
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
Di kota Proid, tepatnya di sebuah Villa elit. Seorang laki-laki yang tinggi dan tampan, sedang berdiri di sebuah balkon depan kamarnya. Laki-laki itu sedang menatap jalanan kota dengan pandangan yang tajam.
Sesekali ia meneguk segelas anggurnya sambil menikmati pemandangan yang ada dihadapannya.
Dari arah pintu datang seorang pria lain lagi dan menghampiri laki-laki itu.
''Bukankah Proid terlihat lebih indah di malam hari? Bahkan jauh lebih indah di sini dari pada markasmu yang ada di London bukan?'' Ucap laki-laki tersebut, yang tak lain adalah sahabat laki-laki itu, yang bernama Zayn.
Laki-laki itu pun membalikkan badannya menoleh ke arah sang pemilik suara.
''Memang terlihat indah. Tapi, apa kau tahu? Bahwa kota seindah ini memiliki banyak rahasia yang sulit dimengerti oleh banyak orang. Terlebih manusia bodoh sepertimu yang tahunya hanya bermain dengan wanita di Club malam saja,'' ucap laki-laki tersebut.
''Cih,'' laki-laki yang bernama Zayn itu hanya berdecih mendengar ucapan sarkas sahabatnya itu.Ia sudah terbiasa dengan sikap dan sifat sahabatnya itu.
''Aldrich Jourell Ewald! Bisakah kau sedikit saja berbicara baik terhadapku?'' Ucap Zayn.
Namun laki-laki itu sama sekali tidak mengindahkan keluhan sahabatnya. Ia malah lebih memilih pergi begitu saja meninggalkan Zayn.
''Kau mau kemana?''
''Cari angin!'' Jawabnya dengan acuh.
''Cari angin?'' Ulang Zayn.
''Tunggu dulu! Aku akan ikut,'' Zayn mengambil jaket dan ponselnya yang tadi sempat ia taruh di meja yang ada di kamar Aldrich. Lalu dengan segera menyusul derap langkah sahabatnya itu.
Namun, baru saja beberapa mil mereka pergi dari Villa. Tiba-tiba mobil mereka dihadang oleh beberapa orang yang tak dikenal. Sepertinya meraka adalah perampok, karena dilihat dari baju dan apa yang mereka bawa. Dan sialnya lagi, ban mobil mereka meletus karena ditembaki beberapa kali oleh para perampok itu. Untung saja Aldrich sangat mahir dalam mengendarai mobil. Sehingga mobil yang di kendarai mereka tidak menabrak pohon.
''Sial!''
Zayn menggerutu kesal.
''Kita turun saja dulu. Aku ingin tahu, siapa mereka dan apa tujuan mereka menghadang jalan kita,'' ucap Aldrich.
''Bukankah sudah jelas mereka itu perampok! Lebih baik kita pergi saja dari sini. Dan meminta bantuan kepada pihak berwajib di daerah sini,'' Zayn mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa anak buahnya.
''Dasar bodoh, bagaimana bisa kita pergi dari sini sedangkan ban mobil kita sudah meletus. Kau hubungi saja polisi. Aku akan turun dulu,''
''Tunggu!''
''Aku akan ikut denganmu. Aku sudah mengaktipkan lokasi kita. Supaya Kenan bisa segera ke mari,''
Dan Akhirnya, mau tidak mau mereka berdua pun keluar dari mobil.
Namun, siapa yang menyangka? Saat mereka berdua keluar dari mobil, salah satu perampok itu melempar gas asap yang berisi obat bius. Seketika Zayn pun jatuh tersungkur akibat menghirup gas asap obat bius tersebut. Sedangkan Aldrich, ia langsung menutup hidungnya menggunakan sapu tangan. Meskipun sudah ditutup, namun ia sempat menghirup gas tersebut. Alhasil, Aldrich merasa pusing dan pandangan pun mulai menjadi buram.
Brak!
Seketika semua orang menoleh ke arah suara tersebut.
''Ck...!''
