Retaliation

Retaliation
Tidak bisa menjelaskan.



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


Pagi yang ceria di kota New York yang indah. Loyisa sudah lebih dulu bangun. Musim gugur masih saja berlangsung di kota ini, dengan cuaca hangat sebagai kelanjutan dari musim Panas. Namun secara perlahan-lahan temperatur udara pun semakin menurun, dibarengi rontoknya dedaunan. Banyak yang bilang ini musim terindah, mengingat eksotisnya warna dedaunan yang menguning, coklatnya ranting pohon dan birunya langit. Loyisa tersenyum menatap sebentar ke arah luar jendela yang ada di dapur. Ia lebih menyukai musim gugur. Sebagian orang bisa memanfaatkan waktu liburannya dengan baik di musim ini.


Loyisa melanjutkan aktifitasnya. Ia bersenandung kecil dengan celemek yang terpasang di tubuhnya. Hari ini Loyisa akan menyiapkan sarapan Egg Benedict spesial untuk Ethan. Menu sarapan tradisional ini menjadi menu favorit semua keluarganya. Mommy sering membuat sarapan ini. Selain dirinya, daddy adalah salah satu orang yang menyukai sarapan tradisional ini.


Semenjak ia masuk ke keluarga Ethan, Loyisa pernah beberapa kali menyiapkan sarapan ini. Ethan akhirnya menyukai sarapan Egg Benedict. Dan sekarang menjadi menu handalan mereka. Ethan akan tersenyum dan mengucapkan terima kasih setelah habis menikmati sarapannya nanti. Walau rasanya tidak seenak seperti buatan mommy. Ia tetap merasa bahagia bisa membuatkan sarapan ini. Loyisa tersenyum, postur tubuhnya tegap, gerakannya hati-hati dan akurat. Loyisa selalu bisa terlihat elegan dengan apapun dikenakannya.


Loyisa sudah mendapatkan semua bahan-bahannya dari supermarket. Salah satu yang utama adalah Roti bun. Ia tidak pernah lupa menyiapkan roti ini jika sedang berbelanja untuk keperluan dapur.


Loyisa sedang fokus melelehkan butter. Ia mengocoknya dengan cepat, hingga kuning telur telur, air lemon dan garam bercampur rata. Loyisa terus melakukannya sambil bernyanyi. Ia sesekali melihat ke arah kamar Ethan. Belum ada tanda-tanda ia keluar dari kamarnya. Biasanya jika Loyisa tengah sibuk di dapur ia akan bangun cepat dan membantunya di sini. Loyisa menggeleng, "Mungkin Ethan masih tertidur. Biarkan saja." Batin Loyisa berbicara. Ia kembali fokus dengan sarapan Egg Benedict yang tengah dikerjakannya.


Setelah meleleh Loyisa menuangnya ke butter dan mengaduknya lagi hingga mengental.


"Warna saus hollandaise sudah kuning terang, lembut dan kental. Sempurna...." Loyisa berbicara pada dirinya sendiri dengan senyuman indah terus terukir di wajahnya yang cantik.


Lalu Loyisa merebus air dalam panci. Ia menatap jam sekilas. "Astaga, setengah jam lagi sarapannya harus selesai dan aku harus sudah mandi." Loyisa nampak panik. Jam terus berputar.


Loyisa dengan cepat membuat poached egg setengah matang. Sambil menunggu poached egg jadi, Loyisa menggoreng sebentar ham dengan sedikit minyak di wajan. Lalu ia menyiapkan dua piring di atas meja. Loyisa sedikit menunduk dan mengatur ham di atas piring. Ia menaruh poached egg di atas bun dan ham. Loyisa menuangnya dengan saus dan terakhir ia tidak lupa menabung daun bawang di atasnya.


"Sarapan egg benedict siap." Loyisa tersenyum puas. "Cantik sekali." Mata Loyisa berbinar bahagia.



Dan saat itu juga Ethan keluar dari kamarnya. Ia sudah berpakaian rapi. Loyisa memberikan senyumnya saat melihat Ethan melangkah ke dapur.


"Selamat pagi kak," Sapa Loyisa, senyum di bibirnya tidak mau lepas di wajahnya.


"Hmmm, selamat pagi." Jawab Ethan singkat dan mengambil air putih di atas meja. Ia sama sekali ia tidak menoleh ke arah sarapan yang sudah di siapkan Loyisa di atas meja.


Alis Loyisa berkerut, saat Ethan tidak menyentuh kopi buatannya. "Kakak tidak minum kopi. Aku sudah siapkan kak." ucap Loyisa, senyumnya tiba-tiba hilang saat melihat ekspresi Ethan yang kaku.


"Bagaimana luka di bibirmu Loyisa?" tanya Ethan bukannya menggubris tentang kopi buatan Loyisa. Ia malah balik bertanya dengan luka Loyisa.


"Lukanya sudah kering kak." Jawabnya cepat dan gugup sendiri. Karena ia menyadari sudah berbohong kepada Ethan.


"Baguslah, kau tidak bekerja?"


"Bekerja kak. Aku menyiapkan sarapan dulu, nanti langsung mandi."


"Kalau begitu aku berangkat duluan. Kau bisa menggunakan taxi."


"Heuh?" Raut wajah Loyisa langsung berubah. Perasannya tidak enak. Selama ia mengenal Ethan, dia tidak pernah meninggalkan sarapannya. Walau terlambat bagaimana pun dia, Ethan pasti sarapan, walau itu hanya meneguk sedikit kopi yang sudah disiapkannya. Namun tidak untuk kali ini. kenapa Loyisa merasa dia seperti diabaikan di sini.


