
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
Musim dingin akan terus berlanjut hingga pertengahan Januari.
Dan suhu udara akan terlalu dingin, tapi terkadang di desa Woodstock bisa saja mengejutkan badai salju datang dengan temperatur yang tiba-tiba turun. Ibu Hana akan menambah menggunakan penghangat ruangan.
Loyisa sendiri lebih suka berada di ruang tertutup yang hangat. Menghabiskan waktu sambil menikmati makanan yang disedikan ibu Hana.
Loyisa sekarang berada dikamar Ethan, membantu lelaki itu untuk mengemasi barang barangnya.
Ia memandang Ethan yang sedang sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan dibawanya. Ia nampak murung, selama 7 hari ia menghabiskan waktu bersama Ethan. Itu yang membuatnya sedih, rumah ini akan kembali terasa sepi.
" Hei kenapa murung ? " tanya Ethan menarik hidung Loyisa membuat Loyisa mengaduh kesakitan.
" Sakit......! " erang Loyisa mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa wajahmu seperti itu ? kamu tambah jelek. " kata Ethan tersenyum mengejek Loyisa.
" Ck... bisakah hanya kamu yang memujiku cantik kak. Menyebalkan ! " kata Loyisa membuang mukanya tidak suka.
" Kenyataannya kamu memang jelek, buat apa aku memujimu." ucap Ethan terkekeh, namun didalam hatinya Loyisa adalah wanita cantik yang sangat ia kagumi.
" Jam berapa kakak berangkat? " Tanya Loyisa mengalihkan pembicaraan.
" Sepertinya Habis makan siang."
" Masih ada sisa 4 jam kak." kata Loyisa melirik jam yang ada dikamar Ethan. " kita masih bisa berbincang bincang."
" Ehmmm....! " gumam Ethan
" Apa kau sudah punya kekasih kak? seperti apa wanita yang kau sukai ? " tanya loyisa penasaran, ia menaikkan kedua alisnya dan menunggu jawaban Ethan.
" Tanya yang lain, jangan itu. " kata Ethan memelas.
" Ayolah kak, " Rengek loyisa. " Astaga! jangan bilang kau gak ada kekasih kak? " kata Loyisa membelalakkan matanya.
" Kenapa kamu jadi selucu ini Loyisa. " kata Ethan terkekeh. Membuat wajah Loyisa bersemu merah.
" Kau sengaja mengalihkan pembicaraan." ucap Loyisa mendengus kasar.
" Untuk saat ini aku memang tidak mempunyai kekasih Loyisa, aku ingin serius menyelesaikan kuliahku dulu dan bekerja, Kamu puas? "
" Oooo, Begitu ya ? "
" Ehmmm..." gumam Ethan.
" Kak lain kali tidak usah repot-repot bawa mobil jika mau pulang ke desa ini. Perjalanan ke tengah kota kan jauh. Apa kamu tidak lelah? " tanya Loyisa.
" Aku sudah terbiasa Loyisa. " Sahut Ethan, masih asyik merapikan sesuatu yang ada di tasnya.
Sesaat mereka terdiam.
" Kak..." Panggil Loyisa, Ethan mengangkat wajahnya dan melihat kearah Loyisa.
" Jika kuliahku selesai disini, bisakah aku ikut denganmu ke tengah kota kak? Aku ingin mencari pekerjaan disana dan membalas kebaikan ayah dan ibu." kata Loyisa dengan suara terendahnya. Ia meremas tangannya, bagaimanapun ia harus membalas Budi kepada keluarga ini.
" Kamu mau tinggal sama siapa? bukankah....? " Ethan menggantung kata katanya, ia tahu jika Loyisa tidak memiliki keluarga lagi.
" Aku akan tinggal bersama kak Ethan. Bisakan kak? " kata Loyisa penuh harap, dan tujuan utamanya adalah untuk mencari kakaknya. Dia ingin kembali melihat keadaan rumahnya dan membalaskan dendamnya atas kematian orang tuanya. Sejauh ini Loyisa sudah latihan menembak dan berlatih bela diri. Ibu Hana dan ayah Bernandus tidak pernah mengetahuinya.
