Retaliation

Retaliation
Si hantu Casper Semaunya.



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Loyisa melangkah gontai sambil menundukkan kepalanya. Ia menutup matanya sesaat dan perlahan membukanya kembali. Menarik napas singkat yang terasa semakin sesak. Ia mencengkram wadah makanan yang di bawanya dari rumah.


"Kenapa hatiku sakit." kata-kata itu lolos dari bibirnya. Perasannya tidak jelas. Sangat sesak ia rasakan saat ini, membuatnya sulit untuk bernapas. Ia memang mencintai Ethan, tapi memilih memendam perasaannya sendiri. Karena ia takut di nilai memanfaatkan keadaan. Ibu Hana sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Mereka juga sudah sangat baik, Loyisa tidak mau merusaknya hanya karena ia mencintai Ethan. Apa kata mereka jika mengetahui perasannya ini. Tidak...tidak...Loyisa menjepit bibirnya, mengembuskan napasnya lewat mulut.


Loyisa berjalan tegap menyusuri koridor kantor hingga masuk ke dalam lift. Ia berusaha tenang, bersikap biasa-biasa saja, seperti layaknya seorang adik. Walau hatinya begitu kecewa. Ethan tidak perlu tahu perasannya. Ia akan tetap memberikan bekal makanan ini, karena yang dia tahu Ethan sangat menyukai Egg Benedict. Loyisa memaksa bibirnya tersenyum saat keluar dari lift. Menarik napas singkat dan menyapa karyawan yang berpapasan dengannya. Ia melangkah tegap menyusuri jalan menuju kantin yang ada di kantor itu.


Masih beberapa langkah, Loyisa berhenti melihat dua orang yang tengah duduk santai di sana. Ethan duduk bersama seorang wanita.


Posisi Ethan sedang membelakangi pintu masuk yang berdinding kaca itu. Mereka tengah serius bercengkrama di sana. Tidak tahu apa yang di bicarakan, tapi membuat Loyisa penasaran.


"Tidak, aku yakin wanita itu teman kantornya Ethan." Loyisa bicara dalam batinnya. Ia melawan rasa cemburu yang membakar dadanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Berusaha menepis perasaan buruknya.


Loyisa sedikit ragu, memilih masuk apa tidak. Loyisa masih memperhatikan mereka dari luar kantin. Ia kembali menarik napasnya dari mulut, saat wanita itu memegang tangan Ethan. Tangannya gemetar, rasa cemburu kembali menguasainya. Ethan terlihat membalas memegang tangan wanita itu. Mereka seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta.


"Pagi-pagi mereka sudah merusak pandangan pengunjung yang ada di sana. Awas saja, kau akan ku lapor pada ibu kak." ucap Loyisa mengobati hatinya yang sakit.


Loyisa menelan salivanya beberapa kali. Berusaha menutupi hatinya yang sakit. Ia tidak mau bekal ini dibawanya pulang. Ia tetap akan memberikan kepada Ethan. Loyisa melangkah memasuki kantin itu.


"Kak, aku mencarimu di kantor. Eh ternyata kakak di sini." Loyisa berpura-pura membuang napas lesu. Ia memandang Ethan begitu dalam, sarat akan makna. Suaranya begitu pelan hingga berhasil membuat Ethan terkejut.


"Loyisa?" Ethan terbelalak dengan mulut yang merekah terbuka. Ia menggeser kursinya ke belakang dan berdiri tanpa melepaskan tatapan terkejutnya pada Loyisa. "Buat apa kau datang ke sini, Loyisa?"


"Buat apa aku datang?" Loyisa rasanya ingin menangis, ia tetap tersenyum menatap Ethan lagi. "Aku datang untuk membawakan sarapan untukmu. Tadi kakak begitu terburu-buru."


"Tidak usah repot-repot. Bukannya kau bekerja?"


