Retaliation

Retaliation
Kenapa hati ini sakit.



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


"Loyisa, Kau belum pulang?” Ucap Axel berdiri di depan meja Loyisa.


Saat mendengar suara bariton itu, Loyisa segera bangun dari duduknya. Ia sampai tidak menyadari ada pak direktur sudah berdiri tegap di depannya. β€œAh..Belum pak, sebentar lagi.” Ucap Loyisa tersenyum samar. "Bagaimana bisa aku pulang lebih dulu, sementara dia masih bergelut di dalam ruangannya. Apa aku mau cari mati, aku yakin jika itu terjadi dia pasti menambah hukumanku lagi. Dasar pak direktur semaunya."


"Ada yang ingin kau bicarakan?" Alis Axel terangkat setengah. Senyumnya mengembang di bibir.


"Heuh?" Dahi Loyisa mengerut. "Maksudnya pak?"


"Raut wajahmu seperti ingin mengatakan sesuatu. Tidak ada ya?"


"Apa dia bisa membaca pikiranku? Jelas-jelas aku bicara dalam hati. Astaga!"


"Kenapa tidak menjawab?"


Lagi-lagi Loyisa tersentak dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pak." Jawabnya cepat.


Axel melihat jam di tangannya. "Kalau begitu aku antar pulang."


"Jangan pak," tolak Loyisa mengibas tangannya.


Axel menautkan alisnya. "Ada yang salah?"


Loyisa tertawa hambar, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak ada yang salah pak. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku hari ini pak. Bapak bisa pulang lebih dulu." Tolak Loyisa dengan sopan.


"Kau bisa lanjutkan besok. Saya juga tidak harus memeriksa pekerjaanmu itu sekarang. Kau lihat awan sudah mulai gelap dan itu tandanya akan hujan. Jadi biarkan aku yang mengantarmu pulang."


"Tidak bisa pak," Tanpa sadar, nada suara Loyisa meninggi.


Axel berdecak kesal sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya. "Sekarang yang menjadi bos di sini siapa, Loyisa? Aku atau kamu?"


DEG!


Loyisa seketika diam, ia menarik napasnya dalam-dalam sambil menutup matanya. seharusnya ia tidak bicara seperti itu. Apalagi lelaki itu berkuasa. "Maksud saya bukan seperti itu pak,"


"Kalau begitu biar saya antar."


"Maaf pak, sebenarnya saya sudah punya janji."


Axel membuang napasnya. "Janji? Apa dengan kakakmu yang bernama Ethan itu?" tanyanya lagi.


Loyisa melepas tawa singkat. "Benar pak," cara terbaik memang harus berbohong. Loyisa memang sengaja menghindari pak direktur itu.


"Jadi, kau tidak mau ikut denganku?" Tanya Axel kembali, mencoba menggoyahkan hati Loyisa.


"Maafkan saya pak. Saya benar-benar tidak bisa." ucap Loyisa menundukkan kepalanya, Ia menutup matanya dengan erat, agar pak direktur tidak mengetahui kebohongannya.


"Kau akan menyesal telah menolakku, Loyisa. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Axel tanpa tersenyum, Ia langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


Loyisa mengembuskan napas panjangnya sambil mengangkat kedua bahunya. Ia tidak perduli perkataan pak direkturnya itu. "Menyesal? Gak mungkin pak, aku gak menyesal telah menolak bapak." Loyisa merapikan kembali mejanya. Ia menatap ke arah keluar. Benar saja awan hitam sudah menggulung pekat. Suara petir mulai terdengar bersahutan-sahutan dari atas dan cahaya kilatnya memancar terlihat jelas dari lantai atas sana.


Loyisa pun meninggalkan mejanya. Ia mempercepat langkahnya saat berada di koridor. Hujan rintik-rintik sudah mulai terdengar. Saat hendak menaiki lift, mau turun ke lantai bawah. Friska memanggilnya.


"Loyisa?"


"Astaga, apa lagi ini?" Loyisa menggeram saat namanya di panggil. Ia memutar tubuhnya dan menatap ke arah Friska.


"Ada apa Friska. Aku terburu-buru." ucapnya to the point.


Friska tersenyum sumringah. "Bukannya pak direktur mengajakmu kencan?" Alisnya ia naikkan begitu cepat dan berulang-ulang.


Mata Loyisa terbelalak dan melihat ke kiri dan ke kanan. "Kencan? Sama pak direktur?" Volume suaranya ia perkecil sedemikian rupa, menjaga agar karyawan yang lain tidak mendengarnya.


"Sudahlah, jangan bohong. Aku tadi sudah mendengarnya."


"Kau nguping?"


"Astaga, aku tidak menguping, tadi aku tidak sengaja mendengarnya." Protes Friska membela diri. "Sekarang jawab aku, kemana pak direktur mengajakmu?"


β€œAku malas.” ucap Loyisa seraya menatap kembali ke arah jendela yang memperlihatkan sebuah pemandangan kota.


"Aku tidak pernah senang di ajak oleh siapapun Friska. Sudahlah, jangan menggosip." Ucap Loyisa memelas malas. "Kau belum pulang?"


"Aku lembur, Loyisa."


"Oke, lanjut. Aku pulang duluan ya." Loyisa melambaikan tangannya.


Loyisa kembali mempercepat langkahnya saat berada di koridor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, langkahnya semakin panjang dan sedikit berlari. Saat berada di pintu utama. Pandangannya berubah sayu. Hujan sudah turun dengan deras. Loyisa mengembuskan napas lesu. Ia hanya bisa menatap milyaran tetesan air hujan yang membasahi bumi sambil berjalan mendekati pos security sambil menatap jam di tangannya. Pukul 17.30 wib.


