
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
Setelah mendapatkan penanganan, Dokter menemui Aldrich.
''Bagaimana ke adaannya Luwis?''
''Sekarang ke adaannya sudah lumayan stabil. Untung kalian tepat waktu menyelamatkannya. Kalau lebih lama lagi, pasti saat ini nyawanya sudah tidak akan terselamatkan akibat banyaknya air yang masuk ke dalam paru-parunya.''
''Biarkan dia beristirahat. Tunggu saja sampai ia sadar. Setelah sadar kau bisa memberikannya makan dan minum obat,'' ucap Dokter Luwis.
''Baiklah, terima kasih atas bantuannya Luwis.''
''Tapi Al, ngomong-ngomong siapa gadis itu? Kelihatannya kau sangat mencemaskannya. Apakah dia calon kakak iparku?''
Aldrich tidak menjawab pertanyaan Luwis, ia malah memberi hadiah pelototan mata yang tajam karena Luwis terlalu banyak bertanya.
''Baiklah-baiklah. Aku tidak akan bertanya apapun padamu lagi. Lagi pula, nanti lama-lama juga akan terungkap sendiri kebenarannya jika dia nantinya akan menjadi kakak iparku. Benar bukan?''
''Zayn! Antarkan Luwis kembali ke halamannya.''
''Baiklah. Ayo Luwis, lebih baik kita jangan mengganggunya,'' Zayn merangkul pundak Luwis.
Zayn mengantarkan Dokter Luwis untuk melanjutkan kembali aktifitasnya. Sebab selain seorang teman dekat, Luwis juga merupakan dokter pribadi di kediaman Aldrich. Bahkan mereka tinggal bersama di Villa yang sama.
Tak lama kemudian Aldrich mendengar sebuah suara dari kamar yang saat ini sedang Shane tempati.
''Kau Sudah bangun?''
Shane terlihat linglung dengan apa yang ia lihat.
Saat ini ia tengah berbaring di sebuah tempat tidur, dan di sebuah ruangan yang tampak asing.
Sesosok pria tampan tengah duduk di kursi samping tempat ia berbaring. Suara baritonnya membuatnya semakin melebarkan pandangannya.
Pria itu kemudian meminta Luwis untuk memeriksanya kembali, setelah melihat kebingungan Shane.
''Cepat kembalilah!''
''Tadi kau mengusirku, sekarang kau memintaku kembali. Kau benar-benar pria yang tidak mempunyai pendirian Al!''
''Kau itu cerewet sekali. Jika kau tidak segera datang kemari, aku akan meminta ayah dan ibu untuk membawamu dan menugaskanmu di kamar mayat!''
...Tut..tut..tut......
Sambungan telepone diputuskan sepihak begitu saja oleh Aldrich.
''Ada apa Wis? Kau terlihat sangat kesal setelah menerima telepon dari Aldrich,'' tanya Zayn. Karena memang keduanya baru saja keluar dari pintu utama rumah Aldrich. Dan baru saja mau melangkahkan kaki mereka ke luar rumah, namun Aldrich sudah memintanya untuk masuk kembali.
''Dasar Aldrich sialan! Selalu saja memerintahku seenaknya. Lihatlah! Sekarang dia memintaku untuk kembali. Yang membuatku semakin kesal, karena dia selalu saja menggunakan ancaman kamar mayat.''
''Hahahaha....,'' Ya sudah. Lebih baik kita segera kembali ke sana, sebelum Aldrich benar-benar menempatkanmu di kamar mayat,''
''Kau! Kau masih berani tertawa Zayn. Jika bukan karena ke jahilanmu dulu, mana mungkin membuatku sangat takut dengan kamar mayat. Dan selalu menjadi kelemahanku di mata Aldrich!''
''Baiklah-baiklah, itu semua salahku. Maafkan aku. Lebih baik kita segera kembali. Atau Aldrich akan benar-benar sangat marah,''
Akhirnya mereka berdua terpaksa kembali lagi masuk ke dalam rumah.
''Akhirnya kau datang juga. Cepatlah periksa ke adaannya!'' Perintah Aldrich.
''Iya...iya. Kau bawel sekali. Seperti sedang menunggu istrimu melahirkan saja,''
Luwis pun segera memeriksa ke adaan Shane.
''Nona?''
Dokter itu melambaikan tangannya di depan wajah Shane.
''Siapa anda? Dan kenapa saya bisa ada di sini?''
