
💌 RETALIATION 💌
🍂
🍂
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
TOK TOK TOK!
"Permisi pak, saya bawakan kopi untuk anda." Loyisa mengintip di ujung pintu. Ia membuka daun pintu lebih lebar lagi dan melangkah masuk.
"Daddy datang ke sini hanya untuk melihat sekretarisku?" Axel hampir tidak percaya.
Carlos tersenyum sambil mengisap cerutunya. "Tentu saja, daddy sudah tidak sabar untuk melihatmu menikah. Semenjak kau kehilangan kekasihmu. Aku sempat curiga kau adalah seorang gay."
"Daddy...."Axel meninggikan suaranya.
DEG
DEG
DEG
Tatapan Loyisa yang awalnya turun tiba-tiba terangkat saat mendengar kata 'DADDY'. Seketika langkah Loyisa tiba-tiba berhenti. Ia terdiam kaku. Jantungnya langsung terpukul kencang saat melihat wajah Carlos yang selalu diingatnya bahkan sampai matipun ia akan terus mengingatnya. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Wajahnya menegang. Napasnya berembus cepat dan terbata-bata.
"Cerutu itu?" Loyisa melihat ke arah Carlos saat mengisap cerutunya. kembali mengingat kenangan buruk itu. Carlos menggunakan cerutu untuk menyulut wajah mommynya saat berteriak. Keringat dingin langsung bercucuran di dahi wajahnya. Tangan Loyisa bergetar hingga baki yang dipegangnya ikut bergetar juga. Wajahnya menegang dan kaku. Pucat seperti tidak ada aliran darah yang mengalir ke tubuhnya.
Carlos berpaling saat menyadari ada seorang wanita masuk ke dalam ruangan. Ia tersenyum dan menyakini bahwa yang membawa baki itu adalah wanita yang dicintai anaknya.
"Bukankah dia sekretaris yang kau sukai itu, Axel?" Carlos mengunci pandangan kepada Loyisa.
Wajah Loyisa menegang. Ia menunduk tak ingin menatap ke arah lelaki yang menghabisi keluarganya itu.
"Bukankah begitu?"
"Daddy?????" Axel mencengkram tangannya. Ia tidak suka jika Carlos datang seenaknya ke CityGroup dan mencampuri urusan pribadinya.
Loyisa masih terdiam kaku ditempatnya. Dia sangat takut jika ternyata Carlos bisa mengenalinya. Apalagi saat ini dokumen yang dicari Carlos masih disimpannya baik-baik. Dia tidak ingin rencananya sia-sia hanya karena lelaki brengsek ini mengetahui identitasnya. Saat ini yang dilakukannya hanya bersikap biasa saja. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya bersamaan lewat mulutnya. Ia mengangkat wajahnya dan tersenyum seramah mungkin. Namun dalam hati, rasanya ingin menghabisi lelaki itu.
"Permisi pak, saya tidak tahu anda kedatangan tamu. Saya hanya membawakan satu kopi untuk anda."
"Tidak masalah, daddy akan segera pulang."
"Cih...kau secara langsung mengusir daddy?" keluh Carlos berdecak.
"Daddy datang ke sini, hanya untuk mengganggu pekerjaanku saja."
"Sejak kapan kau menjadi pekerja keras. Bukannya selama ini, kau hanya mengontrol pekerjaan karyawanmu dari apartemen saja."
Mata Loyisa menyalang tajam, saat melihat Carlos berdebat dengan Axel. Ia menggeram menahan amarah. Ia mencengkram baki yang ada di tangannya.
"Aku ingin bekerja dad." Axel memalingkan wajahnya tak ingin melihat Carlos.
Carlos tak perduli, ia tersenyum ke arah Loyisa. "Selama ini, aku hanya mendengar cerita tentang kamu dari Axel. Aku penasaran sampai datang ke sini. Adiknya Alexa juga mengatakan jika sekretaris Axel sangat cantik. Sekarang aku bisa melihatmu langsung. Sepertinya kau wanita baik. Axel tak salah memilihmu."
GLEK!
Loyisa menelan salivanya begitu susah. Giginya menggemeretak, saling bergesekan karena menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dadanya. Rahangnya mengencang.
"Aku tidak perduli dengan status sosialmu. Keluarga Davis tidak mencari wanita yang harus dari keluarga kaya. Karena kekayaan Davis tidak ada habisnya." Carlos berucap angkuh. Ia tersenyum penuh arti. "Bukankah begitu Axel?"
"Daddy jangan membicarakan urusan pribadi di kantor. Sekarang lebih baik daddy pulang." ucap Axel lagi.
"Apa yang kau takuti Axel, apa kau menilai daddymu ini buruk di depan wanita ini. Aku hanya ingin bertemu dengan calon menantuku saja."
Loyisa menarik napasnya. Entah mau menjawab apa. Ia hanya terdiam menatap baki, setelah meletakkan kopi untuk Axel.
"Silakan duduk calon menantu. Kenapa hanya berdiri di sana?"
"Heuh?" Loyisa mengerjap. Ia mengembalikan pikirannya.
"Loyisa, kau bisa duduk." Axel akhirnya memutuskan mengalah. Toh sikap Carlos tidak bisa diganggu gugat. Ia masih tetap akan bertahan dengan egonya. Dia lelaki berkuasa, merasa kuat dan dikenal sebagai lelaki berdarah dingin. Sosoknya yang dinilai orang karismatik, dianggap lebih kuat dari seorang yang tertinggi di negara ini, terlebih negara pernah meminta bantuannya ketika seorang politisi diculik kelompok orang yang bersayap kiri. Axel sangat tahu itu bahwa daddynya, terkenal Mafia paling sadis. Ia tidak akan segan-segan menghabisi nyawa musuh dan para pengkhianat. Carlos adalah pemain kunci dalam salah satu periode kejahatan pada masanya.
