
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
.
.
SEMENTARA DI SISI LAIN.
Ethan bahkan tengah asyik berbicara dengan Kendrick. Pria dewasa ini menikmati kopi di sebuah cafe terkenal di kota ini. Kendrick memang sengaja tidak mengangkat panggilan dari Axel. Lengkungan di bibirnya terlihat jelas di wajahnya, ia tersenyum sinis sambil melirik sekilas handphonenya yang bergetar. Kendrick mengabaikan beberapa panggilan itu. Ia tidak akan mengangkatnya, jika memang ia tidak ada mood untuk berbicara dengan keluarga Davis. Perintah yang terkadang tidak penting. Semuanya benar-benar mereka lakukan semaunya. Raut wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Kenapa tidak mengangkatnya?" tanya Ethan melihat handphone Kendrick sedari tadi bergetar di atas meja.
"Panggilan yang tak penting. Biarkan saja." ucapnya tersenyum simpul.
Ethan mengerutkan keningnya. "Tidak penting? tapi aku rasa itu penting Ken, karena panggilan itu sudah tiga kali berbunyi sedari tadi."
"Tidak usah dipikirkan. Biarkan saja." ucapnya lagi dengan senyuman tipis. Ia kembali mengambil cangkir kopi yang ada di depannya. Dengan wajah datar Kendrick mendekatkan cangkir itu ke mulut. Meniup sejenak dan menyeruput kopi itu tanpa melepaskan senyum di bibirnya. Ada kepuasan tersendiri bagi Kendrick jika ia tidak mengangkat panggilan dari keluarga Davis. Kendrick melepaskan lagi cangkirnya ke tempat semula dan memandang ke arah Ethan kembali. Posisi duduk mereka sejajar dan bisa melihat suasana malam hari di kota New York.
"Selama kita saling mengenal, kita tidak pernah saling berbagi cerita bagaimana kehidupanmu dan apa pekerjaanmu Ethan? apakah kau sudah menikah?" Tanya Kendrick tersenyum.
"Benar, awal pertemuan yang tidak di sengaja. Nanti aku pasti ceritakan tentang kehidupanku. Tapi aku rasa, kau bisa ceritakan lebih dulu tentang kehidupanmu Kendrick? Apa kau sudah menikah?" Ucap Ethan mengubah posisinya menghadap Kendrick.
Kendrick mendesah, ia menatap lurus ke depan dengan mata sayu. Dari wajahnya tergambar jelas kepedihan itu. Kendrick menarik napasnya dalam-dalam, menguatkan hatinya. Setidaknya ia ingin berbagi kesedihannya. Agar rasa sesak dan beban yang menghimpit di dadanya terlepas begitu saja. Selama ini ia kuat dan melaluinya sendiri. Berpura-pura tersenyum walau hatinya terluka.
Rasa kecewa Kendrick terhadap suatu kejadian. Ia pun menjalani proses kehidupan yang cukup rumit. Tinggal bersama mafia yang telah menghabisi nyawa keluarganya. Ia seperti diikat dan dijerat di dalam rumah itu. Hingga membuatnya seperti tidak bisa lepas dari sangkar singa. Banyak sesuatu hal tak terduga yang membuat Kendrick kecewa dan terluka sampai akhirnya membuat rasa sakit hatinya berakar. Ia tidak bisa dengan mudah menghabisi nyawa Carlos. Walau dendam itu sudah berkarat. Mereka yang telah membunuh orang tuanya dan adiknya juga. tentu sakit dan sesak itulah yang dirasakannya saat ini.
Sakit ini tidak bisa diredakan dalam kondisi apapun itu. Hingga orang-orang tidak dapat mampu membantu meredakan kondisi sakit hati Kendrick termaksud itu kekasihnya. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya. Kendrick tahu bagaimana rasanya ingin mati. Bagaimana sakitnya untuk tersenyum. Bagaimana mencoba untuk menyesuaikan diri di tempat yang baginya seperti neraka kehidupan. Bagaimana ia melukai dirinya sendiri di luar dan mencoba untuk membunuh sesuatu di dalam dirinya agar terlepas dari semua ini. Lagi-lagi Kendrick menarik napas panjang.
