SHANE

SHANE
Bab 10 : Bertemu kembali



...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...


...💞 Selamat Membaca 💞...


Kau begitu jernih bagai embun yang perlahan menghilang terkena biasnya matahari


Kau terlihat jinak seperti merpati, tapi malah mampu melukai


Kau terlihat kuat seperti elang yang terbang di angkasa, namun sebenarnya kau rapuh dan butuh sandaran


Angin yang membawa awan, perlahan berhembus menjadi hujan


Bahkan matahari pun butuh istirahat saat malam telah tiba


Kau adalah bagian dariku


Meraihmu bagaikan menghela nafas ditengah hujan


Akankah mentari hangat dapat menghangatkan hatimu yang membeku


Akankah ketulusan cintaku, mampu meraih hatimu yang sudah menjauh terlalu dalam


... ...


^^^ _Aldrich Jourell Ewald_^^^


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎~>♡<~▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...


''Yo,'' Ternyata si anak pung....Eh. maksudku anak kesayangan Paman Marlon. Kukira siapa!'' Ucap Eva_ cucu dari adiknya Tuan Mores.


Shane hanya mencebik kebiasaaan Eva yang selalu saja mengurusinya. Di keluarga Mores, selain Papa dan mamanya, masih ada keluarga lainnya yang juga tidak menyukai Shane. Bahkan tak jarang mereka juga sering menyerangnya secara terang-terangan.


''Eh!''


''Bisa tidak jangan membuat masalah di hari bahagianya kak Natan. Kau itu sudah berumur, tapi masih suka cari gara-gara dengan yang lebih muda!''


Ucap Joice yang sudah jengah dengan kelakuan Eva dan saudara lainnya.


''Anak kecil dilarang ikut campur.'' Eva menoyor kepala Joice, dan hampir membuat Joice terjungkal.


''Kau!''


''Apa?''


''Masih berani?''


''Kenapa tidak berani? Wanita rendahan sepertimu itu. Memangnya apa yang harus ditakuti?'' Tantang Joice.


Joice sudah hilang kesabaran dan akan menjambak rambut Eva. Namun Shane dengan segera merangkul Joice agar tidak membuat masalah. Sebab, selain tidak ingin berurusan dengan papanya, Shane juga tidak ingin rencananya hancur berantakan.


Shane segera menarik tangan Joice dan pergi menjauh dari kawanan Eva.


''Kak! Kenapa kau selalu diam saja saat di buly oleh mereka. Aku kesal sekali kak!''


''Joice,''


''Lihatlah ekpresi wajah tuanya itu kak, menjengkelkan! Sudah berumur tapi senang sekali mengganggu yang lebih muda.''


Shane memandang haru Joice. Di antara anggota keluarga Mores, hanya Pamannya dan Joice saja yang selalu memperlakukannya dengan tulus terhadapnya.


Kini hati Shane merasa dilema. Ia ingin membalaskan dendamnya kepada seluruh anggota keluarga Mores. Tapi ia juga tidak ingin menyakiti pamannya dan adiknya.


''Joice, aku tahu kau bermaksud membelaku. Tapi apa kau tahu, jika sampai kita membuat keributan. Apa yang akan terjadi pada kita nanti? Belum lagi pandangan para tamu. Mereka pasti akan mengira, kalau kita adalah gadis yang kurang didikan. Kau paham kan Joice maksud kakak? Kita tidak mungkin mempermalukan keluarga besar kita, apa lagi di hari bahagia kak Natan,''


''Baiklah..baiklah! Aku tidak akan membuat masalah dengan nenek sihir itu. Tapi, jika dia membuat masalah lagi, aku tidak akan melepaskannya,''


''Iya...iya. Jika nanti kak Eva membuat masalah lagi, aku tidak akan menghalangimu untuk membalasnya,''


''Janji!'' Joice mengacungkan jari kelingkingnya agar Shane menautkannya sebagai ikatan sebuah janji.


''Iya, kakak berjanji,''


Shane memeluk Joice, begitu pun Joice yang membalas pelukan Shane.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka. Sang pemilik mata terlihat tersenyum sambil meneguk segelas anggur yang ada di tangannya.


''Ternyata, selain cantik, kau juga sangat bijak sekali Shane,'' ucapnya.


