
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
"Jalan pak, kita langsung ke restoran River Side." Ucap Loyisa memegang sandaran kursi sopir taksi yang ditumpanginya.
"Baik nona." kata sopir taksi menginjak pedal gas dan membawa mobilnya melaju meninggalkan tempat itu.
Huffft... Loyisa membuang napas panjangnya dari mulut, bahunya ikut turun. Sebisa mungkin Loyisa bersikap tenang. Ia bernapas gusar semoga saja polisi tidak mencurigai dan CCTV jalan tidak mengarah ke minimarket yang sudah hancur karena tembakan dari kelompok kartel eagle. Loyisa memeriksa handphonenya. Banyak panggilan dari Ethan dan pesan masuk juga. Loyisa membuka pesannya lebih dulu.
"Maaf Loyisa sepertinya aku terlambat datang hari ini. Tapi Ken sudah menuju restoran yang telah aku reservasi. Kau tinggal mengatakan namaku saja. Tidak lama kok. Aku hanya terlambat tiga puluh menit."
Loyisa menurunkan handphonenya dengan menunduk. Ia menarik napas dalam-dalam dan menyandarkan punggungnya menatap ke arah jalanan.
CKIIIIITTTTTT!!!
Loyisa terhuyung ke depan dengan ekspresi terkejut. "Ada apa pak?" tanya Loyisa panik.
"Maaf nona, di depan ada polisi razia, saya panik dan tiba-tiba ngerem mendadak."
Loyisa mengerutkan keningnya. "Razia?" ucapnya tersentak. Ia menatap ke arah depan dan ternyata memang ada polisi sedang melakukan razia di sana. "Mungkin memeriksa surat-surat kelengkapan pak."
"Polisi jarang melakukan razia di lokasi ini nona. Aku rasa ini karena kejadian siang tadi."
"Kejadian apa pak?" Loyisa pura-pura tidak tahu.
"Nona tidak tahu, tadi siang ada kejadian penembakan di minimarket di jalan new York."
"Heuh? penembakan?" ucapnya dengan ekspresi terkejut.
"Betul nona."
"Jadi apa hubungannya dengan penembakan dan razia pengendara mobil?" Loyisa pura-pura seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
"Saya juga tidak tahu nona, apa mungkin mereka memeriksa pelaku penembakan di minimarket itu ya?"
"Mungkin bisa saja jadi pak." Loyisa menatap ke depan. Menarik napas panjang saat sopir taksi menurunkan kaca mobilnya. Loyisa pura-pura sibuk memeriksa handphonenya tanpa melihat ke arah polisi yang sedang bertanya kepada sopir taksi.
"Selamat siang pak!" Seorang polisi muda, tampan dan bertumbuh tinggi menyapa sambil menghormat.
"Selamat siang juga pak polisi." sapa sopir taksi tersenyum seramah mungkin.
"Untuk mencegah terjadinya tembakan yang terjadi di minimarket siang tadi. Kami hendak melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor, kelengkapan dan indentitas diri serta barang-barang bawaan anda di mobil."
"Silakan pak. Bapak mau periksa apa?"
"Tunjukkan indentitas diri dan kelengkapan surat kendaraan anda." ucap polisi.
"Saya membawa semuanya pak. Dari surat identitas diri dan surat kelengkapan kendaraan juga." Sopir taksi mengeluarkan surat kelengkapan kendaraannya dan memberikannya kepada pak polisi. "Ini pak,"
Pak polisi tersenyum kepada, pria itu pun memeriksa surat-surat kelengkapan. "Semuanya lengkap pak." Pria itu menyerahkan kembali surat kelengkapan kendaraan milik sopir taksi itu. "Silakan lanjut dan hati-hati di jalan."
"Terima kasih pak,"
Mobil kembali berjalan. Loyisa bernapas lega. Ia kembali bersandar sambil menatap jalanan. Mobil yang mengantar Loyisa tiba di restoran mewah di kota New York. Setelah memberikan uang taksinya. Ia langsung turun dari mobil.
Loyisa berjalan melangkah tegas menuju pintu yang bertuliskan open itu. Seorang pelayan berpakaian rapi menyambutnya.
"Selamat siang nona, apa sudah melakukan reservasi?" Tanya seorang pelayan yang berjaga di bagian pintu masuk.
Loyisa tersenyum lembut. "Atas nama Ethan Alcander?" Jawabnya.
"Oh, tuan Ethan. Silakan lewat sini nona," Pelayan menunjukkan jalan.
"Apa tamu atas nama Ethan sudah datang?" tanya Loyisa mengikuti langkah kaki pelayan restoran itu.
"Sepertinya, belum nona."
"Belum datang?" tanya Loyisa dengan kerutan alis.
Pelayan membawa Loyisa ke atas ruangan yang memang dikhususkan untuk pelanggan yang sudah melakukan reservasi. Di sana ada dinding kaca yang langsung menghadap jalanan kota new York yang indah.
"Silakan duduk, nona!" ucap pelayan itu mempersilakan Loyisa duduk.
"Terima kasih." kata Loyisa tapi tidak langsung duduk. Ia mengedarkan pandangannya melihat di setiap sudut ruangan.
"Nanti pelayan kami akan datang membawa daftar buku menunya nona." ucap pelayan lagi.
"Baiklah,"
"Kalau begitu, saya permisi." Kata pelayan membungkuk dan menutup pintu itu kembali.
Ada empat meja di ruangan itu. Masing-masing berisikan empat kursi di sediakan di sana. Mejanya terlihat mewah. Di tengah ada sebuah lilin di atas holder yang bergaya klasik dan di tambahkan lampu untuk sentuhan mans. Ada bunga yang menghiasi setiap meja di sana.
