Retaliation

Retaliation
Membuatmu mencintaiku.



๐Ÿ’Œ RETALIATION ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


Matahari belum nampak, penerangan masih berasal dari lampu-lampu jalan dan rumah-rumah. Dingin udara tak meruntuhkan niat Ethan. Perasaannya begitu bahagia hingga ia begitu bersemangat melakukan aktifitas lari paginya. Ethan tersenyum saat orang-orang bertegur sapa dengannya.


Ia tidak langsung berlari, Ethan berjalan dengan tempo lambat. Ah, udara begitu sejuk. Di kiri berjajar pohon. Sedangkan di kanan berjajar rumah-rumah, seolah mereka bersaing dalam hal kerapian. Beberapa orang yang juga berjalan kaki atau berlari seperti dirinya. Ethan tersenyum sesaat lalu kembali melanjutkan aktifitas larinya.


Sementara Loyisa sedang menyiapkan sarapan, pikirannya berkecamuk tak bisa tenang. Antara terus terang atau tidak kepada Ethan. Bagaimana jika Ethan mengetahuinya, ternyata ia pergi bersama pak direktur dan tidak lembur. Ahhhhh.... Loyisa frustasi. Ia menarik napas singkat. Bingung harus melakukan apa. Ia diam membeku di dapur dengan pandangan kosong. Kegiatan masaknya terhenti begitu saja.


TININIT!


Bunyi dari pintu terdengar, ketika Ethan mengetikkan password yang berupa angka di dekat pintu apartemen.


CEKLEK!


Ethan datang membawa sarapan. Ia tersenyum ketika melihat Loyisa berdiri tanpa melakukan apa-apa di dapur.


"Selamat pagi nona cantik," sapa Ethan mengecup lama pipi Loyisa dan memeluknya dari belakang.


Dalam hitungan detik, Loyisa tersadar dari lamunannya. Ia mengerjap dengan tubuh merinding. Napasnya tertahan merasakan kecupan itu dan kini tubuhnya dipeluk dari belakang.


"Sepertinya sangat tepat aku membawakan ini. Dari aku tinggal kau belum menyiapkan sarapan kita." Ethan mengangkat sebuah bungkusan di tangan kanannya. Ia langsung meletakkannya di atas meja lalu mengarahkan tangannya melapisi tangan Loyisa lagi.


Loyisa masih terdiam gugup tidak melakukan apa-apa. Ia terlalu fokus dengan pelukan itu.


"Loyisa, kau melamun?" Ethan menyadari kegugupan Loyisa.


"Heh? tadi bilang apa?" ucap Loyisa melepas diri dari Ethan. Jantungnya berdegup kencang di rongga dadanya.


"Aku membawa makanan kesukaanmu pretzel hangat."


"Hah? pretzel? kau masih mengingatnya kak? ini makanan yang sering dibuatkan ibu karena kita sering memburu makanan ini. Dan di sini, pretzel benar-benar tidak ada lagi kak. Dari mana kau menemukannya?"


"Apa tidak buatmu Loyisa. Tentu saja aku masih mengingatnya, kita pernah menikmatinya di antara gerimis yang turun dan bisingnya klakson di jalanan desa Woodstock. Kita sama-sama tersenyum bahagia saat mengingat betapa lezatnya mencelupkan pretzel hangat ke dalam saus keju yang lezat. Sampai saus keju itu tandas dan saat kita kembali ibu marah saat itu ketika melihat kita kotor dengan remahan pretzel di baju jaket kita."


โ€œPretzel, lagi?โ€ Loyisa berbicara dengan meniru kalimat yang ibu hanna sering ucapkan. Ekspresi Loyisa benar-benar seperti ibu Hana yang saat itu begitu kesal melihat Loyisa dan Ethan.


Mereka berdua pun tertawa bersamaan. Mata loyisa sampai berkaca-kaca mengingat kejadian itu. Makanan itu memang ada di desa Woodstock saja. Karena mereka hampir tiap hari berburu makanan itu. Ibu Hanna menjadi rajin membuatkannya untuk mereka.


