Retaliation

Retaliation
Melanjutkan yang tertunda.



💌 RETALIATION 💌


 


🍂


🍂


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


Di kantor perusahaan CityGroup.


Loyisa bangun dari duduknya. Ia berdiri di depan dinding kaca yang menyajikan langsung pemandangan kota new York. Loyisa menghela napas panjang. Gerimis turun di luar sana dan Ia memandang lewat dinding kaca transparan yang membatasinya dengan dunia luar kantornya. Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, dua jam lagi waktu untuk pulang.


Hari ini tidak banyak pekerjaan di kantor. Loyisa hanya duduk dan memandang laptopnya. Ia menyusun strategi untuk menghancurkan keluarga Davis. Ia sendiri membuat coretan-coretan kecil di atas kertas. Loyisa memandang rintik hujan yang jatuh dan menatapnya sampai ke bawah. Air hujan mendarat mulus tanpa hambatan di halaman kantor yang cukup jauh jaraknya darinya. Ia berada di ketinggian gedung itu. Bila ia berdiri di sini, Loyisa selalu merasa ia semakin dekat ke langit. Ruangannya yang ada di lantai 12 membuatnya semakin menikmati langit.


Dan langit favoritnya adalah langit senja karena memberi warna yang sangat indah. Saat ini langit tidak terlihat jelas karena air hujan yang lelah berdiam dalam awan. Loyisa tersenyum menatap awan putih di atas langit.


TOK TOK....!


"Permisi..!" Seorang lelaki mengetuk meja kerja Loyisa sampai dua kali.


Loyisa segera membalikkan badannya dan melihat siapa yang datang. "Oh, pak Alber."


"Saya membawakan teh pesanan anda sekretaris Loyisa."


"Oh...iya...taruh saja di atas meja pak." ucap Loyisa kepada lelaki ramah itu.


Pak Alber adalah adalah seorang office boy yang ditugaskan untuk membersihkan dan merapikan meja, kursi, komputer dan menyediakan minuman untuk karyawan. Jika diperlukan mereka juga mengirim atau mengambil dokumen antar divisi.


"Terima kasih ya pak," ucap Loyisa seramah mungkin.


"Sama-sama sekertaris Loyisa, kalau begitu saya permisi dulu." Lelaki itu sedikit membungkukkan badannya, lalu bergegas pergi sambil memeluk baki yang dipegangnya.


Loyisa menghela napas singkat dan kembali bernostalgia saat berada di desa Woodstock. Banyak kenangan yang ia dapatkan di sana. Kasih sayang dan perhatian dari orang tua yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri. seketika matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia sangat merindukan mereka. Loyisa sangat suka langit, dari dulu ia selalu menatap langit pagi hari, siang, senja dan malam. Apalagi jika itu bersama Ethan. Hari-harinya semakin bermakna. Apalagi jika saat musim salju pertama datang. Loyisa rela membuka kaca jendela kamarnya dan membiarkan salju pertama turun ke tangannya. Itu momen yang sangat membahagiakan. Ia suka salju karena bisa merasakan serunya bermain salju. Ia bisa bermain seluncuran, bisa lempar-lemparan salju, membuat boneka salju, menikmati hujan salju dan foto-foto selfie juga. Setiap hari juga bakal ada sesi meet and greet beruang lucu yang sangat menggemaskan di sini.


Hem… Loyisa menarik napasnya dalam-dalam. Sedikit melupakan dendam yang sudah berkarat di dalam hatinya. Ia sekilas melirik ke meja kerjanya. Secangkir teh hangat tergeletak manis di meja kerjanya. Aromanya menggelitik hidung dan membuat Loyisa terganggu menikmati langit dan hujan. Ia berjalan ke meja kerjanya dan meraih secangkir teh itu, aromanya semakin menyeruak ke hidungnya.


Loyisa menyeruput secangkir teh hangat.


"Hemmm..." Loyisa bergumam nikmat saat teh hangat itu masuk ke tenggorokannya. Teh hangat dapat memberikan sensasi tenang dan merilekskan tubuhnya. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya.


Loyisa kembali melangkah menuju dinding kaca tempatnya berdiri tadi, ia membawa secangkir teh hangat di tangannya dan kembali menikmati langit dan hujan plus secangkir teh hangat. Loyisa kembali tersenyum, di usianya yang sekarang ini kenangan adalah hal yang paling sering menjadi senyumannya. Banyak teka-teki perjalanan hidup yang harus di jawabnya. Bahkan teka-teki itu sangat sulit di jawab. Lebih sulit dari pertanyaan penguji saat ujian sarjana. Bagaimana Loyisa bisa menjawabnya sedang ia sendiri pun bertanya dan belum mendapatkan jawaban.


Teka-teki itu akhirnya terjawab sudah. Loyisa kembali meneguk teh hangat yang ada di tangannya. Langit masih buram dengan air hujan. Sekilas kenangan muncul di pikirannya masa itu saat Loyisa kuliah di semester akhir. Ia mengenal sesosok pria yang lucu dan baik. Mirip sekali dengan kakaknya Kendrick. Dia selalu membuat Loyisa tertawa. Sampai Loyisa melihat dirinya seperti Kendrick sendiri. Setiap lelaki itu ada di sisinya, ia merasa seperti seorang adik yang diperhatikan.


"Ahhhh....." Loyisa tersenyum hingga ia tidak menyadari teh hangat yang ada di cangkirnya habis. "Cih..." ia berdecak sambil melangkah kembali ke mejanya.