Loyisa berjalan mendekat ke salah satu kursi yang disediakan. Ia meletakkan tas kantornya di atas meja. Saat Loyisa duduk, tiba-tiba terdengar alunan musik Jazz lembut mengalun di ruangan itu. Loyisa terlena, hatinya seketika tenang.
Sembari menunggu teman Ethan datang, Loyisa melangkah ke arah kaca besar yang langsung menghadap keluar. Restoran ini memang nampak berbeda. Restoran yang menciptakan pemandangan antrean di salah satu jalan utama kota Budapest. Pada jam-jam sibuk, restoran ini dikunjungi banyak pelanggan. Bagi warga kelas atas Budapest mungkin sudah terbiasa dengan suasana restoran, tapi bagi pelanggan baru, perhatian mereka tersita untuk melihat ke atas, mengagumi kolom marmer, patung simbol malaikat, dan tentu saja untuk mengambil foto.
Kemewahan dari restoran ini sangat menonjol bahkan sejak pertama masuk. Restoran mewah ini memiliki lampu yang menggantung sampai 10.000 kristal yang tampak berkilauan di atas. Perabotan mewah dan didominasi warna putih terdapat di setiap sudutnya. Pelayanannya juga terkenal sangat ramah, membuat pengunjung nyaman di sini.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki di sana. Loyisa menduga bahwa yang datang itu adalah pelayan restoran itu. Ia hanya terus menatap ke arah luar restoran River Side.
"Permisi, apa anda teman Ethan yang ingin bertemu dengan saya?" tanya Kendrick.
Loyisa reflek membalikkan tubuhnya saat mendengar suara itu. "Betul saya adalah...."Loyisa menangguhkan kalimatnya. Pandangan mereka bertemu.
DEG
DEG
DEG
Jantung mereka sama-sama memukul kencang dan sangat kencang. Mereka sama-sama terdiam dan mematung ditempatnya. Suara bahkan napasnya sama-sama tertahan di dada. Mereka sama-sama terdiam dan saling menatap. Masih bergeming di posisinya dan terus saling menatap.
"Kak Kendrick...."
"Loyisa...."
Mereka sama-sama saling bersuara seperti berbisik. Mata Loyisa berkedip cepat. Meyakinkan dirinya bahwa ia bukan berhalusinasi.
Selama ini Loyisa menduga kakaknya sudah meninggal. Kini sosok itu berdiri dihadapannya. Ia masih tidak menyangka akan bertemu di sini. Matanya berkaca-kaca masih terdiam di posisinya dengan mulut yang terbuka gemetar dan napas yang naik turun. Seorang pria dengan postur yang tegap, rahang tegas dan mata abu-abunya mirip dengan mommy. Loyisa seperti sulit bernapas dengan baik saat dia yakin bahwa lelaki itu benar-benar kakaknya. Air matanya langsung menetes di pipinya bahkan tanpa mengedip.
Kendrick berjalan pelan dan sangat pelan. Ia meyakinkan dirinya bahwa gadis itu adalah adiknya yang selama ini dicari. Kendrick berdiri dengan jarak dua meter dari Loyisa.
"Loyisa, benarkah itu kau?"
Saat mendengar namanya disebut, bibir Loyisa semakin gemetar. Napasnya keluar tidak stabil. Loyisa semakin tidak tahan dengan gejolak yang ada di dalam dadanya. Ia langsung menangis.
"Kak...Ken... Ken...drick...." Suaranya terbata tak bisa mengatakan kalimatnya dengan baik. Loyisa melangkah panjang dan menyambar dada Kendrick. "Selama ini aku menduga kakak sudah...me...meninggal..." Tangisan Loyisa semakin pecah di sana.
Kendrick tak berucap, ia masih tak percaya bisa bertemu dengan adiknya. Kendrick ikut menangis saat mendengar tangisan lirih dari adiknya.
Loyisa melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Kendrick dengan tangannya. "Benar kau Kendrick, kan? Kau adalah anak dari Orlando? Aku sedang tidak bermimpi, kan?" Ringis suara tangis Loyisa semakin terdengar keras dan meraung.
Kendrick lagi-lagi tak menjawab. Ia hanya sanggup menganggukkan kepalanya saja. Perasannya campur aduk saat ini. Mereka kembali saling berpelukan dengan erat. Melepas rindu yang tak bisa digambarkan.
"Aku merindukanmu kak, aku sangat merindukanmu." Loyisa semakin menangis di dada Kendrick.
"Aku juga merindukanmu Loyisa..." Kendrick menjatuhkan air matanya lagi. Mereka sama-sama menangis untuk melepaskan rasa rindu ini.
"Aku hampir gila memikirkan kalau kakak juga ikut dibunuh saat kejadian itu." Loyisa berbicara disela-sela tangisannya. Ia ingin berbagi cerita, mengungkapkan kerinduannya. Ternyata Kendrick masih hidup. Ia tidak seorang diri lagi, ia ternyata masih memiliki keluarga. Kakak yang selalu menyayanginya. Kakak yang selalu dirindukannya.
Hikss ...Hiksss.... Hiksss...Tangisan Loyisa tak juga reda. Ia hanya terus memeluk kakaknya itu. Ia beberapa kali membuka mulut untuk mengeluarkan napasnya yang tertahan di dada. Setelah tangisan Loyisa reda. Perlahan Kendrick memegang ke dua bahu Loyisa. Ia mengusap air mata yang terus terjatuh ke pipi Loyisa.
"Jadi kau yang datang ke rumah kita dan menghabisi anak buah Carlos?"
BERSAMBUNG
โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐๐ ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