
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
''Benarkah? Lalu, apakah aku perlu pulang dulu ke rumahku sendiri saat ini?''
''Eeh..!'' Mata Aldrich langsung melebar mendengar Shane yang mengucapkan kata pindah rumah.
''Kalau soal itu, aku tidak bisa mengabulkannya.''
''Kenapa? Bukankah aku sudah sehat. Lihatlah!'' Shane melompat-lompat di depan Aldrich.
''Berhentilah. Kau belum sembuh betul, bagaimana bisa aku membiarkanmu untuk tinggal sendirian. Bahkan perban di kepalamu saja masih terlilit. Bagaimana jika terjadi apa-apa padamu saat kau tinggal sendirian di rumahmu?''
''Percayalah, itu tidak akan pernah terjadi. Doamu jelek sekali. Sepertinya kau senang sekali melihatku sakit ya?'' Ucap Shane yang mencoba menggoda Aldrich.
''Bukan begitu maksudku. Tentu saja aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Bagaimana bisa aku mendoakan keburukan untuk perempuan yang aku cintai,''
''Benarkah?''
''Tentu saja,''
''Jadi.... aku boleh tetap pindah?''
''Tidak! Sekali tidak, sampai kapanpun tetap tidak boleh.''
''Kenapa..... Aku sudah tidak apa-apa kok. Percayalah.''
''Baiklah, begini saja.''
Shane mendengarkan dengan seksama apa yang akan di ucapkan oleh Aldrich agar ia bisa segera pindah ke rumahnya sendiri.
''Kau boleh pindah saat semua ingatanmu sudah kembali.''
''Apa? Bagaimana bisa! Yang ada lama dong?''
''Itu sudah menjadi keputusanku. Jika kau ingin segera pindah dari rumah ini. Maka sembuhkanlah dulu dirimu. Ingat! Tidak boleh memaksakan. Kalau kau sampai memaksakannya ingatanmu akan hilang selamanya. Dan menurutmu, jika ingatanmu tidak kembali, berapa lama kau akan tinggal di sini bersamaku Hemm?'' Ucap Aldrich dengan senyuman kemenangannya melihat ekpresi Shane yang cemberut.
''Tapi tapi...''
''Tidak ada tapi-tapian. Keputusanku sudah final. Sekarang lebih baik kau beristirahatlah agar lekas sembuh. Kesembuhanmu bergantung dari usahamu. Ok,''
...Ting......
Aldrich mengedipkan sebelah matanya sebelum meninggalkan kamar yang saat ini Shane tempati.
''Ya sudah kalau memang tidak boleh pindah. Aku pun akan dengan senang hati memanfaatkan fasilitasmu juga hahahaaha,'' Shane tertawa ceria sambil merapikan barang-barangnya yang baru saja ia bawa pulang dari rumah sakit.
Tanpa terasa dua bulan sudah Shane tinggal di rumah Aldrich. Setiap harinya, waktunya ia habiskan dengan membaca buku-buku yang ada di perpustakaan pribadi yang ada di ruangan kerja Aldrich. Merasakan makanan dan menanam bunga-bunga nan cantik di balkon teras kamarnya.
Seperti saat ini. Shane sedang menyirami tanaman bunga anggreknya. Sambil menyenandungkan lagu mengikuti irama alunan musik yang ia putar dari ponselnya.
''Ternyata kau pandai menari dan bernyanyi juga ya kakak ipar?''
Shane menghentikan kegiatannya saat mendengar sebuah suara yang menegurnya.
''Luwis?''
Luwis tersenyum melihat ekpresi wajah Shane yang terkejut saat sedang asik menari dan bernyanyi tadi.
''Kau mengagetkanku saja. Bagaimana jika sampai jantungku copot, apa kau akan menempelkannya kembali ha?''
''Tentu saja. Lagi pula, aku sudah beli lem perekat super yang bisa menempelkan apapun kak. Jadi jangan takut jika jantung kakak ipar copot,'' ucap Luwis dengan nada enteng.
''Enak saja. Lem saja otakmu itu! Sini kau sekalian ku siram otakmu biar nggak suka mengagetkanku lagi sini!'' Shane mengambil penyiram bunganya, membuat Luwis mengambil jurus seribu langkah.
''Kabur......''
''Sini kau! Jangan lari!'' Teriak Shane.
''Aaaaaaa, tolong aku Al! Istrimu sedang gila.... Dia mengira diriku tanaman anggreknya!'' Teriak Luwis yang berlari masuk ke dalam rumah.
''Huuuh...!'' Dasar Luwis menyebalkan!'' Gerutu Shane.