"Ini sarapan kesukaanmu kak, kakak tidak sarapan?"


"Maafkan aku Loyisa, aku sudah terlambat dan pagi ini aku ada rapat. Banyak yang harus aku persiapkan." Kata Ethan meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. Ia langsung meninggalkan Loyisa yang berdiri mematung dengan beberapa kali kedipan di matanya. Sepersekian detik, ia kembali sadar dan dengan cepat melangkah untuk menghentikan kepergian Ethan. "Tunggu kak,"


Ethan berhenti, namun tidak membalikkan tubuhnya. Ia hanya menunggu Loyisa melanjutkan kalimatnya.


"Aku bisa siapkan bekal ini untukmu, kak. Kakak bisa memakannya di jalan sambil menyetir atau memakannya di kantor. Tunggu lima menit kak, tidak! tiga menit saja. Tidak lama kok. Aku akan siapkan bekal ini dengan cepat." Kata Loyisa cepat. Namun saat Loyisa berbalik.


CEKLEK!


Pintu apartemen sudah tertutup. Ethan sudah tidak ada di ruangan itu lagi.


DEG!


Dan saat itu pula jantung Loyisa berdetak begitu cepat. Ia diam membeku ditempatnya. Seakan berusaha mencerna apa terjadi. Loyisa seperti orang bodoh di sana.


โญโญโญโญโญ


Seperti janjinya, Loyisa menggunakan taxi dan mampir terlebih dahulu ke kantor Ethan. Loyisa tengah berada di lift, Ia tahu ruangan Etha karena sudah beberapa kali mengantarkan dokumen ke kantor ini. Ia sedang melakukan panggilan kepada Friska untuk memberitahu bahwa ia hari ini terlambat datang ke kantor.


"Hmm Loyisa, tumben kamu belum sampai kantor?"


"Direktur Casper sudah tiba?" Awal kata yang diucapkan Loyisa kepada Friska.


Di ujung telepon, Friska langsung tertawa. "Dia belum datang, kok tumben menanyakan pak direktur, pasti ada apa-apanya nih?"


"Astaga, jangan pikir yang bukan-bukan, Friska. Aku hanya mau bilang. Pagi ini aku terlambat ke kantor."


"Kenapa?"


"Mobilku mogok. Gak lama kok, ini sedang diperbaiki." ucap Loyisa berbohong.


"Oke deh..." ucap Friska tersenyum di ujung telepon.


TIT!


Panggilan langsung di matikan Loyisa dan saat itu pula pintu lift terbuka. Loyisa melangkah keluar dari sana. Ia berjalan di koridor dan tersenyum saat beberapa karyawan berpapasan dengannya.


"Selamat pagi," sapa Loyisa kepada lelaki yang sedang duduk merapikan mejanya. Lelaki itu sedang memunggunginya.


"Selamat pagi," Sapa lelaki itu berbalik dan tersenyum saat melihat siapa yang berdiri di depannya. "Eh, Loyisa. Apa kau mengantar dokumen Ethan lagi."


Loyisa terkekeh, seakan tahu kebiasaan Loyisa jika datang ke sini hanya mengantarkan dokumen saja. "Kali ini tidak pak, saya ingin mengantar bekal untuk sarapan kak Ethan."


"Wah, adik yang baik nih. Tapi Ethan lagi sarapan di kantin."


"Apa?" Loyisa memasang wajah sedikit terkejut. "Bukannya pagi ini, Ethan ada rapat pak."


"Rapat? Tidak, yang saya tau tidak ada rapat untuk minggu ini. Bulan depan baru ada rapat bulanan. Itu langsung di pimpin pak direktur."


DEG!


Jantung Loyisa berdetak tidak beraturan. Ada rasa kecewa yang menggelayut di dalam dadanya. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menutupi rasa kecewanya.


"Kalau kau ingin bertemu dengan Ethan. Dia ada di kantin lantai satu."


"Baik pak, terima kasih banyak pak. Kalau begitu saya permisi pak."


"Baik, Loyisa. Senang bertemu denganmu." Ucap pria itu tersenyum sambil mengedipkan salah satu matanya.


Loyisa tersenyum sambil membungkukkan badannya dan berlalu pergi dari sana. Loyisa langsung menarik napas panjang dan menelan salivanya. Berusaha bersikap tenang. Namun rahangnya mengencang.


Loyisa terus berjalan, menutup mata dan menahan napas sesaat. Ia membuka kembali matanya menunduk dan mencengkram wadah makanan yang dibawanya dari rumah. Tatapan matanya kosong. Ia melangkah gontai. "Kenapa hatiku sakit." kata-kata itu lolos dari bibirnya. Perasannya tidak jelas saat ini. Tapi kenapa sesak, membuatnya sulit untuk bernapas. Loyisa memilih tetap memberikan bekal makanan ini, karena yang dia tahu Ethan sangat menyukai Egg Benedict.


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


BERSAMBUNG


โฃ๏ธReaders tersayang, setelah sekian lama, akhirnya RETALIATION up lagi ๐Ÿคฃ Saya akan usahakan up setiap hari ya, tapi gak janji ๐Ÿ™ Terima kasih yang masih setia menunggu kisah ini.


โฃ๏ธ Tinggalkan jejak kalian ya. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ Salam sehat selalu ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU๐Ÿ’Œ