Retaliation

Retaliation
Hari buruk Loyisa



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


Visual Axel Davis



Axel membalikkan tubuhnya dengan senyum menawannya. Sepersekian detik Loyisa membelalakkan matanya Ia terkejut dan sangat terkejut. Ia menelan Salivanya dan berkedip cepat.


" Astaga Tuhan, ternyata memang benar inilah akhir dari hidupku. Help me ! " Batin Loyisa ingin menangis. Ia menggerutu dalam hati. Sekarang Loyisa menyesali perbuatannya. Ia mengusir direktur utama dari Lift tadi. " Oh my God ! "


Loyisa terdiam mematung di posisinya, ketika melihat siapa yang menjadi direktur utama perusahaan ini. Kaki Loyisa gemetar, ketika lelaki itu mendekat dan menatapnya lekat lekat. Loyisa menggigit bibir bawahnya dan mencengkram tangannya yang tiba tiba berubah dingin seperti es. Ia sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya saat ini.


Astaga, Loyisa kembali mengingat bagaimana ia dengan beraninya mengusir direktur utama tadi. Ia semakin merutuki kebodohannya. Loyisa mencengkeram tangannya dengan kuat.


Axel tersenyum smrik sambil mengangkat setengah alisnya. Ia sudah duduk dengan menaikkan kakinya memangku.


" Silakan duduk ! " Kata Axel menyandarkan punggungnya ke sofa. Matanya tidak lepas melihat Loyisa yang nampak gugup.


Loyisa berjalan pelan sambil menundukkan kepalanya. Ia belum mau duduk sebelum meminta maaf.


" M-m-maaf pak atas kejadian tadi, saya benar benar tidak tahu jika anda adalah direktur utama perusahaan ini. sekali lagi saya mohon maaf pak." Kata Loyisa dengan rasa bersalah dan sepenuh hati benar benar menyesali akan perbuatannya. Loyisa membungkukkan badannya agak lama. Ia berharap direktur utama dapat menerima rasa bersalahnya.


Axel terkekeh, ia benar-benar menyukai gadis ini.


" Duduklah! " perintah Axel kembali menyesap wine yang ada ditangannya. Ia menatap lurus kearah Loyisa yang masih diam terpaku.


Loyisa berjalan sedikit ragu. Ia mengambil posisi duduk yang lumayan jauh dari direktur utama. Perasaan Loyisa campur aduk saat ini.


" Siapa namamu? " tanya Axel dengan nada dingin.


" S- s-s-saya Loyisa pak, Loyisa Eleanor. " Jawab Loyisa gugup dengan nada canggung.


" Nama yang bagus." Kata Axel tersenyum penuh arti.


" Kamu tahu apa kesalahanmu? " Tanya Axel seakan mengintimidasi Loyisa.


Loyisa kembali menelan Salivanya, keringat dingin membasahi keningnya. Lidahnya keluh bak dipatuk ular, ia terdiam tidak berani menjawab. Axel mengangkatnya setengah alisnya, ia tersenyum miring melihat kebisuan Loyisa. Ia semakin tertarik dengan wanita yang duduk didepannya.


" Apa kamu bisu? " Kata Axel dengan nada dingin tanpa ekspresi. Ia ingin membiarkan sampai dimana keberanian wanita yang duduk didepannya ini.


" Saya mengusir anda dari lift tadi pagi pak." Jawab Loyisa dengan cepat dan mengakui kesalahannya. " Saya minta maaf pak! " sambungnya dengan suara terendahnya. Ia menundukkan kepalanya.


" Bagus, kamu mengakui kesalahanmu." Kata Axel tersenyum simpul, ia menatap Loyisa.


" Sekarang kamu tahu apa hukuman mu? " Kata Axel kemudian.


Loyisa mengangkat wajahnya dan mata mereka bertemu. Dengan cepat Loyisa mengalihkan pandangannya. Melihat reaksi Loyisa Axel tersenyum singkat. Ia melengkung kan alisnya dan tidak mau lepas memandang Loyisa.


" Apakah saya akan di pecat pak? " tanya Loyisa dengan lesu dan seperti orang yang pasrah akan nasibnya.


Mendengar itu Axel langsung tertawa. Tawanya begitu memenuhi ruangan. Ekspresi wajah Loyisa berubah, ia membelalakkan matanya merasa bingung dengan yang terjadi saat ini.


Loyisa membelalakkan matanya, ia begitu terkejut. Loyisa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia menarik napasnya dalam-dalam.


