Retaliation

Retaliation
Dia adalah kekasihku



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


"Kau menyukainya?" tanya Axel saat melihat Loyisa menatap sekilas cincin yang ada di jarinya.


Loyisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan menunjukkan cincin yang ada di tangannya. "Mata berliannya cantik."


Axel mengangkat setengah alisnya sambil tersenyum samar. "Hmm, berlian biru ini sangat langka, para kolektor dan pecinta berlian menciptakan permintaan yang kuat untuk berlian jenis ini."


"Benarkah?" Loyisa tersenyum antusias, melihat kembali cincin indah yang menghiasi jarinya.


"Aku mendapatkan ini langsung dari tambang Cullinan di Afrika Selatan, berlian ini dikategorikan sebagai salah satu berlian paling indah di Bumi."


Mata Loyisa berbinar bahagia sampai mulutnya terbuka. "Bapak serius?"


"Hmm, ini spesial aku persiapkan untuk orang yang aku cintai dan untuk calon istriku."


Mendengar kata 'Istri' raut wajah Loyisa berubah. Ia menatap ke arah Axel yang tersenyum begitu manisnya. Kepalanya sedikit tertunduk di antara ke dua tangannya yang melipat di atas meja.


"Aku sangat mencintaimu Loyisa dan ingin menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku ingin hubungan ini lanjut ke tahap serius."


GLEK!


Loyisa menelan salivanya berulang kali. Ia lalu mengembuskan napas panjang dan berusaha bersikap seolah ia juga mencintai Axel. Dengan lembut ia memegang tangan lelaki itu. "Aku tidak ingin kita terburu-buru pak, aku ingin pernikahan kita didasari dengan pondasi yang kuat, agar rumah tangga kita kokoh dan tidak putus di tengah jalan. Menikah itu juga urusan kita dengan Tuhan dengan jangka waktunya seumur hidup. Hal ini tentu bukan sesuatu yang bisa diputuskan dengan sembarangan. Jadi, jangan sampai momen sakral ini menjadi tidak maksimal karena aku tidak siap, dan aku tidak mau terlalu terburu-buru untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Karena Ini kehidupan nyata, bukan sedang bermain game simulasi yang bisa di-save dan load seenak hati, jika pernikahan sedang mengalami masalah. Jadi aku tidak ingin terburu-buru saat memutuskan untuk menikah pak. Kita baru saling mengenal. Aku ingin menjalani hubungan ini layaknya seperti pasangan lain. Mengalir dengan baik seiring dengan waktu."


"Apakah aku terlalu memaksamu? Aku hanya takut kau berubah pikiran Loyisa. Aku takut ini hanya mimpi dan kau meninggalkan aku."


Loyisa memberikan usapan di tangan Axel. "Ini tidak mimpi pak, ini kenyataan. Aku akan mengwujudkan mimpimu menjadi nyata. Jika aku benar-benar sudah siap kita pasti akan menikah." Ucap Loyisa dengan senyuman indah. "Ini memang mimpi pak, aku akan membangunkanmu dari mimpi jika saatnya sudah tiba." Loyisa membatin dan tersenyum penuh arti. Seakan tatapan itu menenggelamkan Axel ke dalam pusarannya dan membawa keluarganya juga ikut masuk ke sana.


"Baiklah, aku percaya denganmu Loyisa. Aku harap kau jangan sampai mengecewakan aku."


"Hahahaha..." Loyisa tertawa sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Bagaimana bisa bapak bisa berpikiran seperti itu?"


"Aku hanya takut Loyisa."


"Jangan terlalu berlebihan pak, aku sudah bilang kita jalani dulu." Kata Loyisa lagi.


"Baiklah," Axel mengangguk.


"Sekarang kita pulang pak," ajak Loyisa.


"Boleh. Tapi aku ingin kita berjalan-jalan dulu."


Loyisa hanya mengangguk. Setelah melakukan pembayaran. Mereka berhenti di sebuah taman kota dengan jalan melingkar. Pepohonan di sana dihiasi lampu-lampu kecil. Sangat indah. Mereka berjalan beriringan dengan langkah-langkah santai. Banyak muda-mudi yang ikut memeriahkan acara valentine di taman ini. Berlalu lalang sambil bergandengan tangan dengan pasangannya. Ada juga mereka yang duduk di taman sambil memegang minum di tangannya. Axel mulai menggapai tangan Loyisa di sampingnya. Loyisa mengerjap kaget dengan spontan ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Dengan cepat ia melepaskan tangan Axel.


