
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
New York adalah kota yang dijuluki The Big Apple ini yang indah untuk jatuh cinta. Kota dengan alunan terompet yang merayap-rayap di antara gedung-gedungnya. Ethan dan Loyisa terus berjalan di antara gemerlap Manhattan, di sepanjang Brooklyn Bridge. Loyisa seperti merasakan denyut para New Yorker.
โThe glamour of it all!!โ seru Loyisa meloncat kesenangan sambil memeluk tangan Ethan.
Ethan tersenyum memeluk pinggang Loyisa, merapatkan tubuh mereka saling melempar senyum bahagia di sana. Serasa dunia milik mereka berdua, orang lain hempas saja. Loyisa terkekeh sendiri, saat orang-orang di sekitar, tersenyum sambil menggelengkan kepala menatap mereka. Wajah Loyisa bersemu merah menatap ke samping dan melihat Ethan begitu posesif kepadanya. Dadanya kembang kempis, seperti terkena serangan jantung. Tidak bisa dipungkiri Loyisa sangat bahagia saat ini.
Mereka kembali berjalan, seperti tak kenal lelah. Saat berjalan kaki di trotoar, Ethan memasukkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Loyisa untuk memberi kehangatan. Loyisa tersenyum lagi sambil mendongakkan kepala ke atas dan mendapati langit biru yang bersih dengan gedung-gedung pencakar langit menghiasinya. Banyak trotoar di New York yang sangat teduh, bukan karena pepohonan namun karena bayangan gedung-gedung tinggi.
New York menyimpan fantasi untuk begitu banyak orang. Banyak pemuda yang datang hanya dengan sebuah gitar dan cinta menyanyikan beberapa lagu di sana. Pengarang tanpa uang sepeser pun dan ide cerita yang hanya samar-samar, mereka yang datang dengan mimpi-mimpi besar dan ingin mengwujudkannya menjadi nyata.
Sepanjang jalan mereka menemukan goret-goretan tembok toilet dengan puisi-puisi yang indah di buat orang dalam keadaan mabuk. Sementara di sudut jalan tak jauh dari sana, mereka juga melihat Apple Store yang membawa mereka melompat beberapa generasi ke depan.
โApa kau punya kisah cerita di sini Loyisa, yang mungkin membuatmu jatuh cinta mungkin?โ tanya Ethan dengan mata berkedip pelan. Karena yang dia tahu Loyisa memang di besarkan di new York. Pasti dia mempunyai cerita di kota ini.
"Jatuh cinta?" Sejenak Loyisa berpikir. "Aku pernah jatuh cinta pada seseorang. Tapi cinta itu hanya sesaat, mungkin cinta monyet mungkin." Kata Loyisa tersenyum menatap ke arah Ethan. "Banyak hal-hal yang indah dan puitis sering diciptakan oleh kegilaan-kegilaan. Tapi bukan di sini tempatnya. Dimana saja bisa, untuk mengejar cinta yang sebenarnya." Batin Loyisa berbicara sambil terus berjalan beriringan dengan Ethan.
Mereka terus menyusuri jalan-jalan Manhattan dengan gembira. Semua orang datang dari segala tempat, semua orang pernah berada di tempat ini. Ada tingkat anonimitas yang membuat siapa pun bisa menyelip dengan mudah di antara hiruk pikuk keramaian. Mereka memanfaatkan waktu dengan penuh kebahagiaan dan kekaguman. Karena New York, banyak mengisahkan cerita fantasi dan kisah sebuah ironi.
Di sana banyak orang-orang yang memberi pertunjukan di jalanan. Salah satunya di sudut Central Park. Saat melakukan pemanasan sebelum pertunjukan, salah satu dari mereka berseru kepada kelompok pengunjung. Loyisa tertawa di sana saat pemain akrobat itu sedang melucu.
