Retaliation

Retaliation
Perasaan ini begitu bahagia.



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Musim gugur masih berlangsung. Daun-daun yang berjatuhan berubah warna dengan indahnya, kuning, coklat bahkan merah berpadu dengan sempurna. Terlihat romantis sekaligus cantik, memberikan nuansa yang berbeda dan hati pun terasa hangat. Musim gugur, cuacanya pun belum terlalu dingin walau sudah mulai berangin. Namun Loyisa masih menggunakan coat, boots dan juga syal. Loyisa menggunakannya juga saat berada di kantor juga. Senyum di bibirnya melengkung indah menghiasi wajahnya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Loyisa sudah menyiapkan alasan kepada pak direktur untuk izin pulang lebih cepat hari ini.


TOK TOK TOK....!


"Permisi, pak." Loyisa mengintip di ujung pintu.


"Hmm, masuk!" Ucap Axel menatap sekilas lalu kembali menatap laptopnya lagi.


"Ini berkas yang anda minta pak,"


"Letakkan saja di atas meja."


"Baik pak," Loyisa maju perlahan dan meletakkan berkas itu ke atas meja. Ia mundur beberapa langkah dan menatap pak direktur yang masih serius dengan pekerjaannya. Ia memegang telunjuknya. Rasa gugup menguasai Loyisa. Ia menatap pak direktur itu dengan senyum getir. Sikap Axel begitu dingin hingga membuat nyalinya ciut. Ia masih menunggu di posisinya. Menatap lelaki dengan mengerutkan dahi berpikir. Axel kembali terdiam, tidak memandang Loyisa sedikit pun di sana. Ia masih kesal atas kejadian dua hari yang lalu. Loyisa sama sekali tidak membuka pintu untuknya.


"Pak," Panggil Loyisa dengan lembut.


"Ehmm, katakan saja," ucap Axel sekilas tanpa memandang Loyisa. Ia kembali serius mengetik sesuatu di laptopnya.


Glek! Loyisa menelan salivanya, ia meremas tangannya sendiri. "Saya ingin izin pulang, pak." ucap Loyisa ragu-ragu.


Axel mengangkat wajahnya, alisnya naik dari pangkalnya. "Aku rasa ini bukan waktunya pulang, sekertaris Loyisa." Axel melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Maaf pak, tapi saya tidak mengatakan ini waktunya jam pulang. Tapi saya mengatakan izin pulang, pak." Kata Loyisa menjawab.


Axel tersenyum smrik, Ia meletakkan tabletnya di atas meja. Lalu menekuk siku dan melipat tangan di atas meja. Kini wajah dan tatapannya fokus melihat ke arah Loyisa.


"Apa kau tidak merasa bersalah Loyisa?" ucap Axel begitu dingin.


DEG!


Jantungnya seketika terpukul kencang di rongga dadanya. Loyisa menarik napasnya, menguatkan kembali batinnya agar bisa menghadapi pak direktur yang semaunya itu. "Maafkan saya sebelumnya pak, saya benar-benar tidak tahu bapak ada di luar."


"Bukankah aku sudah menghubungimu?" nada suara Axel sudah meninggi.


GLEK!


lagi-lagi Loyisa menelan salivanya begitu susah. Jantung Loyisa semakin berdegup kencang, ujung-ujung jarinya terasa dingin.


Axel tersenyum sinis sambil menaikkan alisnya setengah. "Kau tidak bisa menjawabnya, apa kau sengaja melakukannya?" Axel bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Loyisa.


Loyisa reflek mengibaskan tangannya, "Ma-maaf pak, bukan maksud saya seperti itu," wajahnya meringis seperti ingin menangis.


"Lalu? Kenapa kau tidak membuka pintunya. Setelah aku menghubungimu, aku masih menunggu sepuluh menit di sana. Apa kau sedang bermain-main padaku, Loyisa?"


Loyisa semakin meremas tangannya erat-erat, ia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia begitu gugup dengan situasi ini. Tatapannya begitu mengintimidasi, ini memang benar-benar kesalahannya. Kenapa ia kalah saat Ethan menciumnya kembali. Loyisa lupa turun saat ciuman itu membuatnya serasa terbang ke awang-awang. Ia benar-benar terhanyut saat itu.


"Lihat, kau tidak bisa menjawabnya,"


"Maafkan saya pak, saya sungguh-sungguh minta maaf." Loyisa membungkukkan badannya berulangkali.


"Apa Ethan sialan itu yang melakukannya Loyisa?" Tanya Axel dengan mata memicing.


"Tidak pak," Loyisa menjawab cepat, saat Axel mengatai Ethan. Sungguh ia tidak mau melibatkan Ethan di sini. Walau pelaku sebenarnya adalah Ethan sendiri.


"Kenapa kau begitu takut, saat aku mengatai lelaki itu?" Axel berbisik tepat di telinga Loyisa. Hembusan napas Axel membuatnya bergidik dan semakin menciptakan ketidak nyaman itu. Loyisa sampai menahan napas di sana.


Dddrrrttt.... dddrrrttt.... dddrrrttt....


Tiba-tiba panggilan dari handphone Axel berbunyi, mengalihkan perhatian mereka melihat ke arah handphone yang bergetar di atas meja.


"Handphone bapak berbunyi pak," ucap Loyisa tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Rasanya ingin kabur dari sana.


Axel mendengkus tidak suka, ia membebaskan Loyisa dari situasi ini. Loyisa membuang napasnya sambil memegang dada. Ia merasa lega di sana.


