
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
...Dor......
''Aahk.....'' Ana berteriak histeris saat mendengar suara tembakan.
Tembakan yang Shane arahkan tepat ke ban mobil salah satu mobil yang mengikutinya hingga membuat mobil itu hilang kendali dan menabrak pembatas jalan.
Tangan Shane bergetar hebat. Ia menjatuhkan dirinya di kursinya.
''Mah, aku berhasil menembak ban mobil itu,'' ucapnya dengan wajah ketakutan.
Melihat ekpresi Shane Ana sangat khawatir namun ia juga tidak bisa mengehentikan mobilnya. Sebab beberapa mobil lainnya masih mengikutinya.
''Shane, darimana kau mendapatkan pistol itu nak?'' Ucap Ana. Ana tidak menyadari jika Shane ternyata membawa sebuah senjata.
''Tadi papa Morgan yang memberikannya. Tapi sebenarnya Shane sendiri tidak bisa menggunkannya. Entah mengapa saat melihat pistol ini Shane sangat tertarik sehingga papa memberikannya untuk Shane,''
...Dor...dor...dor......
Obrolan mereka terhenti saat salah satu orang yang mengikuti mereka juga mengarahkan senjatanya pada mobil yang di kendarai oleh Ana.
''Kita harus segera menghindari mereka Shane. Kencangkan sabukmu, dan pegangan erat-erat!'' Perintah Ana.
Shane mengangguk paham. Ana pun langsung menancap gas pedalnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
''Kita harus menghubungi Aldrich Shane. Cobalah untuk menelponnya!''
''Baik mah.''
Shane berulang kali menelpon Aldrich. Namun tak satupun panggilannya di jawab oleh Aldrich. Sepertinya Aldrich sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya.
''Anak itu memang tidak bisa di harapkan. Sekarang semuanya bergantung pada diri kita sendiri Shane. Mama tahu kau sangat terkejut dengan ke adaan ini. Mama sendiri juga terkejut karena baru kali ini mama mangelaminya. Maafkan mama jika nanti sampai terjadi apa-apa denganmu Shane,'' ucap Ana dengan wajah sedih.
Entah mengapa Shane sendiri tidak merasa takut dengan kondisi seperti ini.
''Shane tahu mah. Lebih baik sekarang kita lajukan lagi mobilnya secepat mungkin untuk menghindari mereka. Setelah itu kita pikirkan cara untuk melarikan diri,''
''Emm,'' Ana mengangguk.
...Braaak.......
Mobil yang mengikuti mereka bahkan sudah menyerempet bemper mobil merek hingga remuk dan terseret di pinggiran jalan hingga menabrak sebuah pohon besar.
''Aaaaakkkk.....''
...Braaaak.......
Mobil pun berhenti dengan kepulan asap yang hampir menyelimuti mobil.
Ana terluka parah dan tak sadarkan diri seketika akibat kepalanya terantuk setir. Sedangkan Shane juga terluka, namun kesadarannya masih ia pertahankan. Lalu ia pun segera berpura-pura pingsan setelah melihat orang-orang yang mengikuti mereka turun dari mobil mereka. Orang-orang itu langsung menyeret Shane keluar dari mobilnya.
''Kami sudah mendapatkannya Tuan?'' Ucap salah satu dari mereka yang sedang menghubungi seseorang di sebrang sana.
''Baguslah. Cepat bawa pulang dia dan masukkan ke penjara bawah tanah!''
''Baik Tuan,''
Namun tanpa mereka duga, Shane segera menarik pelatuk pistolnya dan ia arahkan ke arah kepala orang yang sedang memegang dirinya.
''Sialan! Gadis ini ternyata tidak pingsan.''
''Siapa kalian? Dan kenapa kalian ingin menangkapku!'' Ucap Shane tanpa melepaskan pistol yang masih setia ia arahkan ke kepala orang itu.
''Apa kau melupakanku Nona?'' Ucap orang itu yang tak lain adalah Richard.
''Siapa kau? Apa kita pernah ada dendam sehingga kau membuatku dan mamaku celaka.''
''Nona, sebaiknya kau ikut kami kembali ke rumah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Nona. Tolong Nona jangan berpura-pura tidak mengenali kami,''
[°°Apa maksud orang ini? Dan mengapa ia memanggilku dengan sebutan Nona dan memintaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku. Apa aku pernah menyinggung mereka?°° Batin Shane.]
