Retaliation

Retaliation
Aku mencintaimu, Loyisa....



πŸ’Œ RETALIATION πŸ’Œ


Β 


πŸ‚


πŸ‚


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


DOR...DOR...DOR....!


Carlos menembak asal segala ruangannya. Ia murka karena sampai saat ini, anak buahnya belum menemukan siapa pelaku yang membuat keributan di kediaman Orlando sampai menewaskan anak buahnya sendiri. CCTV rusak parah dan tidak bisa menemukan siapa pelakunya. Tidak puas, Carlos mengambil botol wiski melemparkannya ke arah dinding.


" Praaangggg!!! "


Gelagar suara botol pecah, menghantam dinding membuat Marvel memejamkan matanya, Ia masih mengatur napasnya untuk menghentikan debaran jantungnya karena rasa terkejutnya. Marvel hanya bisa menundukkan kepalanya. Ini pertama kali Carlos kecewa. Marvel tau dengan kondisi seperti ini, jika Carlos kecewa ia lebih memilih diam beberapa jam sebelum hatinya reda. Marvel hanya bisa menunggu, ia tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini. Ia lebih baik menunggu hingga perasaan Carlos membaik.


Carlos mengepalkan tangannya begitu kuat. Rahangnya mengencang, sorot matanya memancarkan emosi. Deru napasnya memburu, naik turun begitu cepat di sana. Tak ada suara, yang tertinggal hanya rasa keheningan yang mencekam. Sorot mata Carlos yang tajam seakan mampu menembus jantung siapa saja yang berada di sana. Detik jam dinding terus berbunyi. Dikala hening, bunyi itu seakan mengancam jiwa. Yang sewaktu-waktu berubah menjadi sebuah kesunyian yang nyata dan menakutkan di situasi seperti ini.


Cukup lama Carlos terdiam, ia terus memandang keluar dinding kaca yang menyajikan pemandangan keindahan kota di malam hari. Matanya menatap lurus tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras, kaku dan dingin.Tak ada yang bisa Marvel lakukan selain menunggu.


"Marvel, kira-kira siapa yang kau curigai di sini?" akhirnya Carlos berbicara setelah satu jam menatap ke arah luar.


Marvel mengangkat wajahnya maju beberapa langkah dan menegakkan badannya. "Saya tidak mencurigai siapapun, tuan."


Carlos tersenyum sinis, "Apa menurutmu itu Kendrick,"


"Menurut saya tidak tuan, Kendrick sibuk mengurus Alexa. Pada waktu kejadian itu ia berada di luar kota bersama Alexa."


"Bagaimana soal anak buahnya. Aku rasa Kendrick tidak bodoh, bisa jadi ia mengirimkan anak buahnya datang ke kediaman Orlando."


Marvel menundukkan kepalanya, "Saya akan periksa tuan."


"Jika Kendrick macam-macam, aku sendiri yang akan membunuhnya. Aku rasa ia mengirimkan anak buahnya untuk mencari dokumen yang selama ini aku cari." Carlos meremas tangannya lagi. "Segera cari tahu, aku ingin masalah ini cepat selesai."


"Baik, tuan." Marvel sedikit menunduk sebagai bentuk konfirmasi.


"Sekarang, kau bisa keluar." ucap Carlos dingin.


"Baik, tuan." Marvel merapatkan kakinya dan menunduk dengan sopan untuk memberi hormat. Ia pun lalu keluar dari ruangan itu.


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Setelah selesai mandi, Loyisa tidak beranjak keluar dari kamarnya lagi. Ia begitu malu dengan situasi ini. Jantungnya masih berdegup kencang seperti genderang di dalam rongga dadanya. Loyisa menggigit ujung jari telunjuknya. Terus membayangkan apa yang diterimanya hari ini.


"Astaga...." Loyisa tersenyum sambil menutup wajahnya dengan ke dua tangannya sambil menendang-nendang kakinya di udara. Bibirnya mengulas senyum bahagia sambil menatap langit-langit kamarnya. lalu memegang lembut bibirnya. Lmatan itu masih membekas di sana. Masih terbayang nyata, bagaimana Ethan memainkan bibirnya. Sungguh Loyisa tidak bisa melupakan kejadian hari ini.