Axel mengernyit dahi dengan melihat ke arah Loyisa. "Kenapa dilepaskan?"


Loyisa tersenyum, "Terlalu banyak orang di sini pak, aku takut mereka ada salah satu dari karyawan CityGroup. Aku takut mereka akan bergosip dan merusak reputasi perusahaan CityGroup." Ucap Loyisa. Binggo alasan yang tepat.


"Heuh? Jika mereka berani membuat gosip aku yang akan pecat mereka dan aku akan mengatakan kepada semua orang kau adalah milikku. Tidak salahkan?"


Loyisa terkekeh, "Biarkan kita berjalan seperti ini saja pak, demi kebaikan."


"Heeeehhh." Axel membuang napas panjang dan kembali berjalan seperti permintaan Loyisa tidak ada yang namanya pegang tangan atau semacamnya demi reputasi perusahaan.


Loyisa tersenyum lebar. Ia menatap Axel seperti anak kecil. Mereka menikmati momen bersama itu. Angin sepoi-sepoi seakan menerpa wajah mereka. Sejuk bagi Axel yang hatinya sedang berbunga-bunga karena merasakan cinta yang luar biasa. Wajahnya sangat tenang dan susana hatinya benar-benar sangat baik. Apalagi ia bersama Loyisa. Sementara Loyisa hatinya gelisah tak menentu. Ia berulang kali menatap jam yang ada dipergelangan tangannya.


"Kenapa waktu ini begitu lambat berputar. Astagaaa...." Batin Loyisa menghela napas Sepanjang ia berjalan. Ia meremas ke dua tangannya. Mereka berputar mengelilingi lapangan hingga sampai kembali ke parkiran di dimana tempat mereka berhenti tadi.


Axel mengantarkan Loyisa pulang setelah mereka puas menikmati keindahan malam. Sepanjang jalan Axel memegang tangan Loyisa dengan posesif. Mereka saling menggenggam dan melempar senyum. Hingga mereka tiba di basement apartemen tempat tinggal Loyisa.


"Sudah sampai, tapi aku masih merindukanmu." ucap Axel lembut.


Loyisa tersenyum samar. "Besok kita masih bertemu di kantor pak," ucap Loyisa ragu.


"Tapi menunggu besok, masih lama." Axel lagi-lagi merengek seperti anak kecil..


Loyisa mendesah. Lama-lama ia jengah melihat sikap lelaki yang duduk di sampingnya itu. Seperti anak kecil. Tapi ia masih berusaha memberikan senyum terbaiknya sambil melepaskan seat belt.


"Biar aku yang membuka pintu untukmu." kata Axel begitu gentleman, ia tersenyum mengitari mobil untuk membuka pintu mobil untuk Loyisa.


"Astaga kenapa juga dia harus turun membuka pintu?" Loyisa menoleh ke kiri dan ke kanan. Melihat apakah Ethan sudah pulang atau tidak. Ia berharap Ethan memang sudah pulang dan menunggunya di rumah.


"Silakan nona cantik." Axel tersenyum dan mempersilakan Loyisa keluar.


"Terima kasih pak," Loyisa pun segera keluar dari mobil. "Bapak pergilah dulu." kata Loyisa


"Tidak, kau masuk lebih dulu." pinta Axel.


"Baiklah aku masuk ya pak." Kata Loyisa sambil melambaikan tangannya. Loyisa segera membalikkan badannya.


"Loyisa, tunggu!" cegat Axel dengan cepat


Loyisa mengerutkan keningnya. "Heuh? Ada..."


"Kau melupakan ciuman selamat malamnya." Kata Axel dengan pandangan sayang. Ia membelai pipi Loyisa dengan lembut.


"LOYISA APA YANG KAU LAKUKAN?"


"Hk."


Suara Ethan membuatnya terdiam kaku. Matanya membulat, jantungnya memicu. Berdebar kencang. Napasnya juga ikut tertahan. Loyisa dapat mendengar jelas langkah kaki Ethan. Ia tahu lelaki itu pasti sangat marah.