"Saat ibu menyambut kita. Pandangan mata ibu langsung jatuh pada remah-remah di baju kita." ucap Loyisa terkekeh.


"Kalian seperti anak kecil saja, tiap hari tak berhenti makan pretzel. Kata ibu seperti itu." Ethan menimpali.


Loyisa mengangguk sambil tertawa lagi. Saat mereka keluar sore, ibu langsung bisa menebak jika mereka ingin membeli pretzel yang dijual di hampir seluruh pinggir jalan di desa Woodstock. Kenangan yang tak bisa dilupakan.


โ€œKau sudah menyeduh kopi?โ€


Loyisa tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. โ€œBelum kak.โ€


"Ayo, tunggu apa lagi, siapkan sekarang. Agar kita bisa menikmati pretzel ini."


"Oke," jawab Loyisa antusias. Ia tersenyum mengambil dua cangkir untuk membuatkan kopi untuk mereka berdua. Ethan sendiri sedang membersihkan tangannya terlebih dahulu sebelum menikmati sarapan.


"Loyisa, nanti biar aku jemput ya," ucap Ethan fokus mencuci tangannya di wastafel.


Sepersekian detik ekspresi wajah Loyisa berubah. Ekspresi wajah ia gugup menjawabnya."Ah, gak usah kak. Kami belum tahu jam berapa lemburnya selesai."


"Kalau begitu kabari aku ya, biar aku bisa menjemputnya. Ehmmm..."


Loyisa menarik napas singkat, ia lalu tersenyum mengangguk dan memilih menyerah. "Baiklah, nanti aku kabari." kata Loyisa tersenyum sambil mengangguk.


Mungkin dengan cara seperti ini, Ethan tidak akan curiga. Ia akan kembali ke kantor lagi dan memilih di jemput dari sana. Loyisa tidak ingin merusak kebahagiaan ini. Ia mengembuskan napasnya. Kembali ke depan meja duduk bersama dengan Ethan. Suasana seketika hening, Loyisa menikmati makanannya dalam diam.


Sementara Ethan menikmati sarapan dengan perasaan bahagia. Ia melirik wajah Loyisa sekali-kali. Beberapa kali mata mereka saling menangkap satu sama lain. Mereka melepas senyumnya. Kebiasaan yang mereka lakukan. Ketika bangun di pagi hari, banyak yang mereka syukuri. Salah satunya semangat, satu kata sederhana yang sangat sulit diterapkan semua orang. Tapi tidak dengan Loyisa dan Ethan. Mereka bisa melakukan apa saja untuk mengisi kebaikan dengan cara sesederhana mungkin. Agar perasaan mereka tetap bahagia


Loyisa mulai gelisah saat jam kantor pulang sudah tiba. Ia mengembuskan napasnya berulang kali. Acara makan malam yang sama sekali tidak diinginkan Loyisa. Ia melirik jam yang ada di tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia membuang napasnya dengan lesu. Kenapa jam di tangannya bergerak sangat cepat sih? Apakah hanya jam di tangannya yang begitu cepat? Benar-benar membuatnya frustasi. Cuaca di luar terlihat masih cerah.


Saat menjadi karyawan biasa, jika mereka lembur dan mengharuskan untuk bertahan karena pekerjaan yang tak kunjung rampung. Loyisa akan membawa makanan untuk timnya. Mereka akan bekerja sama berkutat di depan komputer diiringi dengan tawa dan candaan untuk membuang rasa lelah. Ahhhh.. Tiba tiba ia merindukan timnya.


Loyisa menggerutuk kesal. Ini sudah terjadi tiga kali selama ia menjadi sekertaris, jika Loyisa terlambat. Pak direktur seenaknya akan menghukum. "Kenapa tidak langsung pecat saja. Astaga...!" Loyisa memutar bola matanya. Satu hari saja bagai seribu tahun untuknya.


