Retaliation

Retaliation
Makan malam bersama.



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


MAKAN MALAM DI KEDIAMAN DAVIS.


Makan malam bersama keluarga Davis hanya bisa dilakukan sekali sebulan atau bahkan tidak sama sekali dalam beberapa bulan. Itu karena kesibukan masing-masing. Apalagi Axel yang memilih tinggal di apartemennya sendiri. Sore hari Carlos kembali menghubunginya untuk sekedar mengingatkan agar tidak lupa untuk makan malam di rumah utama.


"Jangan lupa untuk makan malam bersama di rumah utama, Axel." Kata Carlos mengingatkan.


Axel menarik napas dalam-dalam. Kemudian mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. "Hmm, sudah ada tiga kali daddy menghubungiku hari ini."


"Aku hanya memastikan saja, nanti kamu lupa."


"Bagaimana bisa aku lupa, baru sejam yang lalu daddy menghubungiku."


"Baiklah kalau begitu. Sam..."


"Daddy, tidak ada niat mengundang wanita lain kan?" Axel memotong pembicaraan Carlos sebelum lelaki itu mengakhiri panggilannya.


"Tentu saja, ini hanya makan malam keluarga saja, setidaknya untuk menjalin kebersamaan saja. Kau sendiri sudah lama tidak pernah datang ke rumah utama."


"Baiklah, aku akan tiba empat puluh menit lagi."


TIT.


Panggilan pun terputus.


Axel menyelesaikan sisa pekerjaannya. Semoga saja apa yang pikirkannya benar. Selama ini, jika Carlos mengundangnya makan, pasti dia akan mendesak dan mengatakan kapan menikah dan ujung-ujungnya menjodohkan. Jika Axel menolak yang terjadi hanya lah perdebatan dan membuat hati kesal. Awalnya sih hanya mengenalkan dan membangun relasi saja. Namun lama-lama sikap Carlos sekarang lebih cenderung memaksakan dan memilih seenaknya wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya. Hari ini Axel kembali memastikan kepada Carlos, untuk tidak mengundang orang lain. Bisa jadi selera makannya hilang karena orang itu.


Axel membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya jauh melayang saat mengingat kejadian tadi. Axel galau dan cemas saat melihat Loyisa begitu dekat dengan Ethan. Senyum Loyisa tampak berbeda di sana. Bukankah Ethan adalah kakak Loyisa? Walau yang dia tahu Loyisa adalah seorang anak yatim piatu yang diangkat keluarga Ethan. Axel menggeleng, ia menepis prasangka yang tidak baik. Selama ini Loyisa hanya menganggap Ethan adalah kakaknya. Sikap mereka tadi masih batas wajar saja. Axel berusaha meyakinkan dirinya.


Setelah perjalanan tiga puluh menit di tempuhnya. Kini Axel tiba di kediaman keluarga Davis. Taman rumah itu sangat besar, lima kali lipat dari apartemennya. Walau apartemennya sudah termaksud mewah dan berkelas. Namun masih kalah dengan rumah ini.



Kediaman Davis ini memiliki pintu masuk ubin dekoratif yang dihiasi dengan air mancur yang cantik. Dengan total 1,8 hektar, rumah ini memiliki sepuluh kamar tidur, ruang tamu yang cukup besar, perpustakaan berpanel kayu ek, ruang makan yang mengesankan, dan bioskop rumah yang luas. Rumah itu dihiasi dengan kemewahan. Ruang santai utama memiliki sofa dipan 18 kaki berukir dan sebuah bar hiasan penuh dengan sampanye, cognac dan wiski yang paling indah. Kediaman Davis memakai lantai parket, plester yang rumit, dan perapian batu bata yang canggih. Rumah ini juga memiliki semua hiasan layaknya rumah seorang pemimpin Mafia kejam. Properti ini memiliki perpustakaan, spa berlapis cedar, garasi lima mobil besar, dan kolam renang.


Terdapat banyak pelayan di sana. Axel keluar dari mobil dan di sambut hormat oleh beberapa pelayan yang ada di sana. Ada puluhan anak buah Carlos berdiri tegap di setiap titik di halaman rumah. Mereka diperlengkapi senjata khusus untuk menjaga kediaman Carlos. Mereka hanya berdiri kaku tanpa tersenyum menyambutnya. Axel tersenyum kecut tak perduli. Ia berjalan melangkah masuk ke pintu utama kediaman Davis.


"Selamat malam tuan, tuan Carlos sudah menunggu anda." Kata pelayan dengan sopan, ia maju beberapa langkah ingin membuka jas yang dikenakan Axel.


Dengan cepat Axel menolaknya. "Tidak, terima kasih, biar saya saja." ucapnya datar lalu melangkah masuk ke ruang tamu. Axel membuka jasnya dan meletakkannya di sofa. Ia pun berjalan menuju ruang makan.


Benar saja, sudah ada Carlos dan Alexa di sana. Posisi Carlos duduk di kepala meja. Menujukkan ia sebagai kepala keluarga di sana. Kendrick juga ikut bergabung di meja makan. Sementara Marvel anak buah yang paling setia mendampingi Carlos berdiri tepat di belakang daddy dengan jarak satu meter. Sementara para bodyguard yang di tempat kan berjaga di dalam rumah, berdiri tanpa ekspresi dengan jarak lima meter di setiap titik kediaman Davis.


"Kau sudah datang Axel, mari bergabung." ucap Carlos tersenyum.


Sementara Kendrick bangun dan membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Pelayan segera menggeser kursi dan mempersilakan Axel duduk.