Axel mengulas senyuman saat melihat Ethan melangkah ke arah mereka.


"Selamat malam Ethan," Sapa Axel dengan ramah.


"Apa yang kalian lakukan?" Ethan berucap tegas tanpa melihat ke arah Axel. Napasnya terdengar naik turun karena menahan emosi. Wajahnya memerah sudah seperti buah cherry.


Loyisa belum berani memandang ke arah Ethan. Ia hanya sanggup memenjamkan matanya dengan rapat, mengatupkan bibirnya lalu berpaling ke arah Ethan.


"Kak...." bibir Loyisa bergetar.


"Sekarang kita masuk," Ethan langsung maju dan menarik tangan Loyisa.


" Apa yang kau lakukan, jangan marah seperti ini dude! Kau menyakiti tangan Loyisa."


Rahangnya mengeras."Tutup mulutmu, aku tidak bicara denganmu." Kata Ethan dengan tegas. Sorot matanya begitu tajam. Ia sudah sangat marah. Lahar di dalam dadanya siap dimuntahkan.


Axel masih berusaha menahan Ethan agar tidak menarik tangan Loyisa. "Oke, maafkan aku, ini semua salahku mengajaknya makan malam tanpa memberitahumu. Kau tidak tahu hari ini begitu spesial untuk orang yang sedang berpacaran. Aku harap kau mengerti."


DEG


Jantung Ethan langsung terpukul kencang, ada rasa sakit ketika mengetahui Loyisa ternyata berbohong. Sesak yang menghimpit dadanya tak bisa ia tutupi. Dengan cepat Ethan melangkah maju dan memberikan bogem mentah ke wajah Axel. "Itu hadiah untukmu!" kata Ethan meluapkan emosinya.


"Kak?" Loyisa menutup mulutnya saat Axel terjatuh karena ditinju Ethan.


Ethan tak perduli, ia mencengkram tangan Loyisa dan menariknya pergi dari basement.


Axel menyentuh bibirnya yang terluka. "Kau lelaki brengsek, Loyisa adalah kekasihku." Suara Axel tak kalah lebih tegas lagi.


DEG


Lagi-lagi jantung Ethan terpukul kencang. Langkahnya terhenti mendengar kalimat itu. Ia Segera membalikkan badannya dan menatap Axel dengan tajam. Ethan benar-benar mengibarkan bendera permusuhan di sana. "Jangan bicara omong kosong!"


"Omong kosong, sekarang kau tanyakan kepada Loyisa. Aku sudah memikatnya dengan cintaku."


Axel menarik napasnya yang semakin sesak. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat. Etha tak perduli, "Jangan pernah menunjukkan dirimu lagi. Kau faham!" Kata Ethan dengan ancaman. Ia lalu membawa tangan Loyisa hingga masuk ke dalam lift. Loyisa tak berani memandang ke belakang karena melihat kemerahan Ethan. Jantungnya ikut bergemuruh di sana.


Mereka hanya diam ketika memasuki lift. Ethan tetap dengan ekspresi tidak terbaca, menatap lurus dan tetap bergeming.


"Kak..."Loyisa membuka suara.


"Aku tidak ingin bicara. " Kata Ethan dingin.


Mendengar itu, jantungnya seperti terhenti. Napas Loyisa seakan terpompa kencang ketika melihat kemarahan Ethan.


TING!!


Pintu lift terbuka. Ethan tetap mengunci tangan Loyisa hingga mereka memasuki apartemen.


BRUKKKKKK


Pintu tertutup sedikit kasar dan bersamaan itu, ia melepaskan tangannya dari Loyisa.


Ethan masih berusaha mengendalikan rasa emosinya. Ia memasukkan tangan ke kantong celananya lalu mendesah kesal. Ia masih berdiri di tengah ruangan.


Suasana seperti ini membuat loyisa semakin tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang Ethan.


"Mulai besok, kau berhenti bekerja."


DEG


DEG


DEG


"Apa?"


Ethan membalikan badannya, "Kau tidak dengar, kau tak boleh bekerja lagi." kata Ethan meninggikan suaranya. Sorot matanya menunjukkan ia terluka di sini.


.


.


JENG... JENG...JENG!


BERSAMBUNG


โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.


โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU๐Ÿ’Œ