Retaliation

Retaliation
Memantapkan hati.



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


Pagi hari yang Indah di kota new York.


Pagi-pagi sekali, Loyisa sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi. Menjepit setengah rambutnya ke belakang dengan jepitan yang mengkilap yang biasa ia gunakan. Ia menggunakan blouse berwarna peach lengkap dengan ikatan pita dikerah baju. Bawahannya menggunakan rok model pencil yang biasa digunakannya untuk ke kantor.


Loyisa berdiri di depan cermin untuk melihat pantulan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya. Loyisa sudah mencoba untuk menghilangkan sembab di matanya. Namun hal itu sangat sulit ia lakukan. Loyisa menunduk sejenak. Jantungnya kembali terpukul kencang. Jari-jari tangannya terasa dingin. Ia kembali menguatkan hatinya. Tujuannya hanyalah satu yaitu membalas dendamnya atas kematian orang tua dan juga kakaknya. "Aku pasti bisa melalui semua ini. Ini waktu yang aku tunggu dan kini aku berhasil menemukan mereka. Jangan takut Loyisa. Kau pasti bisa." Ia menatap dirinya dengan yakin. Dengan meremas tas yang biasa ia gunakan di kantor. Loyisa pun siap untuk berangkat ke kantor pagi ini.


Setelah cukup tenang, Loyisa akhirnya keluar dari kamar. Ia sudah bulat dengan keputusannya.


"Loyisa, kau sudah sehat?" Ethan yang sedang menyiapkan sarapan langsung bergegas menghampiri Loyisa. Ia menyentuh dahi Loyisa. Dengan cepat Loyisa memegang tangan Ethan.


"Aku sudah sehat kak,"


Ethan tertegun saat tangannya dengan cepat di pegang Loyisa agar tidak menyentuh dahinya. Ia mengernyit heran. "Benar, kau sudah bisa ke kantor hari ini?" tanya Ethan lagi.


Loyisa tersenyum mengangguk. "Aku bisa di pecat kalau tidak masuk kantor kak. Sekarang aku bisa sarapan?"


"Silakan," ucap Ethan membuka celemek kain yang dikenakannya. Ethan berjalan melipat celemek tersebut. Menyimpannya ke laci yang ada di dapur. Ia kembali ke depan meja dan duduk bersama dengan Loyisa.



Ethan memang bisa masak, karena ayah ibunya Juru masak di sebuah kapel di desa Woodstock. Ethan sering ikut membantu jika ia libur sekolah. Sampai sekarang pun jika Ethan kembali ke desa Woodstock, ia pasti menyempatkan diri untuk membantu ayah dan ibunya. Jadi Ethan sudah terbiasa menyiapkan sarapan yang enak dan bergizi. Ia memilih bahan-bahan yang mengandung karbohidrat, protein, dan berbagai macam gizi dan vitamin. Makanan tersebut sangat cocok untuk dikonsumsi di pagi hari. Dengan begitu, Ethan dan juga Loyisa mempunyai cukup energi untuk memulai aktivitas di sepanjang hari ini.


Suasana seketika hening, Loyisa makan dengan posisi tegak dan fokus ke makanan yang ada di depannya. Hanya bunyi sendok dan pisau yang saling bersentuhan di atas piring. Ethan melirik wajah Loyisa sekali-kali.


"Loyisa?"


"Ehmm, iya kak?" Loyisa menyendok makanan itu kembali ke mulutnya dan menatap sekilas kepada Ethan. Lalu menurunkan kembali tatapannya untuk memotong beberapa bagian roti yang ada di piringnya. Sementara Ethan sedari tadi hanya mengunyah dengan pelan karena sibuk melihat Loyisa yang begitu cantik pagi ini.


Loyisa mengernyit heran karena Ethan tak juga bicara. "Bukankah kakak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Loyisa sambil menaikkan alisnya. Ia mengambil teh hangat dan menyeruputnya beberapa kali.


"Heuh?" Ethan mengerjap dan mengembalikan pikirannya. Ia tersenyum menatap ke arah Loyisa. "Bagaimana kalau malam ini kita nonton. Sekalian ada seseorang yang ingin aku perkenalkan."


"Malam ini kak?"


"Tentu saja."


"Boleh kak, semoga tidak banyak pekerjaan hari ini."


"Kabari saja."


"Jam berapa kak?"


"Jam makan malam. Sekitar pukul tujuh."


"Oke, baik kak. Nanti aku akan usahakan."


Loyisa bangun dari duduknya, Ethan pun ikut bangun dari duduknya. "Kau tidak menungguku, Loyisa?"


Loyisa menatap jam yang ada dipergelangan tangannya, "Sepertinya tidak bisa kak, biar aku naik taksi saja."


"Baiklah, aku juga harus mampir ke suatu tempat."


"Kalau begitu aku permisi kak," Loyisa berbalik dan ingin mengambil tasnya.


"Loyisa, tunggu!" Ethan mencegat dan memegang pergelangan tangan Loyisa.


"Heuh?" Loyisa menatap ke arah tangannya yang dipegang Ethan. "Ada apa kak?" tanyanya dengan bingung.


Ethan mendekat dan memberikan ciuman di dahi Loyisa. Bibir Ethan begitu lama mendarat di dahinya. Ethan pun menarik lagi wajahnya. Mata Loyisa masih terpejam dan kemudian membukanya kembali. Menatap Ethan dengan sayu.


"Temukan sesuatu yang membuat Kamu bahagia Loyisa, apapun yang mengganggu pikiranmu. Tetap bekerja dengan semangat ya. Buatlah meja kerjamu senyaman mungkin supaya kamu lebih betah di tempat kerja."


