SHANE

SHANE
Bab 4 : Bertemu Kembali



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Pemandangan laut yang sangat indah. Pepohonan kelapa yang saling melambaikan daunnya, membuat pemandangan semakin menjelma bak lukisan. Apa lagi ditambah dengan matahari yang mulai menenggelamkan parasnya, Keindahan tersebut semakin telihat indah ketika terpantul oleh air laut dan menimbulkan kesan kehangatan.


Di sini, Shane sedang menikmatinya sambil meminum segelas air lemon segar. Ia memutuskan untuk pergi berlibur di pantai, setelah menyelesaikan masalah perampok-perampok yang mengganggu perjalanan warga dan para pekerja di kebun teh milik keluarga besarnya.


Mekipun matanya terpejam, namun telinganya masih bisa menangkap langkah kaki seseorang yang kini berdiri di hadapannya.


''Enyahlah!


''Kau menghalangi pandanganku!'' Ucapnya, tanpa membuka kedua matanya.


Tidak ada sahutan dari sang sosok yang mengganggu ketenangan Shane. Namun saat mendengar sosok itu bersuara....


''Apa kau tidak merindukanku Zera?''


...Deg.......


(''Zera" hanya satu orang saja yang hanya memanggilnya dengan sebutan Zera selain Nama Shane_ Ellen. )


Shane tersenyum remeh. ia pun menaikkan kaca matanya ke atas kepala.


"Apa kau tidak tahu, bahwa aku sama sekali tak ingin melihat wajahmu!''


''Zera, apa ini kesan pertamamu setelah sekian lama kita tidak bertemu?''


''Kesan pertama? Kesan pertamaku saat melihatmu, aku ingin sekali mencabik-cabik wajahmu. Apa itu yang kau harapkan dariku?''


''Zera, apa kau masih membenciku setelah kejadian itu? Bahkan setelah aku meminta maaf padamu ribuan kali.''


Shane membuka kedua matanya. Tak ada senyuman yang terukir dari bibir manis Shane.


Padahal, dulu Shane sangat suka tersenyum. Bahkan dalam ke adaan apapun. Dalam pandangan laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya Shane.


Masih teringat jelas senyuman itu. Senyuman yang tak pernah luntur sekalipun air mata ikut mengalir di wajah cantiknya itu.


Laki-laki itu akan duduk di samping Shane, namun Shane dengan segera berdiri dan membalikan kursi pantai yang tadi ia duduki dengan satu gerakan kakinya. Laki-laki itu dibuat terperangah dengan kemampuan Shane. Tiga tahun ia tidak bertemu, dan dalam waktu tiga tahun itu, wanita yang saat ini berdiri di hadapannya sudah banyak berubah.


''Wow.''


Ellen bertepuk tangan saat melihat kekuatan Shane yang semakin hebat saja. Ia benar-benar mengagumi semua tentang Shane.


''Apa kau sudah puas melihatnya?'' Shane berkata dengan pandangan sinis. Tangannya bersidekap menandakan bahwa ia benar-benar membenci kedatangan laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya itu.


Laki-laki itu tersenyum ke arah Shane, perlahan berjalan mendekatinya. Shane pun sontak langsung memundurkan langkah kakinya.


''Kejadian itu sudah lama Zera. Sampai kapan kita akan seperti ini terus Zera? Dan aku harus apa agar kau mau memaafkanku?''


Mendengar ucapan laki-laki itu, Shane menyunggingkan ujung bibirnya. Ia sungguh-sungguh merasa muak dan tidak ingin meladeni omong kosong laki-laki yang saat ini ada di hadapannya itu.


''Ada!'' Jawabnya singkat.


Ellen yang mendengar jawaban Shane pun sontak tersenyum bahagia. Setidaknya ada harapan akan berbaikan dengan Shane.


''Apa? Katakan saja semuanya. Aku akan sebisa mungkin mengabulkannya. Asalkan kita bisa berbaikan kembali,'' ucap Ellen.


''Pergilah jauh-jauh dariku! Dan jangan lagi muncul dihadapanku!''Shane berkata sambil menunjuk ke arah Ellen.


