
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Sedang apa kau di sini kak?''
Shane sedikit lega. Ternyata Joice yang mendatanginya.
''Aaaa...,''
''Aku sedang membenarkan bajuku. Apa kau tidak melihatnya?'' Shane berpura-pura membenarkan bajunya yang sengaja ia miringkan.
''Aduh kak, para tamu sudah mulai berdatangan. Kenapa kakak masih belum bersiap-siap? Kita harus ikut menyambut para tamu bersama Bibi Sonya. Ayok kak!''
Joice menarik tangan Shane pergi ke lantai atas kamarnya.
''Shane!''
''Ei, kak Natan.''
''Kenapa kakak masih di sini? Bukankah seharusnya kakak bersama Kak Yora_ istri Natan.''
''Yora sedang pergi ke toilet. Aku tadi mengantarkannya. Maka dari itu aku menunggunya di sini, karena dia, perginya ke toilet yang ada di kamarmu,''
''Ooo,''
''Lihatlah! Bahkan kau belum bersiap-siap di acara pentingku ini. Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai kakakmu lagi Shane?'' Ucap Natan sambil mengacak-ngacak rambut Shane.
''Kakak!''
''Rambutku jadi berantakan, kan! Ih kakak ini benar-benar menyebalkan,'' Gerutu Shane sambil membenarkan rambutnya kembali.
''Kak Natan, tadi aku sudah bersusah payah menyeret kak Shane untuk segera bersiap-siap. Jadi jangan mengganggunya kak. Atau nanti dia akan kabur.''
Joice ikut cemberut. Ia sangat hafal dengan sifat Shane jika sedang marah pasti akan pergi begitu saja.
''Sedang apa kalian?'' Ucap Yora yang baru selesai dari kamar mandi.
''Kau mengganggu adikku lagi By?''
''Mana ada. Yang ada Shane dan Joice yang menjahiliku sedari tadi. Lihatlah! Mereka kompak memarahiku,'' elak Natan.
''Jangan dengarkan ucapannya kak, dari tadi kakak menggerutu. Katanya kak Yora di kamar mandi lama sekali. Entah bertelur entah beranak? Begitu katanya kak,''
Yora pun langsung menoleh ke arah sang suami.
''Bertelur? Beranak? Kau kira aku ini ayam atau sapi ha?'' Yora menjewer telinga Natan, sampai sang mpunya mengaduh kesakitan.
''Jangan dengarkan ucapan gadis itu sayang. Mana mungkin aku menggerutu karena menunggumu yang hanya lima menit saja. Jangankan lima menit, bertahun-tahun pun aku siap menunggumu,'' ucap Natan sambil memeluk pundak sang istri.
''Bertahun-tahun? Apa kau pikir aku akan mematung di kamar mandi sampai Bertahun-tahun haaaah?''
''Ampun...ampun By, iya...iya aku mengaku salah. Sudahlah, lebih baik kita ke bawah. Para tamu sudah menunggu kita,''
''Baiklah,''
''Shane, Joice. Segeralah bersiap-siap! Kami akan menunggu kalian di bawah,''
''Baik kak,'' ucap serempak Shane dan Joice.
''Ingat itu. Cepatlah!'' Natan berucap sambil mengejek adiknya itu.
''Diih!''
Shane menarik tangan Joice dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Yora tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang selalu senang mengganggu adik-adiknya.
Yora sangat tulus mencintai Natan, begitu pun sebaliknya. Yora juga sangat menyayangi Shane. Yora sudah menganggap Shane seperti adiknya sendiri. Terlebih setelah Natan menceritakan tentang kehidupan yang mereka jalani selama ini.
Tentang bagaimana Shane yang selalu kurang kasih sayang dan selalu salah di mata keluarganya. Yora selalu memperlakukan Shane sangat tulus dan baik. Terlebih, Yora sebagai anak tunggal yang sering kali kesepian karena orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
Yora kembali menoleh ke arah kamar Shane, pandangannya yang tulus menandakan rasa sayangnya sebagai seorang kakak.
''Ayo By, Shane pasti akan segera turun ke bawah menemanimu. Jangan khawatir,''
Natan berusaha menenangkan hati sang istri.
