Retaliation

Retaliation
Valentine day.



💌 RETALIATION 💌


 


🍂


🍂


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Hari yang cukup panjang akhirnya berlalu. Pekerjaan yang benar-benar menumpuk hari ini akhirnya selesai juga. Ethan tersenyum sambil merenggangkan otot-ototnya dan sedikit memijit bagian tengkuk belakangnya. Bibir Ethan mengulas senyuman lagi. Ia kembali membayangkan wanita yang selalu membuatnya bahagia.


"Belum apa-apa aku sudah merindukanmu Loyisa." Ethan mengambil ponsel untuk menghubungi Loyisa. Ia mencari nama kontak 'My Love' dan ia kembali dalam ulasan senyum. Ia pun akhirnya menekan tanda panggil.


Tut.... tut... tut....


Panggilan tersambung, terdengar suara merdu di ujung telepon. Seketika hatinya menghangat. Rasa lelahnya hilang begitu saja.


"Hallo, sayang." Sapa Ethan menahan senyum dibalik telepon.


"Hmmm, ada apa kak?" Tanya Loyisa tersenyum sambil memandang Axel yang duduk di sampingnya. Ia memalingkan wajahnya menatap ke arah jalanan. Saat ini Loyisa berada satu mobil dengan Axel.


"Kamu masih di kantor?"


"Hmmm." Ucapnya dengan senyum getir. Lagi-lagi Loyisa harus berbohong.


"Kita jadi makan malam, kan?" tanya Ethan.


"Kak maaf, mungkin aku sedikit terlambat." Kata Loyisa tersenyum hambar saat Axel mengecup tangannya. Lelaki itu memasukkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Loyisa. Ia memegang setir hanya menggunakan tangan kanannya.


"Kau tidak melupakan janji kita, kan?" Tanya Ethan kembali.


"Ah, tentu saja tidak kak, nanti aku kabari lagi ya." Loyisa mengembuskan napas khawatir. Takut Axel berbicara di saat ia melakukan panggilan kepada Ethan.


"Tapi aku ingin menjemputmu Loyisa."


"Jangan kak!" Loyisa setengah berteriak, sampai lelaki yang duduk di sampingnya menaikkan ke dua alisnya dan mengatakan "Apa?" tanpa mengeluarkan suara.


Loyisa hanya menggeleng pelan, melemparkan senyum terbaiknya. "Hmmm..Kak,"


"Iya, Loyisa?"


"Nanti aku kabari lagi ya."


Belum juga Ethan menjawab panggilan langsung mati.


TIT!


Panggilan terputus.


"Heuh?" Ethan mengernyit heran. Ia kembali melihat benda pipih yang ada di tangannya. Memastikan kembali apakah Loyisa benar-benar mematikan panggilannya? Ethan masih tak percaya. Ia mencoba menghubungi Loyisa lagi.


"NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK DAPAT MENERIMA PANGGILAN,COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."


Wajah Ethan mengerut " Tidak aktif?" Ia membuang napasnya dengan kasar dan menggeleng pelan. Ethan kembali menekan tombol panggil, namun jawaban operator masih sama. Ia akhirnya memutuskan untuk merapikan meja kerjanya. Setelah selesai, Ethan melangkah meninggalkan ruangannya. Ia tersenyum saat berpapasan dengan karyawan lainnya. Kantor mulai tampak sepi. Ia tersenyum dan terus melangkah saat berada di koridor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, Ethan berjalan menuju pintu utama perkantoran. Ia segera menuju parkiran mobilnya dan meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja.


⭐⭐⭐⭐⭐


Ethan sudah terlihat berpakaian rapi, ia menggunakan kemeja kotak lengan pendek dan celana jeans. Kulitnya yang putih dengan rambut hitam yang di sisir rapi. Ditambah dengan senyum yang menawan membuat Ethan terlihat tampan dan sempurna. Wajahnya nampak berbinar menunggu kepulangan Loyisa.


