Retaliation

Retaliation
Awal Pembalasan.



💌 RETALIATION 💌


 


🍂


🍂


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Loyisa mempercepat langkahnya saat berada di koridor. Menaiki lift dan turun ke lantai bawah. Begitu lift terbuka, langkahnya semakin di percepat. Loyisa menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Ia melangkah menuju pintu utama perkantoran CityGroup.


Loyisa berlari ke arah taksi yang sedang berhenti menurunkan penumpangnya. Kakinya bahkan sampai terkilir dengan heels yang dikenakannya. Begitu di dalam taksi, Loyisa segera mengatakan alamat yang ditujunya.


"Kita ke kafe new York ya pak."


"Baik nona."


Sementara tak jauh dari jarak mobil taksi, seorang lelaki langsung mengarahkan anak buahnya untuk mengikuti mobil taksi yang ditumpangi Loyisa.


"Sekarang ikuti dia,"


"Baik tuan." Pria itu mengangguk. Ia pun menjalankan mobilnya mengikuti mobil taksi itu.


Sementara Loyisa tengah asyik membalas pesan WhatsApp dari Ethan. Ia terkadang tersenyum sendiri saat Ethan mulai mengirimkan kata-kata yang menggelitik hatinya.


"Nona, sepertinya mobil sedan hitam itu mengikuti kita." Lelaki paruh baya itu melihat Loyisa dari kaca spion yang ada di tengah mobil.


Loyisa tersentak, dengan cepat ia membalikkan badannya melihat ke arah belakang. "Apa bapak yakin?" tanya Loyisa mengerutkan keningnya.


"Benar nona, saya sudah melihatnya di depan kantor CityGroup. Saat mobil taksi ini jalan, mobil sedan itu mulai bergerak mengikuti mobil ini."


DEG!


"Apakah dia anak buah Carlos?" Loyisa membatin. "Atau jangan-jangan Axel sudah mulai curiga dan mengirimkan anak buahnya?" Loyisa menggeleng cepat menepis prasangka buruk yang terus menari-nari dalam benaknya.


"Tidak apa-apa pak, anda tetap fokus ke jalan saja." Loyisa berusaha tenang. Walau sejujurnya ia gelisah. Dia masih curiga siapa yang berani mengikutinya. Dia tidak mau identitasnya terbongkar begitu saja.


Sopir taksi tak menjawab, ia hanya bergerak membawa mobilnya dengan kecepatan penuh.


Loyisa menarik napas dalam-dalam. Ia harus memastikan, apakah benar-benar mobil itu mengikutinya atau tidak. "Pak, nanti berhenti di minimarket ya."


"Ini jalan tol nona. Kita tidak bisa berhenti."


Loyisa mendesah. "Saya tahu,"


"Bagaimana kalau kita lewat jalan tikus? untuk mengalihkan perhatian mereka. Kita harus menerobos lampu merah dulu." saran sopir taksi.


"Apa tidak masalah, saya takut polisi mengejar kita."Loyisa mendesah diujung kalimatnya.


"Saya akan berusaha mencari sela."


"Hati-hati pak, jangan sampai membahayakan pengguna jalan."


"Baik."


Sepertinya benar sekali, ternyata mobil itu terus mengikuti pergerakan mobil taksi yang ditumpangi Loyisa. Ia mengepalkan tangannya. Ia masih ragu, apakah mereka pengikut Carlos atau bukan. Loyisa mendesah dengan wajah cemas. Ia terus melihat ke arah belakang. Tubuhnya miring ke kiri dan ke kanan. Sopir taksi masih mencoba untuk menghindari mobil sedan itu.


"Pak, bisa cepat sedikit," Tanya Loyisa dengan wajah gelisah sambil memegang sandaran kursi sopir taksi yang ia tumpangi.


"Baik, nona." jawab sopir taksi menginjak pedal gas dan membawa mobilnya melaju membelah jalanan.


"Belok kanan pak,"


Sementara pria bertato itu, menyadari jika mobil taksi itu mencium pergerakannya.


"Ada apa?"


"Sepertinya wanita itu tahu kita mengikutinya tuan."


"Cih..." pria itu berdecak sambil membuka kaca matanya. "Apa kau yakin dia adalah wanita yang kau temui di rumah tuan Axel?"