Ethan tersenyum singkat dan ikut duduk bersama Loyisa ditepi ranjang tempat tidur.
" Tentu saja Loyisa."
" Benarkah? " tanya Loyisa dengan sorot mata yang berbinar.
Ethan kembali menatap Loyisa,
" Loyisa! Ada yang ingin aku tanyakan? . "
" Apa itu kak? "
" Bisakah aku mengetahui masa lalumu ? " tanya Ethan dengan nada penuh hati hati.
Loyisa tersenyum singkat ,mengubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Ethan. Ia menyentuh tangan Ethan.
" Tentu saja kak, keluarga ini sudah menjadi bagian hidupku dan kak Ethan adalah saudaraku."
Mendengar itu kembali Ethan tersenyum miris, bagaimana Loyisa menganggapnya sebagai saudara laki lakinya. Sementara cinta ini semakin hari semakin bertumbuh didalam hatinya. Ini bagian terberat yang dirasakan Ethan. ia membuang napasnya dengan berat.
" Apa ada yang menganggu pikiranmu kak? " Tanya Loyisa menatap Ethan lekat lekat.
" Ehmmm... kamu mengganggu pikiranku."
" Ya, kamu ! " kata Ethan melepas tatapan seriusnya lalu mengangguk.
Loyisa refleks terkejut mendengar perkataan Ethan, ia nampak gugup melihat tatapan Ethan yang serius.
" Kenapa saya mengganggu pikiranmu kak? " Loyisa sejenak menunduk untuk menepis rasa gugupnya dan kembali menatap Ethan yang tersenyum. Melihat senyum Ethan, Loyisa seperti terhipnotis, ia melihat daya tarik Ethan yang begitu menggoda. Loyisa mencoba mengembalikan kesadarannya.
Sementara Ethan tersenyum lebar, melihat reaksi Loyisa yang nampak bingung dengan perkataannya.
Ethan memberanikan diri mendekat kearah Loyisa, membuat Loyisa terdiam mematung di posisinya.
" K-k-kenapa kak? " Kata Loyisa terlihat gugup. matanya membulat kaget dengan kedekatan dan tatapan Ethan yang serius, Loyisa semakin membeku ketika Ethan mendekatkan wajahnya kepada Loyisa. Sungguh membuat jantung Loyisa seakan berhenti seketika. ia tidak terbiasa dengan kedekatan seperti ini.
" Ada sesuatu... " kata Ethan akhirnya, ia tahu jika Loyisa tidak nyaman dengan kedekatan ini. Ethan seperti mengambil sesuatu dari rambut loyisa. Namun sebenarnya tidak ada sesuatu disana.
Huuuuu loyisa menghembuskan napasnya lewat mulut, mencoba menstabilkan napasnya dan juga menenangkan dirinya.
Ethan tersenyum samar, ia tidak bisa menutupi debaran jantungnya yang terasa semakin kencang.
" Apa yang ingin kakak ketahui dari aku? " tanya Loyisa mencairkan suasana.
Ekspresi Ethan kembali serius, kembali menatap Loyisa lekat lekat.
" Aku sering mendengarmu bermimpi buruk Loyisa, maaf ! kemarin aku masuk kedalam kamarmu, aku mendengar kau menggigau dan menangis. "
Ekspresi wajahnya tiba tiba berubah, wajahnya menegang sesaat ia terdiam.
Napasnya mulai berhembus tidak stabil, kenangan buruk itu kembali menari nari dalam pikirannya.
" Jika itu berat, jangan paksakan dirimu. Aku akan menunggu sampai kamu siap mengatakannya." kata Ethan melihat ekspresi Loyisa nampak pucat. Ethan tahu kenangan Loyisa adalah kenangan yang paling menyakitkan hatinya.