"Ethan sangat pintar berciuman, apa sebaiknya aku belajar juga?" Loyisa terkekeh di ujung kalimatnya. ia sendiri menginginkannya lagi. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gemas. Ia masih tersenyum berkhayal. Wajahnya memerah malu. Senyumnya tidak bisa di ajak diam. Terus melengkung dengan perasaan yang menggelitik. Loyisa menyentuh lagi bibirnya dan merasakan ciuman itu masih membekas di sana.


Tanpa sadar Loyisa tertidur di sana. Ia sendiri sudah terjebak dengan sikap Ethan yang selalu berhasil membuatnya nyaman. Ia tidak lagi memikirkan makan malamnya. Loyisa hanya berharap malam ini akan ada mimpi yang Indah saja. Padahal ini baru pukul tujuh malam, Loyisa.


Loyisa benar-benar tidur terlelap hari ini. Ia seakan merasa berada di atas awan-awan. Tertidur telentang dengan tinggi bantal yang pas untuk mencari kenyamanan. Tiba-tiba nada dering dari handphone-nya berbunyi dengan nada panggil. Loyisa masih tertidur dan belum terusik pada bunyi pertama.


Dddrrrttt... Dddrrrttt....!


Loyisa mulai mengerutkan dahi,


Dddrrrttt.... Dddrrrttt....!


"Mmmm." Gumaman protes sudah mulai terdengar dari bibirnya. Ia mendengkus kasar dengan melepaskan rasa kesalnya.


Tangannya menelusuri seprei lembut dan mencari cari keberadaan ponselnya. Loyisa pun bangun dengan penuh keluh dan menggapai handphonenya. "Seharusnya handphone ini aku matikan," Gerutu Loyisa lalu memaksa matanya untuk melihat layar pipih itu.


Dddrrrttt.... Dddrrrttt....!


Hantu Casper is calling....


"Astaga, pak direktur benar-benar mengganggu tidurku saja," Loyisa membuang ponselnya saat melihat layar pipih itu. Ia kembali melanjutkannya tidurnya, mengganti posisi tidurnya dengan tengkurap. Tangannya menyelusup masuk ke dalam bantal. Ehmmm...Benar-benar sangat nyaman.


Panggilan itu berbunyi lagi, Loyisa mengeluarkan desahan kesal. " Haisssss....Pak direktur...." Loyisa menggeram dengan menggertakkan giginya. Ia mengganti posisi tidurnya dengan telentang dan duduk untuk meraih handphonenya. Ia menarik napas singkat, lalu menggeser tanda terima pada Handphone nya dan meletakkan ponselnya di telinganya.


"Selamat malam pak direktur. Ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya selembut mungkin dengan senyum indah di balik telepon. Padahal tadi, ia menggerutu dengan teleponnya.


"Loyisa kau dimana?"


"Kenapa pak?"


"Di rumah pak," ucapnya polos.


"Sudah satu jam aku di depan apartemenmu Loyisa, kau tidak dengar sedari tadi aku menekan bel di pintu apartemen mu ini?"


"Ha?" mata Loyisa terbelalak sempurna. "Bapak serius?"


"Sekarang buka pintunya."


"Buat apa pak?"


"Aku ingin masuk." Nada suara Axel sudah terdengar mulai meninggi.


"B-baik, pak." ucap Loyisa spontan mematikan handphonenya. Ia dengan cepat turun dari tempat tidurnya.


Loyisa seketika menarik napas dalam-dalam, "Kemana Ethan? Apa dia tidak di rumah?" Loyisa menatap jam dinding yang ada di kamarnya. "Oh my God. Ternyata aku sudah tertidur satu jam?" Beberapa detik kemudian setelah mentalnya siap, Loyisa akhirnya keluar dari kamarnya.


Tap...tap ...tap...


Tap...tap...


Tap...


Langkah Loyisa tiba-tiba pelan dan berhenti di sana.


DEG!


Jantungnya terpukul kencang dan sangat kencang saat melihat Ethan berdiri di depan pintu apartemen dengan posisi bersedekap. Loyisa membuka mulutnya dan sedikit terkejut. Postur tubuh Ethan begitu tegap. Raut wajahnya terlihat kaku dan dingin. Ethan menyadarinya, namun tak kunjung membalikkan badannya. Loyisa menarik napasnya lagi, melangkah pelan sambil memandang punggung Ethan yang masih berdiri di sana. Lalu berdiri dengan jarak dua meter.


"Kak, kenapa tidak membuka pintu?"


Ethan hanya diam, tak langsung menjawab. Ia hanya terus berdiri di sana seperti seorang aparat yang menjaga keamanan rumah dari pencuri yang ingin masuk.


"Kak, pak direktur ada di luar dan aku ingin menemuinya." kata loyisa dengan ragu.


"Kau tidak boleh membuka pintu itu."


Loyisa mengerutkan keningnya, menatap Ethan dengan heran. "Heuh? Kenapa kak?"


"Aku sudah menegaskan perasanku kepadamu. Jadi, sekarang kau milikku. Kau mengerti?"


Loyisa menarik napasnya lagi, mengulum senyum karena Ethan tenyata cemburu kepada Axel juga. Loyisa bersikap tenang dan memberikan pengertian lagi. "Tapi kak, pak direktur ingin bicara masalah pekerjaan saja."


"Aku tidak perduli, biarkan saja dia."


Loyisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa tidak enak dengan pak direktur yang sudah satu jam menunggu di luar. "Jika kakak, tidak ingin melihatnya. Biarkan aku bicara dengannya di luar saja. Kasih aku waktu sepuluh menit saja. Ehmm..." Loyisa memelas sendu. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


"Tidak, kau tidak boleh menemuinya." ucap Ethan dengan tegas.


"Aku mohon kak, dia sudah ada satu jam di luar. Jika dia bukan direktur tempatku bekerja, ya sudah biarkan saja dia. Tapi ini?" Loyisa menggantung kalimatnya saat mendengar Axel kembali menekan bel berulang kali. Mungkin kesabaran Axel sudah habis.


Wajah Loyisa mengerut, tatapannya memohon jelas terlihat di wajahnya.


"Loyisa, kenapa lama sekali membuka pintunya. Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu. Aku tahu kau ada di sana. Buka pintunya, Loyisa!"


Loyisa memijit pelipisnya sambil menunduk lesu. Ethan menatap pintu itu dengan senyum penuh kemenangan. Ia lalu menatap ke arah Loyisa lagi sambil berjalan mendekati Loyisa yang menunduk di sana. Dengan gerakan cepat Ethan menangkup pipi Loyisa, mengangkat wajahnya ke atas agar melihat kearahnya. Wajahnya mereka semakin dekat.


"Kau sekarang milikku, Loyisa."


Deg deg deg deg....!


Jantung Loyisa semakin berdebar-debar. Mata mereka bertemu, hembusan napas kini ke wajah satu sama lain. Ethan menyeringai tipis. Tangannya dengan cepat menjalar hingga ke tengkuk Loyisa. Saat tiba di belakang tengkuk Loyisa. Loyisa merasakan kepalanya di dorong ke depan dengan lembut. Ethan membuka sedikit bibirnya dan mencium Loyisa lagi.


Jantung Loyisa berdetak kencang. Bagian yang tidak bertulang saling menari lembut di dalam sana. Loyisa masih gugup, napasnya terdengar naik turun karena tidak bisa menahan segala rasa yang bergelora di dalam dadanya. Benar-benar membuat tubuhnya mengejang dan keram. Desahan-desahan yang keluar dari mulut Loyisa, seakan membuat Ethan lebih bersemangat lagi. Ia semakin memperdalam ciumannya. Mereka tak perduli dengan Axel lagi.


Ethan akhirnya menarik wajahnya dan ciuman mereka pun terlepas. Ethan tersenyum dan mengusap salivanya yang menempel di bibir Loyisa. Lalu mengusap pipi Loyisa dengan jempolnya berkali-kali. Sementara Loyisa mencoba bersikap tenang dengan adegan tegang singkat itu. Walau debaran jantungnya tidak bisa ia diamkan di dalam dadanya.


"Aku mencintaimu Loyisa, aku mencintaimu." Bisik Ethan di sela-sela desahan napasnya.


DEG!


BERSAMBUNG


❣️ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu πŸ€—


πŸ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN VOTEMU πŸ’Œ


πŸ’Œ BERIKAN BINTANGMUπŸ’Œ