Retaliation

Retaliation
Menahan segala Amarah



💌 RETALIATION 💌


 


🍂


🍂


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Loyisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tertunda beberapa hari karena sakit. Loyisa mengembuskan napas dengan pipi menggembung. Ia mengingat kembali ajakan pak direktur itu. Kekesalan Loyisa bertambah lagi. Ia menatap pintu ruangan eksklusif yang bertuliskan Direktur Utama di pintu itu.


"Apa coba hubungannya, saya terlambat dan diberi hukuman di ajak dinner bersama pak direktur. Gak lucu bahkan tidak masuk akal. Yang saya tahu semua perusahaan juga seperti itu. Jadi apa maunya di hantu Casper itu? Astaga, apa dia pikir saya ini pacarnya?" Lagi-lagi Loyisa membuang napas lesu. Ia menyenderkan punggungnya kesandaran kursi. Pandangannya menatap langit-langit ruangannya dan memutar-mutar kursi beroda empat itu. Matanya masih memejam dengan pikiran melayang.


Bayangan Ethan tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Matanya langsung terbuka dan menyorot tajam. Loyisa terduduk, posisi badannya ia tegakkan. Matanya memicing dengan kepalan tangan yang kuat. Ia menggeram kesal saat Ethan sama sekali tidak mengejarnya. "Ini semua karena kau Ethan. Seandainya aku tidak repot-repot mengantarkan sarapan itu, pak direktur tidak sampai mengajakku seperti ini dan seandainya kau mengantarkan aku ke kantor.... Arrgggggg....Semua tidak perlu di sesali, semuanya sudah terjadi. Awas saja, kau akan ku lapor pada ibu." Loyisa menggebrak meja begitu kuat. Hidungnya kembang kempis karena menahan amarah.


Tiba-tiba bunyi interkom di atas meja berbunyi. Ia terkejut sampai terjengkit dari duduknya. Loyisa menghela napas kesal sambil mengusap dadanya. Lalu mengepalkan tangan di depan mulutnya. Ia berdehem sebelum menjawabnya.


"Iya pak," jawab Loyisa begitu lembut namun ekspresinya menggeram tanpa bersuara.


"Apa dokumen yang saya minta sudah selesai sekertaris Loyisa?"


"Ah,,, belum pak. Saya akan menyelesaikan secepatnya dan memberikannya langsung."


"Saya tunggu."


"Baik pak," Bibir Loyisa mengerucut tidak suka.


Panggilan interkom pun mati. Loyisa menggigit bibir bawahnya dan memaki pak direktur tanpa bersuara. Hari ini Loyisa tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Nanti saja kita pikirkan soal hukuman Ethan. Hari ini kau tidak akan lolos. Sekarang mari kita selesaikan pekerjaan ini dulu." Loyisa membuang napas singkat. Ia kembali bergelut dengan semua yang bisa dikejarnya.


Loyisa melakukan penyusunan rencana program dan kegiatan sesuai dengan bidang tugasnya, sesuai yang di minta pak direktur. Perumusan kebijakan, pedoman, standarisasi, koordinasi, pembinaan dan pengembangan administrasi umum dan kepegawaian, keuangan serta evaluasi dan pelaporan.


Ia kembali melakukan analisa grafik, merekap data itu.


Loyisa sudah membuat note kecil di kertas post it dan tempelkan di bagian ujung, agar mempermudah pak direktur mengetahui status dokumen tersebut. Mana yang mau di periksa atau mana yang mau di tandatangani.


"Akhirnya selesai juga." Ia menatap jam yang ada di tangannya. Huftt...! Loyisa menghembuskan napasnya sekaligus. Ia merenggangkan otot-ototnya terlebih dahulu sebelum ke ruangan direktur.


Berkas itu sudah ada di tangannya, untuk di periksa langsung oleh pak direktur utama. Terserahlah, jika masih ada kesalahan. Loyisa sudah pasrah. Ini tugas sudah benar-benar diperiksa ulang beberapa kali. Ia pun bangun dari duduknya dan menyerahkan berkas itu langsung kepadaku pak direktur.


