah pergi,'' gerutu Joice.
''Ia pergi melaksanakan tugasnya Joice. Kau jangan mengganggunya. Sini, berikan pie susunya padaku. Ayah sudah kelaparan menunggumu sejak tadi,'' ucap Marlon sambil mengambil beberapa pie susu lalu ia memakannya.
''Ah...Ayah,'' Joice cemberut mengerucutkan bibirnya lalu duduk di sebelah ayahnya
''Jangan cemberut seperti itu. Kau tampak seperti Alpaca saat cemberut.''
''Ayah..!''
''Baiklah...baiklah. Ngomong-ngomong, Ayah belum menanyakan tentang seseorang yang membantumu kemarin.''
''Orang yang membantuku?''
Joice teringat tentang kejadian kemarin saat ia membeli beberapa barang dan menjatuhkannya karena menabrak seseorang. Ia lupa jika selama ini ia juga dikawal ketat oleh ayahnya. Tentu saja ayahnya tahu tentang apapun aktivitas yang ia lakukan selama ini, tanpa terkecuali kejadian kemarin.
''Seseorang siapa ayah? Joice tidak tahu,'' elak Joice sambil membuang wajahnya ke samping.
''Jangan pura-pura tidak tahu. Apa perlu Ayah memberikan rekaman videonya?'' Ucap Marlon sambil memasukkan potongan pie susu ke dalam mulutnya.
''Ah...Ayah. Aku hanya tidak sengaja menabrak seseorang seseorang itu,''
''Seseorang siapa? Pria atau wanita?''
''Ayah! Ayah pasti sudah tahu kalau orang itu adalah pria. Bukankah kau sudah memiliki rekamannya. Ayolah Ayah, jangan membuatku marah.''
''Baiklah baiklah, ayah tidak akan membahasnya lagi. Tapi Joice, kamu jangan terlalu percaya dengan seseorang yang baru kau kenal. Kau tidak tahu, dunia ini sangat kejam Joice. Jika kau terlalu polos dan mudah percaya, kau bisa ditipu oleh siapa saja nantinya.''
'' Tenang saja Ayah, aku rasa orang itu sangatlah baik. Joice tentu saja bisa membedakan mana orang baik dan mana orang yang jahat. Dia sangat ramah terhadap Joice, dia juga membantu Joyce membawakan barang-barang sampai ke mobil. Senyumnya sangat manis dan juga......''
''Tampan!'' Ucap Tuan Marlon yang menyela pembicaraan putrinya.
''Ayah...! kau membuatku malu,'' ucap Joice memegangi pipinya yang sudah merah merona karena malu.
''Kau ini tidak bisa melihat orang yang tampan sedikit saja. Lalu bagaimana dengan kabar Faris? Bukankah kau sudah tergila-gila padanya sejak kecil. Lalu mengapa tiba-tiba sekarang beralih ke lain hati, bahkan dengan seseorang yang baru saja kau kenal.''
''Tidak juga Ayah. Joice masih menyukai Kak Faris. Joice hanya terpesona sesaat saja,'' ucapnya sambil menampilkan senyum konyolnya. Tuan Marlon menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri kecilnya itu.
''Ayah, tapi dia benar-benar tampan ayah. Selain tampan, ia juga berkelakuan baik. Selama ini, Kak Faris selalu bersikap dingin terhadap Joyce. Joice jadi berpikir, sebenarnya Joice ini benar-benar menyukainya atau hanya sekedar kagum padanya. Bahkan kak Faris juga tidak pernah menyatakan perasaannya.''
Tuan Marlon tersenyum dan mengusap Puncak kepala Joyce.
''Suatu saat, kau akan mengerti Joice. Kau akan bisa membedakan mana arti mencintai ataupun mana arti mengagumi saja,''
-
-
-
Yuk nantikan kisah selanjutnya... jangan lupa
👍like
❤ pavorit
dan gift bagi yang mau ya teman-teman. Suport dan dukungan kalian adalah penyemangat untuk Mala
Terimakasih