
π RETALIATION π
Β
π
π
π HAPPY READING π
Ethan menatap wajah Loyisa, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi membiarkan perasaan ini. terlalu sakit untuk memendam semua ini. Ia akan memberikan cintanya buat Loyisa.
Jarak mereka semakin dekat. Loyisa menelan salivanya, tubuhnya semakin gemetar.
DEG
DEG
" Apa yang kau lakukan kak? " Kata Loyisa mencubit lembut perut Ethan, ia benar benar tidak nyaman dengan situasi ini.
Ouhhh..... Ethan meringis kesakitan.
" Aku harus istirahat, agar besok bisa bekerja. " Kata Loyisa mendorong tubuh Ethan dengan sekuat tenaga. Walau ia saat ini yang ia rasakan jantungnya terpukul kencang karena kedekatan mereka.
" Astaga Tuhan, jantungku hampir meledak. " kata Loyisa dalam hati. Ia berjalan meninggalkan Ethan yang terdiam di tempatnya.
" Hei, Loyisa kamu harus makan dulu ! " Ethan mencairkan suasana kaku di antara mereka. Ia menepuk jidatnya, hampir saja hilang kendali mencium Loyisa.
" Makan dulu Loyisa...! " ucap Ethan menarik kembali tangan Loyisa agar mereka bisa makan bersama. Tidak ada sahutan dari Loyisa, ia membiarkan Ethan mengambil makanannya. Memang ia tidak diizinkan untuk melakukannya. Alasannya karena ia sakit. Loyisa hanya bisa menatap Ethan. Ia tidak bisa terbuai dengan Ethan. Tujuannya datang ke sini hanya satu, untuk membalas kan dendamnya atas kematian orang tuanya. Setelah ia membalaskan dendamnya, ia kembali tinggal bersama ibu Hana.
Hening menyeruak di antara keduanya. Tidak ada yang bersuara, sementara Loyisa hanya memandangi piring yang berisi makanan. Ia masih belum bisa makan dengan baik.
" Besok apa kau nak ke suatu tempat Loyisa? " Tanya Ethan memancing Loyisa, karena ia mendengar pembicaraan Loyisa dengan seseorang tadi.
" Tidak kak, besok tujuannya hanya kekantor saja. "
" Oooohhhhh...." Kata Ethan menganggukkan kepalanya, Ia jelas mendengar jika Loyisa akan pergi. Ethan menarik napasnya dan kembali menikmati makanannya.
" Kamu belum menyentuh makananmu Loyisa? " Ethan mengerutkan keningnya.
" Aku tidak berselera kak. " keluh Loyisa.
" Apa kau ingin makan sesuatu? biar aku belikan. " tawar Ethan. " Siapa tahu kau menginginkan sesuatu Loyisa, lihat badanmu sudah sangat kurus. "
Loyisa menggeleng, Ia meneguk minuman.
" Mungkin karena masih pengaruh sakit kak. "
" Baiklah, sekarang setelah kau makan obat, kau bisa istirahat! " Kata Ethan menyimpan piring mereka ke wastafel.
" Aku ke kamar dulu kak." kata Loyisa.
" Ehm " Ethan hanya menjawabnya dengan gumaman.
Loyisa berjalan meninggalkan dapur. Ethan hanya bisa menatap punggung Loyisa. Ia membuang napasnya panjang. Hari ini ia gagal lagi. Gagal untuk mengungkapkan perasaannya. Ia tidak pernah segugup ini menghadapi wanita.
Loyisa berbeda dari wanita yang ia temui, Loyisa bahkan membuatnya tidak bisa bernapas karena merasakan gimana sakitnya memendam cinta.
Ethan bahkan menganggap dirinya terlalu jatuh cinta kepada Loyisa. Perasaannya tak terkadang tak tertahankan, terlalu menggebu-gebu namun tidak berani mengungkapkan dan Ia bahkan sampai membayangkan wajah Joevanka setiap hari.
Ethan mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia tidak sanggup untuk mengendalikannya.
Benar saja jatuh cinta dianggap layaknya seperti misteri dan hampir membuatnya seperti gila.
Ethan menghembuskan napasnya, Ia kembali duduk di sofa sambil menonton acara televisi. Ia sampai tidak tersadar tertidur di sana.
βββββ
Loyisa hari ini menjalankan misinya, ia kembali ke tempat kerumah tempat ia di besarkan dulu. Mencari tahu dokumen yang pernah di katakan daddy-nya. Ia masih ingat para Mafia bersikeras meminta dokumen itu sampai menghabisi orang yang dicintainya.
Rumah besar dan mewah yang masih ditutup garis polisi line. Rumah ini terlihat tak terurus. Loyisa tersenyum simpul. Jelas saja rumah ini tidak di urus, setelah kejadian itu, ia tidak tahu sampai sekarang keberadaan kakaknya.
Loyisa menjatuhkan air matanya. Ia melangkah memasuki pagar besar. Rumah ini mempunyai banyak kenangan bersama orang-orang yang di cintainya.