Ethan dapat merasakan beban itu. "Apakah sulit untuk mengatakannya Ken, apakah kehidupan yang kau jalani begitu berat?" tanya Ethan tidak memandang Kendrick. Ia hanya menatap ke depan dan ikut menarik napasnya juga sambil menyeruput kopi panasnya. Ia pun melanjutkan kalimatnya. "Aku bisa merasakannya, kau seperti seseorang yang aku kenal. Ia tersenyum tapi luka di hatinya tidak bisa ia sembunyikan." ucapnya pelan. Ethan Membayangkan wajah Loyisa yang tiba-tiba datang ke dalam pikirannya.
"Benar yang kau katakan Ethan. Aku mempunyai kehidupan yang menyedihkan. Kebanyakan orang tidak suka menceritakan sisi gelap kehidupannya. Bahkan dengan segala upaya berusaha ,agar semakin kabur dan dilupakan orang. Tentu saja tidak ada yang salah dalam hal ini. Dan aku adalah salah satu dari orang tersebut. Bertahun-tahun aku menyimpan luka ini, Ethan."
Alis Ethan naik dari pangkalnya. "Apa kau seorang mafia Ken?" Ucapnya pelan. Sebelumnya, Ia pernah menduga-duga hal itu. Apakah yang ada dipikirannya benar adanya?
Kendrick menggeleng, "Aku bukan mafia. Tapi aku hidup di kandang mafia."
"Maksudnya?" Alis Ethan semakin berkerut kala mendengar jawaban Kendrick.
Kendrick sesaat memejamkan matanya. "Aku terpaksa melakukannya, aku tinggal bersama orang yang telah membunuh orangtuaku." ucapnya pelan dengan suara bergetar.
"Kau tinggal bersama orang yang telah membunuh orang tuamu."
"Tepatnya aku di sandera."
"Di sandera?" Ethan mengerutkan keningnya, menatap Kendrick tak percaya. "Bukankah sandera itu, seseorang yang ditawan karena menginginkan sesuatu? Mereka biasanya menawan sandera untuk memaksa orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang diinginkan penyandera. Apa yang mereka inginkan darimu?"
Kendrick tersenyum simpul, Ethan sangat pintar menilai hal ini. "Iya, aku di sandera karena dua hal. Kau tau apa itu?" tanya Kendrick balik bertanya.
"Apa itu?" Tanya Ethan penasaran.
"Mereka mencari dokumen dari daddy. Sampai sekarang mereka belum menemukannya."
"Dokumen?"
"Daddy bekerja sebagai FBI dan kejahatan mereka di tangan daddy. Sampai sekarang daddy tidak tahu menyimpannya dimana."
Ethan menarik napasnya. "Satu lagi, apa itu?"
"Jika aku nekad, mereka akan membunuh adikku. Walau sampai sekarang aku tidak tahu keberadaannya dimana?"
"Jadi sampai sekarang kau tidak ingin keluar dari sana?" tanya Ethan lagi.
"Kurasa belum waktunya Ethan, suatu saat aku akan menghabisi mereka dulu, lalu aku bisa lepas dari mereka."
"Hmm..." jawab Kendrick dengan gumam singkat. "Aku melakoninya dengan baik. Walau hari-hari yang kujalani begitu berat. Masa itu memang suram hingga terkadang membuatku tak berdaya. Tapi sekarang aku menyadari suatu hal. Aku percaya selalu ada harapan untuk menghapus kisah yang buram yang pernah ku jalani. Dan aku percaya pasti bisa lepas dari mereka." kata Kendrick dengan optimis.
"Semua itu pasti bisa kau lalui ken, kisah masa lalu merupakan membuktikan bahwa kau akan bisa bangkit dan menebus semuanya untuk merubah hidupmu dengan baik." Kata Ethan memberi nasehat. "Jadi kau belum menikah?"
Kendrick terkekeh, "Bagaimana bisa aku menikah sementara aku masih tinggal bersama mereka."
