
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
.
.
Glek!
Loyisa menelan salivanya dengan wajah tegang. Loyisa mengembuskan napasnya yang gemetar dan terbata-bata. Seluruh tubuhnya dingin dan pucat. Bahkan aliran darah enggan singgah. Loyisa benar-benar shock dan sangat terkejut.
"Siapa Axel? siapa pria yang duduk di depannya ini?"
"Kalau begitu saya permisi, tuan." Pria bertato naga itu membungkukkan badannya 45 derajat untuk memberi hormat.
"Terima kasih." ucap Axel tersenyum singkat.
"Sama-sama tuan," Sekali lagi pria itu berucap dengan lembut sambil sedikit membungkukkan badannya. Elmon pun dengan segera memutar badannya dan hendak pergi.
"Tunggu!" Axel menghentikan langkah pria itu.
Langkah Elmon seketika berhenti. Ia membalik badannya dan menghadap ke arah Axel dan sedikit menundukkan kepalanya. "Iya, tuan?"
"Kemana Ken, kenapa dia dihubungi tapi tidak di angkat?" Tanya Axel penuh tanda tanya. Kendrick tidak pernah sekali pun menolak panggilannya, selama Axel mengenal pria itu.
"Saya tidak tahu tuan,"
"Apa dia bersama Alexa?"
"Tidak tuan. Nona Alexa sedang di rumah."
Axel membuat gestur berpikir dan menatap ke arah Elmon. "Baiklah, Jika Ken kembali suruh dia menghubungi aku. Ada yang ingin aku sampaikan." ucap Axel akhirnya. Ia belum menyadari perubahan wajah Loyisa. Ia masih fokus dengan Elmon saja.
"Baik, tuan." ucap Elmon kembali.
Elmon pun berlalu pergi dari apartemen itu. Axel kembali tersenyum dan menatap ke arah Loyisa.
"Ah...maaf Loyisa membuatmu menunggu, mari kita lanjutkan makannya." Tiba-tiba senyum Axel menghilang. Ia mengerutkan dahi saat melihat ekspresi wajah Loyisa yang tiba-tiba berubah. Wajahnya menegang tanpa ekspresi. Napasnya terdengar memburu, naik turun tidak beraturan.
"Loyisa?" Panggil Axel dengan mengangkat alisnya.
Loyisa tak menjawab posisi tangannya lurus ke depan di atas meja. Tatapannya kosong, tak bersuara. Axel semakin mengerutkan alisnya, menatap Loyisa dengan heran.
"Hallo Loyisa," Panggil Axel mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Loyisa. "Apa kau sakit Loyisa?" Axel menyentuh tangan Loyisa, namun dengan cepat Loyisa menarik tangannya sambil menggeleng. "Aku tidak apa-apa." ucapnya cepat, tapi pandangan matanya kosong. Ia tidak mau menatap ke arah Axel.
"Loyisa, apa yang terjadi?" Axel semakin cemas melihat ekspresi Loyisa seperti orang aneh saja. Sementara sebelumnya ia sangat menikmati makanan yang disediakannya. Ia bangun dari duduknya dan duduk di sebelahnya. Ia menyentuh tangan Loyisa lagi.
"Jangan sentuh aku," Loyisa bangun dari duduknya, napasnya berembus tidak stabil. Wajahnya semakin terlihat pucat.
Axel pun ikut bangun dari duduknya, Ia menyentuh lengan Loyisa. Namun dengan cepat Loyisa menampiknya. "Maafkan saya pak, saya harus kembali." Ucapnya menggeser kursi ke belakang. Tangannya gemetar, hembusan napasnya semakin tidak beraturan.
Axel tidak mau diam, ia memegang tangan Loyisa dengan cepat, saat Loyisa ingin meninggalkan meja makan. Ia semakin tidak mengerti, dengan perubahan sikap Loyisa. Ia mengerutkan keningnya dan berkata lagi. "Loyisa, setidaknya kau menjawabku. Karena aku harus bertanggung jawab. Aku yang membawamu ke sini. Kita bisa ke rumah sakit jika memang kau tidak enak badan. Jangan hanya diam seperti ini. Jangan buat aku khawatir." Kata Axel dengan cemas.
"Baiklah, kau bisa pulang tapi aku yang antar. Tadi kita pergi bersama-sama dan aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri."
Jantung Loyisa terpukul kencang. Wajahnya semakin pucat. Jari-jari tangannya terasa dingin, saat mengingat kejadian itu.
"Loyisa lihat aku," Dengan cepat Axel menangkup ke dua pipi Loyisa.
Loyisa semakin menggeleng cepat. Menjauhkan dirinya. Ia takut dan sangat takut ketika Axel menyentuhnya. "Tidak..tidak...aku bisa pulang sendiri." Bibir Loyisa gemetar saat mengucapkannya. Loyisa melangkah mundur dan dengan cepat memutar tubuhnya untuk segera berlari meninggalkan apartemen itu. Ia mengambil tas sling bag yang di taruh nya di atas meja.
"Loyisa?" Panggil Axel ikut berlari mengejar Loyisa.
Loyisa sudah keluar dari pintu apartemen milik Axel.