"Kau tidak lapar, Loyisa?" Ethan melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
Loyisa menggeleng, "Aku belum lapar." jawabnya sambil terus menikmati pertunjukan itu.
"Kau tidak lelah, dari tadi kita berjalan dan tidak istirahat. Biar kita cari tempat duduk di sana." tunjuk Ethan ke arah kanan.
"Tidak, aku masih menikmatinya dan selagi itu bersamamu, aku tidak pernah lelah, kak." Kata Loyisa tersipu malu.
"Baiklah, kita akan jalan-jalan sampai malam tiba. Aku pun bahagia." ucap Ethan mencium pelipis Loyisa dengan lembut.
Loyisa membelalak dengan jantung terpicu, saat Ethan menciumnya di keramaian. Mata abu-abu dari jarak dekat itu, mampu membuatnya kaku dan mengaktifkan mode cepat jantungnya. Loyisa terus menatapnya dengan gugup. Ia menunduk lagi dengan wajah bersemu merah.
Loyisa dan Ethan memilih duduk di Washington Square Park. Di sana ada sebuah taman yang menyenangkan, dengan rumput yang halus, sinar matahari yang hangat, dan musik jazz sebagai latar. Mereka bisa menikmati keindahan senja yang mengisahkan banyak cerita.
"Tunggu sebentar, aku belikan minuman untuk kita." Kata Ethan bangun dari duduknya dan meninggalkan Loyisa yang tengah duduk di sana.
Loyisa hanya mengangguk sambil tersenyum memandang punggung Ethan yang berlari kecil meninggalkannya. Loyisa memperhatikan lalu lalang orang dengan pakaian modis yang sungguh memanjakan matanya. Banyak yang mengenakan pakaian kerja rapi tapi tak kurang juga yang berpakaian dengan gaya preppy. Tidak menunggu lama, Loyisa tersenyum saat melihat ke arah Ethan yang menggenggam dua mug berisikan minuman hangat.
"Hanya ada ini," Ethan mengulurkan tangannya memberikan minuman untuk Loyisa.
"Tidak apa-apa kak," Loyisa tersenyum sambil menerima dari tangan Ethan. Ia menggeser duduknya agar Ethan bisa duduk di sana. Mereka menyeruput minuman yang bisa menghangatkan tubuh mereka sambil memandang ke depan.
Ada orang yang duduk bersantai di dekat air mancur, atau tidur-tiduran di rumput sambil makan sandwich. Ada juga para pemungut sampah dan pengamen saxophone. Sungguh keindahan imajinasi akan kota New York yang menunjukkan kehidupan yang nyata.
Setelah menghabiskan minumannya. Ethan membawa tangan meninggalkan taman itu. Tak jauh dari sana mereka menemukan sebuah restoran di pinggir jalan. Ethan dan Loyisa masuk ke sebuah restoran makanan junk food yang terkenal di kota itu. Mereka mengambil tempat di pojok yang langsung menghadap dengan jalanan. Ethan dan Loyisa sudah duduk saling berhadapan.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Ethan sambil melihat menu makanan yang ada di depan mereka.
"Jangan panggil kakak lagi. Itu terkesan kau seperti adikku. Panggil nama saja."
"Heuh?"
"Bagaimana?" tanya Ethan tidak mau melepaskan tatapannya.
"Jarak umur kita jauh kak, apa tidak masalah aku panggil nama?" ucap Loyisa dengan tatapan getir.
"Bagiku tidak masalah, panggilan sayang juga lebih bagus?" Ethan mengangkat sebelah alisnya.
GLEK! Loyisa menelan salivanya,
"Bagaimana?" Tanya Ethan lagi sambil melipat tangannya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat lagi ke arah Loyisa.
Loyisa hanya mengangguk pelan sambil menjepit bibirnya. Ethan tersenyum simpul mengutarakan kemenangannya. Ethan bangun dari duduknya dan mengangkat dagu Loyisa dan memberikan ciuman tiga detiknya itu. Lalu kembali memandang Loyisa dengan tatapan hangat.
