
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
Suasana seperti ini membuat loyisa semakin tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang Ethan. Loyisa terdiam, menarik napas sesaat. Menutup mata dan mendesah lewat mulut hingga bahunya ikut turun saat melihat bunga dan coklat yang ada di atas meja. Ada getaran-geraran samar yang mengelayut di hati dan meninggalkan bekas-bekas luka yang menyesakkan hati. Loyisa kembali menguatkan hati. Ia siap menerima kemarahan dari Ethan.
"Mulai besok, kau berhenti bekerja." ucap Ethan dengan tegas.
DEG
DEG
DEG
Loyisa mengerutkan keningnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. "Kenapa aku harus berhenti bekerja kak?" Tanya Loyisa dengan sikap tenang dan tidak menujukkan rasa bersalahnya.
Ethan membalikan badannya, "Semuanya sudah jelas, kau tidak boleh bekerja lagi." kata Ethan meninggikan suaranya. Sorot matanya begitu tajam. Ia begitu terluka di sini.
Loyisa mencoba bersikap tenang menghadapi Ethan. Walau hatinya tak kuat melihat Ethan tersakiti di sini. "Kenapa seperti itu kak? Aku tidak bisa berhenti. Tidak bisa....!" Loyisa menegaskan kalimatnya.
Heh... Ethan melepaskan napas singkat. Ia melarikan tatapan kesalnya. Ia tidak menyangka jawaban Loyisa akan seperti itu. Ethan benar-benar tak terima. "Sekali aku katakan tidak dan tetap tidak. Kau harus mendengarkan itu." ucap Ethan meninggikan suaranya. Rahangnya mengencang kuat.
"Aku tidak bisa melakukan itu." Ucap Loyisa tak kalah tegas. Volume suaranya naik satu oktaf melebihi suara Ethan.
"Kenapa kau tidak bisa melakukannya?" kata Ethan begitu dingin.
"Karena aku masih membutuhkan pekerjaan itu." Jawab Loyisa membuang mukanya tak ingin melihat mata Ethan.
"Aku masih sanggup membelikan apa yang kau mau Loyisa. Jadi aku tidak mau tahu, kau harus berhenti bekerja."
"Tidak, aku tidak mau kak." tolak Loyisa.
Ethan menahan emosi, Ia hanya tersenyum pilu. Menunduk dan mendesah. "Aku melihat dan mendengar semuanya. Lelaki itu sudah gila dan kau tidak boleh dekat dengannya. Kau tidak dengar? Berani-beraninya dia mengatakan kau kekasihnya. Jelas-jelas kau milikku Loyisa." Kata Ethan menatap Loyisa dengan tatapan tajam, wajahnya terlihat marah dan kesal.
Loyisa terdiam, bibirnya keluh tak sanggup mengatakan apa-apa.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan? jangan buat aku marah Loyisa. Kau sudah berbohong kepadaku? Kau berdalih dan mengatakan kau bertemu klien dan kau pergi dengan lelaki brengsek itu." Ethan menujukkan kemarahannya. Ia segera membalikan badannya dan tak ingin melihat ke arah Loyisa. Ia terlalu takut jika Loyisa membenarkan Semuanya.
"Jika semua itu benar, apa kau marah kepadaku?" Tanya Loyisa menundukkan kepalanya.
DEG!
"Apa?" Ethan berbalik dan matanya menyorot tajam dan mengunci Loyisa. Tak tertebak. Hatinya begitu sakit saat mendengar itu.
Loyisa mengangkat wajahnya, "Jika itu benar apa kakak marah?"
Mendengar itu jantungnya langsung terpukul kencang, Ethan membuang napasnya dengan kasar. "Apa maksudmu Loyisa?"
"Maafkan aku kak, aku mencintai Axel."
DEG!
Jantung Ethan langsung terpukul kencang. Tangannya terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya shock dan tidak bisa bernapas.
Ethan melangkah dan mendekat ke arah Loyisa, ia memegang ke dua lengan dengan hati yang terluka. "Katakan jika semua itu tidak benar Loyisa, kau tidak sungguh-sungguh mencintai dia. Matamu sedang berbohong. Apa kau diancam."
Loyisa menggeleng dan melepaskan tangan Ethan. Ia membalikkan badannya dengan cepat, Loyisa tidak sanggup menatap mata itu.
"Aku benar-benar mencintainya dan kini aku sadar aku tak bisa mengecewakan ibu yang telah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Kita tak bisa bersama." kata Loyisa menatap langsung ke mata Ethan.
Ethan menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. Hatinya tak bisa terima. Ia masih belum percaya dengan kalimat yang baru keluar dari mulut Loyisa. Untuk menelan salivanya saja ia begitu susah. Lidah Ethan keluh bak dipatuk ular, ia terdiam membeku di tempatnya.
"Apa yang kau rencanakan Loyisa?" Kata Ethan dengan suara terendahnya. Matanya menyorot tajam hingga bisa menembus jantung Loyisa.
Mata Loyisa sudah mengkristal penuh dengan air mata bening yang masih terkumpul dan tidak terjatuh di pipinya. Loyisa mengangkat wajahnya. "Aku tidak merencanakan apa-apa kak, aku memang mencintainya." ucapnya dengan tegas.
"Kau pikir aku bodoh Loyisa, kau menyimpan dendam yang lama kau simpan di hatimu. Aku tahu semua dimana malam saat kau menghabisi nyawa para Mafia di depan mataku."