Hari ini pak direktur lagi keluar, Axel tak mengizinkannya ikut dan membiarkan Loyisa menunggu di kantor saja. Sembari menunggu pak direktur mungkin Loyisa menyempatkan waktunya untuk menghubungi ibu Hana dan pak Bernadus.


Tut...tut...tut...!


Panggilan tersambung dan terdengar suara bahagia di ujung telepon menyapa Loyisa.


"Hallo... Loyisa? sayang? Lama tak menelepon. Apa kabar sayang? natalan ini pulangkan?"


"Ah, maaf ibu. Apa kabar? pak Bernadus sehat 'Kan?"


"Sangat baik sayang. Tidak perlu minta maaf nak. Berandus juga sehat. Setiap hari dia meninggalkan ibu." Terdengar decakan kesal diujung telepon.


"Apa pak Bernadus masih sering main catur ibu dan sering pergi ke perkebunan, bu?" tanya Loyisa tersenyum teduh sambil memainkan pulpennya di atas meja.


"Apalagi kalau bukan ke sana sayang. Semenjak dia pensiun, aku juga tidak bisa melarangnya. Pekerjaannya itu katanya membuat ia bahagia. Pikirannya juga tenang saat berada diperkebunan. Jika itu yang membuatnya senang. Ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa."


Loyisa tersenyum lagi. "Ibu seorang yang baik hati. Itulah pak Bernadus sangat mencintai ibu."


"Bagaimana pekerjaan kalian. Kau tidak menjawab pertanyaan ibu. Apa natalan nanti kalian pulang sayang?" tanya Hana dengan lembut.


Hana mendesah panjang, "Pekerjaan terkadang membuat kalian sibuk dan jarang menghubungi ibu. Padahal kami begitu merindukan kalian sayang. Ingat propesional tetap propesional, jangan terlalu lelah bekerja. Kau harus merawat dirimu. Aku dengar dari Ethan kamu sakit lagi."


Loyisa mengeluarkan suara desahan sambil tersenyum. "Iya, ibu. Aku akan menjaga kesehatanku."


"Jadi benar kau sakit?" tanya Hana untuk memastikan.


"Hmm, aku sakit selama dua hari ibu. Tapi ibu tidak perlu khawatir. Ethan mengurus Loyisa dengan baik."


"Baguslah, ingat pesan ibu, jaga kesehatan. katakan juga kepada Ethan jaga kesehatan."


Loyisa tersenyum lagi. "Pasti bu. Saya akan mengatakannya kepada Ethan."


"Ethan dan kau sama saja. Kadang kalau sudah bekerja suka lupa waktu."


"Iya, ibu." Loyisa terkekeh saat mendengar nasehat ibu Hana.


"Ibu sangat menyayangi kalian sayang. Kau sudah aku anggap sepertii anak ibu sendiri. Pastilah seorang ibu menginginkan anak-anaknya sehat."


DEG...


Jantung Loyisa seakan terpukul kencang saat mendengar kata-kata sudah menganggap Loyisa seperti anak sendiri. Sesak yang menghimpit dadanya tidak bisa ia tutupi. Loyisa menarik napas dalam-dalam untuk mengambil pasokan oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya.


"Kau masih di sana sayang?" tanya Hana diujung telepon.


Loyisa tersenyum lagi. "Hmmm, kami juga sangat menyayangi ibu. Aku hanya menanyakan kabar kalian saja ibu."


"Kami sehat kok sayang." ucap Hana.


"Senang mendengarnya bu,"


"Kau masih di kantor?" tanya Hana.


"Iya bu. Aku menghubungi ibu dari kantor tempatku bekerja."


"Senang rasanya bisa mendengar suaramu."


"Senang juga bisa mendengar suara ibu. Sampai jumpa. Aku akhiri ya bu."


"Oke sayang...Bye..."


"Bye..."


Panggilan terputus.


Loyisa kembali menarik napas dalam sambil meletakkan kembali handphonenya di atas meja. Loyisa memakai make up minimalis bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar. Ia kembali merapikan rambutnya dan saat itu pula ia mendengar suara langkah kaki menggema di koridor menuju kantor pak direktur.


"Heuh... Apa beliau sudah pulang?" batin Loyisa segera menyimpan alat make-upnya ke dalam tasnya. Ia segera berdiri dan menyambut kedatangan pak direktur CityGroup itu.


Axel tersenyum saat melihat Loyisa sudah berdiri menyambut kedatangannya. Ia tersenyum melangkah ke arah meja Loyisa. Ia menatapnya dari atas sampai ke bawah. "Ehmm, hari ini kau sangat cantik. Apa aku menambahkan sesuatu ke wajahmu?" tanya Axel tersenyum menggoda Loyisa.


"Saya memang cantik setiap hari pak." ucap Loyisa tersenyum malu.


"Sekarang kau masuk ke ruanganku. Kita harus melanjutkan yang tertunda tadi." Ucap Axel mengerlingkan salah satu matanya. Ia meninggalkan Loyisa yang membeku ditempatnya. Matanya terbelalak dan hampir keluar.


BERSAMBUNG


❣️ SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI buat readers yang merayakannya dan selamat Memperingati hari kenaikan Isa Almasih juga. 😇🙏


❣️Salam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik. Tetap menerapkan protokol kesehatan ya.


❣️Jangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya 😍😘 🤗


💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌


💌 BERIKAN VOTEMU 💌


💌 BERIKAN BINTANGMU💌