~♡~


Pesta pun di mulai dengan meriah. Kembang api mulai di nyalakan. Hingga membuat suasana semakin tambah meriah. Sang pengantin pun tampak bahagia berdansa di lantai dansa.


Shane berjalan ke arah balkon. Sesekali ia menghirup udaranya. Wajahnya terlihat sendu, matanya memandangi langit dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Kenapa melamun di sini?''


''Abigail''


Ya, orang yang berbicara padanya adalah Abigail. Abigail bermaksud ingin mendekati Shane karena suruhan papanya dan juga Tuan Mores.


Abigail menyerahkan segelas minuman kepada Shane.


''Terimakasih,'' Shane pun meminumnya perlahan-lahan. Sesekali pandangannya masih ia tolehkan ke arah langit.


''Apa kau sedang merindukan seseorang?''


''Iya,'' ( Shane tersenyum menjawabnya )


Melihat senyuman Shane yang manis, membuat jantung Abigail berdetak kencang. Meski telah memiliki seorang kekasih, namun baru kali ini hatinya merasa bergertar, dan jantungnya berdetak sangat kencang.


''Bukan hanya seorang, tapi dua orang,'' ucap Shane ambigu.


Abigail sedikit bingung dengan jawaban Shane.


''Apakah ia merindukan kekasihnya? Tapi kata Tuan Marlon dan Natan, Shane belum pernah memiliki sorang kekasih. Tapi, aku juga pernah mendengar kalau dulu Shane sempat menyukai seorang lelaki yang bernama Ellen. Tapi itu pun sudah lama sekali. Apakah Shane masih mencintai lelaki itu?''


Shane melihat Abigail melamun. Ia tahu apa yang sedang pria ini pikirkan tentangnya.


''Bukan pacar, tapi anggota keluargaku,'' ucap Shane.


''Anggota keluarga? Bukankah seluruh anggota keluargamu sudah hadir di pesta ini?''


Shane yang tersenyum menanggapinya. Tapi senyumannya itu penuh arti yang misteri. Perlahan Shane meninggalkan Abigail yang masih sibuk dengan kebingungannya sendiri.


Di ruang tamu Aldrich tengah mengobrol dengan Tuan David_ papanya Shane dan juga Tuan Seno.


Mereka sedang membahas urusan bisnis. Rencananya Tuan David ingin mengajak Aldrich untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Terlebih saat ini perusahaannya tengah mengalami masalah akibat beberapa properti yang sedang bermasalah.


''Bagaimana menurutmu nak Aldrich? Apakah kita bisa memulai kesepakatan kita?'' Ucap Tuan Seno sambil menyodorkan berkas dokumen kepada Aldrich.


Aldrich pun menerima dokumen tersebut dan mulai membacanya perlahan.


Namun tak berapa lama, ponsel Tuan Seno mendapatkan sebuah notifikasi.


''Saya sedang ada urusan, saya permisi dulu,'' ucap Tuan Seno.


Aldrich dan Tuan David mengangguk sebagai jawabannya.


Tuan Seno segera melihat pesan Email yang tadi ia terima.


Matanya nampak langsung melotot saat melihat pesan tersebut. Dadanya terasa sakit dan Tuan Seno jatuh tersungkur di lantai.


Semua orang yang melihatnya sangat terkejut dan langsung mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi.


''Kurang ajar!''


Tuan David tampak sangat marah setelah selesai melihat pesan yang tadi Tuan Seno lihat.


Pesan itu berisi foto-foto perselingkuhan Istri Tuan Seno dengan menantu tertuanya. Selain Foto, tenyata Email tersebut juga berisi rekaman vidio saat istri Tuan Seno mendatangi seorang pengacara dan bermaksud mengalihkan sebagian harta suaminya menjadi atas nama pribadinya.


''Cepat panggil Richard!''


Richard pun segera bergegas saat namanya di panggil. Ia juga membawa beberapa orang untuk membantunya membawa Tuan Seno ke rumah sakit.


("Ini baru permulaan tapi kau sudah jatuh tersungkur terkena serangan jantung. Bagaimana kau bisa selemah itu Seno! Tidak, kau tidak boleh mati begitu saja. Aku belum puas membuat menderita seperti ayah dan ibuku!" )


Shane memukul tembok yang ada di sampingnya. Melampiaskan kekesalannya.


-


-


-


💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Jangan lupa tinggalin jejaknya ya


💖 Like


💖 Vote


💖 Gift


💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.


Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