SHANE

SHANE
Bab 2 : Menahan Emosi



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Tok...tok...


''Masuk''


Jawab suara dari arah dalam.


Shane perlahan membuka pintu ruangan itu. Wajahnya menunduk. Meski tak berbuat salah, namun seperti terselip sebuah ketakutan di raut wajahnya.


...Braaak.......


Sebuah vas bunga melayang dan hampir saja mengenai wajah Shane seandainya ia tidak bisa menghindar.


''Brengsek! Sudah berani ya kamu! Apa ini yang pamanmu ajarkan selama ini ha!''


Ya seperti itulah setiap kali Shane bertemu dan bertatap muka dengan papanya. Hanya ada makian dan raut kebencian seakan ingin menelan orang hidup- hidup. Entah kesalahan apa yang sudah Shane lakukan. Shane sudah bertanya-tanya dan mencari tahunya sejak kecil, namun tidak ada yang pernah memberitahu alasannya mengapa papanya begitu sangat membencinya.


''Maaf Pah,''


Hanya kata itulah yang selalu kluar dari bibir manis Shane saat papanya mengamuk tanpa sebab.


''Mulai saat ini kau dilarang kluar dari villa ini sampai pernikahan kakakmu selesai! Apa kau paham ha! Brengsek! Dasar anak tidak berguna!''


''Baik pah,''


Shane berusaha menahan air matanya yang perlahan menetes. Namun dengan segera ia langsung mengusapnya. Ia tak pernah ingin dipandang lemah oleh orang tuanya. Terlebih, papanya selalu menganggap Shane anak yang tidak berguna.


''Jangan membuat malu keluarga Mores. Ingat itu!'' Ucap papanya sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


...Di sisi lain.......


Aldrich berusaha menetralkan pandangannya. Ia sedikit terkejut saat mendapati dirinya sedang berbaring di sebuah tempat tidur. Ia baru merasa lega saat menyadari bahwa itu adalah kamar pribadinya.


''Kau sudah bangun Al?''


Aldrich pun menoleh ke arah sang mpunya suara. Ternyata Zayn juga baru sadar setelah lama pingsan. Tak lama kemudian datang pak Joko. Beliau kepala pelayan yang mengurus Villa mereka.


''Tuan sudah sadar?''


Aldrich mengangguk sebagai jawaban.


''Tadi Tuan Kenan langsung bergegas pergi dan juga mengutus beberapa orang untuk mencari Tuan muda. Kami sangat terkejut saat melihat Tuan muda dan Tuan Zayn tak sadarkan diri di pinggir jalan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Tuan?''


''Apa selain kami, tidak ada orang lain di lokasi tempat kami di temukan?''


''Tidak ada Tuan, Apakah seharusnya masih ada orang lain selain Tuan?''


''Tidak! Tolong sampaikan saja pada Kenan saat kembali, suruh dia datang menemuiku!''


''Baik Tuan,'' pak Joko pun pergi meninggalkan kamar Aldrich.


''Memangnya masih ada orang lain selain kita Al? Bukankah seingatku hanya kita berdua saja yang ada di sana? Kecuali para perampok itu.'' Zayn masih tidak mengerti dengan ucapan Aldrich.


''Selain kita, seingatku ada seorang gadis yang datang dan menolong kita.''


''Aku juga tidak mengerti. Jika dia menolong kita, mengapa tidak melapor polisi atau meminta tolong. Bahkan kita saja masih dibiarkan pingsan di pinggir jalan? Sebenarnya siapa gadis itu? Dan kemana dia?'' Aldrich mengerutkan keningnya berusaha mengingat-ingat kembali wajah gadis itu.


''Benarkah? Mungkin saja kau salah lihat. Atau, mungkin saja gadis itu juga salah satu dari kelompok perampok itu,'' ucap Zayn yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Aldrich.


''Apa?''


''Kenapa kau malah melototiku!''


''Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Benar kan? Mana mungkin ada orang yang berani datang ke tempat itu, apa lagi seorang gadis. Bukankah itu sangat aneh?'' Ucap Zayn.


