
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN.
Setelah melalui malam-malam yang cukup berat. Perasaan haru diakhiri dengan perasaan lega membuat beban berat di dalam dada hilang saat itu juga. Setelah memberikan pengertian kepada Ethan akhirnya ia mendapat persetujuan dari kekasihnya itu. Loyisa tersenyum sambil melangkah memasuki kantor CityGroup setelah dua hari tak masuk ke kantor. Ia terus tersenyum saat mengingat malam itu.
KEJADIAN MALAM ITU.
Tak beberapa lama Ethan menarik wajahnya. Dahi mereka masih saling menempel. Mereka sama-sama merebut oksigen untuk memenuhi paru-paru. Terlebih Ethan, ia hanya menatap ke bawah dengan napas yang terengah-engah yang keluar dari mulutnya yang mendesah. Pegangannya masih pada tengkuk Loyisa. Suara napas Ethan seperti menangis. Ia sangat takut kehilangan Loyisa. Sejujurnya ia tidak siap jika itu terjadi. Mata Ethan penuh dengan air bening yang terkumpul dan siap terjatuh.
"Kak Ethan," panggil Loyisa saat menyadari Ethan sedang menangis. "Maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Hatiku juga sakit melakukan ini. Tapi aku tak bisa membiarkan ini lagi, setelah bertahun-tahun menunggu. Aku siap membalaskan semuanya kak."
Ethan mengangkat wajahnya dengan mata mengedip cepat. Ia masih memegang tengkuk Loyisa dan memberikan remasan pelan. "Aku sangat takut jika itu benar-benar terjadi Loyisa. Kau pergi meninggalkanku. Sungguh itu seperti mimpi buruk untukku." Suara Ethan serak dan parau. Ia semakin memajukan wajahnya. Menempelkan hidung mereka dan membuat Loyisa merasakan napas satu sama lain. Posisi mereka masih sama-sama terduduk di lantai.
"Aku tahu, aku tahu kau terluka." Kata Loyisa memejamkan matanya. Air matanya ikut terjatuh juga. Loyisa memeluk Ethan. Memeluk pria itu dengan erat.
Ethan pun langsung merespon dan membalas memeluk Loyisa. Dengan bibir bergetar ia berucap. "Aku mohon jangan lakukan itu lagi."
"Hmm, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menjaga cinta ini sampai kau benar-benar membawa hubungan kita ke janji suci pernikahan. Jadi kau juga harus berjanji untukku."
"Tentu saja Loyisa, sampai semua ini selesai. Kita akan menikah."
Loyisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ada rasa haru menggerogoti batinnya. Ia tidak lagi harus bersandiwara untuk memainkan perannya yang membuatnya menderita juga. Ia semakin memajukan dirinya. Ia bisa merasakan tubuh Ethan yang bergetar. Loyisa semakin mengeratkan pelukannya. Berharap setiap pelukan itu dapat memperbaiki hati Ethan yang terluka.
Bersama mereka terdiam dengan posisi itu tanpa berucap. Setelah lima menit terlewatkan, Loyisa melepaskan pelukannya dan mencairkan suasana beku ini. Spontan Ia mencubit lengan Ethan.
"Ohwww...." Mata Ethan terbelalak kaget saat cubitan Loyisa begitu sakit sampai menembus hatinya. Ia menghapus cepat sisa-sisa air matanya dan menatap Loyisa dengan tatapan penuh tanya. "Apa ada apa Loyisa?"
"Kau mengenakan kemeja ini, tanpa di cuci kak?" Loyisa mengerutkan keningnya dan menatap Ethan. Bibirnya mengerucut dan matanya melotot tajam dan siap mlumat Ethan.
Loyisa memang membelikan baju itu, satu hari sebelum Valentine. Ia diam-diam meletakkannya di atas nakas yang ada di kamar Ethan.
"Bukannya kau beli ini khusus untuk hari valentine?'' bantah Ethan.
"Benar, tapi kau tidak harus menggunakannya hari ini juga kak." protes Loyisa dengan mata mendelik tajam.
"Tapi aku mau menggunakan baju ini tepat di hari valentine dan hari ini benar-benar hari spesial untuk semua pasangan kekasih." Ethan menaikkan alisnya dengan senyum seringai tipis.
"Astaga.... beruntung aku yang menjadi kekasihmu kak. Jika orang lain. Aku sudah memberitahukan bagaimana kau sebenarnya." Sinis Loyisa sambil menggelengkan kepalanya.
Ethan terkekeh. "Tapi aku beruntung, kekasihku itu adalah kau..."Ethan mencubit hidung Loyisa. "Dan kau sudah tahu sedikit banyaknya tentang diriku. Ehmmm...Ethan Alcander ya seperti ini. Apa adanya. Apa kadar cintamu langsung berkurang setelah melihatku seperti ini?"
"Cih...tentu saja cintaku bertambah banyak, apalagi saat melihat pria menangis untuk wanita yang dicintainya." kata Loyisa mengulum senyumnya. Ia menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah.
"Hahahaha...." Ethan tertawa. "Itu karena aku sangat mencintaimu. Semua tentang dirimu aku sukai Loyisa."
Loyisa lagi-lagi tersenyum malu. Ia mengangguk sambil mengerucutkan wajahnya. "Apa bunga dan coklat itu untukku?" Ia menunjuk dengan dagunya ke arah meja.