Masakan khas Eropa sudah tersaji di atas meja makan, para koki mengatur makanan itu sesuai urutannya. Makanan berkelas para kalangan atas tentunya. Wine yang harganya selangit saja sudah tersaji di sana.


"Apa ini perayaan khusus dad. Makanannya terlalu berlebihan." kata Axel protes.


Carlos hanya tersenyum tipis. "Tidak ada perayaan khusus Axel, ini hanya makan malam sederhana saja."


"Ini tidak sederhana, ini terlalu berlebihan."


"Ayolah kak, jangan memulai lagi." Alexa berucap dengan berdecak. "Aku ingin makan dalam ketenangan." keluhnya menatap tak suka.


Kendrick hanya diam tanpa ekspresi, Ia tersenyum samar di sana. Entah apa yang dipikirkannya. Di sini Ia seolah seperti bagian keluarga Davis. Makan bersama dalam kehangatan. Cih... namun dalam hatinya Kendrick ingin menangis. Ia selalu bisa memainkan peranan dengan baik. Tapi sejujurnya ia tersiksa. Kendrick akan kembali mengingat bagaimana Carlos telah menghabisi nyawa keluarganya. Sampai sekarang pun ia belum tahu keberadaan adiknya, apakah ia sudah meninggal atau tidak. Kendrick menarik napas dalam diam. Merasakan perih di dalam hatinya yang begitu sakit.


Pelayan sedikit membungkuk memberi hormat. Makanannya sudah siap tuan, selamat menikmati." ucap pelayan dengan sopan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Mereka tidak langsung meninggalkan meja. Pelayan tetap stand by di sana. Berdiri di belakang mereka dan siap menunggu instruksi jika di minta.



Mereka menikmati makanan sesuai urutannya. Axel sendiri hanya diam menikmati setiap menu yang ada. Hanya Alexa yang selalu bicara dengan Carlos. Seperti biasa dia akan bercerita tentang masalah kuliahnya saja dan ujung-ujungnya memuji sikap Kendrick yang selalu memperhatikannya.


"Bagaimana masalah pekerjaanmu Axel?" tanya Carlos menatap ke arah ke Axel.


Axel mengangkat wajahnya melihat ke arah Carlos. Ia langsung menghentikan aktifitas makannya. "Semuanya berjalan baik dad, hanya ada sedikit pekerjaan menumpuk dan aku bisa menyelesaikan dengan cepat." jelas Axel mengambil gelas yang berisi wine lalu menyesapnya.


"Aku dengar kau mengambil karyawanmu sendiri menjadi sekretaris pribadimu?"


"Hmm," Axel kembali memotong daging itu dan memakannya.


"Katanya dia pintar dan bisa diandalkan." tanya Carlos penasaran.


"Iya, dia bisa diandalkan dad dan selalu cekatan." jawab Axel.


"Benarkah?"


"Daddy, dialah sekretaris yang pernah aku ceritakan itu, dia sangat cantik, kak Axel menyukainya."


"Benarkah, padahal daddy ingin menjodohkan Axel dengan teman masa kecilnya." Carlos sengaja membicarakan perjodohan lagi.


"Jangan dad, kak Axel sangat menyukai wanita itu. Jadi stop dan jangan membahas masalah perjodohan di meja makan ini." Alexa mencondongkan badannya ke arah Carlos.


Carlos menautkan ke dua alisnya. "Benarkah apa yang di katakan adikmu itu?" tanya Carlos penasaran.


"Namanya siapa kak, aku lupa.." kata Alexa.


"Bawa dia ke sini, daddy ingin mengenalnya juga." ucap Carlos menyela pembicaraan putrinya itu.


"Aku masih mencoba untuk melakukan pendekatan dad."


"Dia tidak menyukaimu?" Carlos terbelalak tak percaya. "Dia tidak tahu siapa kau? aku rasa semua wanita pasti mengejarmu jika dia benar-benar mengenalmu Axel."


"Dia bukan seperti itu dad?"


"Dia dari keluarga sederhana?"


"Ehmm, dia anak yatim-piatu. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan."


"Menyedihkan, seharusnya dia dengan suka rela menyerahkan dirinya."


"Aku sudah bilang dia tidak seperti itu dad." Axel sudah meninggikan suaranya.


"Benar kata daddy, kak. Kau kaya, tampan, memiliki perusahaan sendiri dan baik. Apa lagi kurangnya? benar tidak kak Kendrick?"


"Heuh?" Kendrick kaget saat Alexa memberikan pertanyaan untuknya.


"Astagaaa...pasti melamun lagi." Alexa mendesah kesal.


"Baiklah, kalau begitu. Bawa dia ke sini. Daddy juga ingin mengenalnya." Kata Carlos mencairkan suasana yang tegang.


"Hmm, pasti itu dad." Kata Axel tersenyum samar.


"Masalah perusahaan, itu kau dirikan sendiri. Aku yakin kau bisa menjalankannya dengan baik. Daddy tidak ingin ikut campur. Aku sangat mengandalkanmu."


"Tentu saja, aku pasti bisa memajukan perusahaan itu. CityGroup akan tetap berkembang dan maju. Perusahaan itu adalah bagian hidupku dan masa depan untuk keluargaku nantinya."


Carlos hanya tersenyum, lalu melanjutkan makannya dengan elegan. Mereka melanjutkannya dengan makanan penutup, masih melakukan percakapan-percakapan kecil sambil makan. Setelah selesai dengan menyantap makanan penutup. Carlos kembali ke kamarnya yang di ikuti dengan Marvel. Sementara Axel masih berbicara santai dengan Kendrick di ruang keluarga.


BERSAMBUNG


❣️ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu πŸ€—


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