''Nona, apa kau tidak mengingatku? Aku dulu pernah bertamu di rumahmu. Dan memberikan sekotak kue, kau masih ingat kan Nona?'' Ucap Zayn.
''Kue?''
Shane memegangi kepalanya. Rasa sakit yang teramat, membuatnya sampai menjerit kesakitan.
''Aaaaakh...''
''Nona!.... Shane....'' Ucap serentak ketiga pria itu.
Namun setelah itu, Shane kembali tak sadarkan diri.
''Sepertinya, gadis ini harus segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih lengkap.''
''Apa ada sesuatu yang mengancam nyawanya Luwis? Cepat katakan!''
Aldrich menarik kerah baju Luwis, dengan tinggi badan Aldrich yang melebihi tinggi badannya Luwis, membuatnya seperti terangkat dari tanah.
''Tenangkan dulu pikiranmu Al. Jangan bertindak gegabah!'' Zayn mencoba menenangkan Aldrich yang saat ini pikirannya sedang sangat kalut.
''Maafkan aku Luwis,'' ucapnya setelah Aldrich mulai bisa mengendalikan emosinya.
''Ini hanya baru dugaanku Al. Melihat responnya tadi, sepertinya gadis ini mengalami benturan yang sangat hebat di kepalanya hingga membuat trauma pada otaknya dan membuatnya menjadi lupa ingatan.''
''Itulah sebabnya aku menyarankanmu untuk segera membawanya ke rumah sakit. Agar kita semua tahu lebih detailnya,''
Aldrich menyetujui saran Luwis untuk membawa Shane ke rumah sakit. Namun Aldrich meminta semua agar merahasiakan tentang Shane. Dan meminta Luwis untuk sementara menjadi Dokter pribadi Shane.
''Zayn,''
''Aku akan menyelidiki tentang apa yang terjadi pada Nona Shane. Aku akan memberitahukannya padamu setelah mendapatkan semua informasinya. Jadi kau bisa dengan tenang merawat Nona Shane,''
''Baiklah,'' Kau memang paling paham dengan keinginan_ku Zayn,''
Aldrich menepuk pundak sahabatnya itu. Kemudian ia mengambil jas dan kunci mobilnya untuk membawa Shane ke rumah sakit. Sedangkan Zayn, ia pun dengan segera melaksanakan tugasnya.
...Di kediaman Mores...
''Aaakh...!'' Tidak bisakah kau pelan-pelan Sonya?''
''Aku sudah pelan-pelan sedari tadi David! Kau saja yang terlalu lemah,''
Saat ini seluruh anggota keluarga Mores sedang berduka atas kematian Tuan Marches. Sedangkan David, ia saat ini sedang di obati oleh istrinya.
''Apa kau akan diam saja melihat semua ini Marlon?'' Ucap Tuan Mores yang saat ini tengah berdiri di depan foto mendiang kakaknya_ Tuan Marches.
Marlon menarik nafasnya dalam-dalam. Tangannya menyentuh ujung dagunya. Perlahan maju lalu memberikan setangkai bunga mawar putih di depan foto Tuan Marches.
''Joice!''
''Iya ayah,''
''Kembalilah dulu ke kamarmu. Ayah dan kakekmu ada sesuatu hal yang harus kami bicarakan.''
Joice pun meninggalkan ruangan tersebut. Menyisakan Tuan Mores dan Tuan Marlon.
''Apa kau tetap tidak akan menangani Shane, Marlon?''
Tuan Marlon berjalan perlahan ke arah kursi. Kemudian mangambil sebungkus rokok yang ada di sakunya lalu menghisapnya.
''Apa yang kau harapkan dariku ayah? Apa kau ingin aku membantu pembantai orang yang tak bersalah? Apa kau ingin aku masuk ke dunia kalian?''
''Tutup mulutmu Marlon!''
''Selama ini, aku sudah bersabar atas sikapmu itu. Karena aku berpikir kau masih marah terhadapku dan adikmu karena kematian ibu dan istrimu. Tapi aku baru sadar bahwa toleransiku malah membuatmu semakin lupa diri Marlon!''
''Lupa diri?''
''Selama ini, aku selalu menjadi budak untuk melatih semua anak buahmu dan anak kesayanganmu. Bahkan aku harus membersihkan setiap kotoran yang kau dan anak kesayanganmu tinggalkan. Apa menurutmu itu bisa di sebut dengan lupa diri?''
...PLAAAK..!...
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