Retaliation

Retaliation
Ini pertama kali untukku.



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


"Loyisa, aku menyiapkan makanan banyak hari ini, sekarang kau mandi dulu dan kita bisa langsung makan sama-sama." Kata Ethan melangkah menuju dapur dan menemui Loyisa yang masih berdiri di sana. Ia melewati Loyisa tanpa melihat Loyisa yang sudah basah di sana. Ia berjalan begitu saja dan langsung membersihkan meja yang sedang berantakan.


DEG


Jantung Loyisa langsung terpukul, Ia terdiam di tempatnya sambil menatap ke bawah. Ia hanya bergeming di posisinya dan masih tak percaya atas sikap Ethan hari ini. Ia seperti sosok lelaki tak dikenalnya. Ethan seakan jauh darinya. Hatinya sakit dan Loyisa tidak bisa terima begitu saja. Ethan bahkan tak peduli lagi dengannya. Walau Ethan selalu menganggapnya sebatas adik dan kakak saja. Setidaknya perhatiannya Ethan harus sama seperti dulu dan tidak akan berkurang sedikitpun. "Pisau mana pisau? Lebih baik perih karena di sayat pisau, dari pada hatiku tersayat melihatmu peduli pada wanita itu. Aku egois? ia aku emang egois, karena aku enggak mau membagimu dengan siapapun itu. Titik." Napas Loyisa terdengar naik turun menahan amarah yang menyesakkan dada. Memang yang harus disalahkan di sini adalah Ethan. Kenapa dia selalu memberi perhatian kepadanya? Selama ini Ethan terlalu memanjakannya.


Ethan kembali menyibukkan diri. "Loyisa, maaf soal tadi pagi. Aku memang berbohong kepadamu. Kau tahu sendiri, selama perjalanan ke kantor aku merasa bersalah dan kau bahkan sudah repot-repot membawa bekal untukku."


"Dan kau juga tidak menyentuh makanan yang aku buatkan? Dasar kakak tidak tahu berterima kasih." Loyisa mengumpatnya dalam hati.


"Kau mau kan memaafkan aku?" Ethan menatap Loyisa yang berdiri tidak jauh darinya tanpa ekspresi.


"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu," Batin Loyisa menggeram kesal. Pandangannya menatap lurus ke depan, kaku dan dingin. Tidak mau memandang Ethan sedikit pun.


"Maafkan aku ya, jangan bilang ke ibu. Aku bisa di marah, kau tahu sendiri ibu bagaimana? Apalagi jika ibu tahu aku mengabaikanmu. Ibu tidak akan berhenti mengomeli aku, Loyisa." Tangan Ethan membawa piring kotor ke wastafel dan kembali membersihkan meja dan mengelapnya. Ethan masih berbicara di sana. "Tadi pagi Veronica menghubungiku dan dia menangis. Dia memintaku menjemputnya. Veronica curhat dan kau tahu apa isi curhatnya?" Ethan sekilas menatap Loyisa yang seperti patung bernapas di sana.


"Aku tidak perduli dia curhat apa denganmu Ethan, lama-lama kau tambah ngesalin." Loyisa lagi-lagi menggeram dalam hati. Ia semakin tidak bisa menahan sesak di dalam dadanya. Hatinya terlalu sakit mendengar itu, jadi tadi Loyisa yang menghubunginya, Ethan tak langsung mengangkatnya. Itu karena wanita sialan itu. Mereka bahkan berduaan di apartemen ini.


Ethan tersenyum lagi. "Orang tuanya memaksanya menikah dan Veronica tidak terima karena alasan tidak mencintai pria itu. Ia tidak suka di jodohkan dan dia meminta tolong kepadaku."


Loyisa mengangkat wajahnya, menatap Ethan dengan pandangannya nanar. "Cih, tidak masuk akal, wanita itu sengaja curhat karena dia menyukai kau Ethan, aku bisa tau si Veronica itu ada perasaan untukmu. Minta tolong? pasti minta tolong berpura-pura menjadi kekasih, ia kan?" Tangannya mengepal kuat, Ia menutup matanya sesaat dan membukanya kembali.