Loyisa tertegun dengan ucapan Ethan. Ia lalu tersenyum menganggukkan kepalanya.


⭐⭐⭐⭐⭐


Taksi yang mengantarkan Loyisa berhenti di depan gedung utama CityGroup. Loyisa keluar dari pintu mobil dan mengucapkan terima kasih kepada supir taksi itu. Loyisa tidak langsung bergegas masuk. Ia berdiri di depan gedung yang memiliki desain interior mewah itu, tempat dimana ia sudah menghabiskan waktunya bertahun-tahun bekerja di sini. Dan fakta mengejutkan dan membuatnya sampai sekarang masih shock. Loyisa tersenyum samar di sana. Ia mendongak ke atas menatap ke arah bangunan yang menjulang tinggi itu. Membiarkan sinar matahari pagi menyapanya. Seulas senyum terukir di bibirnya. Angin berhembus damai menerpa wajahnya. Sangat sejuk dan menenangkan. Loyisa sesaat menarik napas singkat, lalu mengembuskan lewat mulut. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan begitu juga hari berganti minggu. Penantian panjang dan sekarang membuahkan hasil. Semua akan dimulai hari ini. Loyisa kali ini tersenyum sinis. Sorot matanya memancarkan dendam dan kebencian.


Loyisa kembali menarik napas panjang lalu berjalan memasuki gedung itu. Saat yang tepat untuk memulai aktivitas di kantor CityGroup. Langkah kaki Loyisa terdengar menggema.


"Selamat pagi sekretaris Loyisa," Sapa setiap karyawan lain yang sedang berpapasan dengannya.


"Selamat pagi," Balas Loyisa dengan senyum teduhnya. Ia berjalan tegap dengan tempo yang Indah, menyusuri koridor kantor. Ia bertegur sapa dengan ramah tanpa menghilangkan wibawanya sebagai sekretaris perusahaan terbesar ini. Hari ini akan menjadi hari yang sibuk baginya.


Loyisa tahu hari ini pak direktur belum datang. Mungkin ada baiknya ia menyiapkan kopi terlebih dahulu. Tak butuh lama Loyisa sudah kembali dari pantry membawakan baki yang berisi kopi dan cake yang dibelinya dari cafe terdekat. Ia meletakkannya ke atas meja.



"Semoga pak direktur menyukainya." ucap Loyisa menaruh kue itu ke atas meja.


Tiba-tiba pintu ruangan direktur terbuka, Loyisa mengerjap dan terkejut. Ia berusaha menutupi rasa gugupnya. Pandangan Axel yang awalnya turun, menyadari seseorang ada di ruangannya. Axel mengangkat sedikit kepalanya dan menaikkan tatapannya melihat ke arah Loyisa.


"Selamat pagi pak," sapa Loyisa begitu ramah. Ia menunjukkan senyuman terindahnya.


Axel mengangkat alisnya setengah, Ia masih diam membeku ditempatnya. Tatapan Axel tanpa ekspresi. Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya. Tatapannya mengunci lurus ke arah Loyisa.


"Aku kau ingin menjelaskan semuanya?"


Loyisa menunduk. "Saya ingin minta maaf soal kejadian beberapa hari yang lalu pak,"


"Bagaimana soal aku yang datang ke apartemenmu? Kau sama sekali tidak keluar Loyisa. Kau tahu, saat itu aku begitu marah."


"Maafkan saya pak," Ucap Loyisa meremas tangannya.


"Oh, jadi kau menyadari kesalahanmu?" ucap Axel dengan wajah datar.


"Saya tahu pak."


"Jadi sekarang apa yang kau inginkan. Apa kau ingin memberikan surat pengunduran dirimu?"


"Heuh?" Loyisa semakin menunduk dan tidak berani menatap lelaki itu.


Axel masih terus memandang Loyisa dan menunggu sekretarisnya itu memberikan penjelasan.


"Maafkan saya pak, saya sungguh minta maaf. Saat itu aku hanya tidak enak badan. Aku hanya tidak ingin muntah di depan anda. Mohon maafkan saya pak," ucap Loyisa dengan tatapan permohonan maaf. Ia kembali menunduk.


Axel melangkah pelan mendekati Loyisa dengan senyum menyeringai. Loyisa menyadari langkah kaki Axel semakin mendekat. Ia semakin gugup dan tidak bisa lari di saat seperti ini. Dengan cepat Axel segera meraih pinggang Loyisa.


Loyisa membelalakkan matanya, saat menyadari kedekatan ini. Tubuhnya kini terpaku, mulutnya masih menganga karena terkejut. Axel menatap dengan serius dan mendekatkan wajahnya ke wajah Loyisa.


"Heuh?" Loyisa semakin gugup. Ia masih menatap dengan waspada.


"Kau tahu, aku terkadang tidak mengerti denganmu Loyisa. Tapi semakin membuat aku penasaran dan jatuh pada pesonamu. Aku menyukai keberanianmu dan membuat aku semakin ingin tahu siapa dirimu. Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu di lift. Jadi kau harus bertanggung jawab dengan semua ini."


"Ma-maksudnya pak?" ucapnya begitu gugup. Jantungnya terpukul kencang saat ini. Perasannya benar-benar campur aduk dan ingin lari dari ruangan itu.


"Aku mencintaimu." ucap Axel akhirnya.


DEG


DEG


DEG


BERSAMBUNG


❣️ Maaf ya readers tersayang terkadang terlambat ngirimnya, banyak kesibukan di dunia nyata πŸ˜‚πŸ˜‚ Semoga tetap suka dengan karya saya ya. Salam sehat selalu πŸ€—πŸ€—πŸ€—


❣️ Tinggalkan jejak kalian agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘


TERIMA KASIH πŸ™


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