Ethan berjalan melangkah keluar balkon. Ia bersandar pada pagarnya sambil menatap pada senja yang mulai tenggelam. Ethan tersenyum menatap lurus ke depan. Loyisa selalu bisa membuatnya nyaman berada di dekat wanita pujaan hatinya itu. Bagi Ethan dia bukan sekedar kekasih namun dia juga sahabat dalam hidupnya.


Masih posisi bahagia, Ethan menikmati pemandangan dari apartemennya sambil melantunkan lirik lagu yang ia sendiri tidak paham apa lagunya. Ia sekilas melirik bunga yang dibelinya sepulang kantor tadi. Ia tidak terlalu banyak memilih bunga. Cukup memilih mawar putih yang di ikat menjadi bouquet. Di satu padukan dengan cokelat juga. Ikatan bunga itu nampak terlihat sangat cantik. Ethan tak pernah memberikan bunga untuk Loyisa dan sebenarnya ia tidak tahu bahwa hari ini adalah hari kasih sayang. Tanpa pikir panjang, Ethan juga ingin memberikan kejutan buat kekasihnya.


SATU JAM TELAH BERLALU.


Tapi Loyisa tak juga pulang. Ethan menatap jam dinding yang ada di ruang tamu. Pukul setengah tujuh. Ia masih memilih menunggu. Ethan bersantai sambil menonton film movie kesukaannya. Tontonan itu sangat menarik perhatiannya.


Ting!


Bunyi notifikasi dari pesan WhatsApp Ethan terdengar. Ia mengambil handphonenya untuk melihat isi chat yang masuk. Ternyata itu dari Kendrick, mengatakan ia sedikit terlambat datang karena menjemput kekasihnya dulu. Setelah membalas pesan itu. Ethan mencoba mencoba menghubungi Loyisa.


Panggilan tersambung. Ethan tersenyum dan langsung menyapa.


"Loyisa, kenapa belum pulang?"


"Maaf kak, aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku. Hari ini pak direktur sedang bertemu dengan kliennya. Aku tidak menyangka akan selama ini dan aku minta maaf tidak bisa meninggalkannya kak."


Loyisa memejamkan matanya sesaat. "Hmm, aku pasti usahakan kak." Ia tersenyum di ujung kalimatnya.


Tit!


Lagi-lagi Loyisa memutuskan panggilan dengan sepihak. Ethan menunduk lesu. Ia pun bergegas mengambil kunci mobil dan keluar dari apartemennya.


Di Sepanjang jalan Ethan hanya menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dari mulut. Perasannya sunyi, sepi. Ethan berusaha menepis segala perasaan buruk. Ia tetap berpikir positif. Loyisa hanya bekerja, tidak lain dari itu. Setiap jalanan sehingar-bingar berpasang mata, banyaknya kendaraan yang menyalang, atau seriang orang-orang yang lalu-lalang melewati depan belakang, samping kiri dan kanan, dengan berbincang-bincang bersama pasangan berjalannya, terkadang tawa menderai. Tapi Ethan hanya menatap dengan sendu. Untuk tahun ini, ini adalah perayaan pertama Valentine untuk mereka setelah menjalin hubungan sebagai kekasih. Hari ini Ethan ingin melamar Loyisa di depan Kendrick.


Pagi tadi, Ethan melihat teman sekantornya memberikan coklat dan bunga untuk kekasihnya. Ia datang ke ruangan untuk memberikan kejutan itu. Semua di kantornya melakukan hal yang sama. Ethan menggeleng karena kebodohannya. Ethan tidak membawa bunga yang dibelikannya tadi. Ia memilih meninggalkan bunga dan coklatnya itu di apartemennya.


