Retaliation

Retaliation
Menghindari ciuman.



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


"Ma-maksudnya pak?" ucap Loyisa begitu gugup. Jantungnya terpukul kencang saat ini. Perasannya benar-benar campur aduk dan ingin lari dari ruangan itu.


"Aku mencintaimu. Aku menyukai semua tentangmu Loyisa." ucap Axel mengungkapkan isi hatinya.


DEG


DEG


DEG


Mata Loyisa terbelalak kaget saat mendengar kalimat itu. Ia bertambah gugup saat Axel memberikan remasan di pinggangnya. Badannya terasa kaku, seluruh tubuhnya terasa panas dan gemetar. Mereka sangat dekat, sampai tangan Loyisa menyentuh dada Axel. Untuk memberikan jarak untuk mereka.


"Aku ingin kau menjadi wanitaku, Loyisa."


Mata Loyisa mengedip cepat, debaran jantungnya semakin kencang membuatnya sulit untuk bernapas.


"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Axel mengejar wajah Loyisa yang terus menunduk.


Loyisa tidak tidak berani menatap langsung ke arah Axel. Ia sangat takut. Di sisi lain ia teringat dengan Ethan, pria yang sangat dicintanya.


Axel tersenyum, ia melepaskan pelukannya di pinggang Loyisa. "Mungkin kau butuh waktu. Ingat, tapi aku tidak suka di tolak. Aku akan memberikanmu waktu satu minggu. Kau sudah harus bisa menjawabnya." ucap Axel pelan dengan suara bariton khas miliknya.


GLEK!


Loyisa menelan salivanya berulang kali dan mengangkat wajahnya untuk melihat pak direktur. Tatapan mereka saling bertemu.


Axel menjauhi loyisa dan melangkah ke kursi kekuasaannya. Ia ingin duduk kembali. Huffft! saat itu juga Loyisa mendapat kesempatan untuk bernapas. Meski jantungnya masih memicu cepat dan ia sangat gugup. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus.


Tanpa berpikir panjang dan baginya ini adalah kesempatan emas. Loyisa berjalan cepat dan hanya bisa terdiam. Ia semakin mendekat dengan langkah-langkah panjangnya. Loyisa memasukkan tangannya dengan perlahan di dalam lengan Axel yang sedang memunggunginya. Ia memeluk pinggang lelaki itu dengan lembut dan mengunci tangannya ke depan perut Axel. Kepalanya disandarkan dengan nyaman di punggung Axel. Loyisa seketika memejamkan matanya.


Sepersekian detik, Axel mengerjap dan mengerutkan dahinya. Ia sangat terkejut. Otaknya masih belum bisa menyimpulkan apa yang telah dilakukan Loyisa. Apakah ini mimpi atau memang kenyataan. Axel masih diam membeku ditempatnya. Raut wajah bingung masih terlihat jelas di wajah Axel. Ia pun hanya bisa terdiam menikmati pelukan wanita yang dicintainya. Jika ini memang mimpi Axel berharap tidak ingin bangun. Ia masih nyaman dengan posisi ini.


Loyisa masih diam tak mengucapkan apa-apa. Ia semakin membuat posisi nyaman dengan menempelkan pipinya di punggung Axel. Loyisa kembali mengeratkan pelukannya dan menghela napas singkat.


"Apa yang kau lakukan Loyisa?" tanya Axel tak bisa menutupi keterkejutannya.


"Memeluk anda pak,"


Axel tersenyum, "Apakah itu artinya kau menerimaku?" tanya Axel dengan sendu.


"Hmm, tidak usah menunggu satu minggu pak. Aku bersedia menjadi wanita yang mengisi hari-hari bapak. Sejujurnya aku juga menyukai bapak. Hanya aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan itu." Ucap Loyisa dengan suara terendahnya. Ia tersenyum hambar di balik punggung lelaki itu.


DEG


Axel kembali mengerjap, tubuhnya membeku dan menegang. Ia masih berposisi tegak dan ke dua tangannya melapisi tangan Loyisa yang memeluknya. Axel memalingkan wajahnya ke samping. Menatap ke belakang kepala Loyisa yang masih bersandar di punggungnya. Ekspresi wajahnya berubah bahagia. Getaran itu terus terasa di sekujur tubuhnya. Aliran listrik di dada semakin menyetrum dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Benar benar membuatnya terlena karena dekapan lembut yang diterimanya dari wanita yang membuatnya tak bisa bernapas.


Lagi-lagi Loyisa menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Ia tersenyum tipis sambil perlahan membuka matanya. Ia menarik diri dan melepaskan pelukan itu. Axel tersenyum sambil memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah Loyisa.


Loyisa mengambil napas, melarikan pandangnya dari tatapan Axel. Menatap sedikit ke bawah dan hanya diam di tempatnya.


"Apa aku sedang bermimpi Loyisa? bisakah kau mencubit pipiku."


Mendengar itu Loyisa tertawa sambil menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. "Anda tidak perlu melakukannya pak, bapak tidak bermimpi. Aku bersedia menjadi teman wanita anda pak."