Alex kembali menatap Loyisa dengan tajam. "Kau bisa pergi! Ingat, hukumanmu bertambah, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, sekertaris Loyisa." ucapnya tersenyum smrik lalu melangkah mengambil handphonenya.


"Maksudnya pak?"


"Aku akan memikirkan hukumanmu lagi. Besok, jangan lupa ikut bersamaku. Kau mengerti?" Suara bariton yang mendominasi, Axel berkata tegas dengan intonasi yang penuh dengan keseriusan.


"Besok pak?" Loyisa mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"


"Ah, tidak pak." Loyisa memaksa bibirnya untuk tersenyum walau dalam hati Loyisa ingin menangis. "Dasar hantu Casper." Loyisa menggeram dalam batin.


Axel kembali menaikkan alisnya, "Kau tidak pergi, atau aku tidak akan mengizinkanmu pergi?" Axel tersenyum begitu dingin sambil menatap Loyisa.


"Ahhh, b-baik pak, aku akan pergi." ucap Loyisa dengan cepat. "Kalau begitu, saya permisi pak." Ucapnya pamit undur diri. Loyisa setengah berlari menuju pintu keluar ekslusif ruangan pak direktur itu.


Saat ia berada di luar, Loyisa menarik satu-satu napasnya karena begitu kesal. Ia menggeram sambil mengepalkan tangannya. "Dasar seenaknya.." Loyisa menepuk-nepuk kakinya dan mengembuskan napasnya lagi. Ia pun beranjak meninggalkan ruangan itu sebelum pak direktur melihatnya masih berada di sana.


Lupakan masalah kantor, yang terpenting hari ini, Loyisa akan bersenang-senang. Ia tersenyum saat membayangkan wajah Ethan yang menggemaskan. Wajahnya bersemu merah sambil melangkah cepat agar tiba di pintu utama perkantoran CityGroup itu. Loyisa pulang lebih awal untuk mengajak Ethan jalan-jalan, menikmati keindahan kota New York sore hari. Loyisa memang sengaja melakukannya, sebelum ia pergi memenuhi undangan makan malam bersama pak direktur. Huffft....! Lagi-lagi ia menghembuskan napas lesu. Hanya karena terlambat ia mendapatkan hukuman makan malam bersama si bos hantu Casper itu. Loyisa belum mengatakannya kepada Ethan. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Ethan tidak suka melihat Axel. Jadi untuk saat ini biarlah, Loyisa menyimpan rahasia ini. Toh ini bukan makan spesial kok.


Ethan sudah menunggunya di luar pagar, dengan posisi sangat santai bersedekap sambil menyilangkan kaki. Loyisa tersenyum bahagia saat melihat Ethan benar-benar sudah menunggunya di sana.


"Selamat sore, nona cantik!" Ethan menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Selamat sore kak," Loyisa tersenyum bahagia di sana. Sehingga Loyisa tidak menyadari ada seseorang yang menatapnya dari atas gedung tertinggi itu. Ia tersenyum sinis di sana, saat melihat Loyisa dan Ethan berpelukan singkat lalu masuk ke dalam mobil. Ia memukul dinding yanga ada di ruangannya. Hatinya begitu kesal.


Dalam perjalanan tenang, Ethan melarikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di temani dengan alunan musik country yang dinyanyikan Luke Combs yang berjudul She Got the Best of Me. Sesuai dengan perasaan mereka saat ini.ย Ia tersenyum dan terus menatap ke arah Loyisa dengan sayang.


Matahari, saat ini tersenyum lebih ramah. Gumpalan awan putih, beriringan memberikan keteduhan. Mereka menyusuri sepanjang jalan sambil tersenyum bahagia. Ini adalah hari yang paling berkesan, saat menghabiskan waktu di musim gugur ini. Kilauan keperakan sungai, berpadu serasi dengan gradasi warna merah dan kecoklatan. Dari daun-daun maple, oak, dan elm.


Loyisa dan Ethan bertemu dengan guguran dedaunan oranye di sebuah taman. Ia sangat menawan, memancarkan cahaya kehangatan di musim gugur yang dingin. Loyisa tersenyum bahagia. Ia bagaikan malaikat yang jatuh dari langit. Ethan lalu membenarkan syal Loyisa dan mengecup cukup lama bagian dahinya.


"Aku mencintaimu, Loyisa!" Ucapnya begitu lembut.


Loyisa tersenyum haru sambil menjepit bibirnya. Ia tidak bisa menjawabnya karena begitu bahagia.


Mereka melanjutkan perjalanannya kembali. Ethan memasukkan jari-jari tangannya ke jari-jari tangan Loyisa untuk memberi kehangatan. Mereka kembali berjalan ke Central Park, di New York, banyak dedaunan menguning dan juga mulai coklat. Keliatan kece dan klasik. Loyisa dan Ethan saling melempar senyum. Mereka berasa ada di film-film lawas, terus berjalan melangkahkan kaki di jembatan fenomenal. Angin berhembus lambat namun cukup kuat untuk memainkan ujungย coat. Loyisa mengatupkan lengan ke dada berusaha mengusir dingin yang mulai menjalar. Angin berhembus lagi. Pelan. Membelai wajah mereka dan memainkan anak rambut di dahi. Rasa sejuk itu perlahan menyapa wajah, meresap pelan ke dalam pori-pori kulit dan turun ke hati. Seperti perasaan Loyisa dan Ethan saat ini. Begitu bahagia, hingga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


BERSAMBUNG


โฃ๏ธ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ Salam sehat selalu ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU๐Ÿ’Œ