
...بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ...
...💞 Selamat Membaca 💞...
...Di kediaman Tuan Mores...
''Kemana anak itu!''
''Maaf Tuan, sejak keributan yang terjadi di pernikahan Tuan muda, Non Shane belum kembali,''
''Dasar anak tidak berguna! Ada masalah, dia malah menghilang begitu saja. Cepat cari dia sekarang! Aku tidak mau tahu, sore nanti dia harus sudah ada di rumah!''
''Baik Tuan,''
Richard pun pamit untuk pergi mencari Shane. Sedari tadi, David sudah marah-marah penuh emosi. Sebab karena Seno sakit, proyek kerja sama mereka pun jadi tertunda. Dan belum lagi bisnis lainnya.
''Ada apa Vid? Kenapa kau marah-marah kepada Richard?''
''Sejak keributan kemaren, Shane tidak pulang ke rumah ayah. Anak itu benar-benar sangat membuatku jengkel setiap hari. Rumah sedang banyak masalah, dia malah asik ngelayap entah kemana!''
''Mungkin saja, Shane sedang bersama teman-temannya Vid. Atau mungkin sedang berlatih dengan Marlon. Apa kau sudah menanyakannya kepada kakakmu Vid?''
''Anak itu tidak sedang bersama kakak. Tadi aku sudah menghubungi kakak untuk membantu penyelidikan masalah Seno. Saat ini kakak sedang berada di kota B. Sebab dari informasi yang di dapat, semua berita itu berasal dari kota B.''
''Cepat sekali kakakmu mendapatkan petunjuk. Setidaknya dia masih ada gunanya juga,''
''Ayah....''
''Iya...iya aku tahu. Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi.''
''Ayah, biar bagaimana pun kakak, tetaplah kakaknya David, putra sulung ayah. Aku yakin, suatu saat kakak pasti akan membantu kita,''
''Pemikiran ayah dan kakakmu sangatlah berbeda jauh Vid. Jalan kami sangat berbanding terbalik. Prinsip yang selalu ia junjung itu, kelak yang akan membawanya pada kehancuran. Sama seperti ibumu. Sifat kakakmu dan ibu, mereka sama-sama sangat keras kepala,'' ucap Tuan Mores seraya menepuk bahu David.
David diam dalam kebisuan. Sejak dulu ia_lah yang selalu mematuhi segala perintah ayahnya. Apapun itu, ia selalu melakukannya sepenuh hati. Namun David juga menyadari, meskipun Ayahnya bersikap demikian, namun di dalam hati ayahnya kakaknya lah yang selalu menjadi kebanggaan.
[ "Meskipun terlihat sama, kami jelas-jelas sangat berbeda. Meskipun kau terlihat baik padaku, tapi tetap saja, aku orang luar bagimu. Sedangkan dia, meskipun tidak sejalan, dia tetaplah anak kandungmu,"]
...Di kota B...
Saat ini Shane sudah berada tepat di depan rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama ayah dan ibu kandungnya sebelum terjadinya pembunuhan itu.
Di depan rumah itu cukup ramai. Banyak kendaraan berlalu lalang melewatinya. Ada juga warga sekitar yang melakukan kegiatan jual beli.
Tak jauh dari rumah itu, terdapat pula sebuah sekolah. Shane berjalan perlahan mendekati salah satu penjual penjual makanan.
''Pak beli kuenya dua bungkus,'' ucap Shane sambil menarik sebuah kursi untuk ia duduki.
''Ini Non kuenya,'' penjual itu pun menyerahkan dua kantong yang berisi kue tersebut.
Shane membuka salah satu bungkus kuenya dan perlahan melahapnya.
''Kuenya enak sekali Pak, apakah bapak sudah lama berjualan di tempat ini?'' Shane berusaha mengorek informasi pada penjual kue tersebut.
''Tentu saja Non, mungkin saja bapak berjualan di sini, jauh sebelum non lahir. Karena sepertinya Non masih terlihat muda sekali.''
''Hehehe iya pak,''
''Apa non orang baru di daerah ini? Sebab, sepertinya bapak belum pernah melihat non sebelumnya.''