"Permisi pak, numpang duduk."


"Silakan Loyisa."


"Terima kasih, pak." jawab Loyisa ramah.


Loyisa masih terduduk diam di pos security yang berukuran 2x2 itu. Angin bertiup membawa butiran air hujan mengenai wajahnya. Loyisa melipat tangannya di depan dada. Angin ini datang dengan lembut namun mampu untuk menusuk kulit. Sesekali tangannya mengusap tengkukku untuk membagi kehangatan.


Ahaaa.... Loyisa tiba-tiba mengacungkan jari telunjuknya. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ethan. Panggilan masuk, tapi tidak di angkat. Dahi Loyisa mengernyit, biasanya sekali nada dering masuk, Ethan pasti langsung mengangkatnya. "Seharusnya Ethan sudah jam segini sudah pulang ke rumah, kenapa tidak mengangkat panggilanku?" Loyisa menurunkan handphonenya.


Rasa kesal kembali datang. Huftt... Loyisa membuang napas lesu. Ya, jalan satu-satunya terpaksa harus menunggu hujan berhenti. Tiga puluh menit telah berlalu, Loyisa memutuskan pulang menggunakan taksi.


"Pak, aku pulang," Loyisa bangun dari duduknya.


"Hujannya masih deras Loyisa."


"Tidak apa-apa pak, sampai rumah bisa langsung mandi." Ucap Loyisa tersenyum.


"Baiklah, hati-hati di jalan loyisa?"


"Iya pak." Loyisa langsung keluar dan setengah berlari menuju halte bis, kakinya bahkan terkilir dengan heels yang dikenakannya. Bajunya langsung basah. beruntung taxi pada saat itu langsung lewat. Ia bisa langsung naik. Setelah mengatakan arah jalan ke rumahnya. Taksi langsung melaju ke alamat yang tuju.


Lima belas menit jarak yang ditempuh, mobil taksi yang membawa Loyisa tiba di apartemennya. Setelah melakukan pembayaran, Loyisa pun turun.


DEG!


Saat memutar badannya, jantung Loyisa langsung terpukul kencang. Ia diam membeku di tempatnya. Bibirnya gemetar bukan karena dingin, tapi karena menahan emosi. Hatinya begitu sakit. Loyisa tersenyum pahit. Mereka terlihat gembira berbincang, sedangkan Loyisa hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. Dadanya terasa sesak tanpa sebab disertai perih yang menjalar. Ia menelan salivanya begitu susah. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam di sana seperti orang bodoh yang mengetahui kekasihnya selingkuh.


Menyadari seperti ada yang melihatnya, Ethan langsung menatap ke arah Loyisa yang berdiri beberapa meter dari mereka. "Loyisa?" gumam Ethan dalam hati.


"Aku pulang Ethan." Veronica tersenyum manis kepada Ethan.


"Ah, iya.." Ethan tergagap dan melihat ke Veronica lagi.


"Terima kasih atas jamuannya, makanannya sangat enak. Kau pintar masak."


"Sama-sama Veronica." ucap Ethan singkat, agar Veronica secepatnya pergi dari sana. Ia terus memperhatikan Loyisa.


Veronica masuk ke dalam mobil dan kembali membuka kaca mobilnya untuk melihat Ethan.


Loyisa berjalan cepat dan sedikit pun tidak memandang Ethan, hatinya terlalu sakit di sini. Pantas saja Ethan tidak mengangkat teleponnya, ternyata ia berkencan dengan wanita sialan ini. Rasanya ingin menangis, Langkah semakin cepat seperti gerakan slow motion melewati tubuh Ethan yang berdiri di sana.


"Loyisa, tunggu!"


Tidak ada jawaban. Ethan tidak mengejarnya. Ia menunggu sampai mobil Veronica meninggalkan basement apartemen. Loyisa masuk ke dalam apartemen, diam terpaku di sana melihat meja penuh dengan makanan. Tangan Loyisa mengepal kuat. Sepertinya Ethan memang khusus memasak semua ini untuk wanita ini. Ia tersenyum getir, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya dan tidak bisa ia sembunyikan. Yang membuat hatinya lebih sakit, sarapan Egg Benedict spesial Loyisa buatkan untuknya sama sekali tidak di sentuhnya. Mata Loyisa sudah mengkristal penuh dengan air mata bening yang masih terkumpul di matanya. Ia menarik napas dengan emosi hingga mulutnya berbuka. Dadanya tidak beraturan karena napas yang tidak beraturan. Loyisa membuang napas cepat karena menahan sesak di dada. Ethan sudah masuk dan melihat loyisa masih berdiri di sana.


"Loyisa?"


Tidak ada jawaban. Hanya deru napas Loyisa yang terdengar begitu jelas karena menahan emosi. Ia mengepalkan tangannya dan terus memunggungi Ethan.


"Loyisa, kenapa tidak langsung mandi? lihat tubuhmu basah." Ucap Ethan memegang pergelangan tangan Loyisa dari belakang.


"Jangan sentuh aku," ucap Loyisa begitu dingin.


"Loyisa, ada apa denganmu? Kau harus mandi. Aku tidak mau kau sakit lagi." Ethan menarik kencang tangan Loyisa, hingga badan Loyisa berputar menghadap ke arah Ethan. Mata Ethan mengedip cepat saat melihat ke arah Loyisa.


DEG


DEG


DEG


"Loyisa, kau menangis?"


BERSAMBUNG


❣️ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu πŸ€—


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