Sumpah Loyisa rasanya ingin menjewer telinga Ethan karena begitu kesal. Ia memilih tidak menjawab. "Bukannya kakak ada rapat juga, sampai untuk sarapan di rumah saja kakak tidak sempat lagi." Suara Loyisa begitu lembut tapi penuh dengan intonasi yang menusuk. Sehingga Ethan terlihat jelas menelan salivanya beberapa kali.


"Siapa Ethan?" Tanya wanita itu ikut bangun dari duduknya dan berpindah ke samping Ethan. Ia langsung memeluk tangan Ethan di sana.


"Heuh?" Ethan tercengang saat melihat tangannya dipeluk Veronica.


Loyisa tetap tersenyum lembut di sana, ia tetap tenang dan santai. Namun dadanya Loyisa sudah benar-benar terbakar dan api di hatinya tersulut. Panas membara. Debaran jantungnya semakin bertambah cepat.


"Dia adikku." Jawab Ethan tersenyum ke arah Veronica.


"Aku pikir kekasihmu." Ucap Veronica tersenyum lega. Sama sekali ia tidak menatap Loyisa. "Lagian hanya untuk sekedar sarapan saja, rela mengantarkannya sampai ke sini? Aduh...gak usah repot-repot deh. Sikap adkmu seperti seorang istri saja."


Loyisa menarik napas dengan emosi hingga mulutnya terbuka saat mendengar perkataan wanita sialan itu. Ia membuang desahan kesal. Wajahnya kembali ditegakkan meski masih terlihat tegang. "Aku rela datang ke sini dan apa yang terimanya? Dasar?" Loyisa lagi-lagi mengumpat dalam hati.


"Tidak, dia adikku. Loyisa memang adik yang baik, Veronica." Kata Ethan menatap Loyisa begitu dalam. Ia membelai rambut Loyisa dengan sayang.


"Oh, iya?" Veronica tersenyum tipis.


Napas Loyisa tidak stabil. Cara terbaik adalah secepatnya pergi dari sini. Ia tidak mau berlama-lama di sini, hanya menambah luka saja. "Ambil ini," Loyisa menyerahkan bekal itu ke tangan Ethan. "Terserah kakak mau makan apa tidak. Karena bekal ini aku benar-benar terlambat ke kantor." Ucapnya tanpa ekspresi.


"Loyisa." Ethan merasa serba salah.


Tidak ada sahutan. Loyisa segera membalikkan badannya dan langsung pergi. Loyisa mengepalkan tangannya begitu kuat. Saat memutar tubuhnya, Loyisa segera mengusap air mata yang belum sempat jatuh. Ia menarik napasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


"Tunggu, Loyisa. Biar kakak yang mengantarmu." Ethan setengah berteriak, namun Loyisa tidak menggubrisnya. Ia sudah meninggalkan tempat itu.


Loyisa sama sekali tidak perduli dengan panggilan Ethan. Ia hanya terus berjalan sampai di depan pintu utama perkantoran itu. Saat sudah berada di luar. Loyisa mencoba melihat ke belakang. Ethan sama sekali tidak mengejarnya. "Cih," Loyisa berdecak dan memilih pergi menggunakan taksi.


โญโญโญโญโญ


Loyisa tiba di perusahaan CityGroup. Ia langsung menemui Friska. "Pak direktur sudah datang?"


"Hah? dia sudah datang?" Mata Loyisa melotot hampir keluar.


"Hmmm, sepertinya perasaan pak direktur lagi tidak enak. Di saat lihatnya kau tidak ada di meja. dia hanya taunya marah saja."


"Aku langsung ke sana ya." Kata Loyisa berjalan menuju ruangan pak direktur. "Aku terlambat sejam karena Ethan." Ia berjalan sambil mengeluh. Waktunya habis hanya karena menunggu taksi.


Tiba di ruang pak direktur, Loyisa mengetuk pintu itu dengan lembut.


Tok...tok...tok....!


"Permisi pak, selamat pagi," Loyisa mengintip di balik pintu.


"Masuk." Ucap Axel memandang sekilas dan lalu menunduk serius menanda tangani beberapa dokumen.


"Sejak kapan malaikat datang atas bapak ini, selama aku bekerja di sini. Beliau tidak pernah datang ke kantor. Terkadang meeting saja hanya melalui Video saja. Sekarang ia seperti direktur yang pekerja keras. Ck! Direktur aneh."


Mereka diam beberapa saat. Loyisa pun tidak mau mengganggunya. Ia hanya menunggu sampai pak direktur memberikan instruksi kepadanya. Loyisa berdiri tidak jauh dari meja pak direktur. Ia menyatukan kedua tangannya ke depan.


SEPULUH MENIT BERLALU.


Pak direktur tidak juga berbicara. Loyisa mulai gelisah. Ia bahkan mengembuskan napasnya dengan pipi dengan menggembung. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan juga. Tidak mungkin juga ia hanya berdiri menatap lelaki itu bekerja. Akhirnya Loyisa yang bertanya.


"Pak, ada yang bisa saya bantu?"


Axel hanya mengangkat tangannya, mengisyaratkan Loyisa untuk menunggu sebentar. Ia kembali serius dengan pekerjaannya. Loyisa menarik napas dan kembali menunggu. Tidak lama, Alex mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis kepada Loyisa yang masih berdiri di depannya. Ia menekuk suku dan melipat tangan ke atas meja.


"Bagaimana keadaanmu, sudah merasa baik?" tanya Axel, setelah beberapa hari ia tidak melihat Loyisa di mejanya karena sakit.


Loyisa tersenyum sopan. "Ah, sudah pak. Saya jauh lebih sehat. Terima kasih atas perhatiannya pak."


"Kenapa kau terlambat, kalau sudah jauh lebih sehat? Tadi aku berpikir, kau masih di rumah Loyisa. Aku hendak mengunjungimu lagi."


"Tidak pak, saya sudah sehat. Terima kasih atas kunjungannya pak." Ucap Loyisa tersenyum lagi. Rasanya panas, tatapan Axel begitu mengintimidasi.


Axel tersenyum tipis melihat Loyisa. Ia menaikkan siku ke atas meja dan menopangnya dagu. Ia menikmati wajah cantik Loyisa.


"Kau tidak menjawabku Loyisa."


"Heuh?" menjawab apa pak?"


Axel berdecak sambil menatap Loyisa dengan malas. "Kenapa kau terlambat?"


"Mobil saya mogok pak,"


Mendengar jawaban Loyisa, Axel menaikkan alisnya setengah dan tersenyum singkat. "Bukannya kau pergi ke perusahaan, ah...saya lupa perusahaan apa namanya itu."


Loyisa membulatkan matanya. Ia terkejut, pak direktur melihat? Ia tidak mungkin berbohong lagi. Setidaknya untuk menjaga keamanan dari pemecatan pak direktur yang semaunya ini. "Saya ada urusan ke sana pak. Maaf sebelumnya."


"Karena kau terlambat, jadi aku harus menghukummu." Axel tersenyum dengan seringai tipis.


"Di-hukum? maksud bapak?" Loyisa mengerutkan dahinya sambil meremas tangannya.


Axel mencondongkan tubuhnya dengan posisi berpangku siku di atas meja. Ia memiringkan kepalanya melihat ke arah Loyisa dengan begitu tertarik. "Minggu ini kau harus ikut dinner bersamaku. Tidak ada penolakan."


Glek! Loyisa menelan salivanya berulang kali. Seperti hari ini adalah hari kesialannya.


"TIDAKKKKKKKKK...." Loyisa hanya bisa berteriak dalam hati.


BERSAMBUNG


โฃ๏ธReaders tersayang, setelah sekian lama, akhirnya RETALIATION up lagi ๐Ÿคฃ Saya akan usahakan up setiap hari ya, tapi gak janji ๐Ÿ™ Terima kasih yang masih setia menunggu kisah ini.


โฃ๏ธ Tinggalkan jejak kalian ya. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ Salam sehat selalu ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU๐Ÿ’Œ