
💌 RETALIATION 💌
🍂
🍂
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
APARTEMEN AXEL DAVIS.
Mobil yang mengantarkan mereka tiba di apartemen mewah dan termahal di kota New York. Mata Loyisa membulat sempurna saat tahu dia berada dimana. Apartemen ini terkenal dengan fasilitas kemewahan yang begitu Wow. Setiap unit memiliki ruangan dansa dan kolam renang dengan konsep infinity pool. Sampai perosotan air saja ada dan langsung bisa digunakan dari ruangan apartemen. Apartemen ini memiliki empat teras yang saling menyambung. Selain menyediakan fasilitas mewah, ada beberapa pembantu rumah tangga khusus di sediakan di setiap unit. Balkonnya saja bisa menampung seribu orang karena begitu luasnya. Jika malam hari keindahan kota New York langsung tersaji langsung dengan pemandangan dari atas balkon. Loyisa sungguh terpesona Ia mengedarkan pandangannya dan melihat kemewahan apartemen yang dan terkesan glamor dan prestisius itu.
Axel keluar dari pintu yang di bukakan supirnya sendiri. Ia berdiri tegap dengan tarikan napas singkat. Beberapa detik berlalu, namun Loyisa belum keluar juga. Axel mengerutkan kening, lalu sedikit menunduk dan melihat ke arah Loyisa. "Kau tidak turun?" tanya Axel tersenyum smrik sambil menaikkan alisnya setengah.
Loyisa mengerjap dan melepaskan lamunannya. "Ah, baik pak." Loyisa tersenyum dan sedikit menunduk.
Fiiuuuuhhhh.... Loyisa mengembuskan napas lewat mulut. Kenapa perasannya tidak enak seperti ini. Jari-jari tangannya serasa dingin. Jantungnya tiba-tiba terpukul kencang. Loyisa berusaha menenangkan perasannya yang tidak enak itu. Setelah melakukan ritual menghembuskan napasnya berulang kali. Loyisa pun keluar dari mobil. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Loyisa hanyalah sekertaris biasa. Setidaknya malam ini adalah caranya membayar hukuman yang tidak masuk akal ini.
"Apakah bahan-bahan yang saya pesan sudah ada Rey?" tanya Axel membenarkan jasnya.
"Semuanya sudah ada pak."
"Terima kasih Rey." Ucapnya tersenyum kecil. "Sekarang kita naik Loyisa." ajak Axel.
"Ah...baik pak." Loyisa mengangguk dan mengikuti langkah Axel.
Mereka pun tiba masuk ke dalam ruangan yang cukup luas itu. Loyisa berdecak kagum dalam hati. Benar-benar apartemen mewah. Dua orang pembantu langsung menyambut Axel dengan senyuman ramah. Ada yang mengambil jas yang di kenakan Axel dan pada saat lelaki itu membuka sepatunya. Dengan sigap salah satu pembantunya langsung menyimpannya.
"Cih... benar-benar orang kaya." Mata Loyisa berkedip cepat sambil bergumam dalam hati.
"Selamat datang nona,"
"Heuh nona?" Loyisa mengibas-ngibaskan tangannya dan memaksa bibirnya tersenyum. "Jangan panggil nona ya, panggil nama saja. Saya Loyisa." ucapnya dengan ramah.
"Baik Loyisa." ucap mereka mengangguk bersamaan dan saling melempar senyum dengan ramah.
Axel tersenyum melihat tingkah Loyisa. "Kalian bisa pulang."
"Ha? pulang? kenapa harus pulang?" Loyisa mengernyit heran. Ia menelan beberapa kali salivanya dan bertambah gugup saat Axel mengunci pandangannya ke arah Loyisa.
"Baik tuan. Jika anda memerlukan sesuatu bisa hubungi kami."
"Hmmm." Sahut Alex dengan gumaman, ia tersenyum samar saat melihat Loyisa salah tingkah. Ia melangkah meninggalkan ruang tamu menuju dapur.
Loyisa tersadar dan langsung menyusulnya Axel yang melangkah ke dapur. "Pak...pak... tunggu dulu,"
Axel membalikkan badannya dan melihat ke arah Loyisa. "Ada apa, Loyisa?"
"Kenapa mereka pulang?"
Axel memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. "Pekerjaan mereka sudah selesai, jika saya sudah ada di rumah. Mereka tidak tidur di sini Loyisa."
