
Aku sempat mampir ke distro yang berada di seberang jalan rumah sakit untuk membeli baju baru. Tidak mungkin aku akan menemui Ayah dengan seragam yang masih basah kuyup. Tak ingin membuatnya kepikiran.
Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, aku pun mulai membuka pintu kamar tempat Ayah dirawat. Satu pemandangan yang menyambut kedatanganku adalah presisi Tante Renata yang sedang duduk di samping brankar sementara Ayah di sana tengah memejamkan mata pulas, tertidur nyenyak.
Tante Renata langsung menoleh ke arahku, ia kontan. berdiri tegak saat menyadari eksistensiku sudah berdiri beberapa langkah dari brankar pasien.
"Oh.. Alena?" Ia terdengar agak gugup. "Baru pulang dari sekolah, ya?"
Aku tersenyum, lalu mengangguk kikuk. Bingung harus bereaksi seperti apa. Terlebih lagi saat mengingat kata-kata Oma di mobil tadi. Sukses membuatku merasa aneh dan kesal dalam satu waktu.
"Karena Alena sudah di sini, Tante mau kembali ke kantor karena masih ada urusan yang harus segera diselesaikan. Alena tidak keberatan, kan?" tanyanya sambil mengambil tasnya yang ditaruh di sofa.
"Iya," jawabku singkat.
"Nanti Paman Melvin akan ke sini agak sorean," imbuhnya. "Kalau ada apa-apa Alena bisa hubungi Tante."
Lagi-lagi aku mengangguk. Entah kenapa mendadak tidak mood bicara dengannya.
"Tante pergi dulu." Tante Renata segera keluar dari bangsal tak lama setelah pamit.
Aku yakin Tante Renata tahu bahwa aku sudah diberi tahu kebenaran tentang masalah ini. Terbukti ia seperti sengaja menghindariku karena mungkin juga bingung harus bereaksi seperti apa. Well, satu-satunya hal yang harus kulakukan sekarang adalah menerima kenyataan. Meskipun sejuta persen tak ada kerelaan.
Setelah berdiri cukup lama-tiga menit di depan brankar sambil melamun tidak jelas, kaki-kakiku mulai terasa kesemutan. Maka, aku pun memutuskan untuk duduk di kursi yang semula menjadi tempat Tante Renata mampir menemani Ayah.
Diam-diam kuamati tubuhnya yang memang tampak lebih kurus. Tulang pipinya menjadi semakin terlihat jelas. Kantung matanya menghitam dengan wajah pucat kering. Tak kusangka Ayah benar-benar serius dengan ucapannya tentang mogok makan. Totally pathetic. Dan penyebabnya adalah aku, si anak egois kalau kata Oma.
Tanganku tergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi jidat paripurna Ayah. Aku tersenyum tipis saat melihat ada beberapa uban putih di antara rambut hitam tebalnya.
"Enh..."
Mendengar erangan itu, aku spontan menjauhkan tangan dari eksistensinya.
"M-maaf, aku membangunkan Ayah," Lirihku selagi melihat Ayah mulai membuka kelopak matanya, lalu mengerjap-ngerjap silau karena belum terbiasa dengan intensitas cahaya.
Alih-alih merasa kesal, Ayah justru tersenyum pilu. "Alena di sini?... untuk Ayah?"
Entah mengapa, hatiku mendadak miris.
"Ayah senang Alena datang," ungkapnya tanpa dusta. Tatapan matanya begitu tulus. Tangannya yang terpasang selang infus perlahan bergerak menuju pipiku. Membelainya hangat, meskipun kurasakan jemarinya sedang tremor.
Pertahanan yang kubuat agar sebisa mungkin tak menangis di hadapannya pun runtuh. Aku menangis, lagi. Cengeng sekali.
"Maafkan Alena, Ayah," aku menurunkan belaian tangan Ayah, kemudian memandangnya dengan sorot pendar penuh penyesalan. Merasa sangat bersalah. "Alena sungguh minta maaf. Ayah jadi begini gara-gara anak egois dan childish sepertiku. Seharusnya aku bisa lebih pengertian. Maaf."
"Stop blaming yourself," mata Ayah mulai berkaca-kaca. "Ini semua terjadi karena kebodohan Ayah."
"Stop blaming yourself, too. Ayah juga punya alasan melakukan itu."
Ayah menghela napas berat. "Alena"
"Iya?"
“Boleh Ayah minta peluk? Ayah merasa sangat putus asa asa," pintanya parau yang kuindahahkan dengan anggukan pelan.
Sepersekian detik setelahnya, Ayah memiringkan tubuhnya, kemudian menepuk-nepuk sisi kasur brankar yang masih Longgar. "Naiklah."
Tanpa membuang-buang waktu, aku segera naik ke atas brankar. Menghamburkan pelukan di tubuh Ayah. Menenggelamkan wajah di dadanya selagi menahan tangis yang sepertinya akan kembali membanjiri pipi.