Ia merindukan masa-masa kecil dulu. Masa-masa yang telah lama Ia tinggalkan bersama kakaknya Kendrick. Masa kecil yang penuh kenangan, menyenangkan, dan kenangan yang menyakitkan tak pernah mau di kenang Loyisa. Tapi, tidak mungkin ia tidak mengingat, ia kembali untuk membalaskan dendamnya.
Loyisa masuk melalui pintu belakang. Ia membuka paksa pintu itu.
" Astaga susah sekali membukanya. " Loyisa terpaksa memecahkan kaca jendela dan memasukkan tangannya untuk membuka pintu dari dalam.
" Berhasil..." Loyisa tersenyum.
Pintu terbuka.
Loyisa mengibaskan tangannya ketika debu berterbangan.
Dapur ini? Biasanya ia sering main tepung tepungan jika Mommynya sedang buat kue. Potongan potongan kenangan itu kembali lagi. Ia berjalan memasuki ruangan keluarga, ruangan di mana keluarganya disekap, mommynya di perkosa. Ah... Loyisa tidak kuat, lagi lagi air matanya terjatuh kembali. Ia meninggalkan ruang keluarga dan langsung menuju kamarnya. Ah kamar yang ia tinggalkan terakhir kali masih seperti dulu. Masih rapi dan tidak berantakan. Hanya kamar ini berdebu. Loyisa memasuki kamar daddynya. Terlihat berantakan, nampaknya mereka mencari dokumen itu dan membiarkannya kamar ini berantakan.
" Dokumen apa yang mereka cari? " Loyisa tambah dibuat penasaran.
Siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu di kamar ini. Loyisa bergerak cepat untuk mencari dokumen penting itu. Ia bahkan mencari sampai tempat penyimpanan yang biasa disimpan daddynya.
" Tidak ada apa apa disini. "
Tiba tiba ia mendengar sesuatu, suara mobil sedang memasuki halaman rumahnya.
Loyisa hanya bisa mengintip dari balik gorden.
" Siapa mereka? "
Ia berjalan cepat ketika suara mobil berhenti.
" Sepertinya mereka tahu aku datang ketempat ini ? " Loyisa kaget dan berlari menuju dapur.
Ia lupa menutup pintu belakang. Dengan langkah cepat dan tergesa-gesa, Loyisa kembali ke dapur. Bisa dikatakan ia cepat kilat untuk menutup kembali pintu dapur dan membuang sisa sisa pecahan kaca jendela.
TAP TAP TAP
Langkah kaki seperti terburu buru terdengar memasuki pintu depan. Loyisa dengan cepat masuk ke dalam lemari untuk bersembunyi.
Ia mengatur napasnya, tangannya gemetar ketika langkah kaki itu mendekati lemari.
" Cari sampai dia ketemu! " perintah seorang lelaki kepada anak buahnya.
Tubuh Loyisa gemetar, keringat dingin langsung membasahi keningnya. Ia berusaha menahan napasnya agar tidak di ketahui.
" Tidak ada tuan! "
" Dari mana kau tahu seorang wanita masuk ke dalam rumah ini ? " Tanya seorang lelaki mengisap rokok nya.
" Saya memeriksa CCTV yang kita pasang tuan, terlihat seorang wanita masuk tuan setengah jam yang lalu kerumah ini, saya yakin dia putri dari Orlando. "
" Benarkah? " Anak buah Carlos tersenyum sinis. Sepertinya kita punya mangsa hari ini.
" Periksa semua ruangan, saya yakin dia ada dirumah ini. Dia kembali setelah beberapa tahun. Dia merindukan tempat ini, Hahahaha " pria itu tertawa.
" CCTV ? Mereka sengaja memasang CCTV ? " Batin Loyisa menggeram. Ia bahkan Mengepalkan tangannya.
" Saya yakin mereka ada, kartel Eagle yang aku cari. " Loyisa tetap terdiam ditempatnya. Jika memang persembunyian diketahui, ia bisa menyelamatkan diri.
" Kami tidak menemukan apa apa tuan. " Seseorang melapor. Loyisa mendengar dengan baik. Memasang telinganya untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
" Bukankah kalian yang mengatakan ada wanita itu masuk ke sini? Saya yakin dia masih berada di tempat ini, saya tidak mau tahu cari sampai dapat! "
" Setelah sekian tahun, dia kembali. Dia pasti mencari dokumen yang di simpan Orlando. Saya yakin itu." Kata anak buah Carlos dengan seringai jahat. " Cari kembali ! " titahnya pria itu tersenyum jahat.
" Baik tuan."
" Kita lihat apa kau bisa sembunyi? Hahahahahaha" terdengar tawa menggema di dalam ruangan itu.
π
π
BERSAMBUNG
.
.
.
πBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMUπ
π BERIKAN VOTEMU π
π BERIKAN BINTANGMUπ