
๐ RETALIATION ๐
ย
๐
๐
๐ HAPPY READING ๐
.
.
Perlahan Kendrick memegang ke dua bahu Loyisa. Ia mengusap air mata Loyisa yang terus terjatuh ke pipi Loyisa.
"Sekarang kita duduk." Kata Kendrick menatap Loyisa dengan tatapan teduhnya.
Loyisa mengangguk pelan, napasnya masih sesak. Suaranya masih terdengar sesenggukan. Kendrick menuntun Loyisa dan mereka duduk saling berhadapan. Tangan mereka masih terus berpegangan, seakan takut terpisahkan.
"Loyisa, sekarang katakan, apa kau wanita yang datang ke rumah kita dan menghabisi anak buah Carlos?" Tanya Kendrick dengan ekspresi wajah penasaran. Selama ini ia menduga ada musuh dalam selimut di kartel eagle.
Loyisa mencoba menarik napasnya dalam-dalam dan mendesah lewat mulut. Meski perasannya saat ini tidak bisa digambarkan dengan jelas, ia masih tidak percaya bahwa Kendrick masih hidup. Menatap mata Kendrick seakan pengobat rindu untuk mommynya. Loyisa mengangguk pelan, menyatakan bahwa ia adalah pelakunya.
Kendrick terbelalak tidak percaya. "Kau serius Loyisa?"
"Hmm, aku kembali ingin membalaskan dendamku."
Kendrick menahan napasnya, lalu menarik napas panjang. "Kau membunuh anak buah Carlos yang begitu terlatih dengan baik. Dia tidak bisa diragukan untuk menghabisi musuh, tapi kau bisa melakukan sendiri?" tanya Kendrick lagi.
"Tentu saja kak, apa yang tak bisa dilakukan seseorang jika dendam sudah menguasai diri. Aku butuh waktu untuk berlatih bela diri dan menggunakan senjata juga dan aku berhasil menghabisi mereka."
Kendrick mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu menggenggam tangan Loyisa dengan erat. Ia tidak menyangka ternyata Loyisa, selama ini ada disekitarnya. "Sekarang ceritakan, bagaimana kau bisa selamat dan menjadi wanita pemberani seperti ini?"
Loyisa tersenyum saat mendengar kata-kata itu. Ya, Loyisa juga tidak menduga ia menjadi wanita pemberani. Padahal dulu, Loyisa paling penakut dan mudah menangis. Kini keadaan yang menuntutnya harus bisa menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi dihadapannya. Tak mudah jeri, tak mau merengek lagi. Sekarang Loyisa mampu menyelesaikan permasalahan apa pun dengan kesabaran dan hati yang besar.
Loyisa bahkan menjadi wanita yang paling berbahaya dari semuanya. Wanita yang menolak mengandalkan pedang orang lain untuk menyelamatkannya karena Loyisa membawa pedang miliknya sendiri. Walaupun musuh mencoba untuk membakarnya, tanpa mengetahui bahwa Loyisa sesungguhnya adalah nyala api yang siap membakar habis musuhnya. Delapan tahun ia sanggup membentengi dirinya dengan keberanian. Karena yang dihadapinya saat ini bukan sembarang orang.
"Loyisa?" Panggil Kendrick saat menyadari Loyisa sedang melamun.
"Heuh?"
"Ceritakan semuanya, bagaimana kau bisa selamat, karena yang aku ingat saat itu sedang terjadi badai salju. Aku masih ingat kejadian itu." Kendrick masih menggenggam tangan Loyisa dengan lembut. Matanya memandang serius ke arah Loyisa.
Loyisa menatap Kendrick begitu dalam, ia mendesah lalu tersenyum singkat. "Aku dibuang di desa Woodstock. Dua orang suster menyelamatkan aku kak, aku tinggal bersama sepasang suami istri yang bekerja sebagai koki di sebuah kapel di desa Woodstock. Tak lain mereka adalah orang tua dari kekasihku sekarang."
Kendrick mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu Ethan?"