"Hmm, itu bunga dan coklat untukmu." Ethan tersenyum dan bangun dari duduknya. Ia membawa tangan Loyisa duduk ke kursi sofa.
Ethan mengambil bunga itu dan memberikannya kepada Loyisa lalu berucap. "Kau tahu Loyisa, sejak kapan aku mulai mencintaimu?" tanya Ethan dengan tarikan napas panjang.
Loyisa mengetuk jari ke dagunya. Membuat gestur berpikir. Beberapa detik Kemudian ia menggeleng karena tak menemukan jawabannya. "Aku tidak tahu."
"Saat kau menangis melihat ibuku sakit. Aku melihat ketulusan hatimu saat itu. Dengan penuh kesabaran kau mengurus ibu. Kau Loyisa yang ceria, walau aku tahu kau menyimpan banyak luka. Kau tak pernah menujukkan kesedihan itu. Cinta ini bertambah banyak dan bertumbuh indah setiap hari di dalam hati ini. Aku semakin terjebak dan semakin mengagumimu." Ethan membawa tangan Loyisa ke dadanya. Agar Loyisa bisa merasakan degup jantung di dalam sana.
Loyisa tersenyum dan memejamkan matanya. Hatinya bergetar saat merasakan debaran-debaran itu.
"Kau bisa merasakannya?"
"Hmm."
Loyisa menutup mulutnya dengan tangannya. Ia terharu saat mendengar kalimat itu. Kata-kata indah jelas dari dalam hati Ethan yang sejujurnya. Mata Loyisa sudah berkaca-kaca. "Selamat hari Valentine juga kak."
Tangan Ethan bergerak mengeluarkan cincin dari tangan Loyisa. "Aku memang tak bisa memberikan cincin seindah ini. Aku hanya bisa memberikan hatiku. Maukah kau menerima hatiku Loyisa?"
"Hatimu lebih berharga dari cincin ini. Cinta tak bisa dikorbankan hanya karena memiliki cincin ini." Lanjut Loyisa dengan senyuman indah.
"Terima kasih karena telah mengerti."
"Jadi...? Apa aku besok bisa bekerja kak?" tanya Loyisa dengan nada hati-hati.
Raut wajah Ethan langsung berubah. "Aku sudah katakan berhenti bekerja dari CityGroup. Apa kurang jelas Loyisa?" Ethan menegaskan kalimatnya.
"Tapi kak?"
"Tidak ada tapi...tapi...Aku tidak mau kau berhubungan dengan Axel lagi."
Tangan Loyisa langsung mengatup di depan dadanya. "Please dong sayang, aku harus tetap bekerja. Hmmm.." Tatapan Loyisa memelas sendu.
"Cih...sayang? Kau sengaja memanggilku sayang. Aku tetap tidak akan mengubah pikiranku."
"Bagaimana kita bisa mencium gelagat musuh kalau tidak langsung terjun ke dalamnya. Aku bisa bersandiwara kak. Ini adalah peluang terbaik. Biarkan aku menjalankan perananku."
Ethan tersenyum sinis. "Menjalankan peranan, jadi kau harus rela dicium Axel?"
"Aku akan berusaha menghindar jika dia ingin menciumku. Kau lihat sendiri kan? Aku jago bela diri kak."
"Aku tidak percaya. Kau tetap berhenti. Soal mencium musuh, aku punya sahabat yang bisa memecahkan masalah kita."
Loyisa mengembuskan napasnya dengan kasar. Ternyata jika Ethan cemburu sangat susah membujuknya. Butuh kesabaran ekstra untuk hal itu. "Kak, jangan seperti itu. Jika aku berhenti. Axel akan curiga. Untuk sementara biarkan seperti ini dulu."
"Jadi kau kembali menggunakan cincin ini, begitu?" Tatapan Ethan begitu mengintimidasi.
"Hmmm, hanya sementara. Cincin ini akan kukembalikan kepada pak direktur."
Ethan mengusap wajahnya dengan kasar. Semua yang dikatakan Loyisa ada benarnya juga. Mungkin untuk sementara Ethan harus mengalah dan ikut memainkan peran ini. "Baiklah, dengan satu syarat. Kau tidak boleh di cium, kau mengerti?"
Wajah Loyisa langsung berbinar bahagia. "Terima kasih kak." Ia kembali berhambur memeluk Ethan.
Loyisa melepaskan lamunannya. Ia tersenyum menyusuri koridor kantor. Bunyi langkahnya menggema bersamaan dengan sepatu heels yang digunakannya. Ia langsung ke pantry menyiapkan kopi untuk pak direktur. Tak butuh lama, Loyisa membawa baki yang berisikan kopi dan cemilan ringan untuk Axel.
TOK TOK TOK!
"Permisi pak, saya bawakan kopi anda." Loyisa mengintip di ujung pintu. Ia membuka daun pintu lebih lebar lagi.
"Daddy datang ke sini hanya untuk melihat sekretarisku?"
DEG
DEG
DEG
Tatapan Loyisa yang awalnya turun tiba-tiba terangkat saat mendengar kata 'DADDY'. Jantungnya langsung terpukul kencang saat melihat wajah Carlos yang selalu diingatnya bahkan sampai matipun ia akan terus mengingatnya.
.
.
JENG... JENG...JENG!
BERSAMBUNG
โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐๐ ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