"LOYISA!!!!" Teriakan Axel begitu nyaring di lobby apartemennya. Namun ia tidak tahu Loyisa lari ke arah mana. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Ssshhiitt....." Axel menggeram sambil menyapu rambutnya ke atas. "Apa yang terjadi padamu Loyisa? Kenapa dia seperti orang ketakutan?" Axel mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara Loyisa hanya terus berlari. Ia tidak perduli dengan teriakan Axel yang memanggil namanya berulang-ulang, termakan oleh jarak yang semakin menjauh. Ia tidak ingin Axel menemukannya. Ia berlari ke jalur khusus. Dan menuruni tangga dengan cepat. Sungguh saat ini masih mencerna dan terus mencoba mengerti apa yang terjadi. Ia masih tidak percaya. Loyisa hanya terus berlari walau ia tidak tahu kemana kakinya melangkah. Ia seperti kehilangan arah dan hanya bisa terus menangis. Dadanya sesak. Debaran jantungnya terpukul dengan cepat. Napasnya tersengal dan mulai kehabisan napas. Ia pun bingung mau lari kemana lagi. Tenaganya mulai habis, akhirnya Loyisa mulai berhenti.
"Mommy... daddy... akhirnya aku menemukan siapa yang membunuh kalian." Loyisa meraung dan berjongkok di salah satu sudut tembok.
Mulutnya terbuka dan Loyisa benar-benar menangis tersedu-sedu. Raungannya begitu lirih. Kini ia tertawa sambil menangis. Tertawa bahwa lelaki bertato naga itu ternyata ada di sekitar Axel. Selama ini ia bersusah payah menemukan lambang dari tato itu. Loyisa kembali menangis sambil tertawa. Hatinya begitu sakit dan jantungnya terus berdetak dengan kencang. Tangannya memutih memucat karena kepalan tangannya yang begitu kuat. Bibirnya gemetar. Matanya berkilat penuh emosi. Hingga tanpa sadar perutnya terasa mual mengingat bagaimana Axel memperlakukannya tadi. Ia menolaknya saat mengingat pada kejadian yang menimpa keluarganya.
Loyisa menutup mulutnya dengan cepat dan berlari kembali saat perutnya seakan diajak untuk memuntahkan isinya. Ia mencari toilet karena tidak tahan lagi. Tubuhnya seakan lemah, ia memegang besi stainless tangga darurat.
Loyisa kembali meringis kesakitan. Keringat sebesar biji jagung tiba tiba membasahi keningnya. Akhirnya Loyisa menemukan toilet di lantai satu dekat basement. Ia membuka pintu dengan paksa. Ia langsung mengeluarkan isi perutnya. Tubuhnya menyadari sesuatu. Fakta bahwa Axel memiliki hubungan dengan lelaki yang mempunyai tato naga itu.
" AAARGGHH..." Loyisa menangis dan terus meringis, menahan kesakitan sampai mencengkeram bagian kepalanya. Air matanya bergelinding jatuh bebas di pipinya. Memancing memorinya kembali untuk mengingat semua kejadian yang membuatnya terpuruk dan kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Loyisa menarik napasnya dalam-dalam. Memandang pantulan dirinya di cermin. Ia mengepalkan tangannya karena begitu emosi. Ia berusaha bernapas dengan mulut terbuka.
"Mereka merenggut kebahagiaanku."
Loyisa menarik napasnya yang terbata-bata karena begitu emosi. Matanya seketika berkaca-kaca, hidungnya terasa perih. Dada Loyisa begitu sesak dan sangat sesak, hingga ia tidak bisa bernapas dengan baik. Karena tidak sanggup menahan segala yang ada di dalam dadanya. Loyisa meninju kaca toilet dengan geram.
AAARRRGGHH!
BRAKKKKKK!
Hingga bagian kaca wastafel pecah dan bahkan melukai tangannya. Hatinya remuk dan terkoyak bahkan sangat hancur, saat mengingat kejadian itu kembali. Dendamnya kini semakin membara dan meledak-ledak. Ia menarik napasnya sambil mencengkram rambutnya dengan kuat, untuk melepaskan emosi. Loyisa tertunduk dengan air mata yang kembali berlinang. Tangan dan bahunya gemetar. Trauma itu seakan datang lagi. Bagaimana ia melihat dengan mata kepalanya ke dua orang tuanya di bunuh dan Loyisa harus di buang di saat cuaca begitu ekstrem. Saat itu wajah pembunuh itu ada rasa kasihan. Loyisa mengangkat wajahnya kembali dan menatap dirinya di pantulan kaca yang sudah pecah menjadi beberapa bagian.
"Dokumen itu ada di tanganku. Kini saat aku kembali untuk melakukan pembalasan atas kematian orang tuaku." Pancaran matanya menyorot tajam. Tatapan iblisnya siap mematikan siapa saja. Darah yang menetes dari tangannya tak diperdulikannya lagi.
Loyisa menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Ia membasuh wajahnya. Loyisa mengangkat wajahnya dan melihat kembali pantulan dirinya. Ia tersenyum samar lalu meremas tas sling bag nya dan melangkah meninggalkan gedung apartemen itu dengan cepat.
Loyisa berlari ke arah taksi. Kakinya bahkan sampai terkilir dengan heels yang dikenakannya. Begitu di dalam taksi, Loyisa segera mengatakan alamat yang ditujunya. Saat ini ia harus kembali ke kantor untuk mengambil handphonenya yang tertinggal di atas mejanya. Ethan sudah pasti mencemaskannya. Karena ia tidak bisa dihubungi.
BERSAMBUNG
β£οΈ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ππ Salam sehat selalu π€
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