"Saya sangat yakin tuan,"


"Kita pastikan dulu." ucap pria itu.


"Baik tuan."


"Tempat ini sepi nona, polisi tidak pernah patroli di sini, ini bisa membahayakan kita."


"Tidak apa-apa, aku ingin memastikan saja." ucap Loyisa menegaskan kalimatnya.


Mobil taksi itu berhenti tepat di depan toko minimarket seperti yang diminta Loyisa. "Tunggu sebentar ya pak."


Loyisa dengan tergesa-gesa turun dari mobil, tanpa menunggu jawaban dari supir taksi. Ekor matanya bergerak ke kiri dan melihat mobil itu ikut berhenti tidak jauh dari mobil taksi yang ditumpanginya.


Loyisa menaikkan sudut bibirnya. "Apa itu benar-benar kalian kartel eagle?" Loyisa menggeram. Ia terus melangkah memasuki minimarket.


Saat di dalam toko minimarket, Loyisa mengintip dan melihat pergerakan lelaki itu. Pria itu keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil taksi yang ditumpanginya. Ia nampak berbincang-bincang. Beberapa detik kemudian, mata Loyisa terbelalak kaget saat lelaki itu menodongkan pistolnya kepada supir taksi.


DORRRRR.... Satu tembakan menembus kepala supir taksi dan terjatuh ke setir mobil. Bunyi klakson panjang terdengar dan mengundang perhatian. Pria itu tak perduli, ia berjalan menuju minimarket. Dengan cepat Loyisa melakukan panggilan kepada Ethan.


"Upsssss.....waktu tidak cukup untuk melakukan panggilan." Loyisa mengalihkan panggilan. Tangannya dengan cepat mengetik pesan. Saat pesan sudah terkirim. Loyisa berjalan menunduk untuk mencari pisau.


Dua orang lelaki berpakaian jas dan lengkap memakai kacamata hitam menembak kaca minimarket bertubi-tubi. Tembakan itu melesat memecahkan kaca hingga sampai menembus tepat mengenai kepala seorang kasir yang sedang berdiri. Melihat kejadian yang mendadak itu, semua orang menjerit histeris. Belum sempat berbuat apa-apa, dua orang karyawan minimarket tergeletak karena peluru menancap tepat ke jantungnya. Loyisa ternganga melihat tiga orang di sana sudah bersimbah darah.


Tak lama kemudian, peluru tembakan melesat kembali, tapi kali ini peluru itu menembus dada seorang wanita yang nampak gemetar untuk menghubungi 911.


Dorrr…lagi sebuah peluru melesat ke dadanya dari belakang. Ia berdiri kaku dan melihat di bawah ada tetesan darah dari punggungnya. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Kemudian Ia menoleh ke belakang menatap pria itu tersenyum sinis. Seketika tubuh wanita lemas dan terhempas ke tanah. Di ambang kematiannya ia menolehkan kepalanya, melihat ke arah anaknya yang sedang bersembunyi. Pria itu menodongkan senjatanya lagi, kali ini tepat di kepala wanita itu.


DORRRRR!


"Sebelum polisi datang, sekarang cari wanita itu dan bawa kepadaku. Aku tunggu di mobil." Kata seorang pria kepada temannya.


"Baik tuan,"


Dia adalah anak buah Carlos yang curiga saat Loyisa menangis meninggalkan apartemen Axel. Saat itu ia kembali untuk mengambil jaketnya yang tertinggal di sofa. Melihat Loyisa masuk ke toilet, lelaki itu mengikutinya. Ia mendengar wanita itu menyebut nama Carlos. Pria itu segera melaporkan kepada temannya yang ada di kartel eagle. Jika mereka berhasil menangkap wanita itu. Tentu saja bos mereka akan bangga dan jabatan mereka akan naik di kartel eagle.


Loyisa tersenyum saat seorang pria masuk ke minimarket. "Kau akan mati di tanganku." Geram Loyisa membatin. Rahangnya mengeras. Pisau sudah ada di tangan. Ia bersembunyi di balik tumpukan kardus yang di susun rapi di sudut minimarket. Loyisa hanya bermodalkan pisau di sini. Ia mengintip di balik persembunyiannya.