Ia menaruh kembali ceret penyiram bunganya ketempat semula.
Luwis yang masih berlari mengira Shane masih mengejarnya, hingga tanpa ia sengaja menabrak Zayn yang sedang membawa segelas teh yang akan ia minum.
Teh itu pun tumpah membasahi badan mereka berdua. Untungnya itu es teh, bukan teh panas. Alhasil mereka menggigil kedinginan.
''Kau!'' Zayn menunjuk wajah Luwis dengan kesal.
''Hahahahahahah......'' Shane tertawa terpingkal-pingkal yang melihatnya.
''Berhenti tertawa!'' Ucap Zayn dan Luwis secara bersamaan menoleh ke arah Shane.
''Apa yang sedang kalian lakukan!''
...Deg.......
Masih aman kan jantung mereka bertiga. Terutama jantung Shane.
Aldrich berjalan ke arah mereka bertiga dengan wajah emosi. Baju Zayn dan Luwis yang basah dan berwarna kream serta lantai yang juga basah akibat tumpahan teh tadi. Zayn dan Luwis hanya diam membisu tidak menjawab pertanyaan Aldrich.
''Semua salahmu!'' Bisik Zayn dengan kesal di telinga Luwis.
''Aku tidak sengaja ya,'' ucap Luwis dengan wajah memelas.
''Hahahahahaa.....'' Sumpah perutku sakit melihat kelakuan kalian berdua. Hahaha....'' Ucap Shane di sela-sela tawanya sambil memegangi perutnya.
''Diamlah!'' Ucap serentak Zayn dan Luwis.
''Berani sekali kalian membentak istriku! Sudah tidak sayang ya dengan nyawa kalian?'' Ucap Aldrich dengan tatapan mendominasi.
''Maafkan kami Al, kejadian ini sungguh tidak terduga. Ini benar-benar tidak di sengaja. Nanti biar Luwis yang membersihkannya,'' ucap Zayn.
( Note: Aldrich sangat tidak suka rumahnya berantakan dan kotor. Tadinya Zayn dan Luwis tidak di perbolehkan tinggal bersamanya. Tapi Zayn dan Luwis berjanji akan selalu menjaga rumah Aldrich agar selalu bersih dan rapi. Oleh sebab itu mereka berdua di izinkan tinggal bersama. )
''Enak saja aku yang bersihin! Kan kau yang menumpahkan tehnya,''
''Tapi kan kau yang menabrakku. Kalau bukan kamu tabrak, mana mungkin teh yang kupegang dengan hati-hati bisa tumpah membasahi kita berdua. Belum lagi mengotori lantai kesayangan Aldrich. Jadi kau yang bertanggung jawab membersihkannya!'' ucap Zayn yang tidak terima dituduh sebagai penyebabnya.
''Diam!'' Kalian berdua....''
''Bisa tidak, sehari saja kalian tidak bertengkar. Tidak ribut, dan tidak saling menyalahkan.''
Zayn dan Luwis menundukkan kepalanya layaknya seorang bocah berusia 5 tahun. Shane yang sedari tadi menyaksikan keributan mereka, berusaha keras menahan tawanya.
''Bersihkan rumah ini sampai bersih semua. Jangan sampai menyisakan setitik air teh ini dan debu apapun. Aku akan pergi dengan Shane.''
Aldrich melanjutkan langkahnya menghampiri Shane.
''Kau mau mengajakku kemana?''
''Ikut saja. Karena ini sebuah kejutan untukmu,'' ucap Aldrich sambil menggandeng tangan Shane.
Zayn dan Luwis mengejek menirukan gaya bicara Aldrich dari arah belakang.
Namun sebelum ia pergi, Aldrich kembali membalikkan badannya.
''Jika sampai rumah ini belum bersih saat aku dan Shane kembali, kalian berdua akan tahu akibatnya,''
Setelah mengucapkan kalimat itu, Aldrich dan Shane pun pergi mengendarai mobilnya.
Mobil berhenti di sebuah toko bunga.
''Ayo turun dulu,'' ajak Aldrich.
''Toko bunga?''
Namun Aldrich hanya menanggapi pertanyaan Shane dengan senyuman.
''Bukankah itu Shane?''
Tanpa mereka sadari Natan_ kakak angkat Shane melihat mereka berdua tanpa sengaja.
''Kak Shane? Di mana kak?''
Rupanya Natan tidak datang sendirian, tapi juga dengan Joice. Mereka berdua juga hendak membeli bunga untuk mengunjungi makam Tuan Marches.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