Pupus sudah harapan Ellen. Ia sungguh tidak menyangka Shane akan sebenci itu padanya. Perlahan pandangannya pun mulai memudar.


''Aku tahu maksud dan tujuan kau datang menemuiku. Kau ingin aku mencari tahu tentang keberadaan istrimu bukan?''


Mendengar ucapan Shane semakin membuat mata Ellen terperangah. Ia sungguh benar-benar tidak menyangka Shane mampu mengetahui semuanya. Bahkan saat tak ada yang tahu tentang maksud dan tujuan kepulangannya itu, hanya untuk menyelidiki atas hilangnya istrinya.


Ellen berharap bisa menemukan titik terang tentang keberadaan istrinya itu.


Dalam kebisuannya, Ellen semakin di buat terkejut kembali dengan selembar foto yang shane sodorkan dihadapannya.


''Kalau bukan karena kak Natan, aku tidak akan sudi membantumu. Lihat baik-baik foto itu! Setelah itu cari sendiri istrimu.'' Shane pun bergegas berjalan meninggalkan Ellen yang masih mematung menatap selembar foto itu.


''Oh iya,'' dalam langkahnya, Shane kembali membalikan badannya.


''Jangan lagi muncul dihadapanku. Atau aku tidak akan segan lagi padamu.Ingat itu!'' Kemudian ia pun benar-benar pergi meninggalkan Ellen.


Ellen terdiam mematung menatap selembar foto yang bergambar potret seorang perempuan yang sedang duduk disebuah kursi. Perempuan itu juga terlihat tengah berbadan dua. Perempuan itu tampak tersenyum bahagia menatap seorang pria tampan yang tengah berlutut dihadapannya sambil menyodorkan kotak yang berisi sebuah cincin berlian.


Perempuan itu adalah Song Chaca. Istrinya yang telah menghilang satu tahun yang lalu. Ellen meremas potret itu hingga tak berbentuk. Tangannya mengepal, wajahnya menahan emosi yang mungkin akan meledak di kepalanya.


Ia mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu. Dimana istrinya tiba-tiba menghilang tanpa sebab dan tanpa kabar. Ia sudah mencari ke sana ke mari, seperti orang gila. Ia sungguh tidak menyangka ia malah di hadapkan dengan kenyataannya yang ada digenggamannya itu.


Ellen berlari mengejar kepergian Shane. Meski tergopoh-gopoh, akhirnya ia bisa menyamai langkah Shane.


''Bukankah sudah aku katakan tadi supaya jangan lagi muncul dihadapanku! Apa kau tuli?''


''Aku tahu aku sangat banyak kesalahan terhadapmu Zer. Bisakah kau membantuku mencari tahu keberadaan istriku itu untuk terakhir kalinya? Aku mohon Zera. Demi pertemanan kita sejak dulu.''


Ellen berdiri menghadang langkah Shane.


Kali ini hatinya benar-benar di buat emosi tinggi oleh laki-laki ini.


''Sepertinya, Jerman bukan tempat yang bisa mengajarkanmu sopan santun dan cara menghormati privasi orang lain ya?'' Shane hendak menepis badan Ellen namun Ellen dengan segera memegang erat lengan Shane.


''Aku mohon Zera. Aku janji. Setelah ini, aku akan benar-benar pergi dari hadapanmu. Dan tidak akan lagi kau dengar tentang diriku bahkan namaku sekalipun,''


Mendengar ucapan Ellen, Shane mengernyitkan dahinya.


''Selain kau pergi dari kehidupanku, apa lagi keuntungan ku jika aku membantumu?''


''Aku ini seorang pembisnis, aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa ada keuntungan yang besar bagiku,'' ucap Shane.


Ellen diam saja mendengar ucapan Shane. Ia tak tahu harus memberikan apa sebagai bayarannya. Sedangkan Shane sendiri sudah memiliki segalanya.


''Lama sekali! Pikirkan dulu baik-baik. Setelah itu pukul 19.00 datanglah ke restoran hotel tempat aku menginap.


Setelah mengatakan itu, Shane benar-benar pergi meninggalkan Ellen yang masih mematung melihat kepergiannya.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