Loyisa menunduk dengan tatapan kosong. Tiba tiba matanya berkaca kaca, air bening sudah menetes dipipinya. Bahunya sudah bergetar menahan isak tangis yang semakin terdengar. Ia terus menunduk dan memejamkan matanya.
" Loyisa....! Maaf jika aku mengingatkanmu dengan kenangan yang membuatmu sedih." kata Ethan menyentuh tangan Loyisa.
Loyisa menggeleng pelan, ia menatap Ethan.
" Tidak apa apa kak, mungkin jika aku membagi ceritaku denganmu, bisa mengurangi beban disini." Loyisa menyentuh dibagian dadanya.
" Aku selalu menyimpannya sendiri, dan itu membuat aku dihantui mimpi buruk terus kak." sambung Loyisa berucap dan beberapa tetesan air matanya sudah terjatuh dipipinya.
" Ceritalah, aku siap mendengarnya Loyisa."
Loyisa terdiam, ia menyeka air matanya yang tergelincir dipipinya. Ia menarik napasnya dalam dalam dan mulai bercerita.
" My daddy bekerja di FBI badan investigasi utama dari departemen keadilan Amerika serikat, daddy dikenal pekerja keras, Ia banyak mengungkap kejahatan kelas dunia. Daddy selalu berhasil menangkap buronan publik yang menjadi target negara. Targetnya adalah menangkap Carlos seorang mafia yang ditakuti dunia dan paling berbahaya. Daddy sudah mengatur strategi untuk menangkap Carlos. Namun sebelum ia berhasil menangkapnya, Carlos sudah lebih dulu mencium pergerakannya tim daddy. Lelaki yang dikenal kejam itu datang sendiri mengepung rumah kami bersama para anak buahnya dan membunuh semua keluargaku kak..." Loyisa tidak bisa melanjutkan kata katanya, ia menahan goncangan tubuhnya yang bergetar oleh isak tangis yang cukup keras.
" Sudah, sudah Loyisa ...jangan dilanjutkan lagi." kata Ethan menepuk tangan Loyisa dengan lembut dan ia mendekati Loyisa. Namun diluar dugaannya Loyisa langsung memeluknya. Ia ingin mendapatkan ketenangan dari Ethan.
" Aku terlihat kuat kak, sejujurnya aku sangat takut. Takut menghadapi kenyataan hidup yang menakutkan ini." kata Loyisa tersedu sedu. Ia menumpahkan segala kesedihannya yang ia simpan didalam hatinya.
Ethan melepaskan pelukannya,
" Kenapa mereka dibunuh Loyisa? "
" Aku tidak tahu, mereka bukan mengincar harta daddy. Mafia itu mencari dokumen, aku tidak tahu dokumen apa itu kak. "
" Apa semua keluargamu dibunuh? "
" Aku tidak tahu kak, pada saat itu aku sedang pingsan ." ingatan Loyisa kembali lagi. Ia menutup kedua matanya dengan tangannya. Kembali Loyisa menangis. Ia menggeleng,
" Aku tidak tahu apakah kakakku dibunuh juga. Aku ingin kembali mencari kakakku. " isak Loyisa menyeka air matanya. Ia menatap Ethan dan menggenggam tangan Ethan dengan erat.
" Apakah menurutmu kakakku masih hidup? " Kata Loyisa dengan tatapan sendu.
" Aku berharap dia masih hidup kak, naluriku mengatakan kalau ia masih hidup." isak Loyisa kembali menangis.
Hana yang dari tadi diluar pintu mendengar pembicaraan Ethan dan Loyisa.
Hana tidak menyangka jika loyisa masih selalu menyimpan kesedihan yang dalam. Kejadian pembunuhan keluarganya sudah terjadi dua tahun yang lalu, pasti masih mengisahkan luka yang teramat dalam bagi Loyisa dan sulit melupakannya. Itu akan menjadi mimpi buruk bagi Loyisa.
Hana menarik napasnya dalam dalam, ia melangkah pelan meninggalkan kamar Ethan.
π
π
BERSAMBUNG
.
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU π