
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
" Sekarang tidurlah, kakak akan menjagamu di sini. " Kata Ethan dengan tatapan lembut.
Loyisa hanya mengangguk lemah, ia memejamkan matanya agar bisa tidur. Sementara Ethan menatap Loyisa dengan lekat lekat. Perasaan yang sama bahkan tidak berubah.
" Semoga lekas sembuh Loyisa! " Ucapnya seraya membelai rambut Loyisa dengan sayang.
Ethan meninggalkan kamar Loyisa ketika ia benar benar tertidur. Ia membersihkan rumah dengan cepat sebelum waktu makan siang.
Ia melihat jam menunjukkan pukul 10.35 wib.
Ethan menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Ia mengedarkan pandangannya, tersenyum puas dengan hasil kerjanya, ia melihat keadaan rumah sudah rapi dan bersih.
Saatnya ia melihat Loyisa, tangannya memegang kenop pintu ingin masuk. Namun Ethan mengurungkan niatnya. Ia mendengar percakapan Loyisa dengan seseorang.
" Tolong cari tahu secepatnya, berapa pun akan aku bayar. Jangan cemaskan masalah uang. Dua hari lagi aku akan kembali untuk melihat keadaan rumahku. "
Ethan diam membeku, mendengar jelas percakapan itu. Tiba tiba ia tersentak Ketika mendengar teriakan dari Loyisa.
" Cari tahu tato kepala naga, apapun caranya. kau mengerti? "
Terdengar hening, pembicaraan tidak ada lagi. Ethan menarik napasnya dalam dalam. sekarang yang ia lakukan hanyalah bersikap biasa saja, seolah tidak mendengar percakapan itu.
TOK TOK TOK
Ethan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tiga kali. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Ethan mendorong setengah pintu, dan memasukkan setengah badannya untuk melihat keadaan Loyisa.
" Masuklah kak...! " Sahut Loyisa melihat Ethan hanya menunjukkan setengah badannya. Loyisa tersenyum dan kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
" Kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu? " Tanya Ethan melangkah mendekati tempat tidur Loyisa. Tangannya menempel ke kening Loyisa.
" Panasmu sudah turun, kau mau makan? "
" Aku belum lapar kak. " kata Loyisa memiringkan badannya agar menghadap Ethan.
Tiba tiba terdengar bunyi bel apartemen berbunyi, Loyisa dan Ethan mengerutkan keningnya. Mereka saling berpandangan.
" Kita tidak pernah ada tamu kak, siapa itu? " wajah Loyisa seakan minta penjelasan kepada Ethan.
Ethan hanya menaikkan bahunya.
" Biar aku buka, sekarang kau bisa istirahat lagi. " Kata Ethan tersenyum lembut. Ethan keluar dari kamar Loyisa dan langsung menuju pintu utama.
Ethan kembali mengerutkan keningnya. Dihadapannya berdiri sosok yang ia temui di mall satu bulan yang lalu. Begitu juga dengan Alex tidak bisa menutupi rasa terkejutnya, ketika melihat sosok Ethan yang membuka pintu untuknya.
" Kau? " Ethan akhirnya membuka suara.
" Saya rasa ini benar alamatnya, tetapi kenapa kau yang membuka pintu? "
" Saya yang punya rumah ini." jawab Ethan menunjukkan sikap santai, ia tersenyum smrik melihat ke gugupan lelaki itu. Ethan belum mempersilahkan tamunya masuk.
" Bukan kah ini kediaman Loyisa? " Alex menautkan kedua alisnya.
" Kami tinggal di atap yang sama. "
" Apa? " Alex sedikit meninggikan suaranya.
" Ya, kami tinggal di tempat yang sama dan Loyisa adalah..." Ethan tidak bisa melanjutkan kata katanya karena Loyisa sudah datang.
" Siapa kak? " tanyanya mendekati pintu.
Ethan melihat ke belakang mendapati Loyisa menyusulnya. Sepersekian detik wajah Ethan berubah.
Loyisa mendekati pintu, dan terkejut melihat siapa yang datang.
" Bapak direktur? " Loyisa terbelalak, ia tidak percaya. " Bapak buat apa datang ke sini? " tanya Loyisa.
" Apa aku tidak bisa berkunjung ke rumah karyawan ku sendiri? "
" Ini terlihat aneh saja pak, saya hanya pegawai biasa saja. " kata Loyisa.
" Bisakah saya masuk, seorang direktur di biarkan berdiri disini." Kata Alex protes.
" Oh maaf pak, silahkan masuk pak...! " Kata Loyisa mengulurkan tangannya untuk mempersilahkan tamunya masuk.
Sementara Ethan diam tanpa ekspresi.
" Kau sekretaris ku, jadi wajar atasan melihat karyawannya. Kau sakit apa, sampai tidak masuk kantor? " kata Alex mencondongkan tubuhnya agar mendekat dengan Loyisa. Ia menyentuh kening Loyisa dengan lembut. Loyisa menjauh kan wajahnya, namun dengan cepat Alex menyentuhnya membuat Loyisa tidak bisa menghindar.
" Badanmu masih panas, apa kita ke dokter saja? " Alex menunjukkan perhatian bukan karena ia direktur tapi seorang Lelaki yang mencintai Loyisa.
Ethan tidak nyaman, ia akhirnya memilih masuk ke dalam kamarnya.
" Mau ke mana kak? " Tanya Loyisa merasa tidak enak ketika Ethan meninggalkan ruangan.