Ethan tiba di restoran yang sering dikunjunginya bersama Loyisa. Ia memilih menunggu. Empat puluh menit telah berlalu. Bagaimana rasanya menunggu, tentu semua orang tahu. Membosankan. Menjenuhkan. Seperti orang bodoh bila orang melihatnya. Melihat diri diam menunggu memandang sesuatu, di kejauhan, atau yang dekat. Apalagi di restoran ini dipenuhi orang-orang yang sedang berpacaran yang duduk di kanan kirinya. Ethan juga bisa melihat orang yang lewat dan di luar sana melakukan hal yang sama mereka tersenyum bahagia, menikmati momen berpacaran. Menunggu baginya sama halnya membunuh waktu.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Loyisa tersenyum bahagia saat Axel mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil yang warna merah dari kantong jasnya. Dan Axel membuka kotak itu dan menunjukkan kepada Loyisa.


"Happy valentine day Loyisa."


Loyisa menutup mulutnya, ia mencoba menarik napasnya dalam-dalam dan mendesah lewat mulut. Setelah Loyisa cukup tenang ia tersenyum menatap Axel. "Aku sampai melupakan bahwa ternyata hari ini adalah hari valentine. Pantas saja di setiap pinggir jalan dipenuhi bunga-bunga indah." kata Loyisa terharu.


"Ehmm, hari ini adalah hari valentine. Aku ingin kau menjadi wanita yang pertama dan terakhir untukku."


"Heuh?" Loyisa menahan napas di dada. Dadanya bergemuruh menahan amarah.


Sementara Axel menatap Loyisa dalam-dalam dan penuh cinta. "Sekarang berikan tanganmu,"


Loyisa mengangguk dan memberikan tangannya, Axel memasangkan cincin itu ke jari manis Loyisa. "Aku mencintaimu Loyisa." Ucap Axel mengecup tangan Loyisa dengan lembut.


"Terima kasih pak," Ucapnya Loyisa tersenyum manis.


"Hmm, Sekarang kita makan."


"Baik pak,"


Menu makanan beraneka ragam Bubble & Squeak. Makanan ini berbahan dasar daging beku, kentang dan kubis, tetapi wortel, kacang polong, kecambah Brussels. Sayuran dan daging dingin dicincang dan kemudian digoreng. Ada Roast meats, daging panggang dan menu makanan lainnya. Pelayan membuka botol wine dan menuang ke gelas mereka.


"Bersulang." kata Axel mengarahkan gelasnya ke gelas Loyisa. Loyisa pun mengangkat gelasnya.


TING !


Permukaan gelas mereka bertemu, berdenting menghasilkan suara yang merdu.


"Terima kasih, atas jamuan ini pak," Kata Loyisa tersenyum. Ia menyesap minuman anggur itu secara perlahan.


Loyisa lalu mengambil lipatan serbet yang ada dihadapannya dan membentangkannya dalam pangkuan.


"Ini adalah hari spesial untuk hubungan kita. Silakan menikmati makanan yang ada." Kata Axel memotong daging itu kecil-kecil lalu memberikannya kepada Loyisa.


"Terima kasih pak," ucapnya tersenyum hambar.


Mereka menikmati makanan sesuai dengan urutan makanan yang di sajikan para pelayan. Axel sendiri menikmati makanannya dalam diam, rapi dan tenang. Ia terhanyut dengan suasana ini. Axel ingin menghentikan malam ini, untuk merasakan cinta ini lebih lama lagi.


"Pak, bisakah anda membawa saya bertemu dengan keluarga anda?"


DEG


Axel mengangkat wajahnya dan menatap Loyisa begitu dalam. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi. "Kau ingin bertemu keluargaku?" tanya Axel dengan pandangan nanar.


Loyisa tersenyum hangat. Tangannya turun dan ditaruhnya ke pangkuannya. Loyisa menarik napas dalam-dalam sambil meremas tangannya erat-erat. "Hmmm, aku ingin bertemu dengan keluarga bapak."


.


.


JENG... JENG...JENG!


BERSAMBUNG


❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.


❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