"Tapi saya ada pak, kenapa tidak menahan mereka saja untuk mempersiapkan makan malam di sini." Raut wajahnya masih terlihat bingung.
Axel tersenyum melihat ke arah Loyisa. "Aku tidak pernah meminta mereka menyiapkan makan malam kecuali aku sakit. Berhubung aku sehat aku yang akan memasaknya untukmu. Jangan ragukan aku nona cantik."
Wajahnya merah merona saat ini. "Apa? Dia yang masak? oh tidak, soal masak Ethan juga jago masak." Loyisa seperti orang bodoh di sana. Itu sama artinya ia akan lama di sini.
"Sudah Loyisa, jangan hanya diam. Cepat ke sini. Setidaknya kau bisa membantuku memasak." Axel tertawa kecil meninggalkan Loyisa.
Loyisa mengepalkan tangannya, menggeram tanpa bersuara. "Pak direktur benar-benar semaunya." ucapnya dengan kesal. Loyisa pun melangkah menyusul pak direktur.
Kitchen set yang nampak mewah dengan desain marmer yang hitam yang elegan memenuhi ruangan dapur itu. Peralatan masak telah tersedia lengkap di dalam lemari dan sebagian menggantung juga.
"Kau bisa duduk, tiga puluh menit masakan ini akan tersaji di depanmu Loyisa."
"Duduk? aku tidak bisa hanya duduk pak, aku bisa membantu anda."
"Tidak, kau hanya duduk dan menunggu saja." kata Axel tersenyum mengangkat alis dan mempersilakan Loyisa duduk.
"Baik pak," Loyisa memilih pasrah. Kembali lagi ke kalimat awal dia hanyalah sekertaris dan tidak bisa membantah.
Axel tersenyum dan menggulung kemeja yang dikenakannya hingga sampai siku tangan. Ia membuka laci tempat ditaruhnya celemek bersih berwarna hitam polos. Ia memakai celemek tersebut dan menarik talinya ke belakang dan mencoba mengikatnya. Axel pun memulai aktifitas masaknya. Ia seperti chef handal di sana. Loyisa hanya duduk sambil menopang dagunya di atas meja kitchen set. Ia mengambil handphonenya untuk mengirimkan pesan ke Ethan. "Handphoneku dimana?" Ucap Loyisa dengan ekspresi panik. Ia memeriksa tasnya dengan kasar dan mengeluarkan decak frustasi. Hasilnya masih sama ia tidak menemukannya.
"Kenapa Loyisa, kau nampak gelisah?" tanya Axel memandang sekilas ke arah Loyisa dan kembali fokus dengan aktifitasnya.
Deg!
Loyisa mengedip-ngedipkan matanya perlahan dan kembali gugup, "Ah tidak pak, tidak ada." Ucapnya pelan.
"Kau sudah lapar?" tanyanya.
Loyisa tersenyum lembut."Tidak juga pak. Aku masih bisa menunggu."
"Baik pak." Loyisa mengangguk pelan.
Huffft, Loyisa merasa bingung dengan dirinya sendiri. Tidak biasanya ia lemah seperti ini.
Sedari tadi yang dia lakukan hanyalah bingung dan tergagap. Ia bisanya tidak pernah merasakan seperti itu. Loyisa bisa tegas dan tidak pernah takut. Ia biasanya tampil prima dan propesional. Dengan kecerdasan dan kesigapan yang luar biasa. Namun sejak ia keluar dari kantor perasannya tidak enak.
Wajah Axel masih nampak serius membersihkan beberapa sayur dan buah. Loyisa benar-benar santai di sana. Ia berulang kali bangun dari duduknya untuk membantu. Namun Axel kembali memintanya untuk duduk. Loyisa tersenyum samar, sisi berbeda ia lihat dari pria ini. Ternyata ia bisa masak, yang dia tahu seorang lelaki yang berkedudukan tinggi jarang melakukan seperti ini.
"Apa bapak sering melakukannya?"
Axel sejenak menghentikan aktifitasnya. "Maksudmu masak?" ia balik bertanya.
"Iya pak."
"Tentu saja, aku bisa masak sejak kuliah. Aku masak sendiri dan sampai sekarang pun aku masuk untuk diriku sendiri."