"Ehmm Ethan yang..." Tubuh Loyisa menegang saat menyadari sesuatu. "Jadi selama ini kakak sudah mengenal Ethan?" Mata Loyisa membelalak tak percaya.
"Jadi kau adalah kekasih Ethan?" Kata Kendrick lagi.
Loyisa mengangguk cepat. "Aku sudah mengenal Ethan bahkan kami sering minum bersama dan berbincang-bincang. Ethan pernah mengatakan kalau kekasihnya ingin balas dendam. Tapi dia tidak pernah menyebut namamu."
Loyisa menutup mulutnya, ia masih tak percaya. Ternyata mereka berada di kota yang sama. Sungguh ia tidak pernah menduga hal itu. Loyisa kembali mengembuskan napas singkat, menatap Kendrick dan melanjutkan ucapannya. "Sekarang ibu dan ayah Ethan, sudah ku anggap sebagai orang tuaku kak. Mereka begitu baik, bahkan memperlakukan aku seperti anak mereka sendiri."
"Suatu hari aku ingin bertemu dengan mereka dan mengucapkan terima kasih karena mereka telah menjagamu dengan baik."
"Hmm. Kita akan ke desa Woodstock dan bertemu mereka." Kata Loyisa tersenyum lebar.
"Apa karena itu kau sengaja mendekati Axel, direktur perusahaan CityGroup?"
"kakak mengenal Axel?"
"Iya, dia anak dari Carlos."
Loyisa mengangguk cepat. "Aku ingin membalas dendam melalui Axel.
"Kau tidak perlu melakukannya Loyisa." kata Kendrick.
"Kenapa aku tidak bisa melakukannya? Ini kesempatan kita untuk masuk ke dalam keluarga Davis."
"Axel mencintaimu."
Loyisa mengerutkan keningnya, menatap curiga kepada Kendrick. "Kenapa kakak tahu kalau Kendrick mencintaiku, dari mana kakak tahu aku bekerja di CityGroup?" Mata Loyisa memicing tajam.
Kendrick tersenyum, "Ethan pernah mengatakan kau kekasihnya bekerja di kantor CityGroup dan aku juga tahu bahwa Axel mencintaimu karena sampai sekarang Carlos menahanku tinggal bersama mereka."
Jantung Loyisa langsung terpukul kencang. Ia Semakin mengerutkan dahi bingung, mencoba mengerti maksud perkataan Kendrick. Matanya masih terbelalak dengan mulut terbuka. "Selama ini kau tinggal bersama mereka dan kau bisa tinggal nyaman dengan mereka? sementara aku tiap malam selalu bermimpi buruk karena mengingat bagaimana kejamnya Carlos membunuh daddy dan mommy. Tapi..." Loyisa menangguhkan kalimatnya. Dadanya tiba-tiba sesak, matanya kembali berkaca-kaca.
"Maafkan aku Loyisa. Carlos selalu mengancam ingin membunuhmu jika aku kabur di markas kartel eagle. Mereka bahkan mengurungku di ruang bawah tanah, tanpa makan dan minum. Anak buah Carlos menyiksaku selama dua tahun, karena aku tidak mau bersedia masuk menjadi anggota kartel eagle. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain harus memilih masuk dan saat ini kita mempunyai peluang untuk balas dendam. Sampai saat ini Carlos seperti orang gila tidak bisa menemukan dokumen itu."
Bibir Loyisa gemetar saat mendengar itu. Ia mendongak seperti menguatkan hati. Napasnya semakin sesak tak tertahankan. Loyisa mengeluarkan desahan-desahan napas singkat. Air matanya sudah terjatuh lagi.
"Loyisa?"
"Dokumen itu ada di tanganku kak." Ucap Loyisa dengan suara terendahnya. Matanya hanya memandang ke arah tangan mereka yang terus menggenggam.
"Apa? dokumen itu ada di tanganmu?" Tubuh Kendrick menegang kaku dengan mata terbelalak kaget. "Apa kau serius Loyisa?"
