
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
Visual Loyisa Eleanor
** Enam tahun kemudian **
Loyisa menancap gas mobilnya, berlari mengejar waktu. Beruntung Ethan tidak menggunakan mobil hari ini. Jadi ia bisa memakainya. Waktunya begitu mepet sekali.
Ia benar benar terlambat. Hari ini kenapa juga direktur utama harus datang dan melakukan kunjungan ke perusahaan. Jika ia datang berarti direktur akan memecat setengah karyawan yang tidak bekerja dengan baik. Itu yang membuat Loyisa ingin menjatuhkan dirinya ke jurang yang paling dalam. Astaga ini benar benar aneh, selama 5 tahun bekerja diperusahaan xx, baru ini direktur perusahaan datang kembali. Semoga saja ia tidak termaksud daftar orang pemecatan hari ini. Bagaimana bentuk wajahnya saja Loyisa benar benar tidak tahu. Semua media yang menyangkut dengan direktur utama disimpan rapat rapat dan tidak ada yang berani mempublikasikan.
Sesampai diperusahaan, Loyisa memarkir mobilnya dengan asal. Ia bahkan berlari sambil mendekap laptopnya. Direktur utama meminta pertanggung jawaban setiap pekerjaan karyawannya.
Astaga direktur utama sampai disebut direktur Casper ia seperti hantu dan tiba tiba muncul memberikan kejutan. Direktur aneh ! Batin Loyisa membuang napasnya dan ia menenangkan dirinya.
Loyisa langsung menuju lift khusus agar langsung tiba dilantai paling atas. Walau lift ini bukan dikhususkan buat karyawan biasa seperti dirinya. Tapi Loyisa tidak perduli yang jelas saat ini tujuannya agar tiba dengan cepat sebelum direktur utama datang.
" Kenapa lama sekali, cepatlah... cepatlah! " Lift belum terbuka,ia menepuk kakinya gelisah. Sesekali Loyisa melirik jam yang ada ditangannya.
" Astaga 5 menit lagi? " batin Loyisa kaget, ia semakin gelisah dan membuang napasnya berulang kali.
" Anda sepertinya mengejar waktu nona ? " ucap seorang pria berdiri dibelakang Loyisa.
Loyisa membalikkan tubuhnya dan melihat dua orang pria terlihat berdiri kaku tanpa ekspresi.
Loyisa melemparkan senyumannya namun tidak menjawab.
Ting pintu lift terbuka
Loyisa terkejut ketika mendapati didalam lift adalah orang-orang penting semua. Ia membungkukkan badannya seraya memberi hormat. Para manajer ikut membungkukkan badannya, Loyisa pikir itu adalah balasan untuknya. Mereka dengan sopan melihat sosok lelaki berdiri di belakang Loyisa. Ia langsung mengangkat tangannya memberikan gestur tubuhnya agar mereka tidak perlu melakukannya. Loyisa sudah masuk kedalam lift yang diikuti dua pria yang ada dibelakangnya.
Tiba tiba terdengar bunyi peringatan kelebihan beban didalam lift. Loyisa langsung menatap dua pria yang baru masuk tadi.
" Mohon maaf tuan, anda adalah orang yang terakhir masuk tadi. Bunyi ini peringatan karena kelebihan beban." kata Loyisa dengan sopan.
" Tidak biarkan kami keluar, bapak tetap ditempat. " kata salah satu manager berbicara. Ia nampak gugup melihat tindakan salah satu Karyawan yang begitu berani.
Namun Loyisa tidak terima. bagaimana pun orang terakhir masuklah yang harusnya keluar.
" Tidak pak, kedua bapak ini yang harusnya keluar, budidayakan antri. Silahkan anda keluar! " perintah Loyisa mengulurkan tangannya mempersilahkan kedua pria itu keluar.
" Jangan! biar kami yang keluar. " ketegangan terjadi didalam lift.
Alex hanya mengangkat setengah alisnya dan tersenyum smirk.
" Stop! tidak ada yang keluar kecuali dua orang pria ini. " Kata Loyisa tegas. Ia kembali menatap pria agar mereka segera keluar.
" Oke, kami keluar! " kata Axel melangkah keluar dari lift diikuti asisten pribadinya.
Pintu lift tertutup, Axel tersenyum singkat. Axel tidak menduga ada gadis seberani ini diperusahaannya.
Ini akan menjadi menarik, selain berani ia sangat cantik. Ia tersenyum sendiri ketika wanita itu terlintas masuk ke dalam pikirannya.
" Siapa gadis itu Ray? " Tanya Axel melangkah ketika lift berikutnya terbuka.
" Ia karyawan yang bekerja disini Tuan. " jawab Ray mengikuti langkah lelaki yang menjabat direktur utama perusahaan ini.
Axel berjalan menuju ruangannya. Ray nampak bingung, ia mengernyitkan keningnya.
" Tuan, bukankah anda mengikuti rapat? " kata Ray berhenti mengikuti langkah Axel.
" Batalkan rapat hari ini. " kata Axel dengan nada dingin tanpa ekspresi.
" Tapi tuan, mereka sudah menunggu anda dari tadi diruang rapat. " Ray kembali mengingatkan.
" Ray, kalau saya katakan bubarkan sekarang juga bubarkan ! " titah Axel meninggalkan Ray yang nampak bingung.
" Tunggu ! " cegah Axel sebelum Ray melangkah.
Ray membalikkan tubuhnya dan melihat Axel dengan wajah tanpa ekspresi dan kakinya.
βββββ
Loyisa mendengus kasar, hari ini begitu kesal setelah terburu buru dari rumah. Direktur utama membatalkan rapat seenaknya dan kini ia meminta Loyisa menemuinya.
Loyisa menggigit bibir bawahnya, ia mulai berbicara sendiri.
" Apakah saya berbuat kesalahan? bagaimana saya dipanggil oleh direktur sementara ia hanya seorang karyawan biasa? jika pun saya melakukan kesalahan harusnya manager yang dipanggil, bukan saya? Benar benar Direktur aneh! " gumam Loyisa.
Loyisa berjalan menuju ruangan direktur, ia mengedarkan pandangannya. Loyisa mengerutkan keningnya mendapati meja sekertaris tidak ada orang.
" Tidak ada siapa siapa? " Batin Loyisa.
Tiba tiba dari ruangan direktur keluar seseorang yang dia temui di lift tadi. Loyisa terkejut dan langsung mendekat, ia menarik tangan Ray dengan paksa agar menjauh dari pintu direktur. Ray sendiri heran dengan tindakan wanita yang ingin ditemuinya di lift tadi. Rey menautkan kedua alisnya.
" Ada apa nona ? " tanya Ray bingung.
" Apa kamu juga dipanggil direktur Casper itu? " kata Loyisa penasaran.
" Direktur Casper ? " ucap Ray mengulang kata kata wanita itu.
" Ssstttttt...! " Loyisa setengah berbisik, matanya menatap pintu direktur. " Ini rahasia antara kita, jangan sampai direktur tahu kita mengatainya sihantu casper. "
Ray semakin bingung, ia bahkan mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan wanita ini.
" Saya mengatainya direktur casper, karena direktur seenaknya muncul diperusahaan ini, ya..walaupun ini perusahaannya dan datang datang memecat setengah karyawannya." kata Loyisa mencondongkan tubuhnya dan setengah berbisik agar lelaki itu mendengar perkataannya.
Ray tersenyum, kini ia mengerti apa maksud dari wanita itu. Ia tahu jika direktur utama pasti sudah menyaksikan mereka dari CCTV.
" Jadi apa sekarang kamu dipanggil? tidak, tidak, apa sekarang kamu dipecat? " kata Loyisa penasaran.
" Dipecat? " kata Ray terbelalak.
" Oh bukan ya, dari jawabanmu berarti kamu salah satu orang yang tidak kena dampak pemecatan dari direktur Casper. Bagus, sekarang giliranku. Apakah aku dipecat atau tidak. Kalau begitu saya permisi! " Kata Loyisa sedikit lesu. Ia meninggalkan Ray yang tersenyum senyum sendiri melihat tingkah lakunya. Rey menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju ruangannya.
Loyisa mengetuk pintu beberapa kali. Ia meremas tangannya untuk menutupi rasa gugupnya. Ia kembali mengangkat tangannya karena belum ada jawaban terdengar dari dalam.
TOK TOK TOK
" Masuk! "
Huuuuu.. Loyisa kembali melakukan ritualnya, menghembuskan napasnya lewat mulut. Mencoba menstabilkan napasnya dan juga memenangkan diri.
Loyisa membuka pintu dan tangannya masih memegang kenop pintu.
Sesekali menarik napasnya jantungnya terpukul sangat kencang dan tangannya sangat dingin. Lima tahun bekerja disini, berarti ini adalah hari terakhirnya bekerja disini. Astaga apakah dirinya tidak kompeten? lelaki ini baru muncul dan langsung memecat gitu saja.
Loyisa mengerutkan keningnya sambil melangkah pelan. Memaksa wajahnya untuk tersenyum dan membungkukkan badannya seraya memberi hormat.
" Selamat siang pak! " Sapa Loyisa selembut mungkin, siapa tahu saja bapak direktur utama mendengar suaranya yang begitu lembut ini bisa membatalkan pemecatannya.
Tidak ada jawaban yang membuat Loyisa semakin gugup. Ia diam membelakanginya dan direktur sedang berdiri menatap bangunan bangunan yang ada diluar jendela diruangannya. Loyisa melihat lelaki memegang tangkai gelas yang berisi wine Ia memutar mutar gelasnya, menghirup aroma wine terlebih dahulu, ia menyesapnya dengan berlahan. Lelaki itu nampak berwibawa dengan jas yang ia kenakan berwarna abu abu.
Dalam pikiran Loyisa direktur utama adalah seorang pria paruh baya, dengan kepala plontos dan perut buncit. Ternyata ia jauh dari dugaannya, direktur utama ternyata lebih tampan dan masih muda. Loyisa menepis rasa kagumnya, sekarang ia fokus dengan rencana masa depannya jika ia dipecat diperusahaan ini.
Axel membalikkan tubuhnya dengan senyum menawannya. Sepersekian detik Loyisa membelalakkan matanya Ia terkejut dan sangat terkejut. Ia menelan Salivanya dan berkedip cepat.
" Astaga Tuhan, ternyata memang benar inilah akhir dari hidupku. Help me! " Batin Loyisa ingin menangis. Ia menggerutu dalam hati. Sekarang Loyisa sangat menyesali perbuatannya. Ia mengusir direktur utama dari Lift tadi. " Oh my God ! "
π
π
BERSAMBUNG
.
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU