Retaliation

Retaliation
Menyiapkan makan malam



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


TININIT!


Bunyi dari pintu berbunyi ketika Loyisa membuka dengan mengetikkan password yang berupa angka-angka untuk membuka pintu apartemen Ethan. Loyisa membawa barang belanjaan dan menutup kembali pintu.


Loyisa sangat terkejut ketika melihat Ethan berdiri memiringkan tubuh lalu bersandar di dinding dengan posisi tangan masuk ke dalam kantong celananya.


Ethan tersenyum sambil menaikkan sisi bibirnya naik keatas.


"Dari mana saja Loyisa, kenapa baru pulang?" tanya Ethan menguji kejujuran Loyisa. Ia bersikap seolah tidak tahu apa yang terjadi tadi.


"Oh, maafkan aku kak, tadi direktur menghubungi aku, ada pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan."


Ethan hanya tersenyum singkat. "Kenapa tidak menghubungi ku." Pancing Ethan walau Loyisa tahu Ethan tadi menghubunginya.


"Ponselku lowbat kak. Jadi aku tidak bisa menghubungi mu." jawab Loyisa dengan senyum di paksakan.


"Benarkah?" Kata Ethan tersenyum miris, Loyisa tidak ingin berkata jujur kepadanya. Loyisa berjalan melewati Ethan. Tiba-tiba tangannya di pegang oleh tangan kuat dari Ethan.


Wajah Ethan berubah panik, "Kenapa bibirmu, apa yang terjadi? apa kau di hajar seseorang?"


Loyisa membuang mukanya."Aku tidak apa-apa kak, jangan terlalu dipikirkan."


"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan Loyisa, apa aku tidak bisa mencemaskanmu lagi. Kau tinggal bersamaku dan aku memang harus tahu apa yang terjadi denganmu. Lihat wajahmu memar dan bibirmu terluka."


"Aku tidak apa-apa kak. Ini hanya luka sedikit. Kakak tidak perlu mencemaskan aku."


Ethan menarik napasnya dalam-dalam. Ia menatap Loyisa dengan lekat. "Apa sekarang kau tidak menganggap ku sebagai keluarga lagi Loyisa? Semenjak beberapa bulan kau nampak berbeda. Bahkan kau tidak ingin aku ikut campur dengan kehidupan mu." Kata Ethan dengan suara terendahnya. Ia menatap ke bawah dan tidak ingin melihat wajah Loyisa.


Dengan lembut Loyisa mengambil tangan Ethan. Sungguh ia tidak ingin mendengar kata-kata itu. Loyisa hanya tidak ingin Ethan terlibat dalam masalah keluarganya. Ia tidak ingin Carlos mengetahui keberadaan Ethan dan melukai lelaki yang selalu dia cintai itu.


Loyisa tersenyum dengan tatapan penuh arti.


"Jangan katakan itu lagi kak, aku terluka. Aku tidak mungkin melupakan kebaikan ayah dan ibu, termaksud kak Ethan. Kalian adalah pahlawan yang telah menyelamatkan aku."


" Jika seperti itu, ceritakan kenapa wajahmu memar dan bibirmu terluka?" kata Ethan masih kekeh ingin mengetahui apa yang terjadi. Dia ingin Loyisa jujur mengatakannya.Mengapa Loyisa ingin kembali ke tempat kelahirannya.


"Maafkan aku kak, sebenarnya aku terlihat perkelahian dengan teman sekantor ku kak dan itu murni karena kesalahanku. Aku marah dan akhirnya sampai terjadi seperti ini."


"Kau belum jujur Loyisa. Mulai saat ini aku akan selalu mengikuti mu. Aku takut jika para Mafia itu mengetahui keberadaan mu dan menangkap mu." Kata Ethan berbicara dalam hatinya.


"Begitu ya?" Kata Ethan matanya terus mengunci Loyisa.


"Kakak tahu, direktur si hantu Casper itu bahkan menyukainya. Astaga..." ucap Loyisa dengan antusias dan melemparkan senyumnya penuh kebohongan. Lalu menundukkan kepalanya.


Ethan tersenyum singkat. Ia menggosok keningnya dan mengakui bahwa Loyisa begitu pintar merahasiakan semuanya. Tapi tidak apa jika Loyisa saat ini belum ingin bercerita. Ethan akan menunggu sampai Loyisa benar-benar siap berbagi cerita.


Ethan mendekat dan memeriksa luka Loyisa kembali. "Biar aku obati lukamu." Kata Ethan membawa Loyisa duduk. "Sekali lagi jangan terlibat perkelahian Loyisa. Secara tidak baik, apalagi kau seorang gadis." Kata Ethan mengambil kotak P3k dan duduk berhadapan dengan Loyisa.


Wajah Loyisa mengerucut, ia masih terus meneruskan dramanya. "Dia membangunkan singa bangun kak. Jadi biarkan saja. Dia memang pantas mendapatkannya." Sahut Loyisa terlihat dengan wajah jengkel yang di buat-buat.


Tangan Ethan mulai bergerak, melakukan pertolongan pertama untuk luka Loyisa.


"Jangan ulangi lagi. Nanti aku lapor ke ibu, kamu mau?" Ethan tersenyum memandang Loyisa dengan hangat. Lalu mulai membersihkan luka Loyisa


Ekspresi wajah Loyisa tiba-tiba berubah lesu dan memelas. "Jangan bilang ibu kak, nanti beliau kepikiran. Kakak mau ibu sakit? enggak kan?" Kata Loyisa tersenyum kecut.


"Kau juga jangan melakukan hal itu lagi. Jika ibu tahu kau terlibat perkelahian apalagi sampai kau terluka, tentu saja ibu sedih."


"Baiklah aku berjanji kak. Aku akan tetap menjadi anak yang baik dan juga adik Ethan yang lemah lembut." Ucap Loyisa dengan seketika langsung tersenyum.


Ethan kembali mendekat dan memberikan obat terakhir ke bibir Loyisa.


"Aauhhh...Sakit kak, pelan-pelan.." Rengek Loyisa mengadu kesakitan.


"Kau tidak merasa sakit, pada saat di pukul?" Ethan menaikkan sebelah alisnya lebih tinggi.


"Lumayan sih kak, tapi jika saat kita marah. Terkadang rasa sakit itu tidak ada pengaruhnya kak. Apalagi jika sakit itu sudah membekas di dalam hati kita, pembalasan akan terus kita lakukan untuk menghancurkannya." Kata Loyisa tersenyum licik.


"Berarti kau menyimpan dendam lama ya kepadanya?" Tanya Ethan memicingkan matanya menatap Loyisa. Dia ingin mengorek lebih dalam lagi. Siapa tahu aja Loyisa mau berbagi cerita untuknya.


"Dari pada kita membahas hal yang membosankan. Sekarang temani aku masak sesuatu kak." Kata Loyisa menarik tangan Ethan menuju dapur. "Kau mau makan apa? kakak belum makan kan?" Kata Loyisa tersenyum lembut sambil mengeluarkan beberapa belanjaannya. Sebagian ia isi ke dalam lemari pendingin dan sebagian ia susun ke dalam lemari yang ada di dapur.


"Apa saja yang penting perut kenyang." Jawab Ethan.


"Apa saja yang penting perut kenyang?" Loyisa mengulangi perkataan Ethan. Ia menunjukkan gestur berpikir. "Aku tidak mau kakak makan asal dan hanya mengenyangkan, sekarang bantu aku menyiapkan makanan sehat untuk kita." Kata Loyisa mulai melanjutkan aksinya. Ia menyiapkan makanan untuk di makan malam ini. Ia membuka kulkas,mencuci sayuran. Dengan sangat lincah ia memotong-motong bahan makanan di atas talenan. Wajahnya sangat serius. Terkadang ia bermain spatula, menjinjit untuk mengambil sesuatu dan mondar mandir mengambil sesuatu.


"Tolong, ambilkan piring kak, ikannya sudah bisa diangkat." perintah Loyisa masih fokus mengerjakan sesuatu.


Ethan berjalan mengambil piring dan mengangkat ikan sesuai yang diperintahkan Loyisa.


"Ada lagi yang mau aku kerjakan Loyisa?" Tanya Ethan menatap Loyisa dengan lekat-lekat.


"Sekarang cuci buah. Sebentar lagi selesai kok, aku yakin kakak sudah lapar kan?" Kata Loyisa tersenyum, namun tangannya masih bergerak memotong daun seledri.


"Ehmmm..wangi sekali Loyisa," Ucap Ethan ketika Loyisa memasukkan tumisan ke dalam wajan panas dan mengaduknya.


"Ini tumisan pelengkap aja kak untuk pelengkap steak hanya di tumis sebentar saja kak." jawab tersenyum.


"Aku jadi lapar Loyisa?" Kata Ethan tiba-tiba muncul dari belakang Loyisa. Ia melihat langsung hasil kerja Loyisa yang tengah serius memainkan spatula.


DEG DEG DEG


Hembusan napas Ethan menerpa wajahnya membuat Loyisa merinding. Glek.. berulang kali ia menelan salivanya. Ia berkedip cepat dan terlihat gugup. Sengatan listrik seperti menyetrum seluruh tubuhnya dan menggelitik hatinya.


"Apa itu?" Tanya Ethan semakin mendekatkan wajahnya melihat ke wajan.


" Heeekkkk..." Loyisa menahan debaran jantungnya yang terpompa lebih kencang.


"Ini Wortel, buncis dan jagung. Dan untuk kentang digoreng untuk pelengkap saja kak." Kata Loyisa gugup.


"Pasti enak?"


"Tentu kak." Kata Loyisa dengan napas yang tertahan. Ia menyiapkan ke piring dan


Loyisa berbalik dan dan wajah tatapan mereka bertemu.


"Makanannya sudah selesai kak." kata Loyisa tersenyum sambil mengangkat piring yang ada ditangannya agar Ethan menjauh.


"Oh, oke..!" kata Ethan tersenyum. Ia membiarkan Loyisa menjauh darinya.


Dan mengikuti Loyisa menuju meja makan.


Hening menyeruak di antara mereka sambil menikmati makanan dalam diam. Sesekali Ethan hanya menatap Loyisa dan tatapan mereka kembali bertemu.


"Uhuk...uhukkk..." Loyisa terbatuk-batuk saat minum. Ia sangat gugup dengan situasi ini. Apalagi tatapan Ethan yang menguncinya. Kali ini Loyisa benar-benar salah tingkah. Ia tidak sanggup melihat tatapan Ethan yang membuat hatinya berdebar.


Fiuhhhhhh...Ia membuang napas nya dan kembali menikmati makanannya dalam diam.


πŸ‚


πŸ‚


BERSAMBUNG


.


.


.


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