SEMENTARA DI LANTAI BAWAH KANTOR CITYGROUP.


"Lebih baik saya menunggu di sini nona alexa." Ucap Kendrick sedikit membungkukkan badannya.


"Kenapa kak?" dahi Alexa mengernyit.


"Saya ada urusan sebentar di luar kantor ini."


Alexa membuang napas kasar, "Apa kau ingin bertemu wanita itu?" Pancaran mata Alexa terlihat jelas tidak suka.


"Tidak nona, saya ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan."


"Saya tidak mau tahu, sekarang ikut aku!"


"Tapi nona?"


"Apa sekarang kau sudah berani membantahku?" Alexa sudah setengah berteriak. Membuat orang-orang di sana langsung mengalihkan perhatian ke arah mereka.


"Saya akan tetap mengantar anda sampai di depan lift. Maafkan saya." Kendrick tetap kuat pada pendiriannya.


"Cih...dasar tidak punya perasaan." Alexa berdecak kesal. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Kendrick.


Kendrick hanya tersenyum samar, ia tetap mengikuti langkah Alexa.


Alexa membuang napas, memutar bola matanya dan menghentak kakinya berhenti di depan lift. Ia membalikkan badannya, sorot matanya kini mengintimidasi Kendrick. "Jangan mengikutiku. Aku bukan anak kecil lagi. Selangkah kau berjalan, aku bisa mengadukanmu pada daddy." Alexa berbicara dengan ketus.


⭐⭐⭐⭐⭐


Saat Alexa masuk, Kendrick berjalan santai menuju pagar kokoh perusahaan CityGroup itu. Kendrick berjalan jauh hingga CCTV tidak bisa menangkapnya. Dengan cepat Kendrick berlari menyebrang jalan. Seseorang sudah menunggunya di sana. Pria itu segera menyerahkan kunci mobil. Kendrick sengaja menggunakan mobil bodong agar tidak terdeteksi anak buah Carlos. Siang ini begitu terik hingga menusuk ke kulit, bercampur dengan suasana hatinya terasa panas. Sedari tadi ia hanya menggeram kesal. Wajah kaku dan dingin tergambar jelas di wajahnya. Hanya ada luka yang tidak tahu kapan sembuhnya. Selama enam tahun ia bersikap menurut agar anak buah Carlos tidak mengetahui pergerakannya. Kini rasanya siap meledak, tapi Kendrick masih menunggu hingga saatnya tiba.


Kendrick melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tadi pagi ia mendengar perbincangan Carlos, bahwa seorang mata-mata menghabisi anak buah Carlos yang berjaga di rumahnya. Carlos begitu marah, karena CCTV rusak dan mereka tidak bisa menemukan siapa pelakunya. Pelaku itu begitu rapi melakukan aksinya.


"Siapa yang berani masuk ke dalam kediaman Eleanor." Kendrick mencengkram setir mobil begitu kuat. Fakta mengejutkan bahwa Carlos mencurigai keluarga Eleanor.


"Benarkah seperti itu? Tapi siapa? apa dugaannya benar bahwa adiknya Loyisa masih hidup?" Kendrick menggeleng cepat, ia mengeluarkan napas terbata-bata. Dadanya sesak kala mengingat bagaimana adiknya di buang di saat musim dingin datang. Kendrick menahan sakit itu. Hatinya di selimuti rasa bersalah, karena sampai sekarang tidak bisa menemukan adiknya.


Kendrick membawa mobilnya ke gang-gang kecil dan sempit yang terhubung secara langsung dengan Royal Mile. Jalanan ini mengarah ke kawasan pemukiman dan rumah petak yang jarang di ketahui banyak orang. Kendrick memang sengaja memilih tempat ini. Jika pada malam hari, bagian ujung yang mengarah ke Closes di tutup dengan gerbang besi, dan hanya bisa bisa diakses oleh penghuni di kawasan pemukiman tersebut.