Mata Axel berbinar bahagia. Ia tersenyum penuh kemenangan. Axel benar-benar tidak menyangka. Kurang cepat Axel melakukan ini. Ada rasa bahagia yang menggelitik hatinya. Axel berdehem dan berusaha untuk bersikap tenang. Jantungnya terpukul kencang karena begitu bahagia. Ia tidak bisa membayangkan cintanya ini terbalaskan.


Axel mengunci pandangan ke arah Loyisa. Ia menyandarkan bokongnya ke meja dengan posisi setengah duduk. Menyilangkan kaki ke depan, posisinya sangat santai dengan berjuta penuh karisma. "Jadi saat di apartemenku, kenapa kau tiba-tiba kabur. Jika kau mencintai aku, seharusnya kita bisa menghabiskan malam itu dengan menonton sambil berbagi cerita."


"Benarkah?" alis Axel naik pangkalnya.


Loyisa mengangguk dengan wajah mengerut, alisnya ikut terangkat. "Iya, pak. Itu memang benar. Saat itu saya benar-benar sakit." jawabnya lagi.


Axel tersenyum menyeringai tipis. Senyumnya samar, tapi masih terlihat. Ia kembali menegakkan badannya dan menghadap ke arah Loyisa lagi. Senyum untuk menggoda wanita itu yang berdiri di depannya.


Saat melihat Axel mendekat, tubuh Loyisa menegang kaku. Ia begitu gugup karena sesungguhnya ia tidak menginginkan kedekatan ini. Axel memegang ke dua bahu Loyisa dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Karena kau sudah milikku. Itu artinya aku bisa menciummu."


"Heuh?" Dahi Loyisa mengerut, "Me-mencium?" Loyisa gagap.


"Hmm, aku ingin menciummu."


Mata Loyisa membelalak. "Ta-tapi ini kantor pak." Ucap Loyisa protes. "Mencium? apa dia gila. Ini tidak boleh terjadi."


"Perusahaan ini milikku Loyisa, apa yang kau takutkan."


"Nanti ada yang masuk pa,"


"Kau tinggal menguncinya."


"Astaga, apalagi alasan yang harus aku katakan." Loyisa berteriak di dalam hatinya. Rasanya ingin kabur. Tapi tidak mungkin.


"Bagaimana?" tanya Axel mengangkat dagu loyisa, Matanya mengarah ke bibir Loyisa. "Apa ini baru pertama kali untukmu? Tubuhmu menegang."


"Heehhh..."Loyisa membuang napas gugup. Ia mengangguk cepat. Wajahnya sudah bersemu merah. "Ini baru pertama kali untukku pak." ucapnya berbohong.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, hingga kau menginginkannya lagi dan lagi."


Glek!


Loyisa menelan salivanya lagi. Jantungnya lagi-lagi terpukul kuat dan siap melompat dari rongga dadanya. Ia reflek menutup matanya. Axel semakin mendekat, Loyisa meremas tangannya erat-erat, ia masih terdiam mematung di posisinya.


DEG


DEG


DEG


Sementara Axel masih menahan wajahnya dan melihat secara langsung wajah loyisa. Ia mulai menyukai kegugupan wanita ini. Tatapannya semakin sayu. Napas keduanya berembus dan bersautan tidak beraturan. Apalagi Loyisa, lebih baik ia memilih pingsan saja dari pada harus di cium seperti ini. Axel menelusuri wajah Loyisa. Ia semakin menarik pinggang Loyisa melekat ke tubuhnya.


Dddrrrttt.... Dddrrrttt.... Dddrrrttt....!


Panggilan dari nada dering Axel terdengar begitu nyaring memenuhi ruangan itu. Loyisa membelalakkan matanya. Ia lalu reflek mendorong bahu Axel hingga terdorong ke belakang. Ia melepaskan dirinya dan mengatur bajunya dengan cepat.


Bunyi panggilan itu masih berlangsung, membuat Axel berdecak kesal. Ia menatap tajam ke arah Loyisa. Axel berkata pelan dengan nada mengancam. "Jika panggilan itu tidak penting, aku pastikan orang menghubungi aku itu hidupnya akan tamat."


Loyisa hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau begitu saya permisi dulu pak. Mungkin panggilan itu penting. Saya akan melanjutkan pekerjaan saya pak." Ucap loyisa sambil membungkukkan badannya 45 derajat.


"Alasan yang tepat Loyisa. Ini cara yang ampuh untuk menghindari ciuman itu."


Loyisa pun melangkah meninggalkan ruangan itu. Saat berada di luar pintu, Ia menyentuh dadanya loyisa mengatur debaran jantungnya. Huuuuhhh...Ia kembali melakukan ritualnya. Mengembuskan napas lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya. Beruntung ciuman belum terjadi. Tangannya masih terasa dingin. Loyisa kembali melangkah menuju mejanya. Ia kembali sibuk melakukan pekerjaannya.


BERSAMBUNG


❣️ Maaf ya readers tersayang terkadang terlambat ngirimnya, banyak kesibukan di dunia nyata πŸ˜‚πŸ˜‚ Saya juga sedang menulis Mafia Berhati Malaikat. Semoga tetap suka dengan karya saya ya. Salam sehat selalu πŸ€—πŸ€—πŸ€—


❣️ Tinggalkan jejak kalian agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘


TERIMA KASIH πŸ™


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