"Jadi kau tidak memiliki kekasih?"
"Kalau kekasih tentu saja ada. Dia pemilik cafe juga. Aku ingin menjalani kehidupan normal setelah membalas kematian orangtuaku."
"Berapa lama kau tinggal bersama mereka?"
"Kurang lebih sembilan tahun."
Mata Ethan membulat sempurna. "Kau serius?"
"Apa aku seperti orang penipu Ethan?" ucapnya tersenyum simpul.
"Kau luar biasa bisa menyimpan dendammu dengan baik."
"Sekarang ceritakan tentang dirimu?" pinta Kendrick.
Ethan tersenyum dan memandang ke arah Kendrick. "Apa kau percaya takdir?"
"Takdir? Apa seseorang membuatmu percaya akan takdir?" tanya Kendrick tanpa sadar tersenyum.
"Hmmm, aku percaya akan takdir, Ken. Kami dipertemukan dan memiliki perasaan yang sama dan sampai sekarang masih tinggal di rumah yang sama."
"Kau serius, kenapa tidak menikah saja?" Kendrick tertawa, merasa lelucon Ethan benar-benar membuatnya terhibur.
"Kami baru berpacaran, Ken. Ibu belum tahu kami menjalin hubungan. Karena ibu sudah menganggapnya seperti anak sendiri."
"Kenapa tidak mengatakannya?"
"Mungkin belum waktunya. Dia juga takut jika ayah dan ibu mengetahui fakta itu. Aku rasa wanita yang kucintai merasa tidak enak juga."
"Tidak apa-apa, asal jangan sampai dia hamil di luar nikah."
Ethan tertawa sambil membuang napasnya. "Kami masih bisa menjaga diri. Kau pikir aku lelaki kurang ajar. Aku justru ingin menjaganya dengan baik dan tidak ingin menyakitinya. Sebesar apapun cintaku. Aku masih tetap menjaga batas-batasannya." Ucap Ethan tersenyum manis dengan tatapan berbinar.
Kendrick tersenyum. "Kau terlalu mencintainya, awas nanti kau yang tersakiti di sini, Ethan."
"Aku rasa kami bisa menjaga perasaan ini dengan baik, karena kami saling mencintai." Ucap Ethan menutup kalimatnya dengan senyuman.
"Benar-benar cinta yang luar biasa. Aku sampai ikut terbawa perasaan mendengarnya." Kendrick tertawa sambil menunduk. "Sekarang katakan, siapa wanita yang membuatmu hampir gila itu. Kalian berdua memiliki perasaan yang sama. Kalian luar biasa, bisa menjalani seperti layaknya kakak dan adik. Tinggal satu atap yang sama dan bisa menyembunyikan cinta itu dengan baik."
Ethan terkekeh sambil menyeruput kopi yang di atas meja. Ethan mengernyitkan keningnya, menyadari kopi yang ada di cangkirnya sudah habis. "Hmm, sepertinya kopiku sudah habis. Aku harus kembali menjemput kekasihku Kendrick. Lain kali aku akan memperkenalkan dia untukmu. Jangan lupa kau juga harus membawa kekasihmu."
"Baiklah," Kendrick tersenyum lalu bangun dari duduknya.
Mereka meninggalkan cafe dan berjalan lain arah. Ethan langsung membawa mobilnya menuju kantor Loyisa sementara Kendrick kembali ke kediaman Davis. Seperti dikatakannya tadi, lebih tepatnya rumah itu disebut Kendrick sebagai kandang Mafia.
BERSAMBUNG
β£οΈ Maaf ya readers tersayang terkadang terlambat ngirimnya, banyak kesibukan di dunia nyata ππ Semoga tetap suka dengan karya saya ya. Salam sehat selalu π€π€π€
β£οΈ Tinggalkan jejak kalian agar aku tahu kehadiran kalian di sini ππ
β£οΈ Yuk...yang belum mampir ke novelku Mafia Berhati malaikat, bisa langsung klik profil ku yang sayang-sayangku. π₯°
TERIMA KASIH π
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