Ethan menarik napas singkat. "Dia minta tolong agar aku berpura-pura menjadi kekasihnya."


"Benarkan, apa aku bilang. Dasar wanita licik." Napas loyisa terdengar tidak stabil. Matanya berkaca-kaca di sana. Ia menarik napasnya dalam-dalam, memenangkan hatinya yang begitu geram.


"Menurutmu bagaimana? apa aku menerimanya saja, berpura-pura menjadi pacarnya sampai orangtuanya melupakan perjodohannya itu?"


"Aku tidak perduli." Rasanya ingin berteriak di depan Ethan namun Loyisa hanya sanggup meluapkan kekesalannya di dalam hati saja.


"Loyisa, sedari tadi kau diam, ada apa denganmu?"


Loyisa tak kunjung membalikkan badannya, Ia masih diam seribu bahasa. Ia masih begitu marah dengan sikap Ethan. Ethan mengerutkan dahi merasa heran. Ia menghentikan kegiatannya dan melangkah mendekat ke arah Loyisa yang terdiam mematung di sana.


"Loyisa, ada apa denganmu?" Ethan mengerutkan keningnya, menatap punggung Loyisa yang masih bertahan berdiri di sana tanpa membalikkan badannya. Lalu Ethan memegang pergelangan tangannya dari belakang.


"Jangan sentuh aku!" Nada suara Loyisa begitu ketus, hingga membuat Ethan merasa heran.


"Jangan sentuh aku!" Loyisa kembali menegaskan kalimatnya. Ia bahkan meninggikan suaranya satu oktaf. Loyisa mengepalkan tangannya. Matanya sudah berkaca-kaca penuh dengan kristal bening yang siap terjatuh ke pipinya.


"Heuh? Kau marah?" Ethan tidak percaya bahwa Loyisa berteriak padanya.


Loyisa menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka, ia membuang dengan desahan kesal. "Kau ingin jawaban dariku? Soal apa? Minta maaf, oke aku maafkan. Soal jangan ngadu ke ibu? oke aku akan tutup mulut bahwa kau kakak tidak menghargai usahaku. Apa lagi? Soal kau menerima permintaan temanmu itu? yang kau jadi pacar pura-puranya? Oke lakukan saja."


"Loyisa?" Ethan menyentuh pakaian Loyisa yang sudah basah. "Kau basah?" Ethan berusaha menarik tangan Loyisa agar menghadap padanya. Namun Loyisa bersikeras tidak mau. "Kau harus mandi. Aku tidak mau kau sakit lagi. Aku mohon jangan seperti anak-anak." Wajah Ethan mengerut khawatir, cemas, semua bercampur menjadi satu.


"Loyisa?" Ethan menarik kencang tangan Loyisa, hingga badan Loyisa berputar menghadap ke arah Ethan. Mata Ethan mengedip cepat saat melihat ke arah Loyisa.


DEG


DEG


DEG


"Loyisa, kau menangis?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan Ethan."Aku mau basah apa tidak, itu bukan urusanmu lagi." Suara napas Loyisa seperti menangis dan gemetar, tersendat-sendat seakan tidak bisa keluar dengan benar. Napas Loyisa sesenggukan. Tidak mau menatap ke arah Ethan.


Wajah Ethan sudah begitu cemas melihat Loyisa, ia mengerutkan dahinya dan lalu mengangkat tangannya untuk memegang dagu Loyisa.


Dengan sigap Loyisa menampiknya tangan Ethan. " Oke sekarang aku jawab ya. Terserah dia mau cerita apa denganmu, aku tidak perduli sama sekali dan aku tidak mau tahu itu." Loyisa menekan semua perkataannya. Sorot matanya jelas terpancar emosi yang begitu nyata. "Oke jika kau nyaman dan mau menjadi kekasihnya pun aku tidak perduli. Kau membuang-buang waktuku hanya untuk mendengarkan semua itu." Sorot mata Loyisa dingin, ia langsung membalikkan tubuhnya agar Ethan tidak melihatnya sedang menangis.