"Ayah rindu sekali Alena yang manja seperti ini." Ayah membelai pucuk rambutku dengan tangan satunya yang tidak diinfus. Rasanya aku juga ingin mengatakan hal yang sama. Aku rindu Ayah. Rindu sekali. Tapi... aku terlalu gengsi.
"Maafkan Ayah, atas semua yang telah terjadi."
Dalam pelukannya, aku mengangguk kecil.
Cukup lama kami saling berpelukan. Semakin berjalannya waktu terasa semakin erat. Seolah-olah tidak ingin dipisah. Ayah dan anak yang saling merindukan kehangatan.
"Ayah..." panggilku lirih, lantas mendongak untuk menatap wajahnya.
"Aku ingin bertanya, tapi jangan tersinggung."
Ia tersenyum, "Alena boleh tanya apapun pada Ayah tanpa harus meminta ijin."
"Apa Ayah masih mencintai Ibu?," tanyaku setengah ragu, aku spontan memalingkan pandanganku ke arah lain sebab tak tega melihat mimik wajah Ayah yang tiba-tiba berubah sendu.
"Tidak usah dijawab tidak apa-apa, kok. Alena hanya ingin bertanya, bukan menerima jawaban." Aku memang bodoh. Seharusnya tidak perlu repot-repot bertanya seperti itu.
"Ayah memang tidak perlu menjawab pertanyaan Alena," katanya. "Karena Alena tahu sendiri jawabannya."
Ayah masih mencintai Ibu, tapi tak sebesar dulu. Itu yang kutahu-maksudku, kuyakini.
"Satu lagi. Alena ingin tanya satu lagi." Anggap saja aku benar-benar bodoh.
"Ayah... suka kangen Ibu tidak?"
Tak langsung menjawab, Ayah beralih menarik napasnya dalam-dalam. Seakan tengah mempersiapkan jawaban yang panjang.
"Tidak."
Ternyata ekspektasiku terlalu tinggi. Aku jadi agak kecewa.
"Oh."
"Tahu tidak kenapa Ayah dan Ibu memberimu nama 'Alena Zender?" Ayah balik bertanya. Aku kembali menatap matanya, lalu menggeleng konstan sebagai jawaban.
"Nama Alena' itu punya kepanjangan," ujarnya.
"Apa?" Aku penasaran.
"Alena, Anak Lucas dENA," Jawabnya mematahkan rasa penasaranku.
Jadi, Alena; 'Zender' adalah marga dan 'Alena adalah Anak Lucas dENA, begitu kan?
"Ayah tidak pernah kangen ataupun rindu dengan Ibu," celetuk Ayah tiba-tiba mengingatkan pertanyaan keduaku.
"Karena ada Ibu dalam dirimu. Ayah selalu melihat Ibu di wajahmu," imbuhnya, membuatku sukses terharu.
"Dulu waktu Ibumu masih hamil, Ayah selalu berdoa supaya wajahmu mirip Ayah, atau paling tidak fifty-fifty. Setelah lahir, ternyata 90% wajahmu mirip Ibu. Semakin besar semakin mirip. Cantik. Tapi Ayah agak sedih waktu itu. Biasanya anak perempuan identik dengan gen milik ayah. Tapi setelah semuanya berlalu, Ayah sadar kenapa Tuhan tidak mengabulkan doa Ayah yang satu itu," Ayah menjeda ceritanya, lantas mencium dahiku sebanyak tiga kali.
"Setiap melihatmu, Ayah seperti memiliki harapan untuk hidup. Hati Ayah selalu berkata 'ada darahku dan Dena dalam tubuh kecilnya, ia harus bahagia bagaimanapun caranya'. Seakan tidak mempersilahkan Ayah untuk menyerah begitu saja dengan keadaan. Oleh karena itu, Ayah benar-benar menyesal karena telah membuatmu kecewa. Ayah minta maaf," jelasnya mengakhiri cerita.
Aku tersenyum, kemudian mengangguk. Menerima permintaan maafnya.
"Ayah," panggilku, lagi. "Sebenarnya aku sudah tahu semuanya."
Tatapan Ayah yang semula sendu, kini berubah bingung.
Keningnya berkerut. "Tahu soal apa?"
"Semuanya," ulangku. "Tante Renata dan rencana pernikahan kalian."
Refleks Ayah tergagap, "T-tunggu! I-itu tidak seperti yang_"
"Alena tidak apa-apa, kok," interupsiku sebelum Ayah berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Oma yang memberitahumu?" Ayah cemas. Tatapannya seperti menuntut jawaban dariku.
Namun, alih-alih menjawab sesuai yang dipertanyakan, aku justru kembali menenggelamkan kepala di dada bidangnya. "It's okay. Ini hidup Ayah, jadi Ayah berhak untuk bahagia dengan cara Ayah sendiri."
"Tapi_"
"Alena sedang berusaha keras merelakan Ayah bersama wanita lain demi kebahagiaan Ayah. Jadi tolong hargai usaha Alena" jelasku ingin diberi pengertian.