" Kakak ke kamar dulu Loyisa, lanjutkan pembicaraan kalian. " kata Ethan memaksakan wajahnya untuk tersenyum.
Alex terlihat berbinar, lelaki yang pengertian. Ia kembali menatap Loyisa.
" Bapak seharusnya kembali lagi ke kantor, saya sudah baikan kok pak. Tidak usah mencemaskan saya pak, apalagi saya hanyalah karyawan biasa saja." Kata Loyisa berusaha meyakinkan direktur yang duduk di depannya.
Alex terkekeh, ia menatap Loyisa dengan tatapan penuh cinta, yang siap merobohkan benteng pertahanannya. Loyisa mengalihkan pandangannya, ia tidak nyaman, bahkan tidak menginginkan tatapan itu.
" Apa kau berpikir aku hanya batas atasan dengan karyawan sekretaris saja Loyisa? "
DEG
" Bapak lebih baik pulang saja, saya mau istirahat. " Loyisa sudah bangkit, agar Alex bisa membaca gestur tubuhnya. Namun Alex tak bergeming, ia tersenyum miring melihat ke gugupan Loyisa.
" Kenapa wajahmu tegang? "
" Saya tidak tegang pak, saya hanya tidak nyaman jika bapak datang ke sini hanya untuk melihat karyawan biasa seperti saya ."
Hahahahaha
" Loyisa.. Loyisa...Aku semakin Menyukaimu, aku menyukai semua tentangmu Loyisa. " Kata Alex mendekatkan wajahnya kepada Loyisa.
" Apa yang bapak lakukan...? " kata Loyisa gugup. Ketika wajah mereka semakin dekat.
" Ingin membuktikan bahwa aku ke sini bukan memegang statusku sebagai direktur tetapi seseorang yang mencintaimu. "
Mendengar itu, Loyisa mengedipkan matanya berubah kali.
" Tapi saya karyawan anda pak, status sosial kita sangat berbeda."
" Benarkah? Bagaimana kalau saya menganggapmu berbeda? Aku bisa membuat hidupmu bahagia bahkan seluruh hatiku akan ku berikan hanya untukmu loyisa. "
" Maaf pak, saya tidak bisa. " Loyisa langsung membuang mukanya.
Alex tersenyum, semakin tertarik dengan gadis yang berdiri didepannya.
" Apa kau menyukai lelaki itu? "
" Siapa? kak Ethan? " Wajah Loyisa berubah, ia memalingkan wajahnya.
" Apa benar dugaan ku Loyisa? "
" Sudahlah pak, jangan tanyakan masalah pribadi. Lebih baik bapak kembali ke kantor lagi, saya ingin istirahat. " Kata Loyisa merubah raut wajahnya seperti orang sakit.
" Aku tidak akan menyerah Loyisa, aku yakin kau akan datang sendiri kepadaku. "
" Astaga percaya diri sekali pria Casper ini." ucap Loyisa dalam hati.
" Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga besok kau bisa kembali masuk kerja. " Kata Alex penuh harap.
" Terima kasih pak, atas kunjungannya.." Ujar Loyisa tersenyum lebar.
" Maaf tidak membawa buah tangan tadi, karena aku terlalu mencemaskanmu. Jadi melupakan semua. "
" Oh tidak apa-apa pak, jangan terlalu di pikirkan. Saya memakluminya. " Jawab Loyisa memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
" Kalau begitu saya permisi. "
" Silahkan pak! " Kata Loyisa mengantar tamunya sampai di depan apartemen.
Ia membuang napasnya, sedikit lega melihat kepergian direkturnya itu.
Loyisa berbalik dan kembali masuk , Ia begitu terkejut ketika mendapati Ethan sudah berdiri di depannya.
Reflek ia melompat kaget, ia sangat terkejut sampai menyentuh jantungnya yang hampir saja keluar.
" Astaga kak, kau mengagetkanku! " Ekspresi Loyisa sudah berubah cemberut. Namun Ethan masih menunjukkan sikap serius. Ia menatap Loyisa dengan lekat, Ethan mendengar semua pembicaraan Loyisa dan lelaki itu.
Loyisa terkejut melihat tatapan Ethan yang siap meruntuhkan jantungnya.
" Kenapa kak? Kenapa menatap ku seperti itu? " Tanya Loyisa tidak nyaman.
" Siapa lelaki yang di katakan pria itu? "
" Lekaki? Apa maksud kakak? aku gak mengerti? "
" Apakah aku lelaki yang kau sukai itu? " kata Ethan cepat.
DEG DEG DEG
jantung Loyisa berdebar kencang, terpompa dengan durasi begitu cepat sampai membuatnya tidak bisa bernapas. Loyisa mundur sampai ke dinding.
" Apakah aku lelaki itu Loyisa? " Ethan semakin mendekatkan tubuh Loyisa, menghimpit tubuh gadis itu sampai ke dinding. Kakinya dengan cepat menutup pintu apartemen.
Mata Loyisa membulat kaget, dengan gerakan yang tiba tiba ia dapatkan. Napasnya tidak karuan, hembusan napas Ethan semakin terasa ke wajahnya. Mereka semakin dekat, Loyisa tidak bisa kabur, ia hanya bisa menutup matanya erat.
Ethan menatap wajah Loyisa, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membiarkan perasaan ini. terlalu sakit untuk memendam semua ini. Ia akan memberikan cintanya buat Loyisa.
Jarak mereka semakin dekat. Loyisa menelan salivanya, tubuhnya semakin gemetar.
DEG
DEG
DEG
DEG
π
π
BERSAMBUNG
.
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMU