Remember You

Remember You
The House



Butuh waktu lima belas menit untuk sampai kerumahnya. Dan selama itu aku harus bersusah payah menahan gaya gravitasi bumi yang sangay besar. Benar saja, ia melajukan ninjanya dengan kecepatan ekstra. Lalu seenak jidat mengerem tiba-tiba. Aku dengan kesucian diri yang mendarah daging harus berusaha agar sebisa mungkin dadaku tidak menempel pada punggungnya. Aku tahu ia sedang mencari kesempatan. Hal itu membuatku teringat dengan kekasihnya, Rahel. Pasti Jery senang sekali. Secara dada gadis itu memang montok dan super menonjol. Laki-laki jaman sekarang memang berotak udang dibalik batu.


Hal pertama yang menyambut kedatangan kami berdua adalah seorang wanita dewasa berpenampilan sosialita. Ia nampak akan mengunci pintu rumahnya, namun niatnya terurungkan karena melihat eksistensi manusia berseragam baru saja memasuki pekarangan rumahnya.


Aku turun lebih dulu dari motor itu, melepas helm, lalu berjalan cepat menuju wanita yang sepertinya tak lain adalah ibu Jery. Aku menjabat tangaannya, menunjukkan sopan santun.


Ia tersenyum manis "Oh...ini pacar barunya Jery, ya?"


Bola mataku mencelos sempurna "Bukan, Tante"


"Panggil saja Tante Linda. Jery sering menceritakanmu pada tante. Katanya cantik, dan ternyata memang sangat cantik" Kedua tangannya mengusap pundakku. Wajahnya sumringah. Aku jadi tidak enak.


Tak berselang lama, Jery menyusul kami didepan pintu sambil berteriak "Dia bukan pacarku, Ma"


Kemudian ia sengaja mendekat ke arah Ibunya-- mendekatkan mulutnya ketelinga Tante Linda seakan bersiap untuk membisikkan sesuatu "Masa Mama lupa?"


Tante Linda menautkan sepasang alisnya.


"Mama kan tahu kalau Jery lebih suka pemandangan gunung dari pada jalan tol"


Sial! pria bedebah ini tidak sedang berbisik. Ia sengaja mengatakannya keras agar aku mendengar. Ia sedang menyindir halus.


Dan entah saking bodohnya atau bagaimana, aku spontan menunduk. Menatap dadaku sendiri. Ya, memang tidak ada sesuatu yang menyembul dari balik seragam itu.


"Hahahaha anak Tante ini memang suka bercanda" kelakar Ibu Jery itu mencoba untuk tidak terkesan salah tingkah karena kelakuan anaknya yang kelewat frontal. Aku tersenyum kikuk karenanya.


"Ma, aku pinjam rumahmu untuk kerja tim" Jery membuka pintu yang semula tertutup. Tante Linda mengangguk.


"Cemilan ada dikulkas. Oh ya namamu siapa?"


"Tante tinggal dulu ke arisan, ya. Baik-baik dengan Jery. Anak itu memang sedikit nakal. Kalau berbuat macam-macam pukul saja kepalanya" pamitnya sembari melangkah menuju mobil yang terparkir rapi dihalaman. Jery yang sempat disindir kontan memutar bola matanya.


"Ayo masuk" Jery menitahku untuk mengekorinya dari belakang. Kemudian mempersilaahkanku duduk diruang tamunya.


"Aku ganti baju dulu dan sekalian mengambil laptop. Kau tunggu sebentat disini" Pun ia meninggalkanku sendirian. Setelah punggungnya tak terlihat mata, ku pandangi ruang tamunya yang tak terlalu besar, tetapi tetap terkesan nyaman.


Ada hal yang menarik atensiku seketika mendaratkan bantalan dudukku diatas sofa. Hal itu adalah segala dekorasi yang memperindah petak ruangan ini. Sebagaimana mestinya dinding rumah yang ditempeli beberapa foto keluarga untuk menunjukkan bagaimana harmonisnya bahtera. Dinding rumah ini justru ditempeli beberapa pigura berisi gambar boygroup disetiap sisinya.


Tidak hanya itu, etalase disudut ruang juga terisi dengan lightstick berbagai versi, terlihat dari bentuknya yang serupa. Dan jajaran album yang memenuhinya.


Lima menit berlalu, Jery kembali ke ruang tamu dengan kaos santai dan celana joger hitam. Kedua tangannya disibukkan dengan berbagai macam cemilan dan minuman kaleng. Ketiak kirinya mengapit laptop, sementara ketiak kanannya mengapit leher gitar. Ia tidak terlihat sama sekali kesusahan, jadi aku tidak berinisiatif membantunya.


"Kau ini seorong fanboy ya, Jer?" tanyaku membuka pembicaraan. Jery mengikuti arah netraku memeta sambil perlahan menata cemilan-cemilan itu diatas meja.


"Bukan aku, tapi mama"


Aku mengangguk konstan. Sudah bisa ditebak. Boygroup itu memang sudah lawas dan disband bertahun-tahun. Agak aneh saja bocah dengan model seperti Jery ini suka hal-hal berbau clasik. Karena memang Boygroup itu adalah B.O.S. Ya, aku sedikit bangga karena ternyata masih ada yang mengidolakan mereka berlima. Bahkan fansnya juga sudah memiliki anak yang usianya sepaantaran denganku.


"Mamaku fans berat Rico. Perintilan-perintilan yang kau lihat ini belum seberapa dengan yang ada dikamarnya." Jelasnya seraya membuka kaleng coca-cola.


"Tidak salah juga sih, paman Rico itu tampan" Aku melihat pigura dimana hanya ada foto paman Rico disana.


Raut wajah Jery tiba-tiba sendu "Tapi aku membencinya"


Dahiku mengkerut "Kenapa?"


"Karena Rico itu semuanya jadi kacau" ia memotong frasa untuk meneguk coca-colanya "Ia meninggal saat mamaku hamil tua. Mamaku stres berat karena idolanya mendadak mati. Akhirnya aku terlahir prematur delapan bulan.