Mata Loyisa membulat sambil menahan napasnya. Ia masih sangat terkejut dan belum sadar dengan kejadian itu. Jantungnya terus bergemuruh di rongga dadanya. Ia belum mampu berucap. Perasaan ini, momen ini. Hal yang tidak pernah dipikirkan Loyisa akan terjadi. Ia pun bingung, sejak kapan ia menyukai Ethan? Rasanya benar-benar mendebarkan, tidak ada momen sebahagia ini, ia rasakan semenjak ia kehilangan keluarganya. Ethan melepaskan senyumannya, Loyisa semakin meleleh melihat senyuman itu.
Akhirnya mereka memesan big hamburger. Tidak menunggu lama pesanan mereka sudah tersaji di hadapan mereka. Loyisa dan Ethan, mengigit bersama potongan hamburger tanpa melepaskan tatapan satu sama lain. Mengunyah sambil tersenyum di sana. Ethan mengambil tissue saat melihat sisa saus yang ada di mulut Loyisa.
"Ada saus," Ucap Ethan tersenyum.
"Heuh?" lagi-lagi Loyisa hanya bisa salah tingkah. Ia tersipu, menunduk lalu tersenyum.
"Kau sangat cantik saat tersenyum Loyisa," ucap Ethan menatapnya dengan lembut.
Loyisa hanya bisa tersenyum lagi sambil menunjukkan deretan giginya. "Jangan berlalu memujiku."
"Tidak, itu kenyataan." kata Ethan meyakinkan. "Besok, aku ingin mengajakmu nonton."
Raut wajah Loyisa seketika berubah, ia kembali mengingat janji pak direktur kepadanya. "Besok, aku rasa tidak bisa Ethan." ucapnya menunduk lesu.
Ethan langsung menghentikan kegiatan mengunyahnya. "Kenapa?" tanya Ethan dengan kerutan dahi.
"Besok, aku ada lembur. Kemungkinan tidak bisa pulang cepat."
Ethan mengangguk paham. "Bagaimana kalau Minggu. Aku rasa minggu kantor tutup."
"Minggu juga tidak bisa kak,"
"Minggu juga?" Ethan memasang wajah curiga. "Kok seperti itu?" tanyanya lagi.
Loyisa tersenyum mencairkan suasana. Ia jelas bisa membaca Ekspresi Ethan yang tidak suka. "Kemungkinan saja kak, soalnya hari senin ada rapat pemegang saham. Doakan saja, besok semuanya kelar dan minggu kami tidak harus di minta masuk." ujar Loyisa tersenyum getir. Ia tidak ingin Ethan bisa membaca gelagatnya karena telah berbohong.
"Baiklah," Ucap Ethan akhirnya.
Loyisa memalingkannya wajahnya sambil membuang napas lega. Semoga besok waktu cepat berlalu dan pak direktur tidak memberikannya hukuman lagi. Mereka kembali menikmati makanannya dengan tenang. Tidak ada pembicaraan setelah itu.
Setelah makan, Loyisa dan Ethan kembali berjalan menuju taman di tengah kota. Di sanalah Ethan memarkir mobilnya tadi. Sebelum kembali ke apartemen, Loyisa dan Ethan berjalan-jalan dulu. Ada pepohonan di hiasi lampu-lampu kecil yang berwarna-warni. Sangat indah, pepohonan berjejer rapi. Mereka berjalan beriringan dengan langkah-langkah santai. Angin sepoi-sepoi seakan bergantian seakan menerpa wajah mereka. Sejuk sekaligus hangat jika sedang bersama seperti ini dengan orang yang kita cintai. Mereka hanya saling menikmati momen ini. Semoga kebahagiaan ini selalu ada untuk mereka.
BERSAMBUNG
โฃ๏ธ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ๐๐ Salam sehat selalu ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