Loyisa mengangguk. "Apa bapak tidak ada keluarga? sepertinya bapak tinggal sendiri di sini?"
"Tentu saja masih ada Loyisa, aku mempunyai adik perempuan dan daddy masih sehat. Tapi mommy sudah lama meninggal."
"Kenapa tidak tinggal bersama mereka?" tanya Loyisa kembali.
Axel tersenyum, ia suka Loyisa menanyakan tentang dirinya. Ia menarik napas singkat dan kembali melanjutkan aktifitasnya. "Aku suka ketenangan seperti ini Loyisa. Aku dengan daddy tidak tidak cocok. Jadi aku memilih tinggal di sini."
Lagi-lagi Loyisa hanya bisa menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berucap lagi. "Hmm, wangi sekali pak." ucap Loyisa memuji masakan Axel.
Axel terkekeh, "Terima kasih nona cantik." Ia tersenyum sambil mengedipkan ke dua matanya ke arah Loyisa. Hidungnya ikut mengerut sesaat. Senyumnya terlihat menyeringai dan bersemangat.
"Ah aku melupakan sesuatu Loyisa, kebetulan sekali stok wine di sini habis. Tunggu sebentar ya," Axel mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. Tidak terlalu lama, panggilan itu pun terputus.
Makanan sudah tersaji dengan baik di atas meja. Mereka duduk sejajar, di meja yang panjang itu.
"Sepertinya enak pak," Loyisa tanpa sadar tersenyum dan mencium aroma makanan yang tersaji di depannya.
Axel tersenyum. "Apa kita menunggu wine dulu Loyisa?"
"Mungkin sembari menunggu wine, kita bisa makan dulu pak, aromanya benar-benar menggugah selera, jadi lapar mau makan."
Axel tertawa awkward, ia mengangguk dan mengambil pisau dan sendok garpu. Mereka memulai makan malam tersebut bersama. Loyisa menikmati makanannya. Mengunyah potongan-potongan kecil yang di masukkannya ke dalam mulut. Mereka makan dengan rapi dan tenang.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak sekali pak, bumbunya pas dan meresap sempurna ke dalam dagingnya."
"Terima kasih atas pujiannya Loyisa. Aku bahagia kau menikmatinya."
"Sama-sama pak," Loyisa tersenyum lembut di sana.
Axel lanjut memotong daging di piringnya. "Loyisa apa kau sudah mempunyai kekasih?" ucapnya lalu memindahkan mata sekilas menatap ke arah Loyisa.
DEG!
Jantung Loyisa langsung terpukul kencang, ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Axel. Dan tiba-tiba.....
TING NONG
TING NONG
Mata mereka beradu saat bunyi bel itu berbunyi. "Ada yang datang pak," ucap Loyisa menutupi rasa gugupnya.
Axel tersenyum samar, "Dia akan masuk sendiri Loyisa. Aku tidak pernah membukakan pintu bagi seorang pelayan atau asisten pribadi di sini atau dia pelayan dari rumah utama kediaman Davis."
DEG!
Entah mengapa mendengar perkataan itu, jantung Loyisa terpukul lagi. Benar saja seorang lelaki dengan tubuh tegap masuk ke ruangan itu. Ia berpakaian hitam dengan menggunakan kaos yang pas di tubuhnya.
"Selamat malam tuan," ucap pria itu menunduk hormat. "Ini wine yang anda pesan."
"Terima kasih Elfrat," jawab Axel tersenyum singkat.
Saat pria itu meletakkan Wine. Mata Loyisa memicing pada tato yang ada di tangan pria itu. Tato itu sangat dikenalnya. Tubuh Loyisa menegang. Ia bergeming kaku menatap tanda tato itu. Ia memastikan kembali dengan mata kepalanya sendiri. Tanda tato naga yang terlukis di lengannya. Dadanya sesak.
Glek!
Loyisa menelan salivanya dengan wajah tegang. Loyisa mengembuskan napasnya yang gemetar dan terbata-bata. Seluruh tubuhnya dingin dan pucat. Bahkan aliran darah enggan singgah. Loyisa benar-benar shock dan terkejut.
"Siapa Axel? siapa pria yang duduk di depannya ini?"
BERSAMBUNG
❣️ Tegang ya, akhirnya Loyisa menemukan titik terang. RETALITION Akan dimulai. Salam berdebar 🤣🤣🤣🤣
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU💌