''Iya pak, kebetulan saya baru akan pindah ke daerah ini. Dan ini saya sedang mencari-cari rumah baru untuk bisa saya tinggali nanti.''
''Wah, kebetulan Non, rumah depan gang sana mau di jual. Jika non berkenan, nanti biar saya antarkan non ke sana untuk bertemu dengan pemiliknya.''
''Wah... Trimakasih pak, tapi apa saya boleh bertanya tentang rumah itu pak? Sepertinya rumah itu kosong?"
Shane menunjuk ke arah rumah, tempat tinggalnya dulu.
''Oh rumah itu. Iya Non, rumah itu memang kosong. Sebab rumah itu sudah sejak lama dibiarkan kosong begitu saja. Bahkan sudah 15 tahun yang lalu, semenjak kejadian perampokan itu.''
''Perampokan?''
'' Tapi, mungkin nasib mereka saja yang kurang baik ya Non. Aduuh mata saya malah mau menangis mengingat kebaikan mereka dulu. Sebeb, bapak juga pernah ditolong oleh beliau,'' ucap bapak penjual itu sembari mengelap air matanya menggunakan telapak tangannya.
"Ayah ibu, lihatlah! Bahkan setelah beberapa tahun kepergian kalian, orang-orang masih memandang hormat pada kebaikan kalian. Oliv berjanji, Oliv pasti akan membalaskan semua kesakitan yang dulu kalian terima,"
Kedua tangan Shane mengepal erat ujung bajunya.
''Maaf ya non, bapak malah jadi cengeng begini,''
Penjual itu tersenyum ramah dan menceritakan tentang ayah dan ibu Shane sebelum mereka meninggal. Tak lupa juga memberi tahu letak makam kedua orang tuanya. Shane sangat berterimakasih kepada bapak itu. Ia pun kemudian pamit pergi
Shane kembali mengendarai mobilnya menuju suatu tempat yang sangat ingin ia kunjungi. Namun, setelah sampai Shane tidak langsung turun dari mobilnya. Sebab ia melihat seseorang yang sangat ia kenal.
Orang tersebut terlihat sedang mengunjungi makam kedua orang tuanya.
''Kenapa paman berada di makam ayah ibu? Apa yang sedang ia lakukan?''
shane tampak bingung saat melihat paman Marlon berada di makam kedua orang tuannya. Ia lebih memilih untuk tetap berada di mobil dan mengamatinya dari jauh.
''Ayah dan adiknya serta saudaranya yang membunuh, sekarang putra sulungnya yang menangisi di makam orang yang dibunuh oleh keluarganya. Keluarga Mores....Kalian benar-benar sangat menarik,''
Shane menyunggingkan ujung bibirnya. Lalu kemudian melajukan kembali mobilnya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
...Di kediaman Tuan Mores...
...Din...din......
Seorang pelayan membukakan pintu gerbang saat mobil Shane sudah sampai di depan pintu.
...Braak!...
Plak..... ( Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Shane )
''Dasar anak tidak berguna. Dari mana saja kau ha! Apa kau lupa kalau keluarga kita sedang dalam masalah?''
''Paman!''
Joice yang melihat kakak kesayangannya di tampar ia pun merasa tidak terima. dan menghadang di depan badan Shane.
''Joice! Lebih baik kau masuk sekarang. Ini semua tidak ada hubungannya dengan dirimu. Jangan sampai paman kehilangan kesabaran Joice!''
''Terserah paman. Joice tidak peduli! Paman selalu kasar sama kak Shane. Memangnya apa salahnya kalau kak Shane pergi bermain. Toh setiap ia di rumah paman selalu memarahinya!''
''Berani sekali kau melawan perintahku. Richard ! Bawa Non Joice masuk ke kamarnya!''
''Baik Tuan,''
Richard bersiap untuk membawa Joice, namun dari arah pintu ....
''Siapa yang berani menyuruhmu menyentuh putriku Richard!'' .......
-
-
-
💖 Salam hangat untuk teman-teman semuanya. Semoga karya mala tidak terlihat membosankan ya. Maaf apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya
💖 Like
💖 Vote
💖 Gift
💖 Komen dan pesan-pesannya supaya karya Mala ini bisa lebih baik lagi.
Sehat selalu semuanya🥰🥰🥰