"Loyisa apa kau cemburu?"


"Apa? Cemburu?" Loyisa tertawa hambar. Lalu menatap ke arah Ethan lagi. Matanya terus mengunci pergerakan Ethan. "Tidak aku tidak cemburu, aku hanya kecewa." ucapnya dengan jelas dan ketus. "Aku kecewa karena kakak mengabaikan panggilanku, kau terlalu sibuk mengurusi Veronica temanmu itu. Tadi pagi juga seperti itu. Aku sampai berkorban terlambat masuk kantor hanya karena mengantarkan bekal sarapanmu itu. Tapi apa, kau tidak menghargainya kan? kau bahkan tidak menyentuhnya kak. Dan sekarang aku basah karena semua itu kerena kakak, sekarang kau...kau....kau.... bahkan mengajak wanita itu ke sini. Aku kecewa. Jadi sekarang terserah kakak, aku tidak mau mengurusi semuanya lagi. Masalah kau dengan Veronica kau mau menerima atau tidak terserah. Jangan pernah cerita lagi apa-apa denganku. Kakak mengerti?"


Ethan tersenyum di sana, ia tahu apa maksud ucapan Loyisa. Tak tahan lagi, Ethan langsung memeluk tubuh Loyisa. Membawanya masuk ke dalam dekapan hangat tubuhnya. "Kini aku tahu semuanya." Ethan tersenyum lembut sambil mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku, mulai saat ini aku akan menjaga perasaanmu. Aku akan tetap makan makanan yang kau buatkan untukku. Maafkan aku, karena tidak mengetahui perasaanmu. Aku hanya mengira selama ini perasaanku bertepuk sebelah tangan dan kini aku tahu bahwa kau memiliki perasaan itu juga." Ethan melepaskan pelukannya. Menangkup pipi Loyisa dan Ethan perlahan memajukan wajahnya dan langsung menciumnya.


"Hmmm?" Loyisa terkejut sambil membelalakkan matanya.


Ethan menutup mata dan menahan wajah Loyisa. Ia terus menciuminya dengan Lmatan yang dalam. Sementara Loyisa masih kaget dan mengedip pelan. Merasakan bibirnya disentuh dan dikecap sesuatu yang lembut. Hisapannya begitu lembut dan menggetarkan. Jantungnya terpukul kencang. Napas Loyisa memburu cepat karena ini baru pertama kali untuknya. Ia hanya diam tak membalas. Ethan memegang tengkuk Loyisa dan menarik pinggangnya semakin dekat. Mengambil semua bibir Loyisa seakan mengatakan bahwa sekarang Loyisa adalah miliknya. Cintanya akhirnya terbalaskan. Tak membiarkan lama, Ethan melepaskan tautan bibirnya. Napasnya terengah. Menyandarkan dahinya ke dahi Loyisa. Membiarkan hidung dan mulut mereka saling berebut oksigen pada jarak yang dekat.


Loyisa masih tidak percaya ia sangat shock. Wajahnya bersemu merah. Ini benar nyata bahwa Ethan telah menciumnya. Kesadarannya kembali dan dengan cepat ia mendorong tubuh Ethan hingga pelukan mereka terlepas. Loyisa memandang ke bawah.


"Aku harus mandi." Ucap Loyisa gugup. Ia langsung membalikkan tubuhnya, setengah berlari menuju kamarnya. Ethan hanya tersenyum membiarkan Loyisa pergi dari ruangan itu.


BERSAMBUNG


❣️ Lagi-lagi terlambat, banyak kegiatan yang aku ikutin dan tidak bisa ditinggalkan, setidaknya aku pasti up sekali dua hari jika tidak sibuk ya my readers tersayang πŸ€—


❣️ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu ya πŸ€—


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