" S-s-saya pak ?! " ucap Loyisa menunjuk hidungnya, dia berharap jika bapak direktur hanya bercanda. Bagaimana ia langsung diangkat menjadi sekretaris direktur yang datang hanya sekali seumur hidup diperusahaan ini. Apa kata orang orang kantor ini, bisa bisa ia dikatakan penjilat dan berusaha memanfaatkan keadaan.


" Tidak... tidak... ini tidak bisa terjadi ! " batin Loyisa berkata dalam hati.


" Kenapa? kamu tidak mau atau kamu mau saya pecat dengan memintamu mengganti rugi karena sudah mencemarkan nama baik dan mengataiku hantu Casper? " Kata Axel dengan tatapan serius.


Mendengar itu lagi lagi Loyisa sangat terkejut. Ia menelan Salivanya dengan penuh susah payah. Bagaimana perkataannya tadi bisa didengar lelaki ini, padahal ia tidak keras keras mengatakannya tadi.


" Oh my God mimpi apa aku tadi malam, kenapa hari ini menjadi hari burukku..." Kata Loyisa berbisik dalam hatinya sendiri. Ingin rasanya ia berlari dari ruangan direktur dan menangis.


" Kamu tidak mau? " Kata Axel menaikkan alisnya dan tersenyum singkat.


" Tidak! ehm...maksud saya? saya tidak pantas pak menjadi sekretaris anda, saya tidak propesional pak, bahkan saya tidak pandai berbicara." Kata Loyisa menjelaskan keadaan dirinya agar ia tidak termaksud katagori pemilihan sekretaris terbaik seperti pemilihan sekretaris yang bisa ia dengar.


" Saya tidak mau tahu, Minggu depan kau harus bekerja sebagai sekretarisku. Tidak ada penolakan. " Axel segera berdiri dengan senyum miring dan penuh kemenangan. Ia berjalan menuju kursi kebesarannya.


" Kamu bisa keluar, ingat Minggu depan bersiap siaplah bekerja satu ruangan denganku." kata Axel duduk dan menatap serius tablet digital yang ada diatas mejanya. Wajahnya berubah serius.


Loyisa menghembuskan nafas melalui mulutnya. Ia bangun dan mendekati meja direktur.


" Saya permisi pak! " Loyisa membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Ia berbalik menuju pintu keluar ruangan direktur.


Sementara Axel tersenyum penuh kemenangan,ia langsung mengangkat wajahnya dan menatap punggung wanita yang keluar dari ruangannya.


" Kamu menarik! " Kata Axel dalam hati.


⭐⭐⭐⭐⭐


Sinar matahari yang cantik dan udara yang segar, membuat suasana hati kembali ceria. Pagi hari merupakan permulaan yang sangat menentukan bagaimana seseorang menjalani hari harinya dengan baik.


Ia masih bergulung didalam selimutnya. Rasa ngantuknya begitu menguasainya. Kemarin adalah hari yang melelahkan. Direktur utama begitu menyusahkannya. Semenjak ia bekerja diperusahaan ternama di kota ini belum pernah sekalipun ia menunjukkan diri. Acara sepenting apapun itu, Direktur utama tidak pernah menghadirinya, dia hanya diwakilkan dengan asisten pribadinya saja. Ia tidak mau ribet, ya gak usah bekerja jika tidak mau repot. Direktur utama hanya bekerja dari rumah saja dan memantau dari jauh saja. Astaga direktur apa seperti itu. Loyisa hanya berani mengumpatnya dalam hati saja dan selalu mengatainya.


Namun, sekarang semenjak ia datang ke perusahaan, ia menjadi direktur yang patut dibanggakan. Cih...setiap hari ia datang ke kantor dan menyapa karyawannya dengan baik. Benar-benar direktur yang patut di contoh.


Ini adalah sejarah terbaru bagi perusahaan ini. Loyisa terpaksa menyelesaikan tugasnya untuk terakhir kali. Ia dibagian Humas selama dua tahun. Ia akan membuat salam perpisahan kepada tim-nya sebelum ia menjadi sekretaris. Begitu banyak desas desus yang ia dengar belakangan ini. Loyisa menjadi tertekan, beruntung ia memiliki Ethan yang selalu memberikan semangat untuknya.


Loyisa merenggangkan otot ototnya, Ia bangkit dari tempat tidurnya. Sesekali ia menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Ia yakin jika dilimpahi dengan perasaan bahagia dan energi positif maka hari hari nya akan bahagia.Tak perlu susah-susah, memikirkan hal yang lain, karena ia yakin akan ada hal indah yang akan didapatnya, tetap bersabar itu saja.


πŸ‚


πŸ‚


BERSAMBUNG


.


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMU