Retaliation

Retaliation
Apa yang kau lakukan?



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Restoran Row New York City.


Ethan tiba di restoran yang biasa di datanginya bersama Loyisa. Restoran yang terkenal bergaya art deco ini, memiliki suasana yang elegan dengan perapian batu kapur yang baru-baru ini telah dipulihkan sepenuhnya. Restoran luxe ini, menawarkan makanan gourmet yang fantastis. Selain mewah dan bernuansa elegan. Tempat ini juga membuat pengunjung nyaman dan ingin berlama-lama di sini. Karena tempat ini memang sering dikunjungi oleh pasangan yang memadu cinta. Jadi Ethan memang sengaja memilih restoran ini. Di temani dengan lampu yang remang-remang, tapi cukup untuk menyinari makan malam.


Ethan keluar dari mobilnya, ia tersenyum saat melihat restoran itu dipenuhi balon-balon yang tersusun membentuk tulisan 'Happy Valentine'. Dekorasinya benar-benar sangat romantis. Raut wajah Ethan tiba-tiba berubah sendu. Seandainya ia bersama Loyisa. Mungkin Loyisa bisa menikmati ke indahan ini. Ethan mengembuskan napasnya, mencoba untuk mengembalikan pikirannya. Ia tersenyum ramah saat seseorang yang berpakaian rapi tersenyum menyambut Ethan.


"Selamat malam tuan, apa anda sudah melakukan reservasi?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Sudah, untuk empat orang atas nama Ethan Alcander." Jawab Ethan dengan lugasnya.


Pelayan itu memeriksa daftar nama yang sudah memesan. Dengan sedikit membungkukkan badan, pria itu kemudian bicara. "Silakan, ke sebelah sini, tuan! " ucapnya menujukkan jalan sambil melangkah lebih dulu.


Pelayan tersebut, membawa Ethan ke bagian outdoor restoran. Hanya terdapat satu meja panjang di sana, memang khusus untuk tamu empat orang.


"Silakan duduk tuan, apa anda mau pesan sesuatu?"


"Ah maaf, saya akan memesannya jika teman saya sudah datang. Bisakah anda membawakan saya air putih saja?" tanya Ethan.


"Tentu saja, tuan." jawabnya.


"Terima kasih." ucap Ethan tersenyum ramah.


Ia pun membiarkan pelayan itu pergi meninggalkannya. Ethan melayangkan pandangannya ke sekeliling dengan tersenyum singkat. Menikmati suasana yang membuat moodnya menjadi tenang. Di setiap sudut ruangan dihias seindah mungkin. Balon-balon juga ikut menghiasi setiap dinding.


Ethan lalu menghembuskan napasnya lewat mulut. Jantung mulai terpukul kencang saat membayangkan wajah Loyisa. "Ada apa dengan perasanku? Kenapa dari tadi pagi rasanya tak tenang?" Ethan menghela beberapa kali napasnya. Ia mencoba menenangkan hatinya. Menepis segala prasangka buruk yang membuat hatinya tak tenang.


Ia kembali menikmati suasana. Begitu sendu dan sepi. Tatapannya berubah menjadi penuh makna. Ini adalah pertama kali bagi Ethan makan bersama dengan Kendrick. Entah mengapa Ethan merasa cocok dengan Kendrick. Ethan nampak melihat ke arah jam yang ada dipergelangan tangannya. Sudah lima belas menit waktu berlalu.


"Apa jalanannya macet?" Ethan berbicara pada dirinya sendiri sambil mengetuk meja dengan jari telunjuknya.


Ethan meraih handphone yang ia letakkan di atas meja. Ethan mengusap layar ke atas untuk memeriksa kembali handphonenya. Tidak ada panggilan atau pesan notifikasi yang masuk dari Loyisa. Ia masih sangat berharap akan kehadiran wanita pujaannya itu. Ethan menghembuskan napasnya lalu memanggil pelayan yang berdiri di ujung.


"Pelayan?" Ia mengacungkan tangannya ke atas.


Pelayan itu bergegas menghampiri Ethan."Iya, tuan?" ucapnya sedikit membungkuk.


"Saya pesan satu cangkir capuccino."


"Baik, tuan." Ucap si pelayan mengangguk dengan seulas senyuman.


Ethan tidak harus menunggu lama, cappucino pesanannya sudah datang. Ditemani dengan alunan musik instrumen seakan menambah suasana tempat itu terkesan romantis. Ia masih tetap bersabar menunggu kedatangan Kendrick dan pasangannya. Untuk membuang rasa bosannya, Ethan berulangkali memperbaiki posisi duduknya.


Kendrick celingukan melihat ke segala arah dan akhirnya bisa menangkap sosok Ethan sedang duduk sambil memeriksa handphonenya.


"Ethan!" Panggil Kendrick tersenyum, lalu menatap ke arah Elora, kekasihnya.


Ethan pun melihat ke arah Kendrick dan melambaikan tangannya. Ia pun bangun dari duduknya dan melemparkan senyumannya.


"Dia, kah? yang sering kau cerita itu sayang?" tanya Elora menatap ke arah lelaki yang duduk seorang diri di sana.


"Hmm," Kendrick mengusap tangan kekasihnya. "Kita ke sana?"


Elora hanya tersenyum sambil mengangguk. Dengan langkah panjang sambil menggandeng kekasihnya, Ia mendekat ke arah Ethan. "Maaf dude, tadi di jalan lumayan macet. Sudah lama menunggu?" tanya Kendrick mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ethan.


Ethan menyambut tangan Kendrick. "Saya juga baru sampai." Ucap Ethan tersenyum sambil mempererat jabatan tangannya.


"Perkenalkan, ini Elora. Kekasihku." Kendrick memperkenalkan Elora.


Ethan tersenyum menatap wanita yang datang bersama Kendrick. "Saya Ethan Alcander."


"Senang bertemu dengan anda, Ethan. Kendrick banyak cerita tentang anda."


"Pantas saja kupingku sering panas, ternyata ada yang membicarakanku." Kata Ethan dengan nada protes.


"Hahahaha." bersamaan itu Kendrick dan Elora tertawa. Suara tawa Ethan juga ikut pecah.


"Selera humor anda bisa juga." ucap Elora terkekeh.


"Kamu sendiri Ethan? Bukankah kau ingin membawa kekasihmu juga?" kata Kendrick duduk di sebelah Elora.


"Awalnya seperti itu. Tapi tiba-tiba direkturnya memintanya ikut bertemu dengan klien. Jadi dia tidak bisa menolaknya."


"Dia sekretaris ya?" tanya Elora.


"Hmm, dia seorang sekretaris."


Elora mengangguk. "Kerja dimana?" tanyanya lagi.


"CityGroup." Jawab Ethan sambil menyeruput cappucino yang baru dipesannya.


"CityGroup?" Tanya Kendrick kembali. Kendrick mengerutkan keningnya. "Bukankah itu perusahaan Axel ?" Batin Kendrick.


"Ehmm, CityGroup. Dia sebagai sekretaris di sana."


"Dia sekretaris di sana?" tanya Kendrick sedikit meninggikan suaranya.


Ekspresi wajah Ethan berubah. "Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Ethan. Sedikitpun ia tak mengubah wajah seriusnya.


"Tidak apa-apa." Kendrick tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Saya curiga nih, apa ada yang kau sembunyikan dude?" tanya Ethan penasaran.


"Hahahaha, tidak Ethan, Karena yang saya tahu CityGroup adalah perusahaan terbesar di kota ini. Masuk ke sana saja sangat sulit. Mereka harus beberapa kali melewati tahap interview."


Binggo! Jawaban yang tepat untuk mengalihkan perhatian Ethan.


"Semua perusahaan juga seperti itu kok." Ethan balik menimpali.


Kendrick tersenyum dengan seringai tipis. Tapi dalam pikirannya berkecamuk. Ia tahu jika Axel menyukai sekretarisnya. Axel bahkan berjanji akan membawa sekretarisnya itu bertemu dengan Carlos. "Atau jangan-jangan, Axel berusaha untuk mendekati kekasih Ethan? Dan Ethan sendiri tidak tahu soal itu?" Kendrick berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap Ethan yang duduk di depannya. Ia membuang napas panjang lewat mulut sambil mencengkram ke dua tangannya. Karena dia tahu Axel bisa melakukan apapun karena kekuasaannya. Apalagi jika ia menyukai seorang wanita. Walau ia tahu, Axel bukan tipe lelaki playboy. Ia hanya mencintai wanita dengan setulus hatinya. Kekasihnya yang dulu pun meninggal karena kecelakaan saat Axel kuliah. Dan sampai saat itu Axel tak memiliki kekasih.


"Apa kita sudah bisa memesan makanan sekarang?" tanya Ethan dengan seulas senyum di bibirnya.


"Tentu saja," Kata Kendrick melepaskan lamunannya.


Mereka membolak-balikkan daftar menu makanan kemudian kepada menu hidangan kas restoran ini. Osso buco adalah salah satu hidangan dari Lombardia, terdiri dari potongan melintang bagian kaki daging sapi muda yang direbus dengan sayuran, anggur putih, dan kaldu. Mereka juga memesan Butternut squash, dan Zuppa di Pesce Misto, seafood tumit di 'lobster brodo' disajikan di tempat tidur lembut, polenta putih. Tak lupa mereka juga memesan Koktil khasnya juga. Mereka akan menyajikannya bersama dengan campuran eklektik seperti Buah Segar Bellini dan Bekco's Signature Old Fashioned.


โญโญโญโญโญ


Makanan penutup pun sudah selesai di santap. Loyisa tak juga datang. Ini sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Ethan sendiri tidak menikmati makanannya dengan baik. Hatinya tidak tenang dan hanya terus memikirkan Loyisa.


Kendrick diam-diam melakukan pembayaran. Sementara Ethan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia pun mencoba untuk menghubungi Loyisa. Namun tidak aktif.


Ethan tidak enak, saat Kendrick sudah membayar makanan mereka. Mereka berdiri di halaman parkiran.


"Tidak apa-apa dude," Kata Kendrick tersenyum.


"Tapi aku mengajakmu ke sini. Aku merasa tidak enak nih.."


Kendrick dan Elora tersenyum melihat ekspresi lesu Ethan. "Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Kau bisa mengajak kami ke sini. Tapi ingat bersama dengan kekasihmu." Kendrick memukul lengan Ethan dengan pelan.


"Senang bertemu dengan kalian. Kita serasa keluarga." kata Ethan tersenyum haru.


"Hmm, senang juga bisa mengenalmu Ethan." Kendrick memeluk singkat Ethan. Elora mengulurkan tangannya dan mereka berjabat tangan.


Ethan lebih dulu meninggalkan restoran itu. Ia membawa mobilnya dengan kecepatan penuh membelah jalanan kota New York. Tak butuh lama Ethan tiba diparkiran apartemennya. belum juga turun. Tiba-tiba Jantungnya berdegup kencang saat menangkap sosok yang selalu membuat hatinya tak tenang. Ia semakin sulit bernapas saat Axel melakukan sesuatu kepada Loyisa. Oksigen seakan enggan masuk ke dalam paru-parunya. Ethan mengepalkan tangannya begitu marah. Apalagi melihat Loyisa tersenyum kepada Axel. Membakar api cemburunya. Kesabarannya mulai hilang. Ia pun keluar terburu-buru dan menghempas pintu mobilnya.


"LOYISA APA YANG KAU LAKUKAN?"


.


.


JENG... JENG...JENG!


BERSAMBUNG


โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.


โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU