
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dinginnya.
Sepasang insan manusia saling bertatapan dengan senyuman yang terukir indah, menjadi penyemangat di pagi hari setelah semalam mereka menghabiskan malam bersama.
Sang pria beranjak dari tidurnya. Mencium kening sang wanita. Lalu memakai baju dan celananya.
''Kau selalu tampak cantik di pagi hari sayang,'' ucap pria itu.
''Benarkah? Lalu apakah aku terlihat jelek di malam hari?'' Ucap sang wanita sambil menampilkan senyuman termanisnya.
''Tentu saja kau selalu cantik sayang. Apa lagi saat kau berada di bawah naunganku sambil menjerit menyebut namaku di peraduan malam.''
Mendengar ucapan sang pria, sang wanita menyembunyikan wajahnya yang merona di balik selimutnya.
...Tok..tok..tok.....
Mendengar suara ketukan pintu, sang pria pun beranjak dari tempat tidur. Tak lupa mendaratkan ciuman lagi di ujung bibir manis sang wanita itu.
''Ayah,''
''Ayah baru bersantai-santai sejenak, tapi putraku sudah menggangguku di pagi hari.''
'' David! Kamu datang bukan untuk melihatku seperti lelucon bukan?'' Ucap sang pria itu yang tak lain adalah Tuan Mores.
''Ayah, maafkan aku.''
''Tenanglah. Kau anak yang berbakti. Mencarikan ayah seorang wanita muda nan cantik seperti Jessica. Untuk apa ayah marah padamu?''
''Kakakmu hanya tahu berlatih dan mengurus anak buahnya saja. Tidak pernah memikirkan ayah ataupun perusahaan.''
''Ayah, para Tetua sedang menunggu ayah. Karena ada hal penting yang harus kita sampaikan kepada ayah,''
''Baiklah. Ayah pergi ke bawah dulu. Kau bisa mengobrol dengannya dulu, sebelum menyusulku. Mungkin saja kau juga akan tertarik dengannya. Dia wanita yang sangat cantik, ekpresif dan sangat memuaskan.''
Tuan Mores menepuk bahu Putranya, lalu pergi meninggalkannya.
Jessica pergi bercermin di wastavel. Sesekali membenarkan rambutnya dan juga bajunya yang berantakan. Jessica tersenyum miris melihat bayangan David dari pantulan cermin. Kedua tangannya mencengkram erat ujung bajunya. Bahkan tanpa ia sadari telapak tangannya terluka akibat terkena ujung kukunya.
David menghampiri Jessica.
''Bagimana?''
Mendengar pertanyaan David, Jessica tersenyum getir. Bahkan matanya terlihat merah menahan bendungan air mata.
''Tubuh Ayahmu sangat kuat, ia mampu memuaskan mata dan tubuhku. Bahkan dalam semalam ia bisa bertahan menggempurku berulang kali. Bukankah dia lebih kuat darimu?'' Jessica masih menampilkan senyuman sinisnya menjawab pertanyaan David.
''Kau tahu apa yang ku maksud bukanlah itu!''
''Kalau yang kau maksud bukan itu, berarti kau harus menunggunya lagi. Mungkin butuh tiga sampai empat malam lagi kami bersama, baru aku akan menyerahkannya padamu!''
''Jessica! Jangan lupa bahwa kau itu wanitaku!'' David mencengkram erat pergelangan tangan Jessica hingga memerah dan terasa sakit.
Jessica tersenyum mencibir perkataan David.
''Wanitamu?''
''Hahahaha.....!'' ( Jessica tertawa mendengar ucapan David. Mungkin lebih tepatnya, ia menertawakan dirinya sendiri )
''Persetan dengan kalimat wanitamu. Aku tidaklah lebih hanya sekedar simpananmu Dav! Kau telah menghancurkan hidupku, cintaku. Aku melakukan semua yang kau mau demi cinta kita.''
''Tapi apa yang ku dapatkan?''
''Apa?''
''Kau dengan teganya menyerahkan diriku kepada ayahmu sendiri. Hanya demi menyelamatkan reputasimu. Sekarang tubuhku bagaikan seorang pelacur! Apa kau puas sekarang!''
''Lebih baik kau tenangkan dirimu dulu. Baru kita bicarakan lagi nanti,'' David memeluk tubuh Jessica, tak lupa memberinya sebuah kecupan di keningnya. Lalu kemudian pergi meninggalkannya Jessica yang masih berdiri diam membisu.
...( "Aku benar-benar bodoh sekali. Menyerahkan sepenuh hatiku untuk pria yang tak memiliki hati sepertimu Dav. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu, sebelum semua hidupku jatuh dalam kehancuran ini. Kau bisa mengkhiyanati istri dan anak-anakmu, bagimana bisa aku tidak berpikir kau pun akan melakukan hal yang sama terhadapku. Isronis sekali," )...
Jessica tersenyum getir menatap wajahnya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Ia berusaha menyeret langkahnya untuk segera pergi dari tempat itu. Meskipun hatinya enggan untuk pulang kembali ke rumahnya.
...Cekleek.......
''Kau sudah pulang,''
Jantung Jessica terasa tercekat saat lamunannya buyar mendengar suara sahabatnya yang sedari tadi melihatnya.
''Iya,'' jawabnya. Tak lupa senyuman yang tak pernah luput dari pandangan.
Jessica gadis yang cantik dan manis. Berperilaku baik terhadap teman-temannya. Ia selalu terlihat ceria dan terbuka. Entah bagaimana bisa ia terjerat dalam lingkaran hitam keluarga Mores.
Jessica menghampiri Shane. Lalu memeluknya dengan erat. Ia berusaha keras menahan air matanya supaya tidak jatuh membasahi baju sahabatnya. Ia tak ingin sahabatnya Shane menyadari tangisannya. Ia belum siap kehilangan sahabatnya itu.
''Hei!''
''Kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba memelukku?''
''Tidak ada apa-apa. Apa aku tidak boleh memeluk sahabatku sendiri?''
Mendengar suara Jessica yang sedikit serak seperti sedang menangis, membuat Shane lantas bertanya.
''Tunggu dulu! Kenapa kau terdengar seperti sedang menangis? Apa kau baru saja putus dengan kekasihmu Jess?''
Shane melepaskan pelukannya dan memandang lekat-lekat wajah sahabatnya itu.
''Lihatlah wajahmu itu!'' Shane menyerahkan sebuah cermin yang ada di atas piano.
''Mana ada.''
Jessica berusaha keras menutupi tangisannya, sambil berpura-pura tersenyum memandang wajahnya dari cermin yang Shane berikan.
''Lihat baik-baik! Bahkan wajahmu membengkak seperti sebuah bakpao Jess. Katakan padaku, apa kau di putusin oleh kekasihmu itu? Apa dia berselingkuh? Katakan Jess! Aku pasti akan memberinya pelajaran!''
Jessica tersenyum melihat ekpresi Shane yang demi dirinya seperti siap bertempur di medan perang.
( "Aku tak yakin apakah kau akan tetap membelaku saat kau tahu siapa kekasihku sebenarnya Shane. Ya Tuhan, apakah aku ini jahat sekali? Menghancurkan kebahagiaan keluarga sahabatku sendiri,")
''Kami tidak putus my dear. Kami hanya meributkkan sesuatu karena salah paham saja. Dia juga tidak berselingkuh. Mungkin karena aku pulangnya yang kepagian. Sehingga badanku terkena angin dan membuatku terkena flu,'' ucap Jessica.
''Benarkah?''
''Iya.'' Jessica berusaha meyakinkan Shane, bahwa dirinya baik-baik saja.
''Baiklah kalau begitu. Kau pergilah bersihkan badanmu terlebih dahulu. Aku akan membuatkanmu sup hangat dan obat pereda flu,''
''Oke, aku pergi mandi dulu. Tolong masakan aku sup andalanmu yang paling enak itu ya?''
''Iya...iya, kau semakin hari semakin cerewet saja Jess.''
Setelah itu Shane pun bergegas pergi ke dapur memasakkan sup hangat untuk Jessica. Tak lupa ia membuatkan segelas susu dan menyiapkan obat flu juga.
''Jess! Aku harus pergi dulu. Aku ada urusan yang mendadak. Sup dan obatmu ada di atas meja makan. Jangan lupa diminum!''
Teriak Shane sebelum pergi meninggalkan rumah Jessica.
''Ya, berhati-hatilah!'' Sahut Jessica dari kamarnya.
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