Retaliation

Retaliation
Ethan ???



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


Loyisa melepaskan cengkraman tangannya dan tersenyum sinis kepada pria itu. Ia menunjukkan gestur tubuhnya dengan bersedekap dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Loyisa tersenyum penuh kemenangan. Namun diluar dugaan lelaki itu masuk dan menutup pintu mobilnya. Loyisa geram dan melangkah untuk menghadang mobil itu. Ia merentangkan kedua tangannya.


" Keluar..!!!!! " Teriaknya loyisa dengan nada geram. Gaya aksi loyisa kali ini seperti dalam drama saja. Pria itu jelas terkejut, ia terbelalak tidak menduga dengan apa yang dilihatnya.


" Keluar kataku, atau seluruh warga di desa ini aku panggil untuk menghajarmu." kata Loyisa dengan berani. Mendengar kata kata itu, tentu saja pria itu tersenyum sinis.


Bagaimana seluruh warga disini akan menghajarnya, itu sangat lucu. Ia dibesarkan di desa ini, semua orang disini mengenalnya, benar benar wanita aneh.


" Kenapa begitu sulit menghadapi wanita ? " Ethan berdecak kesal, ia menatap tajam pada gadis itu. Ia kembali keluar dari mobilnya, menutup pintunya dengan kasar.


Loyisa mendekat dan mendengus kasar, matanya menyiratkan kebencian, ia menarik bibirnya naik keatas seakan mengejek pria itu.


" Sungguh kamu adalah lelaki brengsek, beraninya sama wanita saja." kata Loyisa dengan nada sangat dingin.Ia kembali menyilangkan tangannya dengan posisi bersedekap.


" Dan saya yakin kamu bukan orang desa ini? " tanya Loyisa menatap lelaki itu dengan menaikkan alisnya.


" Apa maumu ? " tanya pria itu dengan wajah kaku dan dingin.


" Aku hanya ingin kamu minta maaf."


" Saya rasa bukan itu maumu nona, aku yakin kamu menginginkan uangku. " Pria itu mengeluarkan beberapa uang kertas dari dompetnya.


" Kamu sengaja menahanku karena menginginkan uangku kan?" ucapnya dengan sinis dan memberikan uang itu ke tangan Loyisa. " Nah ambil ini dan aku minta maaf, kamu puas? " kata pria itu dengan nada penuh kemenangan dan terdengar sombong ketika Ia melihat Loyisa diam membeku.


Terdengar tawa Loyisa yang nyaring namun terdengar hambar, Ia menatap pria itu dengan tajam dan Loyisa berusaha menahan emosinya yang sudah memenuhi rongga dadanya.


Ia meremas beberapa uang kertas yang dipegangnya dan langsung melempar ke wajah lelaki itu.


" Aku tidak butuh uangmu dan aku harap ini pertemuan terakhir kita, kau adalah lelaki breng*sek yang pernah kutemui." kata Loyisa dengan nada geram dan sangat dingin. Ia menghentak kakinya dan berjalan menjauh meninggalkan lelaki itu.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Loyisa kembali memegang dadanya. Ia sangat terkejut sampai memejamkan matanya, Loyisa kembali meneriaki mobil itu.


" Astaga Tuhan, dasar lelaki Arogan." geram Loyisa kembali ia berjalan menyusuri jalan. Hari ini nasibnya sangat buruk, ia bertemu lelaki kasar dan tidak punya hati.


Ia berharap tidak akan bertemu pria itu, sikapnya benar benar bertolak belakang dengan kakaknya. Kendrick tidak pernah menyakitinya, ia berhati baik pada semua perempuan. Mengingat kakaknya, tiba tiba ia merindukannya. Loyisa kembali menangis. Ia begitu merindukan Daddy, mommy dan kakaknya Kendrick. Beberapa air matanya tergelincir begitu saja. Sesak yang begitu menghimpit dadanya tidak bisa ia sembunyikan, ia sedikit terisak.


Loyisa berjalan menyusuri jalanan sambil sesekali menyeka air matanya. Udara yang mulai dingin menusuk tulangnya tidak ia dihiraukannya.


⭐⭐⭐⭐


Mobil Ethan sengaja ia parkir jauh agar ibunya tidak menyadari Kedatangannya.


Ethan berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Suasana rumah yang begitu ia rindukan, Ethan melewatkan dua kali perayaan natal bersama orang tuanya.


Dekorasi dan lampu yang super indah di halaman rumah terlihat indah.


Bukan cuma lampu-lampu kecil warna-warni, ada pohon Natal, dan kapas yang ditaruh di sana-sini. Rumahnya didekorasi penuh dengan hiasan yang cantik cantik, mulai dari patung salju dan bola kristal yang dibelinya bersama ibunya dan sampai permainan cahaya lampu begitu cantik menghiasi rumahnya.


Ethan memasuki rumahnya, berjalan menuju dapur karena ia yakin ibunya pasti sibuk memasak. Biasanya Ethan yang akan menghabiskan waktunya di dapur bersama ayah dan ibunya membuatkan kue. Tradisi yang tidak bisa ia lupakan. Ethan tersenyum, ia masih mencoba mengamati ibunya. Ia menyandarkan salah satu bahunya dengan kedua tangan bersedekap.


Karena menyadari seseorang datang, Hana tersenyum, Hana pikir yang datang adalah Loyisa.


" Kenapa masih berdiri disitu nak, sekarang kamu pergi dan langsung mandi." ucap Hana masih sibuk membereskan dapur. Ethan melangkah tidak sanggup menahan rasa rindunya. Dua tahun begitu lama baginya untuk menahan rindu.


Hana membeku diam terpaku ditempatnya, ketika ia dipeluk dari belakang. Sentuhan itu ia kenali. Hana menangis dan membalikkan tubuhnya.


" Ethan, kamu pulang nak? " ucap Hana menjatuhkan air matanya. Ia memeluk anaknya dengan penuh haru dan menyentuh pipi anaknya.


" Ayahmu pergi keperkebunan nak, bagaimana kamu bisa pulang ? Apakah perusahaan memberikanmu izin nak? " Tanya Hana menangkup pipi Ethan dengan sayang.


" Perusahaan menginzinkanku libur 5 hari ibu." jawab Ethan tersenyum dan memandangi wajah ibunya dengan tatapan teduh.


" Astaga nak, ibu sangat merindukanmu. Baru saja aku membicarakanmu dengan Loyisa."


" Loyisa? siapa dia ibu ? " tanya Ethan mengerutkan keningnya.


" Yang pernah ibu ceritakan nak." Jelas Hana menggeser kursi untuk mereka duduki.


" Dia masih disini bu, apa keluarganya tidak mencarinya? " tanya Ethan nampak terkejut.


" Sampai sekarang keluarganya tidak ada mencarinya, saya rasa mereka dibunuh semua nak." ucap Hana merubah raut wajahnya dengan sendu.


" Ohhhhhh, dimana dia bu? " tanya Ethan mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang dibicarakan ibunya.


" Oh dia keluar sebentar, dia anak baik Ethan." ucap Hana mengambil kue kesukaan Ethan dan memberikannya kepada Ethan. " Kue kesukaanmu nak." kata Hana tersenyum teduh kepada anaknya.


" Bagaimana pekerjaanmu nak? " tanya Hana.


" Sejauh ini mereka menyukai kinerjaku bu, tahun depan Ethan sidang, semoga saja tidak ada kendala dan aku bisa menyelesaikannya dengan baik." kata Ethan menikmati kue buatan ibunya.


" Kue ini enak bu..." kata Ethan menikmati kue yang sudah banyak ia habiskan.


" Benarkah? Loyisa yang membuatnya nak. Berarti ada kemajuan setelah berbulan bulan ia belajar." Hana tersenyum lebar.


" Kenapa ayah belum pulang bu? "


" Ayahmu begitulah nak, kalau bertemu dengan temannya kadang lupa waktu." ucap Hana menggelengkan kepalanya.


" Biar aku jemput bu." kata Ethan bangkit dari duduknya.


" Tidak nak! lebih baik kamu istirahat, kalau tidak kamu mandi dulu. Biarkan ibu yang memanggilnya." Ucap Hana bangkit dari duduknya.


Sepeninggal ibunya, Ethan langsung masuk kekamar yang biasa Ia tempati. Ia mengambil handuk di dalam lemarinya dan langsung masuk kekamar mandi yang ada dikamarnya.


Sementara Loyisa sendiri berjalan ke dapur langsung mengambil minuman untuk menyegarkan tenggorokannya. Ia mendengus kasar, masih kesal dengan apa yang terjadi padanya. Loyisa mengedarkan pandangannya, mencari ibunya.


" Ibu...ibu...! " panggil Loyisa mencari keberadaan ibu. " Apakah ibu keluar ya ? " batin Loyisa melangkah memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia memejamkan matanya.


tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dan bersamaan itu Loyisa menoleh kearah kamar mandi. Melihat siapa yang ada dikamarnya membuat Loyisa kaget dan menjerit histeris.


" Kau...? bukan kau..? " Ucap mereka bersamaan. Keduanya sama sama terbelalak, kaget, syok itulah yang mereka rasakan saat ini.


" Ethan Ethan...." terdengar suara yang sangat familiar mengema didalam ruangan.


Tubuh Loyisa kembali menegang " Ethan...? " ucap Loyisa dalam hati. Lelaki yang ia temui adalah Ethan? Lelaki arogan yang sombong ?dan lelaki yang ia sumpah tidak ingin bertemu dengannya ? oh my God.....


πŸ‚


πŸ‚


BERSAMBUNG


.


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU πŸ’Œ