DEG
DEG
DEG
Mata Loyisa terbelalak seakan tidak percaya dengan apa di dengarnya. Jantungnya seakan terpompa lebih kencang, ia seperti tidak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya gemetar, bibirnya seakan tidak sanggup untuk berbicara. "Ethan mengetahui semuanya?" Ucapnya dalam hati.
Ethan yang tersenyum sinis."Aku tahu semuanya, kau sedang gencar mencari mafia yang bertato naga itu kan? Apa kau sudah menemukan pria bertato itu?"
"HK..."
Loyisa semakin sulit bernapas, ia menarik napasnya dalam-dalam, berusaha untuk menangkan hatinya.
"Dan sekarang kau menggunakan Axel untuk melancarkan misimu. Semenjak kau tidak terbuka kepadaku dan mengatakan memar di wajahmu hanya kecelakaan saat di kantor. Aku mencari tahu informasi tentang lelaki bertato naga itu. Kau tahu siapa dia? Dia mafia kejam dan tidak bisa terkalahkan. Kau sendiri tidak bisa melawan mereka Loyisa."
Loyisa tak sanggup lagi. Bibirnya bergetar dan berucap. "Kau benar, aku memang menggunakan Axel untuk melawan mereka yang telah menghabisi keluargaku." Air mata Loyisa langsung terjatuh begitu saja saat mengingat kisah yang memilukan hatinya itu. "Sejauh ini aku menjadi wanita tangguh yang benar siap melawan mereka walau nyawaku menjadi taruhannya. Aku pasti bisa melakukan itu. Jadi jangan halangi aku." Kata Loyisa dengan derai air mata. Kakinya lunglai tak sanggup berdiri. Loyisa menjatuhkan dirinya dan terduduk. Tangisannya pecah saat itu juga.
Dengan cepat Ethan memeluknya. "Aku tahu Loyisa, aku juga membantumu menyelidiki semuanya. Aku hanya menunggu kau bisa terbuka untukku. Apa kau sekarang meragukanku? Aku juga siap mati jika itu untuk melindungimu."
"Aaahhhhhh...." Loyisa semakin mengeluarkan raungan pilu yang membuat dadanya semakin sesak. Air matanya mengalir begitu deras di pipinya. Ia mengeluarkan lirih saat mendengar semuanya dari Ethan. "Maafkan aku tidak jujur kepadamu Ethan. Aku hanya tidak ingin kau ikut membalaskan semua dendamku. Aku takut kau terluka."
Ethan menarik napasnya. "Apa kau pikir aku tidak terluka saat kau menyimpan semuanya dengan sendiri. Kau sakit sendiri Loyisa. Seharusnya kau tidak memendamnya sendiri."
"Maafkan aku kak," wajah Loyisa mengerut, ia berusaha bernapas meski masih sesenggukan.
"Sekarang kau percaya denganku, kita pecahkan bersama-sama, jangan pernah merasa sendiri lagi."
Loyisa mengangguk dengan air mata yang masih terus mengalir ke pipinya. Ethan mengusap air mata itu dengan lembut. Jantung Loyisa langsung terpukul kencang saat Ethan mulai mendekat. Ethan memajukan wajahnya dengan pelan dan meraih bibir Loyisa. Mencium bibir itu dengan sentuhan yang sangat lembut. Mencoba menghentikan tangisan Loyisa dengan Lmatan- Lmatan yang dalam. Menjelajah setiap bagian lembut, mengecap tanpa sisa.
Gemuruh di dada loyisa semakin menjadi. Ia benar benar terlena. Ethan berhasil menghentikan tangisannya. Tubuhnya gemetar hebat dan merasakan sensasi yang luar biasa dari dalam dirinya. Seluruh ototnya terasa menegang. Seperti ada aliran listrik yang menyetrum dengan kedutan kedutan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Reflek mata Loyisa memejam saat merasakan Lmatan mesra dari Ethan. Loyisa dengan lembut membalasnya. Dengan ciuman itu, hatinya terasa tenang. Loyisa tak perlu takut lagi. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Loyisa, seakan membuat Ethan lebih bersemangat lagi. Ia semakin memperdalam ciumannya yang menggetarkan itu.
Ethan melepas tautan bibirnya. Suara terengah-engah terdengar begitu jelas dari keduanya. Ethan menangkup kedua pipi Loyisa menatapnya dengan sayu.
"Sekarang kita pecahkan bersama-sama. Kau mengerti?"
Loyisa mengangguk dan tersenyum haru. Matanya kembali berkaca-kaca. Beban di dalam dadanya terlepas begitu saja.
"Aku ada teman, dia mengetahui semua dunia Mafia. Besok kita bertemu dengannya."
"Bagaimana dengan rencana ini?"
"Kembalikan cincin itu, aku tidak mau kau mengunakannya."
Loyisa menunduk lagi. "Maafkan aku kak."Ucapnya dengan cepat menghapus air mata yang terjatuh di pipinya lagi.
Ethan menarik tubuh Loyisa dan memeluknya dengan hangat. "Apapun yang terjadi aku akan melindungimu. Walau nyawaku menjadi taruhannya. Jangan menyimpannya sendiri. Katakan semua yang membebani pikiranmu. Jika masalah ini selesai, aku akan membawa hubungan ini ke dalam ikatan suci pernikahan dan kita akan hidup bahagia di desa Woodstock."
Loyisa semakin mengeratkan pelukannya, ia menganggukkan kepalanya dengan cepat. Loyisa tidak menyangka Ethan ternyata mengerti akan dirinya. Seharusnya ia tidak meragukan Ethan, Loyisa tidak takut sendiri lagi. Ia bersama dengan orang yang mencintainya.
BERSAMBUNG
โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐๐ ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