"Kenapa diam saja, kau bisa duduk. Jangan sungkan. Aku adalah calon mertuamu."
Loyisa hanya menganggukkan kepalanya. Untuk bicara lidah serasa keluh. Tak sanggup melihat lelaki yang menghabisi orang tuanya dan kini berada dihadapannya.
"Siapa namamu nak?" tanya Carlos menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia mengambil posisi nyaman.
"Saya Loyisa,"Jawabnya singkat.
"Senang bertemu denganmu nak. Kau tinggal dimana? Bisa bertemu dengan orangtuamu?"
"Tidak apa-apa. Tentukan saja waktunya. Aku ingin kalian segera menikah. Aku sudah tidak sabar untuk melihat Axel mengikat janji suci pernikahan."
"Cih...jangan pernah bermimpi, sebelum itu terjadi. Aku sudah lebih dulu melenyapkan keluarga Davis."
"Baiklah, nanti aku akan sampaikan niat baik anda." Ucap Loyisa menguatkan hatinya. Ada rasa sakit di dadanya. Bagaimana bisa Loyisa bicara dengan begitu manis dihadapan lelaki itu.
Carlos bangun dari duduknya yang diikuti oleh Axel dan Loyisa. "Baiklah kalau begitu daddy sekarang pulang. Senang bertemu denganmu Loyisa." Carlos menepuk lengan Loyisa dengan pelan.
Loyisa tak melihat ke arah lelaki itu. Dia hanya bergeming ditempatnya tanpa ekspresi.
Carlos lalu memandang ke arah Axel. "Axel malam ini, ajak Loyisa makan malam di rumah utama. Jangan sampai lupa."
"Baik daddy." Jawab Axel datar. Ia pun melangkah mengantar daddynya sampai ke depan pintu kantor.
Loyisa mengembuskannya sambil membungkuk badannya. Ia memegang lututnya untuk mencoba menstabilkan napasnya yang naik turun begitu cepat. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat.
"Loyisa?" Panggil Axel.
Huffft... Loyisa mengembuskan napasnya. Ia menutup mata sejenak dan mencoba mengendalikan diri. Loyisa berusaha memendam perasaan marah dan kesal ini.
"Loyisa ada apa denganmu?" tanya Axel mendekat ke arah Loyisa.
Sepersekian detik, Loyisa berdalih. "Astaga pak, sepertinya pendingin ruangan ini rusak. Huuuuhhh..... huuuuhhh...." Loyisa mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajahnya. Seakan menarik angin untuk menyejukkannya.
"Panas?" Axel mengerutkan keningnya. Ia menatap ke arah pendingin ruangan yang suhunya sudah dibuat pas untuk ruangannya.
"Benar pak, panas...."Ucap Loyisa dengan bibir mengerucut membuang napas.
Axel menatap ke arah Loyisa. Ia menyentuh dahi Loyisa yang sudah berkeringat. "Apa kau kurang sehat lagi Loyisa. Kau berkeringat."
Loyisa menjauhkan wajahnya. "Apa seperti itu pak?" Ia menyentuh dahinya sendiri. Menempelkan telapak tangannya ke sekitar wajahnya.
"Kau bisa istirahat Loyisa." Kata Axel melanjutkan kalimatnya. Karena dua hari yang lalu, Loyisa tak masuk karena alasan sakit.
"Apa bisa pak?"
"Tentu saja apa yang tidak untukmu."
"Bagaimana dengan makan malam seperti yang dikatakan ayah anda pak?"
"Jadwalnya bisa diatur kembali. Sekarang kau bisa pulang."
"Sungguh tidak apa-apa pak?"
"Aku sudah bilang jika untuk menyangkut masalah kesehatan, aku masih mempertimbangkannya. Apalagi untuk wanita yang aku cintai. Aku tidak ingin terjadi sesuatu untukmu." kata Axel begitu menatapnya begitu dalam.
"Aku menjadi tidak enak pak."
"Aku sudah bilang tidak masalah, apa kau mengerti?" Axel mengusap wajah Loyisa.
"Terima kasih pak, kalau begitu aku permisi dulu pak."
"Hmmm."
Loyisa melangkah meninggalkan ruangan direktur CityGroup itu. Axel hanya bisa menatap punggung Loyisa yang menghilang di balik pintu. Ia menarik napasnya dan berjalan menuju kursi kekuasaannya. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Sementara Loyisa melangkah tegap sambil meremas tangannya erat-erat. Ia melakukan panggilan kepada Ethan.
"Hallo kak, aku bisa siang ini. Tolong pertemukan aku dengan temanmu itu."
"Sekarang kau dimana?" Tanya Ethan.
"Aku masih di kantor CityGroup. Dimana kita bertemu kak?"
"Kita bisa bertemu di kafe dekat kantorku saja." Kata Ethan.
"Baik kak, sekarang aku langsung ke sana."
"Kabari aku jika sudah sampai. Aku akan menghubungi Ken."
"Oke kak."
TIT!
Panggilan langsung dimatikan Loyisa. Ia tersenyum samar, caranya yang tadi sangat tepat untuk memberikan alasan kepada Axel. Sebenarnya tidak ada masalah dengan pendingin ruangan. Suhunya sejujurnya sudah diatur dengan kesejukan yang pas. Semua itu hanya karena panas yang membakar dari tubuhnya saja. Sekarang pembalasan akan dimulai.
BERSAMBUNG
❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