Retaliation

Retaliation
Mimpi Buruk



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


Loyisa nampak gelisah, air matanya menetes membasahi pipinya, napasnya tidak beraturan. Bibirnya bergerak namun tidak bisa mengeluarkan suara. Hembusan napasnya semakin terdengar tidak beraturan. Butiran keringat yang meluncur deras membasahi keningnya. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Kepalanya menggeleng cepat seakan mengatakan tidak. Tubuhnya seperti menggigil ketakutan. Isak tangisannya semakin terdengar.


Ethan melihat jam yang ada di kamarnya, sama sekali ia belum bisa memejamkan matanya. Ia nampak gelisah, wajah Loyisa selalu datang kedalam pikirannya. Ethan melangkah keluar mengambil minuman yang bisa membuatnya tertidur.


Tiba tiba langkahnya berhenti ketika ia melewati kamar Loyisa, ia mendengar jelas Loyisa menangis dan mengigau tidak jelas.


Ethan menghembuskan napasnya lewat mulut mencoba menstabilkan napasnya. Ia mendekati pintu. Berharap Loyisa tidak mengunci pintu kamarnya kali ini.


CEKLEK pintu tidak terkunci, Ethan membuka kenop pintu mendorong daun pintu sampai ke dalam. Kembali Ethan menarik napasnya, jantungnya terpukul kencang. Ia melihat loyisa nampak gelisah dan bibirnya mengigau tidak jelas. Ethan mengerutkan keningnya sambil melangkah pelan. Ia terkejut melihat Loyisa menangis dengan keringat sebesar biji jagung meluncur dari keningnya. Cuaca dingin namun Loyisa berkeringat.


" Mom... Dad...Jangan...jangan...."


" Loyisa... Loyisa...bangun! " Ethan menepuk pipi Loyisa dengan lembut agar wanita itu terbangun dari mimpi buruknya. Setelah melakukan berulang kali, Loyisa mengerjapkan matanya, ia masih menyesuaikan pandangannya. Melihat sosok Ethan, Loyisa reflek memeluk Ethan yang duduk ditepi ranjang tempat tidurnya.


HIKS...HIKS...


Loyisa menangis dan semakin mengeratkan pelukannya, dalam benaknya Ethan adalah Kendrick yang ia rindukan.


" Kak jangan pergi, aku mohon ! " Isak Loyisa menangis dalam pelukan Ethan. Loyisa masih dikuasi mimpi buruknya. Ia sangat takut kehilangan sosok yang sudah lama ia rindukan.


Ethan sangat terkejut, matanya membulat kaget dengan gerakan yang tiba tiba dilakukan Loyisa. Sepersekian detik jantungnya berdetak lebih kencang, perasaannya saat ini campur aduk. Debaran jantungnya terasa semakin kencang dan hampir tidak bisa bernapas.


" Aku mohon jangan pergi lagi kak! " isak Loyisa.


Ethan semakin bingung, ia diam mematung tidak berkata apa apa.


" Tidurlah ! kakak akan disini menemanimu." Seru Ethan menenangkan. Walau ia belum bisa mengerti siapa yang dimaksud loyisa.


Posisi Loyisa sudah tertidur menyamping. Loyisa mulai tidur dengan nyaman dan tenang.


" Tidurlah...! Ssssshhhhh ssssshhhhh " ucap Ethan pelan sambil menepuk pundak loyisa, ia seakan menidurkan anak kecil.


Pikiran Ethan jauh menerawang, mencoba menebak nebak sendiri. Ia mulai berbicara sendiri.


" Setiap hari kamu bermimpi buruk Loyisa ? "


" Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan masa lalumu? "


" Seberat apa yang kau alami, sampai kamu mengalami mimpi buruk terus ? "


Ethan menarik napasnya dalam dalam, Ia hanya tau dari ibunya, jika keluarga Loyisa dibunuh, tapi tidak tahu apa penyebab keluarganya dibunuh. Selama ia disini, Ethan selalu mendengar Loyisa mengalami mimpi buruk, namun baru ini Ethan masuk, karena Loyisa selalu mengunci pintu kamarnya.


Ethan ikut merebahkan tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Loyisa , Ethan tidak meninggalkan loyisa karena gadis ini masih memegang tangannya dengan erat. Ethan menatap wajah Loyisa lekat lekat. Wajah mulus tidak ada noda cacat sedikitpun. Matanya yang indah, alisnya yang tertata rapi, bibirnya yang terlihat basah dan berwarna merah muda dan wangi tubuhnya yang begitu memikat. Ethan menghembuskan napasnya berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin berdetak begitu kencang.


Ethan semakin tidak kuat, ia melihat bibir Loyisa yang semakin menggoda imannya. Ethan menarik napas, mencoba kembali berpijak pada tingkat kesadaran yang nyata. Ethan menggeleng ia bangun dari tidurnya. ini tidak boleh terjadi, menciumnya diam diam? Astaga jika Loyisa sadar bisa bisa ia dihajar habis habisan. Tak menunggu lama Ethan langsung berjalan menuju pintu keluar. Sebelum menutup pintu ia melihat punggung Loyisa yang tertidur nyaman. Dengan hati hati Ethan menutup pintu dan pergi ke kamarnya dengan langkah pelan.