Loyisa mengangkat wajahnya dan menatap Kendrick. Ia mengangguk lagi. "Aku menyimpannya dengan baik,"
"Apa daddy memberikan langsung untukmu?" tanya Kendrick dengan raut wajah penasaran.
"Cih..." Loyisa berdecak sambil tersenyum. "Kapan daddy memberikan padaku kak, sementara saat itu daddy langsung dibunuh dan aku dibuang."
"Jadi dari mana kau menemukan dokumen itu?"
"Aku mencarinya di rumah." Loyisa melipat tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Kendrick lagi-lagi tak percaya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Loyisa.
"Aku menemukan dimana daddy biasa menghabiskan waktu untuk membaca. Pintunya di balik bingkai foto, memang itu tempat rahasia. Hanya mommy dan daddy yang tahu. Daddy pernah mengajakku masuk ke sana saat mommy pergi dan aku menangis tak mau berhenti."
Kendrick menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. Ia menarik napasnya dan kenapa ia tidak pernah terpikir ke sana. "Jangan sampai dokumen itu hilang. Kita akan serahkan kepada FBI. Hingga saatnya tiba, aku ingin mengatur strategi bagaimana kita memulai pembalasan ini."
"Dokumen itu aku simpan dengan baik kak. Aku tidak mau menunggu lama lagi. Apalagi Carlos datang ke kantor. Rasanya aku ingin menghabiskannya kak."
"Carlos datang ke kantor CityGroup?"
"Ya, dia mengundangku makan malam bersama dikediaman Davis."
Kendrick memejamkan matanya sesaat. "Sebelum kakak mengatakan apa-apa, jangan pernah datang ke rumah Carlos. Aku sudah menyusun strategi untuk menghancurkan kartel eagle."
Loyisa mengangguk sambil menghembuskan napasnya. Ada dua hal kebahagiaan ia dapat sekaligus hari ini. Bertemu dengan kakaknya dan membalaskan dendam kepada Carlos.
Kendrick menatap jam dipergelangan tangannya. "Kenapa Ethan belum datang Loyisa?"
"Astaga aku melupakan Ethan kak. Tunggu sebentar." kata Loyisa mengambil handphonenya untuk menghubungi Ethan.
"Dimana Ethan?"
"Apa Ken sudah datang?" Bukannya menjawab, Ethan bahkan balik bertanya.
"Sudah, kami sudah berbicara banyak." Kata Loyisa melemparkan senyumnya kepada Kendrick. "Jadi kau sekarang dimana?" tanya Loyisa lagi.
"Maaf Loyisa, aku baru keluar dari kantor dan sekarang menuju ke sana. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan tidak bisa aku tinggalkan."
"Kami tunggu, kami tidak akan makan sebelum kau datang." Kata Loyisa tersenyum di ujung telepon.
"Kalian belum makan?" Ethan tercengang tak percaya.
"Kami tidak bisa makan tanpa kau. Jadi sekarang cepat ke sini. Aku langsung pesan makanan untukmu."
"Oke, oke...Lima belas menit aku pasti sampai di sana."
"Hmm, hati-hati Ethan." Kata Loyisa mengingatkan. Panggilan pun terputus.
Loyisa memanggil pelayan dan memesan menu makanan untuk mereka santap siang ini. Kendrick dan Loyisa kembali berbincang-bincang. Mengingat masa-masa kecil mereka dulu sambil tertawa melepas rindu. Mommy dan daddy selalu mengajarkan kepada mereka arti sebuah kehidupan, kesabaran, keikhlasan, rasa bersyukur dan perjuangan hidup. Besar atau kecilnya kesalahan mereka dulu, orang tua mereka selalu di maafkan dan menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang. Senyuman dan dorongan dari merekalah yang membuat Kendrick dan Loyisa selalu semangat untuk menjadi kuat menghadapi tantangan hidup ini.
BERSAMBUNG
โฃ๏ธSalam sehat dari author cantik untuk my readers yang paling cantik.
โฃ๏ธJangan lupa tetap kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ya ๐๐ ๐ค
๐BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐
๐ BERIKAN VOTEMU ๐
๐ BERIKAN BINTANGMU๐