''Aku tidak tahu By, rasanya seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Perasaanku tidak enak sekali,''
''Jangan khawatir. Pasti ini efek nerves karena pernikahan kita By. Kan ada aku yang akan selalu ada di sampingmu By.''
Natan memeluk Yora.
''Tenanglah,''
Lalu mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka untuk segera turun ke bawah menyambut para tamu.
''Kak! Pakai ini saja,''
Joice menarik tangan Shane dan menyerahkan sebuah gaun untuk Shane pakai.
Gaun indah yang berwarna biru langit dengan aksen bunga-bunga. Diseimbangi dengan make up yang tidak terlalu tebal berwarna soft memberikan kesan manis dengan balutan gaun yang indah dan nyaman. Malam ini, Shane benar-benar nampak lebih anggun.
''Biru?''
''Iyalah kak. Lihatlah! Bukankah kau tampak sangat cantik,''
Joice membawa Shane berdiri di depan kaca. Shane tampak terpaku memandangi dirinya.
''Seperti bukan diriku.''
''Tentu saja dirimu kak, hanya saja kali ini kau lebih terlihat feminim. Di bandingkan sebelumnya. Setiap hari kau selalu bergaya apa adanya. Bahkan mana ada yang tahu kalau kau itu seorang perempuan yang sangat cantik. Bahkan aku saja iri dengan kecantikanmu,''
''Apa kau bilang!''
''Tidak ada.'' ( Joice memegang kedua tangan Shane.)
''Kak, kau selalu cantik di mataku.''
''Tapi apakah aku pantas seperti ini?''
''Tentu saja pantas kak! Jika ada yang bilang tidak pantas, akan ku colok kedua matanya,''
''Hahahaha..'' Shane menggelengkan kepalanya. Joice terlihat imut saat sedang cemberut.
Joice memutar bola matanya. Ia benar-benar sudah lelah dengan sifat kakaknya itu yang selalu cuek dengan penampilannya.
''Baiklah, Aku akan memakai gaun ini.'' ( Joice tersenyum mendengar ucapan Shane )
''Kau turunlah dulu. Ada sesuatu yang harus kakak lakukan dulu,'' Shane mendorong pelan punggung Joice.
Setelah kepergian Joice, Shane mengeluarkan sebuah flash disk dari saku celananya.
''Tuan Seno.''
''Bukankah kalian ingin menggabungkan perusahaan dengan Tuan Seno. Jadi, yang akan menjadi target utamanya adalah Tuan Seno. Mari kita lihat, sampai sejauh mana kalian akan melindunginya,''
Shane tersenyum menatap flash disk yang saat ini ada di tangannya. Dalam ingatannya pembunuh orang tua kandungnya ada enam orang, termasuk Tuan Seno. Maka ia akan memulai pembalasan dendamnya dari orang-orang terdekat Tuan Mores.
Di lantai bawah
Semua tamu nampak tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang sedang membahas soal bisnis, ada yang makan, ada pula yang sedang berdansa.
Terlihat pula Zayn dan Sella yang tengah mengobrol sambil meneguk segelas anggur. Selain mereka, ternyata Aldrich juga hadir di pesta malam ini.
Aldric hanya diam mengamati pemandangan sekitarnya. Berulang kali ia di hampiri beberapa relasi bisnis dan juga para wanita. Namun laki-laki itu tampak acuh dan seperti sedang menantikan kehadiran seseorang.
''Kak, ayo berdansa dulu. Lihatlah! Semua orang tengah menikmati pestanya. Tapi kau malah sibuk dengan lamunanmu sendiri,''
Sella merengek mendekati Aldrich. Namun Aldrich sama sekali tidak menanggapinya.
Tiba-tiba lampu menjadi padam. Terlihat dari arah tangga dua orang gadis tengah mengantar seorang gadis yang malam ini menjadi sang pengantinya.
Lampu yang menyorot ke arah mereka membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah mereka bertiga.
Aldrich tampak tersenyum menatap salah satu gadis itu_ Shane.
''Cantik sekali,''
''Haaah apa? Siapa yang cantik?'' Zayn tampak kebingungan dengan ucapan Aldrich yang tiba-tiba.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