''Cepat bawa Nona Shane masuk mobil!'' Perintah Richard.
''Jika kalian berani mendekat, aku akan menembak kepalanya!'' Ucap Shane.
Di dalam mobil Ana sudah sadarkan diri. Ia melihat Shane sudah di kepung oleh orang-orang yang mengikutinya sedari tadi. Ana segera kembali mengambil ponselnya dan mencoba kembali menghubungi Aldrich.
...Tut....tut...tut.......
''Ayo angkat Al. Mama mohon....''
Namu. sayang panggilannya tetap saja tidak mendapat jawaban dari sang putra.
Ana menangis karena tak bisa berbuat apa-apa saat melihat Shane dalam kondisi seperti itu. Namun ponselnya tak lama berdering...
''Hallo mah, maaf tadi aku masih ada rapat....''
''Cepat kemari Al! Kami sedang dalam masalah besar!'' Ana dengan segera memotong ucapan Aldrich.
''Masalah? Masalah apa mah? Dan mengapa mama terdengar sedang menangis?''
''Mobil kami di ikuti oleh orang-orang yang tak di kenal. Dan sekarang, sekarang Shane di tangkap oleh mereka. Cepatlah kemari Al mama mohon selamatkan Shane,''
''Baik mah, mama jangan khawatir tenangkan pikiran mama dulu. Sekarang lebih baik mama Share lokasi mama. Aldrich akan segera ke sana.''
Ana pun segera mengaktifkan GPS dan mengirimkan lokasi mereka. Namun salah satu dari anak buah Richard menyadari keberadaan Ana. Dan langsung merebut ponsel milik Ana.
''Tuan, Nyonya ini sepertinya sedang meminta bantuan,''
Richard tersenyum melihat ekpresi Ana.
''Lebih baik anda diam saja dan jangan ikut campur urusan kami nyonya. Jika nyonya masih menyayangi nyawa nyonya,'' ucap Richard.
''Beraninya hanya menggertak wanita. Apa kalian tidak malu dengan gender kalian ha!''
Shane sangat emosi melihat Ana yang ikut di seret-seret oleh mereka.
''Jika Nona menuruti kami sejak tadi, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.''
''Persetan!''
...Dor...dor...dor......
Tiga kali tembakan tepat mengenai kepala para anak buah Richard yang sedang memegangi kedua tangan Ana. Ana jatuh lunglai di tanah. Apa yang ia lihat dan ia dengar benar-benar sangat menakutkan.
''Anda berani membunuh anak buah kesayangan Tuan!''
Richard mengarahkan senjatanya ke kepala Shane, namu Shane juga melakukan hal sama padanya.
Dua pistol saling bertemu, saling beradu saling memandang, dan saling membunuh satu sama lain. Potongan memori bagai kilatan bayangan masa lalu pun melintas di pikiran Shane.
[°°Sial! Kepalaku sakit sekali.°°]
Namun Shane berusaha keras menahannya. Di saat seperti ini, ia tidak bisa menghiarukan rasa sakit yang sedang menjalar di kepalanya.
''Angkat tangan! Dan jatuhkan senjata kalian!''
Aldrich datang dengan membawa petugas kepolisian setempat. Richard tersenyum miring melihat kedatangan polisi.
''Apa Nona masih ingin melanjutkan permainannya?''
Richard menarik pelatuk pistolnya hingga terdengar suara tembakan.
...Dor........
''Shane!'' Teriak Aldrich dan Ana saat mendengar suara tembakan tersebut. Namun ternyata tembakannya meleset karena Shane berhasil menghindar.
Richard menenggak ludahnya dengan kasar saat melihat tatap Shane. Tatapan yang sangat mengintimidasi. Tatapan yang dulu sering membuatnya takut saat melihat Shane.
''Berani sekali kau mengangkat senjatamu padaku Richard!''
...Dor......
Satu tembakan tepat mengenai bahu sebelah kiri Richard hingga membuatnya tersungkur di lantai. Anak buah Richard segera membawa Richard pergi dari tempat itu. Sangat tidak menguntungkan posisi mereka saat ini.
''Shane kau tidak apa-apa?'' Aldrich mendekati Shane dan memeriksa badan Shane.
...Bruuk......
''Shane!''.....
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