⭐⭐⭐⭐⭐


Keesokan paginya, Ethan sudah bangun dan duduk menghadap jendela kamarnya, ia menatap nanar gundukan salju yang semakin menebal di jendela kamarnya. Ethan mengusap wajahnya dengan kasar.


Semenjak Ethan kembali ke kamarnya sama sekali ia tidak bisa memejamkan matanya. Ethan menegakkan badannya, memijit pelan pelipisnya, rasa sakit bagian kepalanya hanya berkurang sedikit. Bagaimana mungkin ia bisa berangkat hari ini ? perjalanan ke tengah kota begitu jauh. Jika ia mengendarai mobil Ia bisa menghabiskan waktu 20 jam.


Ethan mengambil ponselnya menghubungi seseorang, Ethan ingin Izin dua hari tidak masuk kekantor. Besok adalah hari kerja pertama di tahun ini.


Ethan bersamaan keluar dengan Loyisa dari pintu yang berbeda. Melihat loyisa tiba tiba Jantung Ethan kembali terpukul kencang, hatinya berdesir melihat Loyisa keluar dari kamarnya. Ia menelan salivanya dan berkedip cepat. Ia nampak begitu cantik ketika melihat rambutnya basah dan terlihat acak. Loyisa melemparkan senyumnya membuat Ethan menjadi gugup.


" Selamat pagi kak! " Sapa Loyisa melangkah mendekati Ethan. Wangi sampo aroma buah langsung tercium kehidung Ethan. Ethan tidak membalas sapaan dari Loyisa.


" Begitu ya.." Ucap Ethan salah tingkah.


" Kita sarapan dulu kak, aku sudah menyiapkannya." Kata Loyisa menarik tangan Ethan. Lagi lagi pria itu nampak gugup, sentuhan sentuhan yang diberikan Loyisa membuat ia tak mampu mengendalikan perasaannya.


Mereka sudah duduk berhadapan, sambil menikmati sarapannya.


" Hari ini Jam berapa kakak berangkat ? " tanya Loyisa menatap Ethan yang dari tadi diam.


" Hari ini aku tidak jadi pulang. " Jawab Ethan singkat.


" Kenapa kak? " tanya Loyisa sedikit terkejut.


" Aku kurang enak badan loyisa." sahut Ethan cepat.


" Kakak sakit? Apa yang sakit kak? " ucap Loyisa seraya bangkit dan menyentuh kening Ethan. Reflek Ethan menangkap tangan Loyisa.


" Aku tidak apa apa." ucap Ethan menatap Loyisa lekat lekat. Ethan berusaha menghindari sentuhan Loyisa.


" Maaf kak, aku hanya mengkhawatirkan kak Ethan ." Lirih loyisa kembali duduk di kursinya.


" Aku tidak apa apa Loyisa, terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Ucapnya tulus.


" Aku ingin kita menjalin kedekatan layaknya seperti saudara kak, maaf atas kejadian tempo hari ya, " kata loyisa dengan ekspresi wajah memelas.


Ethan memaksa wajahnya untuk tersenyum, Perkataan Loyisa yang mengatakan 'saudara' tidak bisa ia terima, karena sesungguhnya Ethan sudah menyukai Loyisa.


" Tidak apa apa Loyisa, jangan menyalahkan dirimu, Aku yang seharusnya minta maaf. Aku memberikanmu uang pada saat itu. Ya, bagaimana pun kita memang belum saling mengenal. " kata Ethan menyudahi sarapannya.


" Benar kak, aku setuju. " ucap Loyisa mencondongkan tubuhnya kedepan agar lebih dekat dengan Ethan. kembali lelaki itu gugup, jantungnya berdebar begitu keras ketika melihat senyum loyisa yang begitu menggoda.


" Astaga jika kau melakukan seperti ini, aku bisa gila loyisa." Batin Ethan menundukkan kepalanya.


" Apa tadi malam kakak masuk ke kamarku? " tanya Loyisa menatap Ethan.


" Uhuk....uhuk...." Ethan tersedak saat minum, ia gugup karena ketahuan masuk kedalam kamar Loyisa.


Loyisa langsung bangkit dan menepuk pundak Ethan dengan lembut.


" Kenapa kak Ethan? apa ada yang salah?" Tanya Loyisa mengambil minum dan memberikan minum ketangan Ethan.


Ethan menggeleng, " Aku tidak apa apa. " jawabnya singkat, Ethan mengangkat tangannya. Agar Loyisa menghentikan tepukan dipundaknya.


Mereka kembali terdiam menikmati keheningan. Loyisa masih melanjutkan sarapannya. Sementara Ethan asyik memeriksa ponselnya. Ethan sendiri tidak berani mengangkat wajahnya, badannya seketika terasa kaku tidak dapat bergerak, seluruh tubuhnya terasa panas.


Beruntung tadi malam ia tidak mencium Loyisa. Jika itu terjadi, mau disembunyikan kemana wajahnya ?


πŸ‚


πŸ‚


BERSAMBUNG


.


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