
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
.
.
CEKLEK!
Pintu terbuka.
Axel keluar dari ruangannya. Ia membenarkan jasnya saat berada di depan meja Loyisa.
"Kau sudah siap?"
Loyisa tidak menyadari ada pak direktur di depannya. Ia terjengkit dan bangun dari duduknya. "Maaf pak," Loyisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Axel tersenyum dan menggeleng. "Kenapa akhir-akhir ini kau banyak melamun Loyisa?"
DEG!
Jantung Loyisa terpukul kencang saat melihat tatapan Axel begitu mengintimidasinya. Ia menggeleng cepat. "Maafkan saya," ucapnya sedikit menunduk.
"Baiklah, sekarang kita berangkat."
Loyisa tersenyum samar sambil mengangguk. Seperti biasa ia lakukan, sebagai bentuk konfirmasi dengan sedikit anggukan kepala. Ia segera membawa tasnya dan tanpa menyadari handphonenya tertinggal di mejanya. Loyisa berjalan mengikuti langkah Axel dari belakang. Keadaaan kantor sudah sangat sepi. Tidak ada seorang pun di sana kecuali petugas keamanan yang bertugas di mejanya. Tadi harusnya jadwal makan malam mereka pukul enam tadi. Dan semuanya tiba-tiba berubah hanya karena email masuk. Axel mendapat Email dari luar negeri. Membuatnya sedikit mengulur waktu dan memeriksa email yang baginya penting itu. Mau tidak mau terpaksa Loyisa menunggu sampai pekerjaan pak direktur selesai. Benar-benar mengesalkan. Seharusnya acara makannya cepat selesai, kini waktunya bisa lama bersama dengan lelaki ini.
Langkah kaki Axel terdengar menggema, Loyisa dengan setia mengikutinya dari belakang. Walau hatinya menolak, tapi sebagai seorang sekertaris, ia memang bisa menerima ajakan makan malam bersama bos itu. Tapi tidak berdua begini. Seharusnya di lakukan dengan semua karyawannya. Bukankah begitu? Apa kata orang-orang kantor jika melihat mereka jalan berdua seperti ini. Bisa banyak gosip yang membuat kuping panas. Loyisa menarik napasnya, ia harus berpikir positif. Kembali lagi karena pekerjaan. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini, masih membutuhkan biaya hidup. Sekarang cari pekerjaan susah. Jika Loyisa terlalu sering menolak, yang ada nasib kariernya selesai sampai di sini. Karena dia tahu sifat Axel bagaimana. Dia memang pak direktur yang semaunya. Bulan ini saja karyawannya sudah ada lima orang di pecat.
Axel dan Loyisa sampai ke pintu depan gedung utama CityGroup. Supir kepercayaan Axel turun dari mobil saat melihat bosnya sedang berjalan keluar. Ia mengitari mobil, tersenyum ramah sambil sedikit menundukkan kepalanya kepada Axel.
"Selamat sore, pak!"
"Hmmm, selamat sore." ucapnya membalas dengan senyuman hangat.
"Silakan tuan," pria itu membuka pintu bagian kursi belakang.
Sementara Loyisa memilih membuka pintu sendiri dan ingin duduk di bagian depan.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di depan, Loyisa?" tanya Axel cepat sebelum Loyisa masuk dan duduk di sana.
Loyisa menatap bingung "Heuh?"
Axel lagi-lagi mengembuskan napas panjangnya. Kali ini diikuti dengan putaran bola matanya karena melihat tingkah Loyisa. "Astaga...Loyisa, aku bicara denganmu."
Loyisa terlonjak kaget saat teguran itu ternyata untuk dirinya.
"Kau duduk di sampingku. Aku ingin kau menemaniku duduk di belakang." Ucap Axel tanpa ekspresi.
Loyisa mengerutkan dahi. "Astaga, apa bedanya duduk di depan dan belakang. Masih tetap di satu mobil juga kan?" Batin Loyisa menggeram kesal.
"Loyisa, kau tidak mendengarku?" suara Axel begitu tegas hingga membuat Loyisa menggigit bibir bawahnya.
"Ah, baik pak." ucapnya cepat. ia mengembuskan napas lesu.
Axel hanya tersenyum. Ia tersenyum dan sangat menyukai wanita itu jika sudah kesal. Loyisa masuk dan menutup pintu dan duduk di sebelah Axel.
"Kau tahu aku sangat menunggu momen ini Loyisa, kita bisa menghabiskan malam ini dengan bahagia." Ia mendekat ke arah Loyisa.
Heehhh.... "Bahagia? bahagia apa maksudnya, aku bisa mematahkan semua jari-jarimu pak, jika kau berani melakukan hal yang aneh." ucap Loyisa dalam hati. Ia termundur ke belakang seakan melindungi diri. Wajah Axel semakin dekat. Napas Loyisa seakan tertahan. Dengan cepat Loyisa mengatakan. "Pak, ada supir anda di depan." Ia menunjukkan lelaki yang diam tanpa ekspresi. Dia seperti patung pajangan yang ada di etalase mall.
Axel menjauhkan badannya dan tersenyum samar, "Baiklah, sekarang kita berangkat." Ekspresi wajah Axel sangat ini begitu berbunga-bunga. Senyumnya merekah, cerah, bahagia dan terlihat sangat bersemangat.
"Baik pak," sahut pria itu, mendapatkan konfirmasi untuk menginjak pedal gas meninggalkan kantor CityGroup.
Ban mobil terus berputar, Loyisa melemparkan pandangannya ke luar kaca mobil. Pikirannya jauh berkelana. Salah satunya memikirkan Ethan. Semoga saja Ethan tidak tahu, jika ia sedang bersama pak direktur saat ini.
"Loyisa, kau menyukai makanan apa?"
"Heuh?"
"Lagi?" Axel berdecak saat melihat ekspresi wajah Loyisa.
"Kau seperti terlihat orang bingung Loyisa dan mengulangi pertanyaanku sedari tadi. Apa yang kau pikirkan. Kau benar-benar bukan Loyisa yang ku kenal begitu ceria." keluh Axel.
"Aku hanya kurang enak badan pak," kata-kata itu lolos ia ucapkan. Ya, berbohong demi kebaikan tidak apa-apalah. Mungkin dengan cara itu Loyisa bisa cepat pulang.
Saat mendengar itu reflek Axel menyentuh kening Loyisa. "Kau kurang sehat, apa perlu kita ke dokter dulu."
Melihat respon Axel, Loyisa mengerjap saat mendapatkan sentuhan itu. Ia dengan cepat menjauhkan diri. "Tidak perlu pak, nanti juga baikan." Ucapnya tersenyum samar. "Astaga aku ini benar-benar serasa berada di neraka."
Kejahilan Axel pun terjadi. Saat mendapati respon tubuh Loyisa yang menegang seperti takut akan dirinya. Axel pun menggoda Loyisa dengan sentuhannya. Ia mengangkat tangannya dan menyisihkan rambut Loyisa ke belakang telinga.
Loyisa kembali mengerjap, tubuhnya menegang. Ia meremas tangannya tasnya sendiri. Axel sendiri semakin memandang dalam saat melihat leher terlihat jelas dan terbebas dari rambut yang menutupi. Ia tersenyum menggoda. Ia memiringkan wajahnya dan melihat ke arah Loyisa.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi Loyisa. Makanan apa yang kau suka?" Axel membelai pipi Loyisa dengan punggung tangannya.
Loyisa Reflek menurunkan tangan Axel. "Tangan anda pak," ucapnya pelan dan menggeram. "Soal makanan, semua makanan aku sukai dan aku tidak milih-milih." ucapnya datar sambil menatap lurus.
"Baiklah, jika seperti itu. Aku akan buatkan menu spesial untuk tamuku."
"What? Maksudnya apa ini?" batin Loyisa sambil melihat ke arah Axel. "Maksudnya bagaimana pak?"
"Kita makan di rumahku." ucap Axel tersenyum simpul.
"Kenapa seperti itu pak?" protes Loyisa.
"Aku hanya ingin memasak sesuatu yang enak untukmu Loyisa. Makanan rumah jauh lebih enak dibandingkan masakan restoran dan aku memang tidak pernah makan di restoran. Aku masak sendiri di rumah."
"Apa???????" Loyisa membuat gerakan mulut tanpa bersuara. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Apa yang kau takutkan Loyisa, jika Axel berani, kau bisa mematahkan tangannya. Bukankah kau bisa melakukannya?" Loyisa menyemangati dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya dan memilih pasrah saja. Oh...tidak bukan pasrah maksudnya. Kata pasrah tidak berlaku untuk Loyisa. Maksud Loyisa jalani aja dulu untuk hari yang membosankan ini.
βββββ
Ethan sedari tadi menghubungi Loyisa, panggilan masuk, tapi tidak di angkat. Pukul lima tadi mereka berdua masih saling chattingan. Semenjak pukul enam, Loyisa tidak online lagi. Bayangan Loyisa seakan menari-nari di otaknya. Ia tersenyum sendiri sambil menikmati acara televisi.
30 PULUH MENIT TELAH BERLALU.
Ethan kembali tersenyum membayangkan wanita yang selalu membuatnya bahagia.
" Belum apa-apa aku sudah merindukanmu Loyisa." batin Ethan. Ia kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Loyisa. Ia mencari nama kontak 'Adik manisku.' "Ah... harusnya nama kontak ini aku ganti." Dan ia pun kembali dalam ulasan senyum dan akhirnya Ethan menekan tanda panggil.
" NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK DAPAT MENERIMA PANGGILAN,COBALAH BEBERAPA SAAT LAGI."
Wajah Ethan mengerut "Bukannya tadi aktif?" Ethan membuang napasnya dengan kasar. Ia masih tidak percaya dan kembali menatap ponselnya. Ethan kembali menekan tombol panggil, namun jawaban operator masih sama.
Ethan kembali bersandar di kursi sofa sambil menatap langit-langit ruanga. Posisinya santai, ia sengaja merilekskan dirinya. Membuang sejenak pikirannya tentang Loyisa. Beberapa embusan napas panjang dilepaskannya ke udara." Apa dia masih sibuk,atau jangan-jangan Loyisa mengalami kesulitan karena direkturnya yang semaunya itu?" Ethan bertanya-tanya dengan kerutan dahi, hatinya mulai gelisah.
Ethan memilih menunggu saja, Ia keluar dari apartemen untuk membeli makanan dan minuman ringan untuk stok rumah. Ethan menjalankan mobilnya dengan lambat. Sebagian toko supermarket sudah tutup. Ia terus menjalankan mobilnya sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Ethan tersenyum saat melihat ada toko yang belum tutup. Lumayan jauh perjalanannya. "Tidak apa-apa, ini hampir mendekati kantor Loyisa, ia bisa mampir untuk menjemput Loyisa dari kantornya nanti."
Ethan bersiul dan keluar dari mobilnya. Saat berada di depan pintu kaca, seorang lelaki berjalan keluar sambil menundukkan kepalanya. Ethan sangat kenal pria itu.
"Bukan kah kau....?" Ethan tersenyum sambil mencoba mengingat nama pria itu.
"ETHAN?"
"KEN...." Ethan membuat gestur berpikir berusaha mengingat kembali nama pria itu.
"Saya KENDRICK." ucap pria itu akhirnya. Mereka pun tertawa sambil berpelukan singkat.
"Apa kabar dude?" tanya Ethan dengan senyum sumringah. Ia tidak menduga akan bertemu dengan Kendrick di sini.
"Sangat baik," jawab Kendrick membalas senyuman Ethan.
"Senang bertemu denganmu, bagaimana kalau kita minum kopi dulu. Setidaknya untuk merayakan pertemuan ini?"
"Dengan senang hati." Kendrick menjawab cepat sambil tertawa. "Di seberang ada cafe, kita bisa jalan."
Ethan mengangguk tersenyum, mereka melangkah meninggalkan toko supermarket dan menyebrang menuju cafe yang ada di pinggir jalan. Ke dua pria itu bercerita dengan sesekali tertawa. Mereka seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
BERSAMBUNG
β£οΈ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ππ Salam sehat selalu π€
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