''Berani sekali kalian merampok di wilayahku!''
Tiba-tiba terdengar suara seruan dari seorang gadis yang kini tengah duduk di atas salah satu mobil perampok itu.
Shane Olivia zera
Putri dari seorang pengusaha dan pemilik kebun teh terluas di kota Proid, yaitu keluarga besar Tuan Mores_kakeknya Shane.
Mores adalah nama marga keluarganya, namun hanya Shane saja yang tidak memakai nama Mores sebagai nama belakangnya. Sejak kecil ia sudah di ajarkan ilmu bela diri dan dalam menguasai senjata oleh pamannya sendiri yaitu Tuan Marlon.
Tuan Marlon adalah adik kandung papanya Shane yang bernama David dan istrinya Sonya. Namun kedua orang tua Shane sangat acuh dan terlihat tidak menyayanginya. Sehingga sejak kecil pamannya Marlon lah yang merawat dan membesarkan Shane seperti anak kandungnya sendiri. Tuan Marlon juga memiliki seorang putri yang bernama Joice. Joice dan Shane saling menyayangi layaknya seperti adik dan kaka sendiri.
.....♡☆♡......
Para perampok terlihat geram saat melihat Shane yang terlihat begitu santai duduk di atas atap mobil mereka sambil memakan sebungkus keripik singkong.
''Dasar gadis tengik! Berani sekali kau ikut campur dengan urusan kami. Lebih baik pergilah! Atau jangan salahkan kami, jika sampai tubuhmu yang mulus itu akan kami cabik-cabik seperti seekor babi panggang!'' Ucap salah satu perampok itu. Sepertinya dia ketuanya. Karena terlihat dia begitu santai memerintah yang lainnya.
Aldrich berusaha menajamkan pandangannya untuk bisa melihat sosok gadis yang telah datang menolongnya itu. Namun baru beberapa detik ia melihat,ia langsung jatuh pingsan karena tak mampu lagi menahan reaksi obat bius tersebut.
''Ck...! Tak sadar diri!'' Ucap Shane.
Dan dalam hitungan detik seluruh anggota perampok itu lumpuh seketika dengan beberapa tembakan yang Shane arahkan pada mereka.Tidak ada yang meleset, karena Shane terkenal dengan kemahirannya dalam menggunakan senjata.
Diantara beberapa mayat perampok, Shane menyisakan salah satu anggota mereka. Shane ingin tahu siapa yang menjadi dalang atas perampokan yang meneror wilayahnya akhir-akhir ini.
''Kalian urus mayat mereka! Dan bawa yang masih hidup ke ruangan bawah tanah!'' Ucap Shane, yang ternyata tidak datang sendirian. Melainkan dengan beberapa anak buahnya.
''Baik!'' Ucap serentak anak buahnya.
''Saya mohon, ampuni saya nona! Saya mohon!'' Teriak perampok yang masih dibiarkan hidup itu, saat diseret oleh anak buah Shane.
Gadis itu hanya menyipakkan kedua telapak tangannya seakan membersihkan debu. Lalu dengan cepat pergi mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat kemudian....
Kini mobil yang dikendarai oleh Shane sudah terparkir cantik di halaman sebuah Villa mewah milik keluarganya.
''Eh non Shane sudah pulang. Mau dibuatkan minum apa non?'' Ucap Bi Narsih. Bi Narsih kepala pelayan terlama yang bekerja di rumah keluarganya. Ia juga yang merawat Shane sejak kecil karena Mama dan Papa Shane yang tidak pernah peduli dengan Shane.
''Nanti saja Bi, aku mau pergi menemui papa dulu,''
Shane langsung berlari menuju ruang pribadi papanya. Bi Narsih hanya menggelengkan kepalanya melihat kepergian sang majikan.
Bi Narsih sangat menyayangi Shane, ia merasa kasihan melihat nona mudanya itu. Sejak kecil sudah digembleng dengan sangat keras oleh pamannya. Belum lagi nonanya sejak kecil juga tidak pernah mendapatkan perlakuan yang baik dan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