Memang tidak salah dengan ucapan Zayn.


Namun Aldrich merasa gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Meski samar-samar, Aldrich juga sempat mendengar dan melihat beberapa kali tembakan yang gadis itu arahkan kepada para perampok. Di saat Aldrich masih bergelut dengan pikirannya, Kenan sudah datang untuk menemuinya.


''Tuan memanggil saya?''


Aldrich pun mengangguk.


''Selain aku dan Zayn, apa ada orang lain lagi di lokasi kejadian?''


''Ken, coba lihat kamera yang ada di mobilku! Setelah itu selidiki dan segera mungkin dapatkan informasi tentang semuanya!'' Perintah Aldrich.


''Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu,'' ucap Kenan.


...•••••••••••>♡<•••••••••••...


Shane menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut. Bi Narsih yang melihat nona mudanya keluar dengan raut wajah yang lesu, ia pun hanya bisa menghela nafas. Sudah tentu ia tahu bagaimana kondisi nona mudanya itu setiap kali bertemu dengan majikan besarnya.


''Tidak jadi minum atau makan dulu non?''


Bi Narsih menghampiri Shane dan memberikan segelas jus kesukaan nona mudanya itu.


''Tidak Bi, lagi pula Shane tidak akan pulang malam ini Bi. Jadi tidak bisa ikut makan malam juga. Maafkan Shane Bi, Shane buru-buru. Jadi tidak bisa mencicipi masakan enak bibi.'' Sambil menyodorkan gelas kosong yang isinya telah tandas ia minum.


''Baiklah non, berhati-hatilah saja. Itu pesan Bibi.''


Shane pun mengangguk paham.


Shane kembali menaiki mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya. Bahkan ia melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. Ia ingin segera sampai di tempat favoritnya.


...Dor...dor...dor......


Suara tembakan menggema di seisi ruangan tersebut. Seperti biasa, saat Shane banyak pikiran ia selalu datang ke tempat favoritnya tersebut. Melampiaskan segala emosi dan beban pikiran ke arah target penembakan di arena khusus milik keluarga Mores.


...''Deeer...''...


Dari arah belakang punggungnya muncul seorang gadis manis yang langsung memeluk Shane. Meski begitu, tembakannya pun tidak meleset satupun.


...''Wow,''...


Gadis itu menunjukkan kedua jempolnya melihat ke lihaian Shane.


''Kau masih tetap yang terbaik kak,'' ucapnya


''Joice!''


''Bisakah kau tidak main-main saat aku sedang membidik sasaran? Bagaimana jika sampai melukaimu?''


''Aku rela kok demi kakak, jika sampai terluka. Karena kakakku adalah panutanku, idolaku dan kak mau nggak jadi pacarku?'' Ucap gadis itu sambil berlutut membawa setangkai bunga mawar yang entah dari mana ia dapatkan.


Gadis itu adalah Joice Alena Mores putri pamannya Marlon.


''Baiklah, sebagai pacar yang baik, apakah nanti sore aku harus menemanimu kencan di hotel sayang,'' ucap Shane sambil menggerlingkan sebelah matanya.


''Eew... Kau terlihat menjijikkan kak. Lebih baik aku pergi menemui Faris sore nanti. Apa kau mau ikut kak? Aku dengar, Ellen akan datang juga lo. Ellen baru saja pulang dari Jerman. Bukankah kakak sangat merindukannya?''


Mendengar nama yang tak asing baginya itu, membuat pikiran Shane seperti berlari ke masa lalu. Namun hatinya kini telah berubah. Hatinya sudah membeku bak es batu yang ada dikutub.


Sebuah nama yang dulu terdengar akrab di telinga, nama yang dulu selalu ia sebut dengan bahagia, nama yang dulu ia nantikan. Dan nama yang dulu membuatnya mati rasa.


Shane menggelengkan kepalanya membuat Joice mengerucutkan bibirnya.


...[°°Ellen, sepertinya sudah lama aku tidak mendengar namanya lagi setelah kejadian tiga tahun yang lalu,°° Shane]...


...°°°°°°••••💔💔💔••••°°°°°...


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