"Sedikit lagi.... sedikit lagi... sedikit...." Loyisa keluar dari persembunyiannya dan memberikan tendangan jitu yang sering dipelajarinya dulu. Ia memulai serangannya dengan menendang perut lelaki itu. Sementara pisau ia jepit di mulut. Menyusul kontan tendangannya mengenai wajah sebelum pria itu menodongkan pistolnya ke arah Loyisa.


"Hup...." Pistol terjatuh sempurna ke lantai. Loyisa tersenyum kecut. Hanya mereka berdua di sana.


Loyisa kembali melompat maju dengan gesitnya dan menendang bagian perut hingga pria itu terbungkuk kesakitan. Rak yang ada di terjatuh bersamaan dengan pria itu. Loyisa menggulung rambutnya, tak mau rambut menjadi penghalang untuk pertarungan yang semakin menarik ini. Beruntung hari Loyisa menggunakan celana panjang. Sudut bibirnya melengkung ke atas saat ia selesai merapikan rambutnya. Loyisa mengambil pisau yang ia selipkan di pinggang saat menggulung rambutnya.


"Dasar anak tengik!" pria itu menggeram kesakitan. Ia bangun dan berusaha untuk bangkit lagi.


Loyisa menggunakan uppercut, pukulan andalan untuk mengalahkan lawan dengan KO. Membuat pria itu mendongak kembali mempertontonkan wajah yang menyeringai kesakitan. Sama sekali Loyisa tak memberikan sela.


"Bagaimana?" Ucap Loyisa tersenyum sinis sambil bersedekap.


Pria itu masih berusaha untuk bangkit. Emosinya terpancing saat mendengar itu. Ia mengeluarkan pisau lipat di sana. Sama-sama bermodalkan pisau. Mereka beradu kekuatan. Loyisa tersenyum jahat. Pancaran matanya menyorot tajam. "Apa kau suruhan Carlos?"


"Dari mana kau tahu nama bos kami."


"Cih...dari mana? Sampai aku matipun, Carlos akan selalu kubawa ke api neraka."


"Berani kau..." Pria itu menggeram, ia maju beberapa langkah dan mengarahkan pisaunya kepada Loyisa. Dengan cepat Loyisa menghindari.


"Sebelum kau, ku kirim ke neraka. Kau harus perlu tahu. Aku adalah anak dari Orlando yang kalian habisi beberapa tahun yang lalu. Tapi beraninya kau muncul… Kalian tidak hanya membunuh kedua orangtuaku, tapi kalian membunuh satu keluargaku, sialan…” teriak Loyisa.


"Apa? kau anak Orlando?" pria itu hampir tak percaya.


Loyisa tak menjawab ia kembali melompat maju dengan gesitnya dan menendang bagian perut hingga pria itu terjatuh lagi. Loyisa menancapkan pisaunya ke dada pria itu. Tak ingin membuang waktu. Ia langsung menyebet leher pria itu.


Napas pria itu keluar satu-satu. Loyisa bangun saat nyawa pria itu sudah tidak ada. "Ini awal dari pembalasanku, brengsek!"


Loyisa mengepalkan tangannya. Napasnya tersengal. Ia mengambil pistol yang terlempar jauh ke bawah rak.


Dengan gesit Loyisa merusak CCTV. Ia mengendap-endap keluar dari belakang toko minimarket tersebut. Kini ia harus menghabisi pria yang satunya. Ia berjalan menuju ke arah lelaki yang sedang sibuk menjawab panggilan telepon. Tanpa pikir panjang loyisa menembak mobil sedan itu secara bertubi-tubi. Tembakan itu melesat memecahkan kaca mobil hingga sampai menembus tepat mengenai kepala pria itu.


"Yesss..." Loyisa tersenyum sinis. Dari kejauhan, terdengar suara sirene mobil polisi menuju tempat lokasi terjadinya penembakan. Daerah ini memang sepi. Loyisa membuang napas dan berlari menyebrang untuk memberhentikan taksi. Ia meninggalkan tempat itu menuju kafe dimana ia telah mengganti tempat untuk bertemu dengan Ethan.


BERSAMBUNG


❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.


❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