Kendrick membawa mobilnya dengan pelan dan mendekati sebuah rumah yang bahkan tidak seperti rumah jika di lihat dari luar. Bangunan itu luas, cukup besar dan berbentuk persegi dengan atap. Tidak ada motif lain. Tempat itu seperti terlihat seperti gudang.


Kendrick berhenti tepat di depan rumah itu dengan menarik rem tangan. Mematikan mesin mobil dan central locknya pun terbuka otomatis. Ia pun turun dari mobilnya. Kendrick mengarahkan kunci remote ke arah mobil


TIT! Mobilnya terkunci kembali.


Kendrick berjalan sambil menghubungi anak buahnya. "Aku sudah berada di sini, sekarang datanglah!" Perintah ke Kendrick cepat dan mematikan ponselnya.


Kendrick membuka pintu rumah yang terlihat seperti gudang itu. Pintunya sengaja di gembok Kendrick di kunci dengan gembok dan grendel besar. Pintunya terbuat dari besi. Kendrick menarik grendel pintu dan bunyi pintu seperti gesekan besi berat.


Ngiieeeekkkkk!


Kendrick mendorong pintu besi itu dan di dalam terlihat gelap. Ia menekan saklar lampu dan mengedarkan pandangannya, menatap ruangan itu dengan senyum samar. Ruangan yang baginya nyaman untuk melakukan pertemuan rahasia tanpa diketahui anak buah Carlos. Ruangan itu terdapat banyak sekat-sekat. Ada satu ruangan yang memang di siapkan Kendrick untuk melihat pergerakan Carlos. Dokumen yang di cari Carlos sampai detik ini tidak bisa ditemukan. Kendrick memijit pelipisnya. Ia seakan menemukan jalan buntu. Ia duduk di sofa menyandarkan punggungnya di kursi dengan mata menengah ke atas. Tangannya ia letakkan di atas dahinya dengan mata terpejam.


Dddrrrttt..... Dddrrrttt..... Dddrrrttt.


Panggilan masuk dan Ia tahu panggilan itu dari siapa. Kendrick tidak langsung mengangkatnya. Ia memilih mengabaikan panggilan itu.


Dddrrrttt... Dddrrrttt.... Dddrrrttt...


Panggilan itu berbunyi lagi, membuat Kendrick terusik. Ia mengambil handphonenya dan menjawabnya.


"Dimana Ken?"


"Alex?" Kendrick mengernyit tanpa bersuara. Tak mau Alex menunggu, ia langsung menjawabnya. "Maaf, saya ada kerjaan."


"Bisakah kau kembali, Alexa tidak mau pulang jika tidak bersamamu. Saya tunggu secepatnya."


"Tapi?"


"Tidak ada tapi,"


TIT!


Panggilan langsung terputus. Kendrick menarik napas singkat. Ekspresi wajahnya kaku dan dingin.


"Tuan?"


Tiga orang lelaki langsung masuk dan melihat Kendrick sedang memeriksa sesuatu. Kendrick bangun dari duduk. "Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini, kerjakan yang aku minta terakhir kali. Nanti aku usahakan kembali lagi."


"Baik tuan,"


Kendrick pun meninggalkan tempat itu. Sudut bibirnya naik ke atas. Suatu saat Kendrick akan mengambil tindakan ekstrim untuk mengungkap siapa Carlos sebenarnya. Ia berdiri cukup lama menatap langit. Membiarkan panas matahari menyengat tubuhnya. Kemudian tatapan Kendrick tertunduk namun mengeras karena amarah. Dia siap membalas dendam terhadap Kartel Eagle. Mereka sama sekali tidak puas dengan reproduksi obat nar*otika dan melakukan serangan terhadap yang lemah dan rentan.


BERSAMBUNG


❣️Gak konsentrasi menulisnya, karena memang lagi kurang sehat. Jika ada typo harap maklum ya 😊


❣️ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