Lagi lagi Loyisa heran dengan sifat pak direktur.


"Apa pak direktur yang terlalu gila, atau aku yang memang tidak mengerti apa-apa?"


Sementara di ruangan kerja Axel sibuk dengan beberapa dokumen yang harus diperiksanya lagi. Email dari luar negeri membuat pekerja internal bertambah. Wajahnya serius melihat berkas-berkas yang ada di depannya. Tangannya menopang dagu dengan wajah serius. Sesekali ia mengernyit lalu mengambil pulpen untuk tanda tangan. Axel benar-benar sibuk dan serius saat ini.


LIMA BELAS MENIT BERLALU


Axel merenggangkan otot-ototnya dengan ekspresi kelelahan. Wajahnya datar sambil mengembuskan napas. Sepersekian detik, bibirnya mengulas senyum.


TIN TIN TIN


Bunyi intercom menganggetkan Loyisa yang tengah melamun.


"Shiiittt... Astagaaa...aku benar-benar kaget." Loyisa mengelus dadanya. Ia menggeram tanpa bersuara. Ia membiarkan telepon itu berbunyi. Lalu mengusap wajahnya, Loyisa mulai terganggu dengan bunyi telepon itu. Loyisa pun mengangkat dengan setengah hati.


"Kenapa lama sekali menjawabnya?" Tanya Axel dengan tegas, ia tidak menunggu Loyisa dengan menyebut kata HALO lagi.


Loyisa membengkokkan bibirnya, "Maafkan saya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Loyisa to the point. Berharap dengan sangat bahwa pak direktur melupakan janji itu.


"Sekarang ke ruangan ku!" perintah Axel tersenyum samar.


Tak beberapa lama, Loyisa pun meninggalkan mejanya dan menuju ruangan pak direktur.


TOK TOK TOK...!


"Ya, Masuk!" Ucap Axel mengizinkan.


CEKLEK!


Pintu terbuka, Loyisa pun masuk dan berdiri tidak jauh dari meja pak direktur.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Loyisa.


Axel tersenyum smrik dengan alis naik dari pangkalnya."Jangan katakan kau melupakan janji makan malam bersamaku Loyisa."


Loyisa memaksa bibirnya tersenyum. "Tentu saja tidak pak,"


"Bagus. Dalam setengah jam bersiaplah. Kita akan pergi." Kata Axel kembali melanjutkan sisa pekerjaannya.


"What?" ucap Loyisa dengan gerakan mulut tanpa bersuara. Ia menatap pak direktur yang kembali serius dengan pekerjaannya. Benar-benar lelaki semaunya.


Menyadari Loyisa masih berdiri di depannya, Axel mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Loyisa. "Ada yang ingin kau tanyakan Loyisa, apa kurang jelas instruksi tadi."


"Heuh?" Loyisa mengerjap. "Tidak ada pak,"


"Atau kau memang sengaja menungguku?" Axel lagi-lagi tersenyum untuk menggoda Loyisa.


"Tidak pak, saya menunggu di mejaku saja."


"Silakan keluar, aku tidak ingin kau merusak konsentrasiku."


Loyisa lagi-lagi di buat kesal oleh perkataan pak direktur. Dadanya terlihat naik turun karena napas yang tidak beraturan. Ia pun membungkukkan badannya dan langsung keluar dari ruangan itu. Sementara Axel berdecak, tersenyum kecil sambil membuang napasnya menatap ke arah pintu. Lagi ia tertawa sambil menunduk karena berhasil membuat Loyisa kesal.


"Aku mencintaimu Loyisa, aku akan pastikan kau jatuh ke tanganku."


BERSAMBUNG


โฃ๏ธ Tinggalkan jejak kalian. Berikan like dan Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ Salam sehat selalu ๐Ÿค—


๐Ÿ’ŒBERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN VOTEMU ๐Ÿ’Œ


๐Ÿ’Œ BERIKAN BINTANGMU๐Ÿ’Œ